IMG-LOGO
Internasional
PIALA DUNIA 2018

Saat Muslim di Moskow Mencari Mohamed Salah dalam Kerumunan Shalat Jumat

Sabtu 30 Juni 2018 3:0 WIB
Bagikan:
Saat Muslim di Moskow Mencari Mohamed Salah dalam Kerumunan Shalat Jumat
Mohamed Salah (Dok. Detik Sport)
Moscow, NU Online
Shalat Jumat selain menjadi rutinitas ibadah wajib bagi Muslim di Rusia, baik warga setempat maupun pendatang, ternyata kini diwarnai oleh aktivitas lain gara-gara ajang Piala Dunia 2018.

Pencarian Mohamed Salah, bintang sepak bola tim nasional Mesir, jadi salah satu aktivitas lain yang dilakukan oleh sejumlah jemaah sholat Jumat di Masjid Agung Moskow, Jumat (22/6) pekan lalu dilansir Antara.

Di antara perbincangan ragam bahasa yang tak dikenali, nama Mohamed Salah terselip, sementara gestur melongok ke depan dari lantai dua masjid dilakukan oleh para jemaah tersebut.


Shalat Jumat di Masjid Agung Moskow, Rusia. (Foto: Antara)

Boleh jadi, jemaah "terkecoh" lantaran pihak pengelola masjid kerap menyebutkan nama Salah ketika melakukan menyampaikan pengumuman.

Alih-alih mengikuti ajakan mendoakan kesuksesan dan kesehatan Salah, jemaah malah menganggap Salah turut hadir di antara kerumuman untuk menunaikan shalat Jumat di masjid yang peresmiannya dilakukan oleh Presiden Vladimir Putin pada 23 Septermber 2015 silam itu.

"Sekarang di Rusia sedang ada Piala Dunia dan ada bintang muslim asal Mesir, yaitu Mohamed Salah," kata pengurus masjid dalam bahasa Rusia.

Semenjak adzan, dua khutbah disampaikan dan shalat Jumat usai ditunaikan, sosok yang ditunggu tak juga kelihatan batang hidungnya.

Seorang warga Mesir yang menunaikan sholat Jumat di Masjid Agung Moskow, M. Ali, paham betul bahwa Salah tak ada di masjid yang sama, yang juga dikenal sebagai Masjid Katedral Moskow itu.

"Salah di kota lain," kata dia singkat sambil menawarkan beberapa parfum yang dijajakan sejumlah lelaki muda di depan pintu masjid tersebut. (Red: Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Sabtu 30 Juni 2018 22:45 WIB
Dianggap Melanggar HAM, Larangan Bercadar di Quebec Kanada Ditunda
Dianggap Melanggar HAM, Larangan Bercadar di Quebec Kanada Ditunda
Ilustrasi (© Reuters)
Toronto, NU Online
Untuk kedua kalinya hakim Kanada menangguhkan aturan larangan pemakaian cadar di Provinsi Quebec, Kamis (28/6). Penundaan ini dilatari oleh keberatan para penentang kebijakan ini karena dinilai diskriminatif terhadap perempuan Muslim dan melanggar hak konstitusional, lapor Reuters.

Seperti pernah diwartakan NU Online, Pemerintah Quebec, Kanada, mengesahkan undang-undang yang berisi larangan bercadar pada 18 Oktober 2017, yang rencananya berlaku pada 1 Juli 2018. 

Baca: Quebec Terbitkan Undang-undang Pelarangan Cadar
Larangan tersebut rencananya berlaku bagi siapa saja yang memberikan atau menerima layanan publik pemerintah setempat. Artinya, kebijakan akan menyasar kepada guru, siswa, karyawan rumah sakit, petugas kepolisian, sopir bus, dan pengguna angkutan umum di provinsi terbesar di Kanada yang kebanyakan penduduknya berbahasa Prancis itu.

Bulan Desember lalu, penangguhan juga dilakukan sampai pemerintah Provinsi Quebec menerbitkan peraturan baru. Namun hakim lain menganggap peraturan baru masih membingungkan dan ambigu, lalu menghentikan penerapannya.

Hakim Pengadilan Tinggi Quebec Marc-Andre Blanchard menulis dalam putusannya bahwa undang-undang tersebut melanggar Piagam Hak dan Kebebasan Kanada. Menurutnya, kebijakan itu amat merugikan perempuan Muslim.

Sementara itu pemerintah Quebec berpendapat sebaliknya. Menurutnya, undang-undang pelarangan cadar tidak mendiskriminasi perempuan Muslim, bahkan diperlukan untuk alasan keamanan, identifikasi, dan komunikasi.

Para penolak larangan mengenakan cadar mengaku menaruh perhatian pada minoritas yang terancam mendapat perlakukan keras. Quebec memiliki sekitar 243.000 Muslim dari 8 juta penduduk pada 2011, menurut data statistik Kanada.

Gejala Islamofobia meningkat di Quebec dalam beberapa tahun terakhir. Pada Januari 2017 lalu, enam orang tewas dalam insiden penembakan di sebuah masjid di Kota Quebec. Seorang mahasiswa berkebangsaan Prancis-Kanada dituduh sebagai tersangka tunggal.

Mengomentari keputusan terbaru, pengacara Catherine McKenzie, yang mewakili para penggugat, mengatakan, "Saya berharap, yang terjadi adalah pengadilan masih ada di sana untuk melindungi dan membela warga negara terhadap tindakan pemerintah yang tidak selaras dengan konstitusi."

Perancis, Belgia, Belanda, Bulgaria, dan negara bagian Bavaria di Jerman telah memberlakukan pembatasan pemakaian cadar di tempat-tempat umum. Denmark pun berencana akan melakukan kebijakan serupa. (Red: Mahbib)
Sabtu 30 Juni 2018 20:30 WIB
PBB: Operasi Militer di Barat Daya Suriah Harus Dihentikan
PBB: Operasi Militer di Barat Daya Suriah Harus Dihentikan
Sekjen PBB Antonio Guterres. (Reuters)
New York, NU Online
Sekretaris Jenderal Pererikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyerukan agar operasi militer yang sedang berlangsung di barat daya Suriah segera dihentikan. Ia khawatir korban sipil bakal berjatuhan akibat situasi buruk ini.

Melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, Jumat (29/6), seperti dikutip dari kantor berita Xinhua, Guterres mengingatkan bahwa daerah tersebut adalah bagian dari perjanjian zona deeskalasi antara Yordania, Rusia dan Amerika Serikat di Amman pada Juli 2017.

Guterres meminta para pihak yang terlibat untuk menegakkan komitmen dan kewajiban mereka di bawah hukum humaniter dan hak asasi manusia internasional, guna melindungi warga sipil dan memfasilitasi akses kemanusiaan.

Secara khusus, dia mengatakan semua pemangku kepentingan harus menghentikan serangan yang diarahkan terhadap fasilitas medis dan pendidikan serta menciptakan kondisi aman bagi pengiriman bantuan kemanusiaan lintas batas PBB.

Pimpinan PBB tersebut juga mendesak komunitas internasional untuk bersama-sama mengakhiri konflik yang semakin meluas ini, yang berisiko kian merusak stabilitas kawasan dan memperburuk krisis kemanusiaan yang mendalam di Suriah dan negara-negara tetangga.

Utusan Khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura baru-baru ini memperingatkan bahwa pertempuran skala penuh di wilayah barat daya negara itu yang sebelumnya tenang bisa menelan wilayah dan populasi sebesar gabungan Ghouta Timur dan Aleppo.

Sayap bantuan PBB pada Kamis menyebutkan, jumlah pengungsi Syiria mencapai 66.000 akibat eskalasi konflik di bagian selatan negara itu. Kondisi memperparah korban tewas warga sipil. (Red: Mahbib)
Sabtu 30 Juni 2018 2:0 WIB
Sepak Bola 'Selamatkan' Warga Palestina Korban Serangan Israel
Sepak Bola 'Selamatkan' Warga Palestina Korban Serangan Israel
Gaza, NU Online
Sejumlah warga Palestina yang kehilangan anggota tubuhnya akibat serangan Israel di Jalur Gaza kini punya tujuan baru dalam hidupnya, yakni menjai pemain sebuah tim sepak bola.

Para pemain berusia antara 13 dan 42 tahun dengan formasi satu tim beranggotakan delapan orang, sebagian besar hanya punya satu kaki dan bermain dengan memakai kruk.

"Saya dulu duduk saja di rumah, sedih. Kini saya senang, punya teman dan kami bermain," kata Ibrahim Khattab (13) yang kehilangan kaki kirinya ketika perang Israel dan militan Gaza pada 2014. Ia terkena serangan rudal Israel ketika sedang bermain bola di luar rumah.

"Dia selalu putus asa, kini setelah bergabung dengan tim sepak bola, saya melihat dia punya harapan," kata ayahnya, Khaled, seperti dikutip Reuters.

"Dia biasanya menghabiskan sebagian besar waktu bermain game di tablet," sambungnya.

Fouad Abu Ghalyoun, anggota komite paralimpiade Palestina, mendirikan tim itu, mendapat ide setelah pertandingan antara tim dari Inggris dan Turki tahun lalu. Dalam jangka waktu lima bulan, sebanyak 16 pemain telah bergabung.

"Dulu sulit mengajak mereka yang kakinya diamputasi untuk ikut bergabung. Sekarang mereka bertanya pada kami kapan waktunya latihan," kata Abu Ghalyoun.

"Sepak bola disukai anak muda, jadi yang pertama itu menghibur dan kedua...ini semacam dukungan psikologi," katanya pada Reuters.

Pelatih tim, Khaled Al-Mabhouh, mengatakan skuad itu masih butuh kruk yang lebih kuat untuk mengganti kruk biasa yang mudah rusak ketika pemain menumpukan badannya saat pertandingan.

Sebagian dari 54 warga Palestina yang kakinya diamputasi gara-gara terluka akibat serangan Israel dalam demonstrasi di perbatasan Gaza-Israel baru-baru ini telah menyatakan minatnya untuk bergabung dalam tim. 

Setidaknya 130 warga Palestina telah dibunuh oleh pasukan Israel selama demonstrasi massal sejak 30 Maret, kata pejabat kesehatan Gaza.

Pada Kamis, para pejabat Gaza mengatakan seorang warga Palestina berusia 17 tahun ditembak mati oleh tentara Israel di perbatasan. Militer Israel mengatakan pasukan menembaki dua calon penyusup.

Para pengunjuk rasa menuntut hak kembali ke tempat yang sekarang disebut Israel bagi mereka yang melarikan diri atau dipaksa meninggalkan rumah mereka dalam perang ketika Israel dibentuk pada 1948, dan untuk jutaan keturunan mereka. Israel mengesampingkan itu sebagai aksi demografi bunuh diri.

Taktik Israel dalam menghadapi protes telah mengundang kecaman internasional. Tetapi dukungan datang dari sekutu utamanya, Amerika Serikat, yang seperti Israel telah menuduh bahwa yang menghasut kekerasan dan berusaha menembus perbatasan untuk melakukan serangan adalah kelompok Islam Hamas. (Antara/Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG