IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Lebaran dalam Hiruk Pikuk Tahun Politik

Sabtu 23 Juni 2018 10:30 WIB
Bagikan:
Lebaran dalam Hiruk Pikuk Tahun Politik
Ilustrasi (via politiktoday)

Suasana Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini merupakan pelaksanaan Pilkada Serentak 2018 sekaligus pemanasan kontestasi politik nasional berupa pemilu legislatif dan pemilihan presiden yang akan berlangsung pada 2019. Momen rutin lima tahunan ini menguras banyak energi masyarakat dan memunculkan kerawanan sosial akibat perbedaan dukungan.

 

Suasana saling serang mulai tampak dan masing-masing pihak mulai menampilkan jargon-jargon untuk mengunggulkan calon yang diusungnya dan di sisi lain, berusaha menjatuhkan calon lawan. Kampanye #2019GantiPresiden termasuk yang cukup masif digalang oleh pendukung partai oposisi yang ingin merebut kuasa. Sementara itu pendukung pemerintahan membanggakan capaian pembangunan infrastruktur yang berjalan di seluruh Indonesia berupa jalan tol, pelabuhan, bandar udara, dan sejumlah sarana dan prasarana dasar lainnya. Dengan sukses seperti ini, harapannya rakyat akan memilih kembali kandidat yang diusung partai berkuasa dalam pemilu mendatang.

 

Para politisi tahu benar bagaimana mereka memanfaatkan Ramadhan dan Idul Fitri ini untuk melakukan konsolidasi politik guna memantapkan kekuatannya. Setelah selama Ramadhan disibukkan dengan jadwal padat untuk buka puasa bersama, kini pada Lebaran Idul Fitri, halal bihalal menjadi kesibukan baru untuk memastikan dukungan, terutama oleh peserta pilkada serentak yang akan berlangsung pada 27 Juni ini.

 

Dalam sebuah kontestasi, wajar-wajar saja kita mengunggulkan calon yang kita dukung. Tak ada kecap nomor dua, semuanya mengaku nomor satu sekalipun publik belum tentu menganggapnya sebagai kecap yang bermutu. Dalam kode etik periklanan di Indonesia, kita boleh-boleh saja mengunggulkan produk kita setinggi langit, tetapi kita tidak boleh menjelek-jelekkan produk lawan, apalagi memfitnahnya. Prinsip ini seharusnya juga berlaku dalam etika persaingan politik. Sayangnya, dalam realitas, hal tersebut jauh panggang daripada api. Pengungkapan rekam jejak calon-calon pemimpin juga sangat penting, tetapi harus disampaikan dengan cara yang baik.

 

Para politisi merupakan orang-orang yang gemar berorasi. Mereka menggunakan panggung untuk menyampaikan ide atau gagasannya. Dalam momen tertentu mereka kesleo lidah yang kemudian secara sengaja menjadi bahan bullying oleh pihak lawan dengan mengerahkan pasukan buzzer media sosialnya. Suasana inilah yang menimbulkan kegaduhan publik yang mengganggu pikiran masyarakat yang terpaksa terpapar oleh hal-hal perdebatan yang tak mereka inginkan. Sebagian besar masyarakat ingin agar aktivitas mereka tidak terganggu oleh hiruk pikuk politik.

 

Hampir seluruh ruang publik kini telah “terkontaminasi” politik. Pohon-pohon dipasangi banner yang mengampanyekan dukungan terhadap salah satu calon. Ketika kita membuka media sosial untuk berinteraksi dengan teman, paparan terhadap tema-tema politik menghampiri tanpa diundang, yang seringkali membuat kita menjadi emosional atas perdebatan tidak penting atau perilaku yang tidak pantas.

 

Politik sesungguhnya merupakan seni untuk mengakomodasi kepentingan banyak pihak. Pada masyarakat yang plural, peran seperti ini sangat penting mengingat prioritas dan kepentingan masing-masing pihak berbeda. Para politisi menghubungkan dan berusaha mencari solusi terbaik bagi semua kelompok. Dalam konteks seperti itu politik berperan mencari titik temu kepentingan banyak pihak. Tetapi tak jarang, di balik jargon-jargon kepentingan publik ini, sesungguhnya terdapat agenda kepentingan pribadi yang kental.

 

Menjadi pertanyaan, mengapa profesi politik yang seharusnya sesuatu yang terhormat menjauh dari sisi idealnya? Bahkan politisi-politisi berbasis agama yang memiliki panduan moral berperilaku tak beda jauh dengan teman-teman mereka yang sekuler?

 

Jika kita mampu mengurai akar permasalahan ini dan mencari jawaban untuk memperbaiki persoalan, kondisinya akan lebih baik. Dengan membangun sebuah mekanisme bernegara yang baik, orang-orang baik tidak terseret menjadi orang buruk, dan orang yang berpotensi buruk bisa menjadi baik karena sistem memaksanya untuk mengikuti aturan yang baik. Sudah berapa banyak orang baik tertangkap menjadi koruptor karena sistem memaksa mereka untuk berbuat demikian.

 

Sudah menjadi kebenaran umum bahwa korupsi, kecurangan, atau penyebaran hoaks merupakan hal yang tidak baik. Sayangnya, sekalipun hal tersebut sudah menjadi kesadaran umum, tidak gampang untuk melakukan perubahan. Ada kelompok atau orang-orang tertentu yang mendapatkan keuntungan dari situasi seperti ini. Mereka ingin kondisi ini tetap bertahan agar posisi mereka tetap aman.

 

Orang-orang baik, tak bisa diam saja karena dengan kediamannya, maka mereka sama saja dengan melanggengkan situasi seperti ini. Kita tidak kekurangan orang baik yang memiliki dedikasi. Yang perlu kita lakukan adalah menciptakan kolaborasi di antara orang-orang baik ini untuk membentuk sebuah kekuatan bersama guna menghasilkan dunia yang lebih baik. 

 

Kini saatnya dalam momen Idul Fitri ini kita tak sekadar bersilaturrahim, bersalam-salaman untuk meminta maaf kepada keluarga, kerabat, dan kolega. Kita harus bergerak memperjuangkan berlakunya nilai-nilai kebaikan untuk mewujudkan situasi yang lebih baik sehingga pada Idul Fitri tahun depan, kondisi lebih baik, dan begitu seterusnya. Kita percepat proses menuju tatanan masyarakat ideal sebagaimana kita cita-citakan bersama. Semakin banyak orang yang terlibat, semakin baik perencanaan yang kita lakukan, insyaallah apa yang kita idealkan akan lebih cepat tercapai. (Achmad Mukafi Niam)

Tags:
Bagikan:
Kamis 14 Juni 2018 19:45 WIB
Belajar dari Hoaks yang Menyerang Gus Yahya
Belajar dari Hoaks yang Menyerang Gus Yahya
Sebuah meme yang dengan kata-kata NU kerja sama dengan Israel dengan ilustrasi wajah KH Yahya Staquf beredar luas sebagai respons atas kunjungan kunjungan Gus Yahya ke Yerusalem. Itulah penyesatan informasi pertama yang menyertai kontroversi kunjungan tersebut. Tak cukup satu meme itu, produksi haoaks terus dilakukan secara berseri selama keberadaannya di sana. Akun dengan nama-nama yang mengidentifikasi diri sebagai kelompok Muslim menyebarluaskannya dengan masif.  Segala hal tentang kunjungan Gus Yahya terus “digoreng” untuk membangun opini yang mendiskreditkannya.

Upaya penyesatan informasi ini menunjukkan adanya upaya sistematis yang dengan sengaja ingin mendiskreditkan NU dengan memanfaatkan isu Palestina, terlepas dari diskusi soal apakah diplomasi tersebut tepat atau tidak dalam memperjuangkan Palestina. Bukan kali ini saja kejadiannya dan yang melakukannya juga akun-akun media sosial yang tak jauh berbeda. Ideologi gerakan agama dan politiknya dengan gampang bisa ditebak. Umumnya mereka merasa dirinya paling Islam, paling memperjuangkan Islam. Yang di luar dirinya dianggap tidak layak mengatasnamakan pembela Islam atau hanya boleh jadi pengikutnya. 

Segala hal yang dianggapnya kelemahan kelompok lain, dengan segera diolah untuk menjatuhkan sesama Muslim.  Kalau perlu dibuat penyesatan informasi agar tujuannya tercapai. Pasukan buzzer-nya dengan sigap, cukup dengan ujung jarinya, menyebarluaskan informasi sesat tersebut ke berbagai platform media sosial. 

Publik awam yang tidak tahu menahu dan kemudian terprovokasi ikut menyebarkan informasi tersebut. Bahkan merasa mendapat pahala karena menyebarluaskan sebuah “kebenaran”.  Isunya sengaja dikemas secara menarik dan menyentuh dengan mengatasnamakan membela Islam. Pendekatannya hitam putih sehingga dengan gampang mempengaruhi banyak orang. Yang tidak ikut bersimpati, dianggapnya anti-Islam.

Dalam konteks tersebut, agama sesungguhnya hanya topeng untuk meraih simpati publik. Tujuan sebenarnya yang menjadi target bisa saja berbeda. Mungkin saja tujuannya adalah kemenangan politik pada kontestasi politik 2019. Bisa saja tujuan sekadar meraih keuntungan finansial berupa pengikut akun yang semakin bertambah atau kunjungan di web yang semakin banyak yang ujung akhirnya adalah masuknya pendapatan iklan. Atau bahkan sekadar ketidaksukaan kepada kelompok lain. 

Mereka pula yang suka sekali menyampaikan bahwa Islam harus bersaudara atau bersatu saat mereka dalam kondisi terdesak. Saat dalam posisi unggul, mereka meminta pihak lain untuk menjadi pengikutnya dan tidak memberi peran yang signifikan kepada orang-orang yang di luar kelompoknya. 
Itulah realitas sesungguhnya hubungan antara kelompok-kelompok Muslim di Indonesia yang memang sangat beragam dan memiliki spektrum yang sangat luas. NU sejak didirikan sudah terbiasa distigmakan dengan beragam stereotip jelek seperti pelaku bid’ah atau bahkan disesatkan dalam beragama. Toh, hingga kini, NU tetap berdiri kokoh dan terus memperjuangkan Islam Ahlusunnah wal Jamaah dan menjaga persatuan bangsa. 

Sesungguhnya tidak ada ajaran Islam yang menyuruh melakukan menyesatan informasi atau membuat hoaks. Bahkan, informasi benar pun, jika dikhawatirkan menimbulkan mudarat bagi masyarakat, tidak boleh disebarluaskan. Tapi banyak orang yang lupa dengan ajaran ini, nafsu telah mengalahkan nilai-nilai baik yang disebarkan oleh Islam demi kepentingan pribadi atau kelompoknya. 

Kemunculan media sosial dengan kecepatan berbagi informasi yang luar biasa menuntut pendekatan baru dalam upaya mengatasi penyesatan-penyesatan informasi dan menyebaran hoaks. Dahulu, forum tabayyun dengan bertemu kepada para kiai yang otoritatif menjadi sarana untuk mencari informasi yang jelas. Kini, informasi menyebar dengan jumlah dan kekuatan luar biasa. Isu lama belum selesai diklarifikasi, sudah muncul isu baru yang juga tidak jelas.

Media sosial memiliki kekuatan dalam pelibatan publik pada isu-isu kemasyarakatan. Dulu hanya media massa yang mampu menyebarkan informasi secara luas. Dari beragam isu yang muncul, redaksi media memilih isu yang layak untuk disampaikan ke publik. Kini media sosial menjadi bagian penting dalam penyebaran informasi kepada masyarakat. Info dari media sosial seringkali mendahului media massa. Siapa saja bisa mengunggah informasi atau menyampaikan opini. Hal-hal yang dinilai menarik akan dibagi oleh publik sehingga menjadi viral.

Dengan maraknya hoaks yang disebarkan melalui media massa, maka media massa kembali memiliki relevansinya kepada publik. Kerja-kerja media massa didasari atas kode etik dan proses peninjauan secara berjenjang, dari pewarta di lapangan, redaktur, sampai  dengan pemimpin redaksi. Hal ini untuk memastikan informasi yang sudah keluar dari dapur redaksi sudah melalui proses verifikasi sehingga layak untuk konsumsi publik. Untuk informasi ke-NU-an dan keislaman, NU Online berusaha menjadi sumber rujukan bagi warga NU, masyarakat yang menginginkan informasi yang akurat tentang NU. 

Soal kunjungan Gus Yahya di Yerusalem, apa yang dilakukan adalah bagian dari perjuangan diplomasi yang dengan tulus ia lakukan demi kemerdekaan Palestina. Dengan tegas, ia menyatakan bahwa keberadaannya di sana adalah untuk Palestina. Apa yang dilakukannya merupakan bagian langkah-langkah yang juga dilakukan oleh para pihak lainnya yang peduli dengan Palestina. Mungkin saja hasilnya tidak dapat dilihat dengan segera, tapi itu bagian dari proses panjang yang harus terus dilakukan. Komitmen NU terhadap Palestina tidak perlu diragukan lagi sejak dulu, kini dan di masa yang akan datang. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 10 Juni 2018 11:0 WIB
Mari Sempurnakan Ibadah di Sepertiga Terakhir Ramadhan
Mari Sempurnakan Ibadah di Sepertiga Terakhir Ramadhan
Tanpa terasa, Ramadhan tahun 1438 H ini sudah menginjak sepertiga terakhir yang merupakan bagian yang paling istimewa dalam Ramadhan. Pada bagian inilah, probabilitas terbesar malam lailatur qadar, yaitu satu malam yang setara dengan seribu bulan dalam nilai ibadah. Rasulullah mengistimewakan sepertiga terakhir ini dengan meningkatkan ibadahnya. 

Lalu, bagaimana dengan kita? Secara umum, jumlah jamaah shalat Tarawih di masjid dan mushalla semakin berkurang. Sebagian besar dari energi dan waktu yang kita miliki sudah digunakan untuk memikirkan dan mempersiapkan lebaran Idul Fitri. Pusat perbelanjaan dipenuhi dengan pengunjung yang ingin membeli baju baru dan pernik-pernik lebaran lainnya. Keluarga di rumah juga mulai disibukkan dengan membuat beragam kue atau merapi-rapikan rumah guna menyambut kedatangan tamu.

Demikian pula, mereka yang barada di rantau pada akhir Ramadhan ini sudah mulai mudik ke kampung halaman di mana ia dilahirkan. Ini perjalanan yang tidak mudah karena membutuhkan ongkos besar mengingat sebagian besar ingin pulang pada saat yang bersamaan. Waktu yang dibutuhkan juga cukup panjang jika menggunakan moda transportasi darat karena kemacetan terjadi di mana-mana. Belum lagi menyiapkan beragam oleh-oleh untuk kerabat di rumah.

Pemerintah juga disibukkan untuk melayani masyarakat yang bepergian agar semuanya berjalan dengan lancar. Para polisi dikerahkan menjaga kelancaran arus lalu lintas. Beberapa bulan sebelumnya, jalan-jalan sudah diaspal ulang agar saat perjalanan mudik atau balik tidak ada ganggung di jalan. Televisi dan sumber informasi lainnya secara terus-menerus melaporkan perkembangan arus mudik dan persiapan Lebaran.

Lebaran Idul Fitri merupakan perayaan terbesar di Indonesia. Banyak hal yang dipersiapkan untuk menyambut Idul Fitri ini jauh hari sebelumnya, utamanya adalah pada 10 hari terakhir yang juga merupakan hari-hari paling istimewa selama Ramadhan. Kini saatnya kita mulai memikirkan bagaimana mengombinasikan agar dua hal yang penting bagi umat Islam Indonesia ini bisa berjalan dengan baik. Lebaran merupakan tradisi khas di Nusantara. Bagi umat Islam di belahan dunia lainnya, perayaan Idul Fitri tidak semeriah di Indonesia. 

Agar kita bisa memaksimalkan akhir Ramadhan dengan baik sekaligus mempersiapkan diri untuk menyambut Lebaran, maka manajamen waktu harus diterapkan. Teknologi juga telah membantu agar banyak hal terkelola dengan baik. Banyak hal yang bisa disiapkan jauh sebelum Ramadhan tiba untuk persiapan Idul Fitri. Pemesaan tiket kereta api atau pesawat terbang sudah bisa dilakukan tiga bulan sebelumnya. Beli baju lebaran mestinya juga bisa dilakukan sebelum puasa. Kue-kue kering sebaiknya dibikin sebelum sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dengan demikian, jika hal-hal teknis bisa disiapkan sebelumnya, maka kita bisa fokus memaksimalkan sepuluh hari terakhir untuk beribadah. 

Ada sejumlah masjid yang menggelar iktikaf pada sepuluh hari terakhir tersebut, tapi jumlah yang menyelenggarakannya belum terlalu banyak. Mereka memberi ruang bagi para mencari keberkahan. Tentu saja, jika kita berupaya memanfaatkan momen istimewa ini secara bersama-sama, maka akan menambah semangat bagi untuk meningkatkan ibadah dibandingkan dengan beribadah sendiri yang kadang kala dilanda dengan kebosanan.

Pada akhir Ramadhan ini, hal baik yang paling massif adalah upaya pengumpulan zakat. Lembaga dan masjid yang membuat kepanitiaan zakat mengingatkan kepada kaum Muslimin untuk membayar zakat fitrah dan zakat mal serta menyarahkan masyarakat untuk beramal dalam bentuk infaq dan sedekah. Para aghniya atau orang kaya tak jarang yang membagi-bagikan bingkisan kepada tetangga di kiri dan kanan rumahnya. Ini merupakan hal baik yang terus dijaga dan terus dikembangkan. 

Banyak di antara kita yang belum bisa mengelola dengan baik dalam memanfaatkan Ramadhan sebagai bulan paling baik untuk beribadah. Sebagian bahkan sudah mencapai klimaksnya pada pekan-pekan pertama bulan puasa ini dengan rajin shalat Tarawih, taradus Al-Qur’an atau mengikuti kajian agama. Tapi semakin mendekati akhir Ramadhan, intensitasnya semakin berkurang. Bahkan beberapa di antaranya sudah tidak lagi menjalankan puasa. 

Perjalanan Ramadhan itu seperti perlombaan lari jarak jauh sepanjang 29 atau 30 kilometer jika dalam satu hari disetarakan dengan perjalanan satu kilometer. Ramadhan bukan lari 100 atau 200 meter yang mana kita berlomba-lomba memaksimalkan seluruh tenaga untuk jarak sependek itu, lalu istirahat. Lari jarak jauh membutuhkan kemampuan untuk mempertahankan stamina dan mental karena semakin mendekati finish, energi kita sudah banyak yang terkuras, bahkan banyak di antaranya yang sudah tak mampu melanjutkan perjalanan. Mereka yang menjadi juara adalah orang yang mempertahankan kestabilan energi dan mentalnya, lalu menggunakan semaksimal mungkin saat mendekati garis finish.

Kesadaran untuk memaksimalkan waktu paling istimewa dari yang istimewa ini harus terus dikampanyekan. Tidak hanya dengan imbauan individu, tetapi merancang bagaimana masjid-masjid menggelar iktikaf bersama, menggerakkan para kiai dan ustadz untuk mendorong masyarakat memanfaatkan momen Ramadhan terakhir, termasuk juga mendidik masyarakat mengatur persiapan Lebaran secara beriringan dengan ibadah secara maksimal sehingga dua-duanya bisa berjalan dengan baik. Akhirnya, jika kita berhasil melalui Ramadhan dengan baik, jika berhasil menuntaskan perjuangan dan meraih kebersihan diri pada Idul Fitri. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 3 Juni 2018 10:15 WIB
Menimbang Usulan Sertifikasi Dai
Menimbang Usulan Sertifikasi Dai
Wacana tentang sertifikasi dai kembali mengemuka setelah muncul polemik 200 penceramah yang dirilis oleh Kementerian Agama baru-baru ini. Masyarakat mempertanyakan apa dasar dari rilis 200 orang tersebut. Lalu muncul usulan agar para dai disertifikasi biar ada indikator yang jelas. Beberapa indikator yang diusulkan adalah kompetensi  agama, jam terbang, dan komitmen kebangsaannya. Rencana sertifikasi ini mengulang usulan yang muncul pada tahun 2017 lalu tetapi menimbulkan pro-kontra di masyarakat sehingga akhirnya isu tersebut menghilang, terlupakan oleh isu-isu baru yang berubah dengan cepat.

Upaya standarisasi dan kemudian berujung pada sertifikasi pada dai berawal dari keresahan terhadap banyaknya penceramah dan mengkhutbah di masjid-masjid yang menggunakan ruang tersebut untuk menyampaikan ide-ide yang tidak toleran dan beberapa di antaranya dengan lantang menyuarakan anti-NKRI. Dalam sebuah bangsa yang majemuk, ide-ide radikal tersebut dapat mengganggu harmoni masyarakat yang dengan susah payah dibangun dan dijaga. 

Demokrasi yang berkembang di negeri kita ini memang memberikan kebebasan kepada warga negara untuk menyampaikan ekspresinya dengan berserikat dan organisasi untuk memperjuangkan idenya. Tetapi, kampanye yang tujuan jangka panjangnya untuk memberangus kebebasan itu sendiri tidak perlu diberi ruang. Kita bisa belajar dari negara-negara di Timur Tengah di mana kelompok radikal memanfaatkan demokrasi untuk meraih kekuasaan dan ketika sudah berkuasa, demokrasi yang telah menghantarkan mereka berkuasa lalu dipinggirkan. 

Kini saatnya berpikir dengan jernih langkah terbaik dalam mengatasi kampanye radikalisme dan anti-NKRI yang disuarakan oleh sejumlah penceramah. Kontroversi daftar 200 penceramah dapat menjadi momentum untuk segera menentukan sikap dalam mengatur ruang publik agar masing-masing saling menghormati dan menjaga keberlangsungan bangsa ini. Ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, MUI, dan lainnya dapat duduk bersama mencari format terbaik. Jika upaya tersebut muncul dari bawah, yang diwakili oleh ormas-ormas Islam, maka usulan akan lebih mungkin diterima masyarakat. Pemerintah cukup sebagai fasilitator.

Jika memang sertifikasi dianggap sebagai solusi terbaik, selanjutnya perlu dirumuskan standarnya. Ada standar yang jelas dan terukur dalam bentuk instrumen yang terperinci dalam sejumlah indikator bahwa seseorang memenuhi kualifikasi sebagai dai atau daiyah yang mumpuni. Hal ini akan mengurangi subyektifitas bahwa seorang dai sudah memenuhi kapasitas atau belum. Bisa saja dai yang terindikasi radikal, tetapi karena bernaung atau menjadi pengurus ormas tertentu, maka tetap diloloskan. Jangan pula, hanya karena berbeda persoalan khilafiyah, dai tertentu tidak diloloskan. Persoalan ini menggambarkan sedikit dari kerumitan masalah keagamaan yang ada di Indonesia.

Banyak persoalan lain yang perlu diperjelas seperti siapa yang berhak melakukan sertifikasi, apakah MUI atau masing-masing ormas, bagaimana pengawasan mutu sertifikasi, apakah juga perlu melibatkan Komite Akreditasi Nasional (KAN) yang memiliki kewenangan untuk menilai kompetensi suatu embaga atau organisasi dalam melakukan kegiatan penialian kesesuaian tertentu. Bagaimana penjenjangan kualifikasinya, termasuk berapa lama sertifikasi berlaku, bagaimana pengawasan jika ada pelanggaran dari ketentuan yang berlaku. Ini hanya sebagian kecil dari ketentuan yang harus diselesaikan. Butuh waktu dan pikiran yang jernih untuk menyelesaikan semua hal tersebut karena ketika sudah diputuskan, akan mempengaruhi banyak orang. Jangan sampai ketika sudah diselesaikan, standar sertifikasi tersebut dipertanyakan  atau ditolak masyarakat.

Menjadi dai bukanlah sebuah pekerjaan atau profesi. Sementara sertifikasi biasanya dilakukan oleh asosiasi profesi tertentu untuk menentukan kualifikasi seseorang dalam satu bidang profesi. Karena itu, sertifikasi dai tidak dapat menjadi stempel bahwa dai akan menjadi sebuah profesi dengan bayaran sesuai kualifikasi jenjang sertifikasi yang diperoleh. Hal ini akan merendahkan nilai dakwah yang dilakukan oleh para dai. Menjadi pendakwah merupakan panggilan hati yang muncul di masyarakat. Yang memberi pengakuan atas kompetensi selama ini juga masyarakat, apakah seorang dai memiliki pengaruh tingkat kampung, kabupaten atau memilki jangkauan nasional.

Umumnya, masyarakat memberi honor atas ceramah yang dilakukan dilakukan oleh dai atau daiyah, tetapi tidak ada standar. Ada etika di kalangan para dai untuk tidak menentukan tarif karena hal ini dianggap mencederai nilai dakwah yang mereka lakukan. Dan honor yang mereka terima biasanya digunakan untuk mengembangkan lembaga pendidikan yang dikelolanya. Rata-rata dai memiliki lembaga pendidikan seperti pesantren atau sekolah yang tentunya membutuhkan biaya operasional besar agar bisa berjalan dengan baik. 

Jika sertifikasi dianggap bukan sebagai ide yang layak, lalu bagaimana dengan solusi lain, apakah cukup dengan menyebutkan kriteria dai yang dianggap mumpuni. Lalu semuanya diserahkan kepada masyarakat. Mereka yang akhirnya akan menilai. Publlik yang akan menentukan, dai mana yang akan laku dan mana yang tidak, mana yang akan mampu bertahan lama dan berkembang, mana yang akan segera layu digantikan oleh dai yang menawarkan sesuatu yang baru. Ada nilai plus atau minusnya jika menggunakan pendekatan ini. 

Jika publik yang berhak menilai maka konsekuensinya, sejumlah dai yang berafiliasi dengan kelompok atau ideologi tertentu, tetapi dianggap bertentangan dengan nilai-nilai keindonesiaan akan tetap diakui keberadaannya, minimal oleh kelompoknya sendiri.. Akhirnya muncul konflik dalam masyarakat, antara yang menolak dan mendukungnya. Konflik bisa melebar dengan cepat seiring dengan berkembangnya media sosial.  

Ada pula dai yang berafiliasi dengan partai politik tertentu, yang akhirnya tidak bisa berpikir dengan jernih atas berbagai persoalan bangsa. Dai pendukung partai oposisi menjadikan panggungnya sebagai sarana untuk menghujat pemerintah sementara yang pro dengan kakuasaan memberi legitimasi atas tindakan-tindakan pemerintah. Dai sebagai penuntun masyarakat seharusnya menyampaikan kebenaran jika yang dilakuan pemerintah memang benar dan menyampaikan kritik jika yang dilakukan pemerintah memang patut untuk dikoreksi. 

Kini saatnya mencari solusi yang komprehensif atas persoalan para pendakwah. Semua yang ditata dengan rapi berdasarkan sistem yang baik akan membuahkan ketertiban. Tak mudah memang, karena ada kelompok-kelompok tertentu yang akan merasa dirugikan dan melakukan perlawanan atas upaya ini. Tapi, di situlah tantangannya. (Achmad Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG