IMG-LOGO
Wawancara

Tuduhan Tidak Islam Kaffah dan Liberal dari Simpatisan Parpol

Senin 2 Juli 2018 19:45 WIB
Bagikan:
Tuduhan Tidak Islam Kaffah dan Liberal dari Simpatisan Parpol
Pilkada langsung serentak di 171 daerah telah berakhir. Pasangan calon dan pra pendukung dan simpatisan tinggal menunggu hasil penghitungan resmi dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD). Dari hasil penghitungan itu, tentu ada yang menang dan kalah.  

Namun, ada sebagian pendukung atau simpatisan yang sepertinya tidak siap menerima kekalahan. Ungkapan mereka di media sosial baik tertutup maupun terbuka dilampiaskan dengan hujatan kepada pihak lain. 

Hujatan itu kadang beraroma SARA yang mudah mengundang kemarahan pihak lain. Misalnya ada ungkapan, jika di sebuah daerah calon yang didukungnya kalah, maka daerah itu mayoritas dihuni penduduk tidak beragama secara kaffah. Di saat sama berarti banyak warga yang liberal. 

Tentu ungkapan tersebut tidak tepat karena tidak ada hubungannya sama sekali. Untuk mengetahui fenomena semacam itu, Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai Direktur Said Aqil Siroj Institute M. Imdadun Rahmat di PBNU, Jumat (29/6). Berikut petikannya: 

Ada kecenderungan Pilkada dikaitkan dengan agama. Anehnya, pengaitannnya itu adalah tuduhan bahwa jika partainya kalah di suatu daerah, maka daerah tersebut kebanyakan bukan pemeluk Islam kaffah. Bahkan liberal. Menurut Anda bagaimana

Yang pertama, bahwa klaim seperti itu adalah arogansi teologis, arogansi keagamaan masih diidap oleh kelompok itu. Ada klaim hanya mereka sendiri Islam kaffah, yang sempurna agamanya. 

Menurut saya, arogansi seperti ini menunjukkan ada unsur kuat menuju radikalisme. Karena salah satu elemen penting dalam radikalisme agama klaim mutlak hanya dirinya yang benar, yang lain salah. 

Kita prihatin dengan fenomena ini karena klaim kebenaran mutlak satu kelompok dan menyalahkan tidak sempurna keimanan menjadi potensi pertentangan antarkelompok, kebencian kelompok dengan kelompok lain. Dengan demikian ukhuwah islamiyah tidak akan tercapai kalau arogansi seperti ini masih ada

Kedua, klaim spserti ini kontraproduktif dengan kelompok tersebut yang menyatakan partai dakwah. Kalau partai tersebut partai dakwah, mereka menderita kerugian sekaligus. Sebagai parpol, dia akan menjauhkan konstituen massa mengambang karena melebarkan bibit jarak di saat sama mempersempit konstituen yang lain. Sebagai partai, dia akan kehilangan vootersnya.  Hal penting diingat karena di indonesia massa mengambang jumlahnya banyak. Massa ini akan berhasil ditarik kalau terpikat. Kalau dicaci maki dan dijelek-jelekkan, secara rasional akan menjauh. Partai ini akan rugi dari ceruk swings vooter itu. 

Dari sisi gerakan dakwah, ini kontraproduktif dengan metode dakwah yang benar karena dakwah yang benar mencari simpati dan menambah kawan. Bukan penghakiman tidak kaffah, tidak sempurna, libaral. Justru itu akan membuat objek dakwah untuk Islam yang lebih baik itu, akan lari. Tidak cocok dengan prinsip dan metode yang benar dalam berdakwah. Kita prihatin dengan maraknya statement seperti itu karena efeknya bahaya, karena mengobarkan kebencian kepada sesama Muslim dan potensial memunculkan konflik. 

Apa pendapat Anda dari hasil penghitungan sementara pada pilkada serentak ini?

Hasil penghitungan suara di pilkada ini menunjukkan bahwa partai-partai yang mengkampanyekan jagonya dengan mengeksploitasi sentimen identitas agama itu cenderung tidak laku. Kampanye yang menggunakan jargon-jargon fanatisme regliigus ke kanan itu tidak laku di publik. Buktinya jago dari partai inklusif dan terbuka itu yang memenangkan pilkada. Mestinya justru pendukng dan pengurus partai ini mesti belajar bahwa jualan kebencian itu tidak disambut oleh konstituen, oleh vooters. 

Sinyalemen apa ini jika dikaitkan dengan pilpres? 

Saya kira ini sinyalemen menggemberikan karena sebentar akan menghadapi pileg dan pilpres. Saya berkeyakinan para kandidat yang pluralis, yang mengutamakan bangsa, dan harmoni bangsa itu akan terpilih di 2019. Jadi, ini adalah pembelajaran politik masyarakat. Jadi, masyarakat semakin rasional semakin terbentuk budaya demokrasinya, rasional dan tidak mudah dimanipulasi identitas, khususnya agama. 

Ke depan, idealnya partai islam berlomba mewujudkan nilai-nilai luhur dari agama itu tentang keadilan, kejujuran, antimonipolitik, keberpihakan kepada orang banyak di atas kelompok, keadilan ekonomi. Itu yang perlu diwujudkan dari keislaman sebuah partai, bukan simbolisme. Kehadiran agama itu pada nilai-nilai. Agama memakai politik untuk tujuan hakiki dari agama, bukan politik memakai agama untuk tujuan kekuasaan. Jadi titik singgung agama dan politik itu pada nilai-nilai luhurnya. Parameter adalah sejauh mana memperjuangkan keadilan, memperjuangkan alokasi pembangunan, melindungi kelompok minoritas, bukan malah ikut-ikutan korupsi. Bukan malah mengorbankan kepentingan bangsa, kepentingan bersama untuk kepentingan diri dan kelompoknya. 

Apa itu watak bawaan orang per orang atau doktrin dari partai mereka? 

Itu watak bawaan karena yang dilatih pada bab pertama mereka adalah identifikasi siapa kawan dan siapa musuh, itu di awal pada proses pendidikan. Dengan begitu bahwa klaim kebenaran mereka pada bab awal pendidikan. Konsekuensinya harus ada yang disalahkan. Kelompok lainlah yang harus dicitrakan salah. Maka ada kawan ada lawan. Ada teman ada musuh. 

Pada perkembangannya (menyebut nama partai) pernah sadar cara pandang seperti ini kontraproduktif kalau dilempar ke publik. Pada 2009 kampanye mereka cenderung ini inklusif, menerima siapa saja, bahkan menerima non-Muslim untuk menjadi caleg. Pada saat itu pencitraan cukup berhasil. Dan hasilnya suara raihan mereka di pemilu meningkat drastis, 6,7 persen. Berkat dari proses itu, mengadaptasi dengan kondisi Indonesia, paling tidak di permukaan. Tapi kemudian pencitraan itu semakin memudar. Tapi kemudian tampil seperti sedia kala. Bahkan mengekslusi menuduh tidak kaffah. itu merugikan citra mereka sendiri dan kepentingan mebangun ukhwah islamiyah. Merugikan ukhwah islamiyah, ukhwah wathoniyah dan insaniyah. Karena tiga ukhwah ini satu kesatuan. Kalau salah satu unsurnya dilanggar, mustahil membangun wathaniyah kalau islamiyahnya tidak selesai. 

Ketiga ukhwah terbangun kalau ada kesiapan mental menerima perbedaan. Dengan sesama Islam saja sudah menuduh, bagaimana dengan kalangan yang berbeda banyak suku, bangsa, bentuk fisik. Berbeda sedikit tidak bisa, mana mungkin menerima dengan perbedaan yang banyak. 

Bagaimana nasib mereka masa depan? 

Untuk itu, melihat perkembangan mau organisasi maupun partai, semakin ekslusif sebuah organisasi atau partai, maka semakin mudah mati. Apa sebabnya? Karena kelompok atau partai dengan ideologi ekslusif artinya menarik garis sempit. Itu membuat pendukungnya semakin sedikit. Kalau seseorang tidak sama persis dengan garis partai akan ketendang keluar, disebut bidah, inhirof bahkan kafir itu menyebabkan orang banyak susah masuk. Yang sudah di dalam berpotensi keluar. Karena berbeda sedikit dikeluarkan, ini akan menimbulkan sempalan. Bahkan terbelah menjadi dua. Dan sering kali kelompok radikal di Indonesia mati dan melemah karena konflik di internalnya sendiri. Berbeda dikit pecah. 

Parpol atau organisasi tidak bisa memakai model ideologi radikal seperti ini. Betul memang atraktif, menarik, khususnya anak muda yang galau dan mudah sekali membentuk militansi. Partai kader biasanya terbangun dari model pengorganisasian seperti ini, ideologi sempit, ketat, berbeda sedikit out, itu salah satu watak dari partai kader. Memang ada proses pendidikan kaderisasi intensif, akan muncul tokoh dan kader militan. Kelebihannya di situ. Namun, partai kader tidak akan mampu menjaring suara konstituen yang besar karena daya tolaknya tinggi. 

Sehingga partai seperti ini tidak punya masa depan untuk massa. Partai massa tumbuh dengan prinsip longgar. Tingkat disiplin rendah, dan inklusif dan memberikan jarak yang luas. Dan tidak senang mengeluarkan orang. Sejauh mendukung partai dia akan diakomodasi. Partai massa ini yang dimana-mana menjadi besar dan memenangkan pemilu, dan menduduki jabatan strategis di negara. 

Ada contohnya? 

Misalnya di Eropa, di situ itu ada partai kanan, baik itu kanan agama maupun nasionalis. Itu selalu jadi partai oposisi dan gurem. Di sampaing ada kiri sosialis. Tidak membesar juga. Nah, yang selalu memenangkan parlemen dan pemilu adalah partai-partai tengah karena naturenya mengakomodasi keragaman kontituen. Biasanya partai-partai tengah ini bersaing merebut ceruk swing vooter. Tidak militan. 

Kembali lagi ke pertanyaan awal, tuduhan mereka tidak Islam kaffah dan liberal jika partainya kalah. Sikap warga NU terhadap cara pandang seperti itu bagaimana? 

Sikap yang paling bijak adalah tidak membalas dengan hujatan. Tapi menjelaskan bahwa menghujat itu tidak baik. Apa bedanya Islam rahmatan lil alamin yang menjadi slogan warga NU dengan islam yang suka menghujat kalau dibalas dengan menghujat. Kita membuat pagar betis saja, isolasi cara pandang mereka agar virus suka membenci warga lain tidak menulari warga NU. Memang akan selalu kalah di awal karena pagar betis dan mengisolirnya harus penuh kesabaran. Dalam pertarungan itu, memang pertahanan yang baik adalah menyerang, tapi ini kita ingin menciptakan dunia yang tidak ada kekerasan. Kita harus isolasi dan pagar betis.

Caranya bagaimana? 

Harus ada upaya ekstra kalau kasusnya ekstra ordinary, darurat; maka pagar betis dan isolasinya harus ekstra juga. Modal sosial dan struktural, kultural NU sudah cukup. Di Jawa, struktur NU sudah sampai ke desa-desa. Di luar Jawa, sudah sampai ke cabang, ada yang kecamatan, ada juga yang sampai di desa seperti di Lampung. 

Secara kultural NU punya pesantren, punya tradisi yasinan, slametan, dibaan, itu adalah media yang sangat efektif memagari umat kita dari kelompok penyerang ini. Tinggal meyebarkan tanbih (peringatan) agar kaum Nahdliyin sadar ancaman ini. Secara otomatis mereka akan melakukan pembelaan diri. Dan itu sudah dibuktikan berkali-kali oleh Nahdliyin.

Tags:
Bagikan:
Jumat 15 Juni 2018 10:0 WIB
Cengkraman Radikalisme di Kampus Perguruan Tinggi
Cengkraman Radikalisme di Kampus Perguruan Tinggi
KH Mohammad Mukri, Ketua PWNU Lampung
Berkembangnya radikalisme di Indonesia saat ini menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi semua elemen bangsa. Upaya deradikalisasi sudah dilakukan oleh pemerintah dengan menggandeng stake holders terkait. Harapannya, pemahaman, sikap, dan aksi radikalisme dapat diberantas sampai ke akar-akarnya. Namun seakan-akan "patah tumbuh hilang berganti". Kelompok-kelompok radikal terus berupaya menebarkan virus radikalismenya melalui segala lini, mencengkram dengan jaringan yang terstruktur sehingga berbagai lini sudah mampu dikuasai.

Salah satu jaringan yang sudah menjadi lahan subur tumbuhnya paham radikal adalah lembaga pendidikan baik sekolah maupun kampus perguruan tinggi. Kondisi ini ini tentu sangat memprihatinkan karena bagaimana pun para pelajar dan mahasiswa adalah kader yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di negeri ini dan kepada merekalah eksistensi negara Indonesia harus dilanjutkan dan dipertahankan.

Terkait permasalahan ini dan bagaimana langkah NU menghadapi kondisi yang jika didiamkan mampu merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia, Jurnalis NU Online Muhammad Faizin melakukan wawancara dengan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung yang juga Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung KH Mohammad Mukri di kediamannya di daerah Sukarame Bandarlampung, Rabu (13/6) malam. Berikut hasil wawancara dengan Professor Ilmu Ushul Fiqh ini.

Apakah paham radikalisme memang berkembang di kampus perguruan tinggi, Prof? Elemen apa yang terpapar?

Iya, paham radikalisme memang tumbuh di kampus-kampus dan memang ada. Utamanya tumbuh subur di kampus- kampus perguruan tinggi umum. Kenapa? Karena yang mengajarkan agama di perguruan tinggi negeri umum itu adalah orang atau dosen yang tidak didesain menjadi dosen agama. Ada kecenderungan orang yang senang dengan agama tapi tidak dididik secara sistematis untuk tahu agama dari madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah sampai dengan perguruan tinggi agama. Mereka malah berasal dari pendidikan umum SD, SMP, SMA yang kurang bersentuhan dengan pendidikan ilmu agama kemudian di perguruan tinggi bergabung dengan halaqah-halaqah (perkumpulan) dengan belajar agama sendiri.

Mereka tidak paham bahwa ilmu agama itu punya sanad, metodologi dan manhaj tertentu. Sehingga yang seperti ini sangat berbahaya apalagi disusupi paham radikal yang menafsirkan Al-Qur’an dan Hadits melalui cara yang bertentangan dengan kaidah dan nilai-nilai dasar yang disepakati. Pemahaman seperti inilah yang ditanamkan kelompok radikal sehingga menganggap pancasila, UUD 45 tidak islami serta menuduh Indonesia negara taghut dan tidak ada yang baik dalam pandangan kelompok ini. Semua jadi jelek dan ini kontra produktif. Ingat, mendirikan bangsa ini bukan main-main.

Kemudian bagaimana NU khususnya PWNU Lampung menyikapi kondisi memprihatinkan ini?

NU sudah melakukan aksi nyata terkait kondisi ini. Tidak hanya sekedar wacana, karya kata namun karya nyata. NU sudah melakukan langkah-langkah terstruktur terkait kaderisasi melalui Pendidikan Kader Penggerak NU ataupun Madrasah Kader kepada pengurus dan warga NU. Tujuan kaderisasi ini adalah mengarusutamakan paham Islam wasathiyah (moderat). Kenapa harus moderat? Karena fakta Indonesia sudah ditakdirkan oleh Allah sebagai negara multikultural, multietnis, multiagama, multibahasa dan dengan pemahaman yang moderat sampai dengan saat ini masih damai. Namun kalau paham-paham ini (radikal, red) masuk maka akan muncul ketidak damaian di negeri ini. Apa yang dilakukan NU akan dan harus terus diperkuat secara sistematis dan masif.

Perkembangan paham radikalisme di kampus disinyalir juga bersemai subur di masjid-masjid kampus. Bagaimana tanggapan Profesor?

Secara umum ada perbedaan perkembangan paham radikal di masjid kampus perguruan tinggi umum dan masjid perguruan tinggi agama. Kalau di kampus perguruan tinggi agama, memang menjadi tempat dan banyak ahli agama. Sehingga paham-paham seperti ini bisa dibendung. Seperti pengalaman saya ketika menjadi Pembantu Rektor III saya selalu memberikan pengarahan kepada mahasiswa yang akan melaksanakan kajian keagamaan agar mengundang pemateri yang memang memiliki kapasitas dan keilmuan yang jelas. Tidak mendatangkan pemateri yang tidak jelas background (latar belakang) pendidikan agamanya apalagi mendatangkan orang yang memiliki misi politik dibungkus agama.

Kalau di perguruan tinggi umum kenyataannya banyak halaqah-halaqah dan kajian agama beraliran Islam transnasional yang selanjutnya menjadi cikal bakal pergerakan di dunia politik. Di sejumlah negara Timur Tengah, aliran ini sudah dilarang seperti di Mesir, Yordania, Arab Saudi. Karena negara Indonesia adalah negara demokrasi, dipersilahkan sepanjang dia (kelompok Islam transnasional) bisa mendapat tempat di masyarakat. Sehingga kelompok ini pun bisa berkembang di Indonesia dan memiliki jaringan serta memiliki kader yang well-educated (berpendidikan baik).

Mereka juga memiliki tim cyber internet (media sosial) sendiri yang senang memanfaatkan dan menggoreng berita yang sedang viral untuk kepentingan mereka. Apalagi isu-isu terkait agama dari dulu memang menjadi komoditi dan menarik karena ada ayatnya, ada dalilnya, ada penganutnya dan janjinya surga. Dan mereka memiliki kesemangatan beragamanya tinggi namun memahami agama secara tekstualis, tidak melihat konteksnya di mana, masyarakatnya seperti apa. Maka seperti kelompok-kelompok khawarij, Ibnu Muljam itu menjelma kembali.

Kenapa Islam moderat cocok untuk Indonesia dan bagaimana paham radikal mempengaruhi pola pikir masyarakat yang aslinya sudah moderat?

Islam moderat itu damai dengan lingkungan serta menjunjung tinggi budaya selama tidak bertentangan dengan agama. Maka itu kebiasaan seperti Yasinan, Barzanji, Nujuh Hari mampu dilestarikan selaras dengan nilai-nilai agama. Sebelum Islam datang ke Indonesia, sudah ada Majapahit. Sudah mapan selama 600 tahun tidak kebayang bisa bubar. Pada zaman Majapahit yang berbicara masalah agama adalah sekelas Brahma atau Kiai. Dan seorang Priyayi atau Ningrat tidak boleh berbicara masalah agama.

Berbeda dengan kondisi saat ini di mana semua orang bicara agama dengan retorika diri sendiri. Seolah-olah sudah paling alim agama padahal baru saja belajar dari media sosial. Pengaruh perkembangan teknologi informasi memang sangat luar biasa. Dan ini yang dimanfaatkan untuk menyebarkan paham-paham baru ke masyarakat. Saat ini orang yang sudah punya kemampuan bidang agama juga bisa terpapar pola pikir radikal karena membaca broadcast di medsos yang dirangkai dengan kata-kata halus dan narasi yang bagus sehingga kalau orang tidak tahu bisa terpengaruh karena pelan-pelan dimasukkan kalimat-kalimat propaganda yang mempengaruhi pemahaman pembaca. Jangankan yang punya modal pengetahuan agama setengah-setengah, yang alumni pesantrenpun ada yang terpapar paham radikal transnasional melalu media sosial.

Jadi jika tidak hati-hati, semua bisa terpapar radikalisme?

Ya. Tidak hanya pelajar saja namun saat ini sudah ada para cendikiawan yang juga terpapar oleh paham radikal. Anehnya yang bersangkutan tidak merasa radikal tapi merasa benar. Mereka akan terus merasa tidak senang dengan kelompok selain mereka. Semua kan bermula dari rahmah, rasa cinta. Kalau orang tasawuf, lihat orang sakit jiwa saja masih tetep cinta. Lihat orang melakukan yang menurut ilmu fiqh itu jahat kadang tersenyum.

Oleh karenanya kita harus mencontoh kiai-kiai Nahdlatul Ulama yang mampu membentengi diri dari paham-paham radikal walaupun mereka belajar agama lama di Timur Tengah. Seperti Gus Mus, Kiai Said dan yang lainnya. Malah saat ini yang belajar cuma setahun dua tahun begitu pulang ke tanah air sudah berubah dan radikal.

Perilaku dan tindakan radikal berawal dari pola pikir radikal. Sehingga harus ada yang pola deradikalisasi yang salah satunya pemberian ruang untuk Islam washatiyah. Makanya NU saat ini programnya bukan hanya sekedar dakwah menggelorakan Islam washatiyah tapi juga dakwah yang didalamnya ada pendidikan. Jangan pernah merasa lelah karena kalau kita berhenti kelompok ini akan tetap hadir.

Dalam hal ini pemerintah saat ini sangat memerlukan NU. Saya tidak bisa membayangkan jika negara Indonesia ini tidak ada Nahdlatul Ulama. NU itu secara kuantitas banyak. Kualitas keilmuan agama para ulamanya juga tidak diragukan lagi. Kalau ada orang alim walaupun tidak secara langsung menunjukkan ke-NU-annya, namun secara amaliah mayoritas memegang kuat amaliah NU dan paham Ahlussunnah wal Jama’ah.(*)
Selasa 12 Juni 2018 9:15 WIB
Transkrip Lengkap Dialog Gus Yahya di Israel
Transkrip Lengkap Dialog Gus Yahya di Israel
Gus Yahya dan David Rosen (AJC Global)
Kehadiran Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dalam kegiatan yang digelar American Jewish Committee (AJC) Global Forum di Yerusalem menuai polemik. Tidak sedikit yang menyayangkan, namun banyak pula yang mendukung sebab bagian dari upaya diplomasi damai untuk meredam konflik Palestina dan Israel.

Pada hari pertama pembukaan kegiatan, Ahad (10/6) waktu setempat, Forum Global Yahudi Amerika tersebut menyelenggarakan dialog dengan Gus Yahya. Forum dialog yang dimoderatori oleh Rabi David Rosen (AJC International Director of Interreligious Affairs) ini dihadiri 2.400 orang.

Berikut transkrip lengkap dialog Forum Global AJC dengan Gus Yahya yang dikirimkan Alma Ashfiya (santri asal Yogyakarta) kepada NU Online. Transkrip ini diterjemahkan oleh Gus Zaim Cholil Mumtaz (Pengurus PP GP Ansor Departemen Hubungan Luar Negeri). Sumber video dari akun Youtube AJC Global berdurasi 14.35:

David Rosen: Selamat datang. Anda adalah salah satu murid terbaik dari salah satu guru terbaik yang pernah ada, Presiden Abdurrahman Wahid, Gus Dur. Dan AJC sudah berhubungan dengan Gus Dur sejak 20 tahun lalu. Gus Dur juga bicara di acara seperti ini, 16 tahun lalu. Beliau juga pernah mengunjungi Israel sebanyak 3 kali. Lalu Anda sekarang mengikuti jejaknya. Bagaimana perasaan Anda?

Gus Yahya: Terima kasih atas kesempatan ini. Adalah sebuah keberuntungan bagi NU bahwa Gus Dur meninggal dunia dengan meninggalkan murid-murid yang kemudian tumbuh dan mengikuti jejaknya. Apa yang selama ini saya dan rekan-rekan saya lakukan hanyalah sebatas melanjutkan pekerjaan dari Gus Dur.

David Rosen: Tapi ini bukan sekadar ketersambungan. Kehadiran Anda di sini memiliki signifikasi tersendiri di mata dunia. Bagaimana Anda memaknai hal ini?

Gus Yahya: Idealisme dan visi yang dimiliki oleh Gus Dur adalah keberlangsungan umat manusia dalam jangka waktu yang sangat panjang. Dan oleh karenanya tidak bisa dicapai secara instan. Gus Dur telah menjalankan perannya dalam mewujudkan visi tersebut. Dan kini adalah giliran murid-murid beliau di generasi ini untuk melanjutkan pekerjaan tersebut. Kami merasa beruntung. Sebab berkat Gus Dur, kami telah mencapai titik tertentu dimana kami bisa melihat arah yang lebih jelas di depan kami.

David Rosen: Dalam pidatonya di forum AJC di Washington, Gus Dur bicara tentang hubungan yang istimewa antara Yahudi dan Islam yang telah berjalan ratusan tahun. Bagaimana Anda memandang hubungan ini?

Gus Yahya: Hubungan antara Islam dan Yahudi adalah hubungan yang fluktuatif. Terkadang baik, terkadang konflik. Hal ini tergantung pada dinamika sejarah yang terjadi. Tapi secara umum kita harus mengakui bahwa ada masalah dalam hubungan dua agama ini. Dan salah satu sumber masalahnya terletak pada ajaran agama itu sendiri. Dalam konteks realitas saat ini, kaum beragama baik Islam maupun Yahudi perlu menemukan cara baru untuk pertama-tama memfungsikan agama dalam kehidupan nyata. Dan kedua menemukan interpretasi moral baru yang mampu menciptakan hubungan yang harmonis dengan agama-agama lain.

David Rosen: Jadi, Anda mengatakan bahwa melakukan intrepretasi ulang terhadap teks Al-Qur'an dan Hadits sebagai upaya untuk menghilangkan penghalang bagi terciptanya hubungan baik antara Islam dan Yahudi adalah sesuatu yang mungkin dilakukan?

Gus Yahya: Bukan hanya “mungkin”, tapi ini sesuatu yang “harus” dilakukan. Karena setiap ayat dari Al-Qur'an diturunkan dalam konteks realitas tertentu, dalam masa tertentu. Nabi Muhammad SAW dalam mengatakan sesuatu juga selalu disesuaikan dengan situasi yang ada pada saat itu. Sehingga Alquran dan hadits adalah pada dasarnya dokumen sejarah yang berisi panduan moral dalam menghadapi situasi tertentu. Ketika situasi dan realitasnya berubah, maka manifestasi dari moralitas tersebut sudah seharusnya berubah pula.

David Rosen: Lalu, Anda dan Gus Dur selalu menekankan pentingnya memerangi ekstremisme dan mempromosikan pendekatan yang lebih humanis. Apakah menurut Anda Indonesia memiliki sesuatu yang bisa diberikan pada dunia dalam kaitannya dengan hal ini?

Gus Yahya: Ini bukan tentang menawarkan sesuatu dari Indonesia. Karena Indonesia sendiri bukannya sudah terbebas dari masalah. Kami memiliki masalah kami sendiri. Kami memang memiliki semacam kearifan lokal yang membantu masyarakat untuk hidup secara harmonis dalam lingkungan yang heterogan. Tapi kami masih punya banyak masalah terkait agama, termasuk Islam. Apa yang kita hadapi saat ini, apa yang seluruh dunia hadapi saat ini adalah sebuah situasi dimana konflik terjadi di seluruh dunia. Dan di dalam konflik-konflik ini, agama hampir selalu digunakan sebagai senjata untuk menjustifikasi konflik. Sekarang saatnya kita bertanya, apakah kita ingin hal ini berlanjut? Atau kita ingin memiliki masa depan yang berbeda?

Jika kita ingin hal ini berlanjut, konsekuensinya jelas: tidak ada yang bisa bertahan hidup di dalam kondisi seperti ini. Jika kita ingin masa depan yang berbeda, kita harus merubah cara kita mengatasi persoalan. Saat ini, agama digunakan sebagai justifikasi dan senjata untuk berkonflik. Kita, kaum beragama, mesti bertanya pada diri kita sendiri, “Apakah ini benar-benar fungsi yang sebenarnya dari agama? Atau apakah ada cara lain yang memungkinkan agama berfungsi sebagai sumber inspirasi untuk menemukan solusi dari semua konflik ini?”

Dalam pandangan saya, juga pandangan NU, dunia perlu berubah. Semua pihak perlu berubah. Saya akan menggunakan metafora “obat macam apapun tidak akan bisa menyembuhkan pasien diabetes atau jantung, selama si pasien tidak mau mengubah gaya hidupnya”. Salah satu ayat dalam Alquran juga menyebutkan “innallaha la yughayyiru ma bi qaumin hatta yughayyiru ma bi anfusihim”. Yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”.

Selama ini kita selalu terlibat dalam konflik untuk memperebutkan barang, sumber daya, kekuasaan, apapun itu, dengan tujuan untuk mengalahkan pihak lain. Dan pada akhirnya, kita bahkan tidak mampu lagi membedakan bagaimana konflik ini bermula, dan bagaimana seharusnya konflik ini diselesaikan. Bagi saya, yang tersisa saat ini adalah sebuah pilihan. Sebuah pilihan mendasar yang bisa memberi kita solusi nyata. Pilihan itu adalah apa yang kita sebut dalam Islam sebagai Rahmah. Rahmah berarti kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.

Kita “harus” memilih Rahmah, karena ini adalah awal dari semua hal baik yang kita selalu idamkan. Jika kita memilih Rahmah, baru kita bisa berbicara soal keadilan. Karena keadilan bukan hanya merupakan sesuatu yang kita inginkan, tapi juga tentang kemauan untuk memberikan keadilan bagi orang lain. Jika seseorang tidak memiliki Rahmah, tidak memiliki kasih sayang dan kepedulian terhadap orang lain, orang ini tidak akan pernah mau memberi keadilan untuk orang lain. Jadi, jika saya harus berseru pada dunia, aku ingin menyerukan pada dunia: “Mari memilih Rahmah”.

David Rosen: Konsep Rahman dan Rahim memiliki kemiripan dalam Yahudi. Hal ini mengindikasikan bahwa Islam dan Yahudi sejatinya memiliki kedekatan dalam spirit dan tradisi keagamaan. Pak Yahya, kami berterima kasih banyak atas seruan Anda untuk memilih Rahmah. Dan kami harap Anda mampu menjadi inspirasi bagi Muslim di seluruh dunia. Dan kita harap kita bisa mencapai rekonsiliasi dan membawa berkah bagi seluruh masyarakat. Dan AJC akan selalu berusaha menjalani peran untuk memfasilitasi rekonsiliasi dan perdamaian sejati. (*)
Selasa 5 Juni 2018 10:15 WIB
Tantangan Para Pengusaha Nahdliyin
Tantangan Para Pengusaha Nahdliyin
Ketum PP HPN Abdul Kholik
Nahdlatul Ulama didirikan salah satu embrionya ialah atas dasar pendirian Nahdlatut Tujjar (kebangkitan perdagangan, ekonomi) oleh KH Abdul Wahab Chasbullah pada 1918. Pendirian perkumpulan para saudagar dari kalangan pesantren ini menunjukkan bahwa para kiai memperhatikan prinsip kemandirian.

Prinsip kemandirian dari sisi ekonomi tersebut menghadapi tantangan yang tidak mudah di era teknologi digital seperti sekarang, khususnya bagi para pengusaha NU yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Nahdliyin dan warga NU secara keseluruhan.

Untuk mengurai dan mengungkapkan sejumlah tantangan ekonomi bagi para pengusaha Nahdliyin dan dinamika ekonomi modern yang dihadapi oleh warga NU, jurnalis NU Online Fathoni Ahmad melakukan wawancara dengan Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Abdul Kholik pada Senin (4/6) di Jakarta. Berikut hasil wawancara tersebut:

Kelemahan sekaligus tantangan seperti apa yang saat ini dihadapi oleh para pengusaha Nahdliyin?

Kelemahan pengusaha NU itu cuma, dan saya pikir bukan cuma pengusaha tetapi Nahdliyin pada umunya yaitu konsolidasi. Arrtinya, kita ini sering dipandang oleh orang luar mempunyai masa yang besar tetapi tidak terkonsolidasi dengan baik. Yang maksud tidak terkonsolidasi dengan baik ialah kalau seandainya Nahdliyin ini dapat dikomando untuk segala urusan, misal ayo kita beli beras dari toko A, dan semua nurut, wah itu akan jadi pasar yang dahsyat itu.

Kalau hal itu bisa kita tunjukkan, maka massa kita sangat powerfull dari sisi ekonomi dan pasar untuk bargain position untuk produsen atau bisnis. Begitu juga dengan pengusahanya. Tidak terkonsolidasi dengan baik, masing-masing bergerak sebdiri. Pernah dalam suatu pertemuan, ada yang tunjuk jari, Pak saya butuh sapi, ternyata dalam forum itu ada juga pengusaha sapi. Itu kan lucu.

Artinya?

Artinya, kalau pengusaha Nahdliyin dan warga NU ini terkonsolidasi dengan baik, kita tidak perlu orang luar. Contoh yang paling riil beras. Beras itu misalnya dari Karawang yang melakukan penanaman atau produsennya adalah petani Nahdliyin. Tetapi kemudian berasnya dijual ke Jakarta. Di Jakarta belum tentu ketemunya orang Nahdliyin, bisa saja pengusaha Tionghoa.

Kita yang di kota belum tentu beli berasnya di Karawang, tetapi belinya di Indomaret, Alfamart atau dari supermarket-supermarket yang lain. Jadi segi tiganya dari petani Nahdliyin lalu ke atas dulu ke non-Nahdliyin baru ke bawah lagi ke Nahdliyin. Dan yang menikmati rantai ekonomi itu yang jadi perantar ini. Petaninya nggak bisa banyak menikmati oleh konsumen yang tidak lain adalah Nahdliyin sendiri.

Coba kalau kita by pass sekarang, tanpa melalui pasar induk misalkan. Dari petani Nahdliyin langsung ke konsumen Nahdliyin. Maka benefit-nya ada dua tuh. Produsen Nahdliyin dapat benefit harga yang lebih baik, konsumen Nahdliyin juga memperoleh harga yang lebih baik. Jadi konektivitas antara pengusaha dan kaum Nahdliyin ini sangat penting.

Agar terkonsolidasi dengan baik, langkah di HPN seperti apa?

Sebab itu, di HPN sendiri sudah melakukan pendataan database para pengusaha NU. Tetapi data base tersebut didasarkan kepada kebutuhan khalayak atau anggota HPN. Sehingga yang ada kesadaran anggota untuk membesarkan organisasi karena telah sesuai dengan kebutuhan mereka.

Sebagai pengusaha, konsep itu penting, tetapi praktik jauh lebih penting sehingga gerakan-gerakan maupun-maupun proyeksi-proyeksi HPN ke depan akan terus berorientasi pada praktik-praktik ekonomi maupun melakukan pemberdayaan langsung kepada masyarakat.

Apa yang seharusnya dilakukan agar para pengusaha Nahdliyin bisa berkiprah di pasar global?

Pada dasarnya membangun jejaring, tidak hanya domestik, tetapi juga internasional. Karena harapan kita tidak hanya misal jadi pemain RT, tetapi juga pemain nasional dan pemain internasional. 

Karena selama ini yang banyak muncul kan pemain domestik, padahal orang NU juga banyak mampu bermain di level internasional. Contoh lain yang sederhana misalnya banyak pengusaha-pengusaha konglomerat itu kan melakukan investasi bekerja sama dengan perbankan internasional maupun pengusaha internasional.

Itu kalau kita paham prinsipnya dan tahu network-nya, itu bukan sesuatu yang mustahil dilakukan oleh para pengusaha NU, wabil khusus para pengusaha di Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN).

Ini penting, sebab selain membangun jejaring internasional, langkah ini juga dalam rangka membangun confident atau keyakinan dan kepercayaan bahwa, pengausaha NU juga banyak loh yang sudah banyak berkiprah di level global, contohnya Mas Nurul Huda (Duta HPN untuk Eropa).

Bagaimana agar para pengusaha NU bisa mengakses pasar internasional?

Saat ini pengusaha kita yang sudah melakukan ekspor sangat banyak, baik produk sumber daya alam maupun produk manufaktur. Perusahaan manufaktur banyak di Karawang, lalu perusahaan saya di bidang listrik pernah ekspor ke Australia, ke Pacific Island. Perusahaan-perusahaan rotan apalagi, memang pasar mereka kan pasar internasional.

Perusahaan-perusahaan meubelair pada umumnya. Mereka harus sering melakukan exhibition atau pameran internasional. Jadi itu yang punya produk berorientasi ekspor. Kalau produk yang berorientasi impor juga harus kita galang, seperti Hong Kong sangat strategis. Karena Hong Kong dekat dengan Cina daratan. Jadi kalau ke pusat industrinya Cina, seperti daerah Xen Chen, Ghuangzou, itu penting bagi para pengusaha NU yang berkunjung ke sana.

Artinya tidak hanya bertujuan jalan-jalan?

Ya betul. Jadi ketika ke Cina tidak hanya melakukan wisata di tembok raksasa, tetapi juga melihat peluang bisnisnya. Di Xen Chen dan Ghuangzou itu banyak sekali pameran-pameran produk Cina di mana konsumennya di Indonesia itu banyak. Yang sekarang itu banyak diakses oleh pengusaha Tionghoa. Sehingga mereka berjualan barang dengan murah dibanding dengan orang lain.

Jadi kalau pedagang kita, baik grosir maupun distributor dan pedagang NU yang mau ikut bersaing dengan mereka, ya harus bisa mengakses barang yang harganya kompetitif, langsung ke sumbernya. Misal kan nih pengusaha elektronik di Kudus, tapi dia Cuma belanjanya ke Glodok, Jakarta Barat, ya pasti kalah, karena pengusaha yang dari Kudus sudah banyak yang ke Xen Chen, Ghuangzou. Jadi itu penting ya, tidak hanya bagi pengusaha yang berorientasi ekspor, tetapi juga impor atau yang mencari partner, mencari distributor, mencari investor dari luar. Itu dari aspek network ya dan menumbuhkan confident bagi para pengusaha NU.

Menghadapi era perkembangan teknologi digital, bagaimana seharusnya para pengusaha NU menyikapinya?

Dari kacamata sains dan teknologi, di mana sains dan teknologi itu berpengaruh besar terhadap keberhasilan bisnis yang berkarakter Hi Tech, kiblat pada Eropa dan Amerika itu penting. Kita perlu meng-update akses-akses atau progres-progres teknologi yang mereka miliki sehingga kita tidak ketinggalan informasi.

Saya sendiri misalnya di bidang tenaga surya, itu paling tidak mengunjungi pameran di Eropa dua tahun sekali, ke Amerika juga dua tahun sekali. Itu bukan untuk jalan-jalan, tetapi untuk meng-update produk terbaru maupun teknologi terbaru. Dan itu sudah saya jalani selama 10 tahun. Karena kiblat-kiblat industri saya itu ada tiga, Amerika, Eropa, dan Jepang.

Tiga negara itu saya gantian selalu kunjungi, lihat pameran-pameran, perkembangan teknologi kaya gimana, produk-produk solution yang terbaru juga seperti apa. Sehingga ketika kita di sini berkompetisi dengan pemain asing, atau dengan pemain lokal sekalipun, kita tidak kalah. Kita punya wawasan dan punya understanding yang baik tentang teknologi terkini. Jadi itulah pentingnya Mas Nurul Huda sebagai Duta HPN untuk Eropa.

Kita itu di sini banyak yang pegang keagenan produk dari Eropa, dari Cina dan itu berpengaruh terhadap keberhasilan mereka dalam berbisnis. Jadi jaringan ke luar negeri tidak hanya dilihat dari kacamata jalan-jalannya, tetapi juga dilihat dari kiblat teknologi maupun produk-produk terkini, kita perlu mencontoh kepada mereka.

Terkahir, terkait pengangkatan Duta HPN untuk Eropa?

Di Eropa pertumbuhan orang Islamnya bagus, begitu juga dengan Amerika. Seperti di Amerika, yang banyak mengakses itu orang Islam dari India dan Bangladesh. Jadi misalkan Lebaran ke Amerika, kalau nggak ke masjidnya orang India, pasti ke masjidnya orang Bangladesh. Masjidnya orang Indonesia belum ada tuh. Baru ada di New York, itu juga baru imam saja, he he he...

Jadi selain membentuk Duta HPN untuk Eropa, Amerika menjadi next target. Kalau Jepang nanti langsung dibentuk PCP HPN. Kalau yang skupnya masih negara kita bentuk PCP, tetapi kalau skupnya region kita pakai pendekatan Duta. Seperti di Afrika nanti kemungkinan kita Duta dulu. (*)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG