IMG-LOGO
Ngobrolin Duit

Alhamdulillah, Kerja Lagi!

Jumat 29 Juni 2018 16:30 WIB
Bagikan:
Alhamdulillah, Kerja Lagi!
Libur panjang lebaran yang diberikan pemerintah, membuat kita bisa menikmati hari libur lebih lama dari biasanya. Dan ketika waktu liburan telah habis, terbitlah rasa malas untuk kembali bekerja. Memang wajar jika kita merasakan hal itu, tapi pekerjaan dan kantor nggak akan memaklumi hal itu karena kita dituntut untuk bersikap profesional. Nah, dari pada kemalasan berujung pada terganggunya performa kerja kita, aplikasikan dua kiat ini.
 
1. Perbaiki penampilan

Percaya atau nggak, penampilan dengan suasana hati atau mood saling terkait satu sama lain. Berbekal potongan rambut baru atau baju terkini, kamu bias lebih semangat dan punya “faktor X” untuk lebih antusias menyambut hari kerja, seperti anak kecil yang antusias ingin cepat-cepat bersekolah karena tak sabar menggunakan seragam dan sepatu baru di hari pertamanya sekolah.
 
Namun jangan jadikan ini alasan untuk lebih borosya, karena nggak perlu mengganti semua hal dari ujung rambut sampai ujung kaki. Satu atau dua poin saja, sudah cukup.
 
2. Tetapkan tujuan baru

Manusia tercipta dengan hormon adrenalin. Itu sebabnya, kita perlu diberi target agar bekerja lebih baik dan punya arah yang lebih jelas. Cobalah untuk membuat rencana liburan atau mudik tahun depan, memilih barang yang ingin dibeli dengan gaji bulan depan, atau jenjang karier apa yang ingin kamu capai tahun depan. Awalnya berandai-andai, tetapi ketika sudah ditargetkan, alam bawah sadarmu akan memacumu untuk bisa mencapainya. 

Yang nggak kalah penting, dalam Islam, bekerja adalah ibadah. Nggak mau kan kehilangan pahala yang sediakan Allah SWT bagi kita yang giat bekerja.
 
Dan jika di tahun ini kita sedikit menyesal Karen auang THR ludes nggak berbekas, padahal sadar masih banyak kebutuhan yang belum dipenuhi, saatnya mencari informasi bagaimana mengelola keuangan dengan baik supaya kejadian tahun ini tak terulang. Atau kita bias menyiapkan THR tambahan tahun depan melalui investasi. Tentu hal ini menjadi “semangat baru” untuk kita, sehingga muncul percikan semangat karena “Manusia yang paling beruntung adalah manusia yang hari ini lebih baik dari hari kemarin”. Yuk semangat kerja lagi!

Bagikan:
Rabu 9 Mei 2018 13:50 WIB
Investasi yang Sesuai Amanah, Memangnya Ada?
Investasi yang Sesuai Amanah, Memangnya Ada?
Investasi yang Sesuai Amanah, Memangnya Ada?

Dari hari ke hari kita berhadapan dengan kebutuhan hidup yang harganya semakin tinggi. Menyimpan "uang alternatif"  tampaknya tidak lagi cukup untuk kita menumbuhkan harta guna memenuhi kebutuhan keluarga dan hari tua. Saat ini, kita perlu berinvestasi. Masalahnya, sebagai Muslim kita perlu memastikan kegiatan investasi kita tetap sesuai dengan perintah agama.

Investasi bukan hanya mengejar keuntungan semata, hal lain yang lebih penting adalah pengelolaannya harus sesuai dengan kaidah-kaidah yang sesuai dengan ajaran agama Islam supaya bisa memberikan keuntungan yang halal, karena suatu saat nanti kita akan ditanya “Dari mana asal rezeki kita berasal dan dikemanakan?”

Pasar Modal Syariah

Saat ini, pasar modal syariah bisa menjadi pilihan yang baik untuk mengembangkan simpanan, sambil memastikan investasi kita tetap sesuai amanah. Pasar modal syariah juga sudah dikelola dan diawasi dengan sangat baik. Enam bulan sekali, pada bulan Mei dan November, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan Daftar Efek Syariah, yaitu daftar yang berisi instrumen-instrumen pasar modal - seperti saham dan sukuk - yang memenuhi syarat sebagai instrumen investasi syariah.

Syarat menjadi instrumen pasar modal syariah antara lain berlandaskan akad syariah dan sesuai peraturan terkait penerbitan efek syariah, diterbitkan oleh perusahaan yang kegiatan bisnisnya tidak bertentangan dengan prinsip syariah (perjudian, jasa keuangan ribawi), memiliki total utang tidak lebih dari 45% dari total asetnya, serta total pendapatan bunga non-halal tidak melebihi 10% total pendapatan usahanya.

Reksa Dana Syariah

Jika berinvestasi langsung di saham syariah dan sukuk begitu menyita waktu dan memerlukan pengetahuan yang tidak sedikit, reksa dana syariah dapat kita jadikan alternatif. Reksa dana syariah dikelola oleh Manajer Investasi yang memiliki Unit Pengelola Investasi Syariah (UPIS) dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS), seperti Reksa Dana Manulife.

Menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001, dalam pengelolaannya, reksa dana syariah berlandas pada dua akad: Wakalah dan Mudharabah. Wakalah adalah akad antara pemodal sebagai pemilik harta (shahib al-mal/Rabb al Mal) dengan Manajer Investasi sebagai wakil shahib al-mal, maupun antara Manajer Investasi sebagai wakil shahib al-mal dengan pengguna investasi. Mudharabah adalah akad bagi hasil.

Reksa dana syariah sangat terjangkau. Misalnya saja Reksa Dana Manulife Syariah Sukuk Indonesia (MSSI) yang dapat dimulai dari minimal Rp10 ribu, atau Reksa Dana Manulife Syariah Sektoral Amanah (MSSA) dengan minimal Rp100 ribu.

Ingin penjelasan lebih jauh? Silakan tanya LANI (Layanan Investasi MAMI) setiap hari 08:00-22:00WIB atau sampaikan pertanyaan di situs NU Online melalui email redaksi@nu.or.id

Kamis 19 April 2018 11:22 WIB
Reksa Dana, Investasi ala Rujak
Reksa Dana, Investasi ala Rujak
Kebanyakan dari kita telah mengenal investasi, baik melalui emas, properti, saham, obligasi, sukuk maupun alternatif investasi lainnya. Saatnya kita bahas satu alternatif investasi yang tak kalah seru; reksa dana. Ketika kita menabung, kita semata-mata menyimpan uang untuk digunakan esok hari. Investasi beda. Ketika berinvestasi, kita menyimpan sambil menumbuhkan uang kita, biasanya dengan cara membeli “sesuatu” yang harganya diharapkan akan naik di masa depan. Di reksadana, “sesuatu” itu dinamakan unit penyertaan reksa dana.

Lalu, bagaimana sih investasi di reksadana itu?

Reksadana: Investasi rame-rame
Reksa dana adalah investasi di pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi berpengalaman. Ketika berinvestasi di reksa dana kita tidak sendirian, tetapi rame-rame bersama investor yang lainnya. Karena itulah reksa dana sangat terjangkau: Seorang sedikit rame-rame jadi bukit. Modal investasi yang terkumpul dikelola oleh ahlinya, supaya berkembang dengan dibelanjakan membeli puluhan saham, berseri-seri obligasi, instrumen pasar uang dan deposito dengan imbal hasil lebih baik.

Reksadana: Satu keranjang, banyak jenis
Seperti perihal makan buah, saat kita ingin menikmati beragam buah dengan duit terbatas, pergilah ke tukang rujak. Selain puas dengan banyak rasa, tukang rujak memiliki keahlian untuk memilih buah-buah segar dan bagus, sehingga buah kita nikmati adalah buah yang terbaik. Nah seperti tukang rujak, perusahaan manajer investasi memiliki para ahli yang bertugas untuk memilih instrument investasi terbaik bagi para investornya.

Bedanya satu: saat rujak sudah dicicipi, kita tak bias mengembalikan atau menukarnya dengan seporsi rujak lainnya. Sedangkan unit penyertaan reksa dana bisa: bias dibeli, ditukar dengan reksa dana lain, dan dicairkan.

Reksadana: Investasi tanpa jangka waktu
Reksa dana tak seperti properti yang butuh waktu panjang untuk dijual, atau deposito yang terikat jangka waktu minimum jika tak ingin kena penalti. Unit penyertaan reksa dana boleh dicairkan kembali kapan saja kita inginkan. Ini jadi alas an kenapa reksa dana dapat dijadikan kendaraan menuju banyak tujuan keuangan kita: jangka pendek oke, jangka panjang pun tak masalah.

Reksa dana: Investasi bebas pajak
Reksa dana adalah investasi dua lapis. Pada lapis pertama, reksa dana berinvestasi pada saham, obligasi, deposito dan instrument lainnya. Lalu lapis keduanya adalah kita yang berinvestasi pada reksa dana. 

Nah di lapis pertama, saat saham-saham di dalam reksa dana membagi dividen, obligasi dan sukuk membayarkan kupon, deposito membayar bunga atau bagi hasil, atau saat ada keuntungan jual-beli saham dan obligasi, reksa dana sudah dikenakan pajak. Dengan begitu, ketika reksa dana menghasilkan untung, nggak dipotong pajak lagi dong! Nah, jadi kitanya musti cermat. Saat membandingkan potensi hasil investasi reksa dana dan bunga deposito, misalnya, kita musti paham bahwa hasil reksa dana sudah net,  sementara bunga deposito masih gros alias harus dipotong pajak lagi.

Reksa dana: yang syariah juga ada
Versi syariah dari reksa dana terdiri dari instrumen-instrumen yang disetujui sebelumnya oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI. Instrumen-instrumen ini termasuk saham syariah, sukuk, deposito syariah dan lain-lain. Tunggu artikel Reksa Dana Manulife selanjutnya untuk reksa dana syariah.

Yuk, mulai investasi di reksadana #SekarangAja!

Selasa 3 April 2018 13:30 WIB
Harta Kita, Manfaat untuk yang Lain
Harta Kita, Manfaat untuk yang Lain
Kita diajari untuk tidak menumpuk harta. Dengan kata lain, ada empat tantangan dalam menyiapkan hari depan: harus tetap menabung sekaligus menjaga daya beli kita dari harga berbagai kebutuhan hidup yang kian tinggi, sambil memastikan bahwa uang simpanan kita tetap berguna bagi banyak orang, serta sesuai prinsip syariah. Tantangan menabung, mudah kita lakukan. Tetapi bagaimana dengan kedua tantangan lainnya? 

Jawabannya untuk tantangan menjaga daya beli adalah investasi. Investasi berbeda dari menabung. Ketika menabung, kita sekedar menyimpan uang untuk membeli sesuatu di kemudian hari. Intinya, uang tak dicuri orang. Ketika berinvestasi kita menyimpan uang sambil menumbuhkannya melalui berbagai instrumen, termasuk saham, obligasi dan reksa dana. Dalam jangka panjang, investasi pasar modal seperti saham, obligasi dan reksa dana telah terbukti memberikan hasil lebih dibanding bunga tabungan bank.

Bermanfaat bagi banyak orang
Tantangan ketiga: memastikan uang kita tidak sekedar ditimbun, tetapi tetap berguna bagi banyak orang. Orang yang merasakan manfaat dari harta kita bukanlah sanak saudara dekat kita. Harta yang dititipkan kepada kita wajib diusahakan untuk dapat bermanfaat bagi mereka yang jauh, bahkan mungkin tidak kita kenal sekalipun. Sulit? Tak perlu.

Ketika berinvestasi pada saham, obligasi dan reksa dana, secara tidak langsung kita “meminjamkan” modal kepada berbagai perusahaan terpercaya untuk berekspansi. Jangan langsung berpikir bahwa kita cuma memperkaya konglomerat pemilik perusahaan-perusahaan raksasa. Pikirkan juga karyawan-karyawan perusahaan tersebut yang kesejahteraannya akan ikut meningkat ketika ekspansi bisnis perusahaan tersebut berhasil. 

Sesuai ajaran agama
Tantangan keempat adalah yang terpenting: sesuai syariah. Beruntunglah, di Indonesia saat ini investasi syariah telah dikelola dengan sangat baik. Enam bulan sekali, pada bulan Mei dan November, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan daftar perusahaan-perusahaan terbuka, surat hutang syariah (SUKUK) yang memenuhi syarat sebagai instrumen investasi syariah, daftar tersebut sering disebut Daftar Efek Syariah (DES).

Jika berinvestasi langsung di saham syariah dan sukuk begitu menyita waktu dan memerlukan pengetahuan yang tidak sedikit, reksa dana syariah dapat kita jadikan alternatif. Reksa dana syariah dikelola oleh Manajer Investasi yang memiliki Unit Pengelola Investasi Syariah (UPIS) dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS), seperti Reksa Dana Manulife. Pengelolaan reksa dana syariah diatur dalam peraturan Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001.

Mari melangkah untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik dari hari ini, manfaatkan harta kita untuk memberi manfaat bagi orang banyak melalui investasi.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG