IMG-LOGO
Daerah

Rohisda: Cara NU Sidoarjo Tangkal Ideologi Radikal di Sekolah


Selasa 5 Juni 2018 18:15 WIB
Bagikan:
Rohisda: Cara NU Sidoarjo Tangkal Ideologi Radikal di Sekolah
Sidoarjo, NU Online
Dua pekan terakhir, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Sidoarjo Jawa Timur menggelar pesantren kilat Ramadhan dalam bentuk Kerohanian Islam Daerah atau Rohisda. 

Kegiatan ini dimotori Pimpinan Cabang Lembaga Pendidikan  Ma'arif Nahdlatul Ulama didukung  badan otonom seperti Ikatan Sasjana NU, Fatayat, IPNU-IPPNU dibantu sejumlah kampus NU yakni Unusida, Al-Khoziny, serta Unsuri.

Penamaan ini menurut Wakil Sekretaris PCNU Sidoarjo Arisy Karomy dilakukan agar lebih diterima secara umum di sekolah dan madrasah di luar NU baik negeri mapun swasta. 

“Artinya, secara label, nama NU tidak masalah disamarkan, namun secara substantif, misi Aswaja yang mengajarkan Islam moderat atau wasathiyah dapat tersampaikan kepada sasaran peserta didik,” katanya, Selasa (5/6). 

Kegiatan yang sudah berlangsung tiga tahun itu menjadi sangat penting di saat maraknya paham radikal. “Terutama usai ledakan tiga tempat ibadah di Surabaya dan Sidoarjo yang diindikasikan mantan aktifis ekstra keagamaan salah satu SMA terkemuka di Surabaya itu,” jelasnya. 

Hal tersebut diperkuat dengan ditangkapanya aktifis salah satu perguruan tinggi di Riau oleh Densus 88 beberapa waktu lalu. “Ini memperkuat hasil penelitian Puslitbang Pendidikan Agama Kemenag yang menemukan fakta satu persen peserta didik di sekolah mengikuti kajian yang mengarah pada paham radikal,” ungkapnya. 

Menurutnya, Rohisda ala NU Sidoarjo ini merupakan langkah positif dalam upaya melakukan gerakan deradikalisasi di kalangan pelajar. “Karena itu, agar lebih terstruktikur dan massif, kegiatan ini harus didukung oleh pemerintah daerah dan kementerian agama dalam bentuk kerja sama,” jelasnya. Meskipun kegiatan ini sudah disetujui oleh Dinas Pendidikan, namun masih perlu ditingkatkan dalam bentuk yang lebih formal, lanjutnya. 

Pada saat yang sama, ini diperlukan penguatan dari sisi materi, strategi dan manajemen SDM. “Materi harus memperkuat keaswajaan, strategi dikemas lebih menarik, misal dengan game dan simulasi. Begitu pula SDM harus benar-benar terseleksi dan ditata dengan baik,” ungkapnya. 

Sebelum tim Rohisda diterjunkan yakni sebelum Ramadhan, narasumber telah mendapatkan materi pembekalan.  “Mereka harus mengetahui seputar pengkaderan dan keaswajaan, serta teknik komunikasi dan presentasi yang disampaikan tim dari PCNU, LDNU dan ISNU,” katanya. 

Yang juga tidak kalah penting, mereka juga telah diseleksi bacaan Alqurannya oleh Jam’iyatul Qurra wal Huffadz serta Lembaga Takmir Masjid NU. “Sinegitas antar lembaga dan banom, pada akhirnya tetap menjadi keniscayaan demi suksesnya misi besar NU, Islam Nusantara yang rahmatam lil'alamin,” tandasnya.

Sekolah dan madrasah yang sudah bekerjasama adalah SMAN 1 Waru, SMAN 1 Krembung, SMK PAL Buduran, dan MAN Sidoarjo. (Red: Ibnu Nawawi)
Bagikan:
IMG
IMG