IMG-LOGO
Daerah

Warga dan Santri Tradisikan Makan Ketupat Berjamaah

Selasa 19 Juni 2018 22:0 WIB
Bagikan:
Warga dan Santri Tradisikan Makan Ketupat Berjamaah
Malang, NU Online
Kearifan lokal menjadi daya tarik bagi masyarakat di Tanah Air. Termasuk saat memasuki hari raya Idul Fitri. Masing-masing daerah memiliki ciri khas yang tidak ada atau jarang didapat di kawasan lain, di antaranya adalah makan ketupat secara bersama.

Itulah tradisi menarik bagi sejumlah pesantren dan masyarakat di daerah Sumbersuko, Tajinan, Malang, Jawa Timur. Masyarakat setempat menamakannya dengan ater-ater ketupat. Karena setiap rumah secara bersama membuat yang kemudian mengantarkannya ke tetangga sekitar.

Masyarakat di Desa Sumbersuko yang menggelar kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan makan ketupat bersama. Hal ini sebagai kearifan lokal masyarakat di desa ini demi semakin memperat rasa kebersamaan serta tali silatrahim antarwarga.

Camat Tajinan, Prestika Yunika mengatakan, tradisi ater-ater ketupat tersebut merupakan warisan turun temurun dari leluhur. “Pelaksanaanya pas bertepatan hari ke tujuh Idul Fitri atau biasa disebut Lebaran Ketupat,” katanya sebagaimana dilansir Malang-Post, Selasa (19/6).

Tak semata masyarakat umum, kalangan pesantren juga melakukan penghormatan yang sama atas tradisi ini. “Ada juga ritual khusus yang dijalankan beberapa pondok pesantren memakan ketupat bersama. Mulai dari pegurus pondok pesantren, santri dan warga makan ketupat bersama,” jelasnya.

Dia mengemukakan, setiap warga atau rumah membuat ketupat lontong beserta masakannya. Sedangkan masakan yang biasa dibuat adalah opor ayam maupun kari ayam. “Ada yang masaknya sendiri-sendiri, juga masak bersama. Kebanyakan masaknya sendiri, kemudian diserahkan kepada tetangga maupun sanak saudara. Satu per satu masyarakat mendatangi rumah untuk mengantar ketupat,” tuturnya. 

Karena dilakukan secara bersama, maka setiap rumah warga dipenuhi masakan ketupat. Lantaran hampir semua rumah membuat ketupat beserta makanannya. Prosesi lebaran di Tajinan tidak hanya di Desa Sumbersuko. Desa tersebut memang ada tradisi ater-ater ketupat. “Desa lain seperti di Desa Randugading dan Desa Tajinan, yang mayoritas pondok pesantrennya melakukan makan ketupat bersama,” paparnya.

“Saat bertamu untuk bersilaturahim serta bermaaf-maafan, selalu membawa hantaran atau ater-ater berupa ketupat tersebut, sebagai bentuk keramahan warga kami.” terangnya. Selanjutnya, tradisi ini terus dijalankan oleh warga karena sudah menjadi budaya yang telah mendarah daging. (Red: Ibnu Nawawi)

Tags:
Bagikan:
Selasa 19 Juni 2018 21:0 WIB
Menikah sebagai Solusi dari Ujian Hidup
Menikah sebagai Solusi dari Ujian Hidup
Jombang, NU Online
Setiap orang memiliki masalah dalam perjalanan hidupnya. Namun demikian, setiap problem pasti ada solusi. Dan untuk dapat keluar dari sejumlah masalah kehidupan adalah dengan menikah.

“Dalam Al-Qur’an telah disebutkan bahwa setiap orang akan diuji dengan sejumlah kekhawatiran,” kata Kiai Sholeh, Selasa (19/6). Hal tersebut diingatkannya saat menjadi penceramah pada pesta pernikahan di Desa Mlaras, Sumbito, Jombang, Jawa Timur.

Menurut Kiai Sholeh, di dunia ini sarat dengan ujian. “Dari mulai rasa takut lantaran kekurangan pangan, harta, jiwa dan sejenisnya,” katanya. Dan untuk dapat melewati sejumlah ujian tersebut adalah dengan menikah, lanjutnya.

“Ada jaminan dari Allah SWT kepada mereka yang telah menikah, yakni akan dicukupi segala kebutuhan serta rejekinya,” jelasnya. 

Karenanya, adalah pilihan tepat bagi siapa saja yang ingin keluar dari problematika hidup yakni dengan menikah. “Banyak keberkahan yang mengiringi pasangan saat memutuskan untuk menikah,” jelasnya.

Sebelumnya, Ustadz Muad mengingatkan mempelai berdua untuk memiliki sifat husnul khuluq. “Yakni tidak merasa bahwa dirinya memiliki kelebihan dari yang lain,” ungkapnya. 

Untuk memastikan bahwa pasangan akan sakinah mawaddah dan rahmah sebagai puncak dari nikah adalah dengan menanggalkan segala kelebihan yang melekat dari masing-masing pasangan. “Tidak merasa lebih kaya, lebih pintar, lebih berjasa dan sejenisnya,” katanya.

Ustadz Muad juga mengingatkan bahwa cara di atas mampu membuat pasangan nikah akan kian langgeng dan mampu menyelesaikan kesalah pahaman yang kerap terjadi. 

“Khusus kepada istri, jangan meminta sesuatu di luar kemampuan suami,” pesannya. Bila sudah jelas kesanggupan pasangan dalam mencari nafkah ada di angka tertentu, maka jangan pernah meminta lebih. Karena itu akan mengakibatkan sang suami akan melakukan penyimpangan, lanjutnya.

Sedangkan di akhir pesannya, Ustadz Muad berharap pasangan sama-sama menjaga pola pergaulan keseharian. Apalagi sekarang sudah memasuki zaman yang serba terbuka dengan kemudahan alat komunikasi. 

“Pergaulan pasangan akan sangat menentukan langgeng dan tidaknya pernikahan yang telag dibangun,” tandasnya. (Red: Ibnu Nawawi)
Selasa 19 Juni 2018 18:0 WIB
Lebaran, Ajang Silaturahim Sekaligus Konsolidasi
Lebaran, Ajang Silaturahim Sekaligus Konsolidasi
Wakil Sekretaris PCNU Jember, Moch Eksan
Jember, NU Online 
Idul Fitri sesungguhnya merupakan momentum yang tepat untuk melakukan konsolidasi. Buka bersama, open house dan halal bihalal adalah peranti kultural yang tersedia untuk melakukan silaturahim tatap muka dengan konstituen dan masyarakat umum. 

Hal tersebut diungkapkan Wakil Sekretaris PCNU Jember, Moch Eksan kepada NU Online di kediamannya, Perum Surya Milenia, Jember, Selasa (19/6).

Menurutnya,  dalam term  agama, konsolidasi adalah padanan kata dari silaturahim, yaitu suatu amal sosial yang memiliki implikasi yang sangat luas. Diyakini, silaturahim itu berbuah panjang umur dan luas rezeki. Tentu, makna kuantitatif dan kualitatif sekaligus dalam pengertian ini.

“Sebagai politisi, saya memaknai lebaran dengan melakukan silaturrahim sekaligus konsolidasi,” ujarnya.

Anggota DPRD Jawa Timur itu menambahkan, konsolidasi adalah sebuah keharusan bagi politisi, lebih-lebih akan menghadapi hajatan politik. 

Dikatakan, tidak ada yang salah jika politisi  memanfaatkan momentum lebaran dengan konsolidasi, karena isinya juga silaturrahim. Apalagi visi yang diemban sang politisi adalah politik keumatan.

“Bukankah kekuasaan hanya alat perjuangan untuk umat dan rakyat guna  mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang diridhai oleh Allah SWT?,” urainya.

Karena itu, Eksan mengisi lebaran kali ini dengan menggelar open house. Rumahnya dibuka lebar-lebar bagi masyarakat yang ingin bersilaturrahim sekaligus melakukan konsolidasi dengan relawan. Di luar itu, penulis sejumlah buku itu juag tak lupa  mengunjungi para sesepuh dan sejumlah kiai.

“Saya besar di pesantren dan pendidikan formal saya juga di pesantren, tentu tak elok jika tidak sowan ke para kiai yang sudah membesarkan saya,” pungkasnya. (Aryudi Abdul Razaq/Muiz
Selasa 19 Juni 2018 17:0 WIB
Alumni Madrasah Ma’arif Harus Mampu Menginspirasi Orang Lain
Alumni Madrasah Ma’arif Harus Mampu Menginspirasi Orang Lain
Para Alumni Bersama Ketua Yayasan Pondok Pesantren Darul Ulum Ma'arif NU 5 Sekampung
Lampung Timur, NU Online
Reuni Alumni Madrasah Aliyah (MA) Ma'arif NU 5 Sekampung, Lampung Timur angkatan 1994 yang digelar di Sambikarto, Sekampung, Senin (18/06) nampak spesial. Pasalnya beberapa alumni yang sudah sukses meniti karir, hadir pada kegiatan tersebut. Diantaranya Supangat Rokhani, Ketua Yayasan Perguruan Islam Al Syukro Universal Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Saat memberikan sambutan, pria alumni 1994 yang sukses di dunia pendidikan ini mengajak kepada alumni madrasah Ma’arif untuk selalu menciptakan hal baru yang lebih baik, saling membantu satu sama lain, dan selalu menjalin tali silaturrahmi. Hal ini menurutnya sesuai dengan firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 1 yang menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan manusia seorang diri dan kemudian baginya isteri.

“Dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu,” katanya menyampaikan terjemah ayat tersebut.

Sementara itu Ketua Yayasan Pondok Pesantren Darul Ulum Ma'arif NU 5 Sekampung KH A. Mudjab mengapresiasi kegiatan reuni tersebut. Menurutnya dengan adanya kegiatan reuni akan mudah mengidentifikasi keberhasilan para alumni, ukhuwah para alumni akan terus terjalin, dan akan terlihat keberhasilan karena para alumni telah meraih kesuksesan.

“Kalau ukhuwah di antara kita tetap terjalin dan Ma'arif NU 5 di kelola oleh orang-orang yang bertanggung jawab, maka insya Allah Ma'arif NU 5 akan mati, satu hari sebelum kiamat,” katanya optimis.

Hal ini diamini oleh salah satu alumni yang juga menjadi tenaga pengajar di MA Ma’arif 5 Sekampung, Sarif BJ yang menjelaskan bahwa keberhasilan para alumni madrasah tersebut tidak lepas dari komitmen Pendidikan MA Ma'arif NU 5 Sekampung yang mengedepankan Iman dan Taqwa (IMTAQ) serta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) untuk pembentukan kualitas sumber daya manusia dalam menghadapi era globalisasi dan modernisasi.

“Madrasah kami memiliki motto Unggul dalam Prestasi dengan senantiasa menjaga mutu dan kualitas, memadukan pendidikan umum dan agama, dan selalu melakukan pembinaan dalam nuansa yang islami berhaluan Ahlussunnah wal Jama'ah,” jelasnya.

Sarif berharap para alumni madrasah Ma’arif mampu menjadi sosok yang menginspirasi orang lain untuk melakukan kebaikan sehingga mampu memberi manfaat bagi orang lain.

"Barangsiapa mengajak manusia kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun,” pungkas Sarif mengutip Hadits Nabi SAW. (Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG