IMG-LOGO
Internasional
RAMADHAN DI LUAR NEGERI

Kisah Bu Wulan, Ekspatriat di Hong Kong Meraih Hidayah

Jumat 1 Juni 2018 22:30 WIB
Bagikan:
Kisah Bu Wulan, Ekspatriat di Hong Kong Meraih Hidayah
Usai buka puasa bersama ekspatriat, Kamis (31/5).
Oleh: H Khumaini Rosadi

Memiliki istri yang shalihah dambaan semua suami. Tidak berlebihan rasanya jika istri shalihah itu dipanggil dengan sebutan 'Fatimah zaman now'. Sebagaimana Fatimah– putri Rasulullah SAW–yang menjadi istri shalihah bagi Ali bin Abi Thalib RA. Dalam hadits disebutkan "Dunia itu adalah perhiasan. Dan sebaik-baiknya perhiasan adalah istri yang shalihah. (HR Muslim).

Istri shalihah sesuai dengan informasi Nabi adalah yang mampu menjaga nama baik suami dan terlihat menarik juga menyenangkan. Untuk menjadi istri shalihah seperti ini perlu dukungan dan perhatian dari suami juga. Di samping niat yang kuat, lingkungan yang taat, dan tentunya selalu berdoa agar tetap selalu diberikan hidayah untuk menjadi istri yang shalihah. Sebab tanpa hidayah, seseorang tidak akan istiqamah. Meskipun sudah tahu salah, karena tidak ada hidayah, tetap saja dilakukan kesalahan itu.

Tentang hidayah tidak selamanya datang karena kita berada di Makah. Bisa jadi hidayah itu didapat dari Eropa. Bertaubat dari kesalahan tidak harus menunggu sampai tua dan lemah. Memakai jibab, menutup aurat atau berhijab juga tidak harus keriput dulu kulitnya, malah selagi masih muda semakin cantik dengan hijabnya. 

(Baca: Tikar Penyelamat Shalat di Puncak Tertinggi Hong Kong)

Bu Wulan contohnya–salah seorang istri ekspatriat yang sudah menetap di Hong Kong menemani suaminya yang asal Belanda. Ia mengatakan  kepada saya, justeru baru memahami mengapa dalam ajaran Islam disebutkan tubuh perempuan itu semuanya aurat, ketika dirinya berada di Perancis. 

"Padahal, yang saya lihat pada saat itu, perempuan yang menurut saya biasa saja, tidak ada yang istimewa. Tetapi ada satu titik yang saya lihat, menarik. Bisa jadi laki-laki yang melihatnya tergoda dengan titik tersebut," ungkap Bu Wulan.

Mulai dari situlah Bu Wulan menyadari bahwa memang pantas perempuan harus menutupi auratnya. "Akhirnya pelan-pelan saya pun mulai berhijab," kata Bu Wulan lagi. 

Obrolan dengan Bu Wulan itu adalah obrolan santai sambil menunggu berbuka puasa pada tanggal 31 Mei 2018 di rumahnya, di depan Hong Kong Internasional School. Tetapi, obrolan ini seakan seperti sebuah hikmah berbuka puasa bersama. Ini bagaikan kultum yang bermakna. Ditambah lagi dengan kultum berikutnya yang disampaikan oleh Ustadz Muhaimin, Ketua Islamic Union di Hong Kong.

(Baca: Dakwah Ramadhan di Negeri Beton)

Pada kultumnya, Ustadz Muhaimin mengajak untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Tidak menunda-nundanya sampai akhirnya tidak dapat melakukan sama sekali.

Selaku tuan rumah, Bu Wulan menyediakan banyak menu makanan ala Indonesia seperti bakso, nasi uduk, empal daging, dan sambal ikan asin. Undangan berbuka puasa bersama ini dihadiri oleh teman-teman ekspatriat yang berjumlah kurang lebih 20 orang, selain kami Dai Ambassador Cordofa Hong Kong, yakni saya Khumaini, Zulfirman, dan Eva Muzlipah.

Buka bersama ini diadakan untuk menambah keakrabaan, silaturahim, dan juga mengisi kebaikan di bulan Ramadhan. Setelah berbuka dengan yang manis-manis, dilamjutkan dengan sholat maghrib berjamaah, diteruskan dengan makan-makan, kemudian diakhiri dengan sholat tarawih berjamaah.

Indahnya Ramadhan. Bulan saling berbagi kebaikan dan keberkahan. Bulan dikabulkan semua doa. Marilah berpuasa dan menjadilah istri-istri yang shalihah yang membawa nama baik keluarga. Amin.

Penulis adalah Corps Dai Ambassador Dompet Dhuafa (CORDOFA), Tim Inti Dai Internasional dan Multimedia (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Hong Kong.
Bagikan:
Jumat 1 Juni 2018 22:53 WIB
KBRI Damaskus Peringati Nuzul Al-Qu’ran
KBRI Damaskus Peringati Nuzul Al-Qu’ran
Damaskus, NU Online 
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Damaskus memperingati Nuzul al-Qur’an Kamis (31/5) malam. Kegiatan rutin bulan suci Ramadhan dimulai dengan acara buka puasa bersama di Aula KBRI Damaskus yang dihadiri Dubes RI staf KBRI, mahasiswa, pelajar, dan para TKI yang berada di shelter KBRI Damaskus. 

Peringatan Nuzul Qur’an yang dipandu oleh Ustadz Henri Toga Sinaga. Ia berceramah dengan mengambil tema Jadikan Al-Qur’an Sebagai Petunjuk Dan Rahmatan Lil’alamin. 

Hikmah dan rahasia Nuzul Al-Qur’an disampaikan oleh Ustadz Saifannur yang bercerita tentang pentingnya menerjemahkan Al-Qur’an yang berbahasa Arab ke dalam bahasa-bahasa umat manusia dengan terjemahan yang benar.

Sehingga, kata dia, kandungan Al-Qur’an dapat dipahami oleh orang yang membacanya dan dapat menjadi petunjuk. Dis amping itu, yang tak kalah pentingnya adalah agar manusia dapat membumikan Al-Qur’an.

“Terjemahkan Al-Qur’an dengan kelakuan sehari-hari, ini yang terpenting,” katanya menekankan.

Dubes RI Djoko Harjanto, dalam sambutannya juga menambahkan agar kita semua meningkatkan ibadah, memupuk terus kebersamaan dan kekompakan dalam semangat Ramadhan.  

“Agar kita semua muncul sebagai “pemenang”,” katanya 

Peringatan Nuzul Al-Qur’an ditutup dengan pembacaan doa oleh Ustadz Zul Padli Hasan. (Red: Abdullah Alawi)

Jumat 1 Juni 2018 19:0 WIB
Arab Saudi Tetapkan Pelecehan Seksual sebagai Pelanggaran Hukum
Arab Saudi Tetapkan Pelecehan Seksual sebagai Pelanggaran Hukum
Ilustrasi via Tempo.co
Jakarta, NU Online
Dewan Syura Arab Saudi—yang merupakan badan penasehat resmi—sudah mengesahkan sebuah undang-undang yang menetapkan pelecehan seksual sebagai pelanggaran hukum.

Tujuan UU tersebut ialah untuk memberantas pelecehan, mencegahnya, menghukum pelakunya, serta melindungi korban demi mempertahankan hak pribadi, martabat dan kebebasan individu seperti yang dijamin oleh yurisprudensi dan peraturan Islam.

Rancangan undang-undang itu disusun oleh Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi berdasarkan instruksi Raja Salman, seperti dilansir bbc.com.

Namun, tak sedikit warga Arab Saudi yang menanggapi undang-undang itu dengan bercanda mengingat kaum pria dan wanita tidak berbaur di tempat umum di kerajaan Islam yang konservatif tersebut.

Berdasarkan undang-undang yang disahkan, hukuman bagi pelaku pelecehan seksual adalah maksimum dua tahun dengan denda hingga setara Rp374 juta. Dalam kasus yang berulang maka pelaku terancam hukuman lima tahun penjara dan denda sampai tiga kali lipat lebih.

Kerahasiaan korban dijamin oleh UU tersebut dan korban tidak bisa menarik laporan yang sudah diajukan kepada polisi.

Selain itu, menghasut untuk pelecehan seksual serta membuat laporan palsu kepada pihak berwenang juga tergolong pelanggaran hukum.

Sementara lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta diwajibkan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mencegah pelecehan seksual.

Beberapa pengguna juga langsung menuntut pembatasan atas perilaku perempuan, yang dituding menjadi penyebab pelecehan seksual.

Bulan Februari 2018 lalu, seorang jemaah perempuan menggunakan tagar #MosqueMeToo untuk berbagi pengalaman terkait pelecehan seksual pada masa ibadah Haji dan perjalanan ke tempat-tempat suci.

Mona Elthahawy, perempuan campuran Mesir-Amerika yang merupakan pegiat feminisme, mengungkapkan pengalamannya saat dilecehkan secara seksual pada musim Haji 2013.

Pekan lalu, di Arab Saudi, sedikitnya 11 pegiat perempuan dilaporkan ditangkap, menurut para pegiat hak asasi. Sebagian besar dari mereka merupakan perempuan yang aktif berkampanye dalam hak perempuan untuk menyetir.

Kerajaan Arab Saudi sudah mengumumkan bahwa larangan mengemudi untuk perempuan akan berakhir bulan Juni walau ditentang oleh kelompok konservatif. (Red: Fathoni)
Jumat 1 Juni 2018 12:0 WIB
RAMADHAN DI LUAR NEGERI
Dakwah Ramadhan di Negeri Beton
Dakwah Ramadhan di Negeri Beton
Pengajian Majelis Taklim Sabtu Ceria, (26/5)
Oleh: Ahmad Ali MD

Di setiap bulan suci Ramadhan, syiar Islam sangat semarak di berbagai tempat. Di Hong Kong yang dikenal sebagai negeri beton ini, hampir di setiap taman terdapat kegiatan majelis taklim. Majelis taklim ini umumnya merupakan kegiatan rutinan setiap Sabtu, terlebih Ahad, yang anggotanya para Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau Buruh Migran Indonesia (BMI).

Selain itu, banyak pula majelis taklim rutinan yang diselenggarakan di luar kedua hari itu. Di Hong Kong tercatat lebih dari seratus majelis taklim. Dari ratusan itu, sekitar enam puluh majelis taklim di bawah pembinaan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul (PCINU) Hong Kong.

Hong Kong adalah negara di bawah pemerintahan pusat Republik Rakyat Tiongkok (RRT/People's Republic of China), sejak 1 Juli 1997, dengan nama Special Administrative Region (SAR), yakni Wilayah Administrasi Khusus dari pemerintah RRT. Tanggal tersebut dirayakan sebagai Hari Pendirian Hong Kong SAR. Hari nasional lainnya adalah Hari Nasional RRT, 1 Oktober.  

Sebelumnya, Hong Kong merupakan negara di bawah pemerintahan Inggris, dari tahun 1842 sampai 1997. 

Di Hong Kong, hanya ada lima masjid. Yaitu Masjid Kowloon yang berada di 105 Nathan Road, Tsim Sha Tsui, Kowloon. Di bangunan masjid tertulis dalam tulisan Arab, Al-Masjid Al-Jami' wa-Al-Markaz al-Islâmî. Nama ini menunjukkan bahwa masjid ini menjadi pusat kegiatan Islam, yang dari segi ruang kegiatannya dikatakan terbesar di Hong Kong.

Selain itu ada Ammar Mosque Wan Chai, yang terletak di 40 Oi Kwan Road Hong Kong. Masjid ini merupakan pusat kegiatan Islam, dan menjadi kantor organisasi persatuan Islam semacam Majelis Ulama Indonesia (MUI), Islamic United of Hong Kong, IUHK, dengan websitenya  www.iuhk.org. 

Tiga masjid yang lainnya, bernama Cape-Collinson Mosque Chai Wan, Jamia Mosque Central yang terletak di 30 Shelley Street, dan Yuen Long Mosque Building, yang lokasinya di Flat A & B,  Chuk Bun 1 Tat Fai Path, Yuen Long, NT.

Oleh karena keterbatasan tempat ibadah tersebut, banyak kegiatan taklim diadakan di berbagai tempat di luar masjid. Umumnya diadakan di taman-taman kota, seperti di Victoria Park yang terletak di Causeway Bay Pusat Kota Hong Kong, ada pula di Kowloon Park tepat di sebelah Masjid Kowloon, TST.

Pengalaman pertama berdakwah di Hong Kong adalah mengisi taklim pada Sabtu, 10 Ramadhan 1439 atau 26 Mei 2018, sore hari di Majelis Taklim Sabtu Ceria di Koowlond Park. Letaknya persis bersebelahan dengan Masjid dan Pusat Islam Kowloon.

Selama di Hong Kong, saya tinggal di Sekretariat PCINU Hong Kong, yang terletak di Gedung Flat B 4/F No. 32 Jardine's Bazaar Causeway Bay. Causeway Bay adalah pusat kota Hong Kong. 

Untuk menuju ke tempat Majelis Taklim Sabtu Ceria TST menggunakan transportasi MTR (Mass Transit Railway), sistem angkutan cepat di Hong Kong. Rutenya Stasiun Cayseway Bay menuju Stasiun Tsuen Wan turun di Stasiun Tsim Sha Tsui (TST). Sebelum turun di TST, dari Causesay Bay melewati stasiun Wan Cay dan transit di Stasiun Admiralty, kemudian berganti kereta menuju dan turun di Stasiun TST.

Untuk menuju ke Majelis Sabtu Ceria TST tersebut, kita harus keluar melalui pintu A1 naik eskalator kemudian keluar ke arah kiri, dan saat keluar dari pintu ini sudah tampak Masjid Kowloon. Dan posisi Kowloon Park, tempat majelis tersebut diselenggarakan, posisinya persis di sebelah kanan, yakni sebelah utaranya Masjid Kowloon tersebut.

Ada sekitar 50 jamaah perempuan dewasa tergabung di Majelis Sabtu Ceria. Sebelum menyampaikan materi taklim, sebagaimana lazimnya di tanah air, diadakan pembacaan surat Yasin dan Tahlil terlebih dahulu.

Silaturahim, Ngaji,  Keutamaan Ramadhan dan Berdoa

Setelah pembacaan surat Yasin dan Tahlil, saya lalu menyampaikan beberapa poin penting. Pertama, tentang silaturahim, bahwa ini merupakan momen penting, kita niatkan untuk silaturahim. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa orang yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rizkinya, hendaklah ia bersilaturahim.

Kedua, tentang thalabul ilmi, yakni menuntut ilmu. Kita niatkan kehadiran kita ini, selain silaturahim juga tentunya untuk menuntut ilmu, yang merupakan kewajiban yang sangat atas setiap orang Islam.
Hadits Nabi SAW menegaskan:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ (رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ)

Menuntut ilmu itu sangat fardhu atas setiap orang Islam--baik laki-laki maupun perempuan (HR Ibnu Majah dari Anas ra).

Bahwa menuntut ilmu itu tidak ada batasan usia dan tidak mengenal kata terlambat. Kapanpun waktunya dan dimanapun tempatnya kita harus selalu berusaha mendapatkan ilmu. 

Ketiga, materi tentang keutamaan bulan suci Ramadhan. Satu di antara keistimewaannya, adalah adanya ampunan Allah SWT terhadap semua dosa yang telah lampau. Merujuk pada hadits populer,  Nabi SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ (وَفِيْ رِوَايَةٍ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ) إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ).

Siapa pun yang berpuasa Ramadhan (dalam suatu riwayat: siapa pun yang beribadah di bulan Ramadhan) karena landasan iman (keyakinan penuh kepada Allah SWT yang mewajibkan puasa Ramadhan) dan ihtisâb, yakni menggapai ridha dan pahala dari Allah Taala, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lampau (HSR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra).

Sungguhpun demikian, harus menjadi perhatian dan harus dihindari beberapa jenis dosa yang tidak diampuni oleh Allah Taala meskipun di bulan Ramadhan dan meskipun di malam Lailatul Qadar. Selain dosa syirik, yakni menyekutukan Allah SWT dan dosa-dosa besar yang lainnya, ada empat dosa  yang lain, tersebut dalam sabda Nabi SAW.

Dalam redaksi hadits panjang melalui sahabat Ibnu 'Abbas r.a.  sebagaimana tersebut dalam kitab Tanbîgh al-Ghâfilîn (hlm. 249) karya Imam Abu al-Laits As-Samarqandi, yaitu mudminu khamrin, yakni orang yang mabuk-mabukan, mengonsumsi miras dan sejenisnya, 'âqun li-wâlidaihi (orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya), qâthi'ur rahim (orang yang memutuskan persaudaraan), dan al-musyâhin, yakni al-mushârim, yaitu orang yang mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari,--karena di dalamnya ada kebencian.

Memutuskan silaturahim ancamannya tidaklah masuk surga, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ)

Tidaklah masuk surga orang yang memutuskan--persaudaraan (ukhuwwah) (HSR Bukhari Muslim dari Jubair bin Muth'im)

Mengenai makna silaturahim bukan berarti silaturahim dalam arti sempit, menjalin dan memperkuat ikatan persaudaraan kerabat, sebab nasab, yang merupakan ukhuwwah nasabiyyah/qarâbiyyah, melainkan silaturahim dalam arti luas, yakni menjalin dan memperkuat ikatan persaudaraan (ukhuwwah) baik ukhuwwah islamiyyah (persaudaraan seagama Islam), ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan sebangsa setanah air) maupun ukhuwwah insâniyyah (persaudaraan sesama manusia).

Intinya, kita tidak boleh memutuskan silaturahim, tidak boleh memutuskan hubungan persaudaraan dengan sesama Muslim atapun dengan non-Muslim, kecuali karena kita didzalimi. Terutama bagi Ibu-ibu dan saudara-saudara kita yang tinggal di luar negeri sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI), seperti di Hongkong ini, tentu harus menjalin  silaturahim, hubungan persaudaraan dalam arti luas, dalam kerangka kebaikan dan kemaslahatan, yakni kehidupan yang baik.

Dalam konteks menjalin dan memperkuat ukhuwah, persaudaran itulah, Pancasila menjadi pegangan kita, sangat Islami, telah mengajarkan bagaimana kita harus hormat-menghormati dan toleran terhadap orang lain dalam beragama dan melaksanakan ajaran agamanya sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya.

Nilai-nilai Pancasila dalam masing-masing silanya sangat penting dalam mengokohkan silaturahim dalam makna yang luas. 

Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa; sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab; sila ketiga Persatuan Indonesia; sila keempat, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah dalam Permusyawatan/Perwakilan; dan sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Seluruhnya sejalan dengan nilai-nilai Islam tentang ukhuwah  yang harus dikokohkan, sehingga melahirkan banyak manfaat bagi kehidupan yang baik. Bukan kehidupan yang penuh kebencian, anarkisme, radikalisme dan terorisme. 

Keempat, tentang doa. Doa penting dilakukan, terutama di bulan suci Ramadhan, dengan mengikuti pedoman berdoa. Dalam buku berjudul Fikih Doa: Pedoman Berdoa Lengkap dan Fadhilahnya terbitan Lembaga Dakwah PBNU April 2018, telah disebutkan pedoman-pedoman doa yang sesuai dengan Aswaja Annahdliyah. Semoga ibadah, aktivitas dan amal shalih kita diterima oleh Allah SWT dan dianugerahi keberkahan,mîn. 

Penulis adalah dai dan Pengurus Lembaga Dakwah PBNU yang bertugas dakwah di Hong Kong.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG