IMG-LOGO
Opini

Fenomena Nissa Sabyan dan Bahasa Arab

Rabu 4 Juli 2018 22:15 WIB
Bagikan:
Fenomena Nissa Sabyan dan Bahasa Arab
Oleh Halimi Zuhdy

Beberapa minggu yang lalu, ketika saya mudik lebaran Idul Fitri, saya menemukan fenomena luar biasa, suara Nissa Sabyan menggema di berbagai tempat; rumah, warung, perkantoran, pasar, kendaraan umum dan pribadi, walimah, pesta pernikahan, gedung-gedung pemerintah dan swasta. Dan setiap bertemu sejawat, mereka bercerita, bahwa café-café yang biasanya “ngerock” dan dangdutan, berubah menjadi alunan lagu-lagu berbahasa Arab dari Nissa Sabyan.

Fenomena itu pernah saya temukan di era 2000-an, suara Sulistyawati dan Haddad Alwy dengan judul lagunya Ummi dan Ya Thayyibah, juga menggema di berbagai sudut kampung dan kota, televisi dan radio, pusat-pusat pembelajaan dan lainnya. Semua orang menghafal lagunya (Berbahasa Arab), dan banyak pula yang memahami kalimat-kalimatnya dengan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Dua juta keping terjual, sungguh sangat luar biasa, lagu-lagunya yang berbahasa Arab itu laris manis.

Ada kebanggan ketika itu, bahasa Arab tidak hanya menjadi bacaan dalam shalat, tadarus Al-Qur’an, adzan, iqamah, khutbah Jumat, kajian-kajian kitab dan Ijab qabul, tetapi menjadi bacaan dan dendang lagu setiap hari di beberapa rumah dan tempat keramaian. Semua orang bershalawat. Saya lihat kala itu, dari anak kecil sampai dewasa, berusaha untuk memahami dari setiap lirik lagu Ummi dan Ya Tayyibah yang berbahasa Arab itu.

Fenomena itu muncul kembali, bahkan lebih dahsyat lagi, “Deen Assalam” ditonton lebih dari 100 juta kali hanya dalam satu bulan, Ya Rahman 71 juta kali, Ya Habibal Qolbi 172 Juta kali, Ya Asyiqal 82 Juta kali, Ya Maulana 52 juta kali, Law Kana Bainanal Habib 11 juta kali, itu baru dari akun Youtube Sabyan, belum lagi yang diunduh. Sungguh ini sangat mengejutkan.

Fenomena ini, menurut pengamatan saya, karena lagu yang dibawakan oleh Khairunnisa (Nissa) berserta personel lainnya sesuai dengan; (1) kecintaan atau kegemaran orang Indonesia bershalawat, membaca puji-pujian dan doa, dan mayoritas penduduknya adalah Muslim, seperti; Rahman Ya Rahman (doa), Ya Habibal Qolbi (shalawat), Ahmad Ya Habibi (shalawat), Ya Asyiqa (shalawat), Ya Maulana (doa), dan rata-rata lagu yang dibawakan adalah shalawat Nabi dan doa. (2) Suara merdu Nissa dengan musiknya mengalun lembut.

Dan juga (3) kegilaan pengguna internet dan penikmat Youtube yang mengunduhnya ke berbagai media lain, dari WA, FB, dan lainnya. (4) Bertema religi, dan bersamaan dengan bulan Ramadhan, seperti; Deen As-Salam, yang penikmatnya sangat luar biasa.

Pun yang membuat Nissa Sabyan menggema karena (5) dibawakan dengan gaya kekinian dengan berbagai keunikannya. Gambus, yang sudah mulai remang, bahkan menghilang, menjadi terang, dengan Gambus Sabyan. (6) Memperkenalkan full team lagu-lagu Gambus Sabyan, (7) tidak berhenti pada satu lagu yang sudah populer, tetapi dilanjutkan dengan kemampuan mereka memilih tema-tema menarik menarik lainnya yang sesuai dengan kondisi masyarakat.

Dan yang luput dari pantauan banyak orang adalah (8) karakter bahasa Arab yang unik, sehingga antara suara Nissa, musik, keunikan bahasa Arab benar-benar membawa ritme menarik, dan hal ini yang menjadi fokus saya.

Menurut saya, ada karakter khusus Bahasa Arab yang menjadi keunikannya, sehingga dibawakan oleh siapapun saja akan merindu, kalau di Timur Tengah ada Ummi Kulsum (Penyanyi Arab Legendaris), Amr Diab, Harris J, Sami Yusuf, Maher Zain, Zain Bhikha, Asmahan, Sherine Ahmed dan lainnya. Dan dengarlah suara penyanyi yang melantunkan dengan bahasa Arab, nanti akan mampu dibedakan. Atau dengarlah seorang qari’ Al-Qur’an, maka akan menemukan musik-musik kata yang luar biasa, dan tentunya jika dibaca sesuai dengan ilmu tajwid.

Karakter unik bahasa Arab itu di antaranya terkait dengan bunyi; ada bunyi tebal tipis (tebal/mufakhamah, semi tebal, tipis), Tekanan bunyi dalam kata atau stress, vokal panjang (mad), vokal pendek (harakat), bunyi tenggorokan, bunyi bilabial dental. Sedangkan karakter dan keunikan bahasa Arab secara umum tidak mungkin dikaji di sini, walau setiap bahasa memiliki keunikan (khasaish), namun karakter bahasa Arab itu lebih unik dibandingkan dengan bahasa-bahasa di dunia.

Nissa Sabyan dengan lagunya yang berbahasa Arab dapat memberikan nuansa sendiri pada gerak bahasa Arab di Indonesia, dan dapat menjadi motivasi bagi pembelajar Bahasa Arab untuk dapat meningkatkan kemampuannya dalam berbahasa, terutama bagi seorang guru bahasa Arab yang mengajar di sekolah dasar dan menengah.

Menurut seorang peneliti, Nabil Katatni, Dekan Fakulats Tarbiyah An-Nauiyyah, bahwa para peneliti psikologi musik menemukan ritme musik berhubungan erat dengan kehidupan anak pada tahap awal (embrio) sampai dewasa, menurutnya dalam rahim ibu sudah mengenal irama sehingga mudah sekali untuk mengembangkannya dengan lagu-lagu, demikian ketika anak ingin ditidurkan, irama-irama itu menjadi paling disuka, maka sangat penting bagi seorang ibu dalam tahap pengembangan bicara anak untuk mendengkan irama lagu.

Menurut Hanna Athar, musik memberikan motivasi kuat dalam pembelajaran Bahasa Arab, demikian juga menurut para peneliti dan akademisi dalam Konferensi Internasional Kelima bahasa Arab di Dubai, bahwa musik dan lagu-lagu Bahasa Arab khusus untuk anak-anak; dapat memotivasi dan memperkuat bahasa Arab. Terutama lagu-lagu yang menggunakan bahasa Arab fushah (baku, red), misalnya judul lagu Deen Asslaam yang dipopulerkan Nissa Sabyan di Indonesia, yang sebelumnya dinyanyikan oleh Sulaiman Al-Mughni dengan pesan “faltuqabil Isa’ah bi ihsan” yang disponsori Bank Boubyan Kuwait pada tahun 2015.

Lagu Deen Assalam walau beberapa kalimatnya diucapkan dengan lahjah ammiyah (tak baku, red), namun secara umum bahasanya fushah, kalimat dengan lahajat ammiyah dalam lagu tersebut seperti; abmahabbat, abtahiyyah, ansyuru, dinya, naskan, kalla, killa. Sedangkan beberapa tulisan yang tersebar di beberapa media banyak yang keliru, karena hanya dituliskan sesuai dengan yang didengarkan. Bila lagu tersebut ingin dijadikan media pembelajaran, maka harus dijelaskan kata-kata yang fushah dan ammiyah-nya, agar siswa tidak keliru membacanya.

Berikut lagu dengan tulisan fushah, yang dipopulerkan oleh Sulaiman Mughni, dengan penciptanya Saif Fadhil.

كُلّ هَذِهِ الأَرْضِ مَا تَكْفِي مَسَاحَة
لَوْ نَعِيْشُ بِلاَ سَمَاحَة
وَإِنْ تَعَايَشْنَا بِحُبٍّ
لَوْ تَضِيْقُ الأَرْضُ نَسْكُنُ كُلَّ قَلْبٍ
بِتَّحِيَّة وبِسَّلاَمِ
اُنْشُرُوا أَحْلَى الكَلاَم
زَيِّنُوا الدُنْيَا اِحْتِرَام
بِمَحَبَّةٍ وَابْتِسَامٍ
اُنْشُرُوا بَيْنَ الأَنَام
هذا هُوَ دِيْنُ السَّلاَم

Lagu-lagu berbahasa Arab yang dinyanyikan oleh Nissa Sabyan ini, jika dimanfaatkan dengan baik oleh pengajar bahasa Arab, maka dapat memberikan ruh baru bagi pembelajaran bahasa Arab di Indonesia. Dan sebagai “syiar” bahwa bahasa Arab itu mudah dipelajari, buktinya semua orang bisa mendendangkan, mengucapkan, dan melafalkannya. Tahya al-lughah al-arabiyah.


Penulis adalah Dosen Bahasa dan Sastra Arab (BSA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang; Wakil Ketua RMI PCNU Kota Malang

Bagikan:
Senin 2 Juli 2018 15:15 WIB
Orang NU, 'Real Count', dan Rukyat
Orang NU, 'Real Count', dan Rukyat
Ilustrasi (© Getty Images)
Oleh Muhammad Ishom

Pilkada Serentak 2018 yang digelar di 171 daerah di Indonesia pada tanggal 27 Juni lalu secara umum berlangsung dengan baik. Berdasarkan perhitungan cepat atau quick count oleh beberapa lembaga survei telah diketahui pasangan mana yang diprediksikan akan menjadi pemenang. Di Jawa misalnya, pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum, Ganjar-Yasin, dan Khofiah-Emil, telah menunjukkan keunggulannya di daerah masing-masing yakni: Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. 

Pertanyaannya adalah apakah mereka yang notabene adalah orang-orang NU sudah berani memastikan diri bahwa mereka juga akan unggul berdasarkan hitungan langsung atau real count yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan akan dimumumkan pada tanggal 9 Juli nanti? Dengan kata lain, apakah mereka meyakini secara pasti bahwa quick count akan menunjukkan hasil yang sama dengan hasil real count

Jawabnya, mereka sudah pasti berharap hasil quick count akan sama dengan hasil real count sebagaimana harapan dan doa masing-masing untuk memenangkan kontestasi politik sehingga dapat memimpin Jawa. Namun demikian mereka tidak berani mendahului hasil real count yang saat ini sedang berlangsung. 

Sikap hati-hati seperti itu antara lain dapat dilihat pada kalimat Khofifah dalam sebuah pernyataannya beberapa saat setelah mengetahui kemenangannya berdasarkan hasil quick count. Khofifah mengatakan, “Menurut quick count, Insya Allah kami menang." (tempo.co/27/6/2018). 

Kata “Insya Allah” (Jika Tuhan menghendaki) dalam kalimat di atas menunjukkan bahwa Khofifah tidak berani mendahului hasil real count karena menyadari quick count hanyalah sebuah prediksi yang akan diuji kebenarannya dengan perhitungan manual atau langsung yang dilakukan oleh KPU. 

Bagi orang-orang NU, quick count dan real count yang digunakan dalam menghitung hasil pemungutan suara sebetulnya tidak jauh berbeda dari metode hisab dan rukyat dalam menetapkan awal bulan Qomariyah. Jadi quick count dapat dianalogikan, meski tidak sama persis, dengan metode hisab. Sedangkan real count dapat dianalogikan dengan metode rukyat. 

Sebagai orang NU, Khofifah dan kawan-kawan tentu sabar menunggu hasil real count sehingga tidak mengeluarkan statemen-statemen yang “nggege mongso” (terlalu dini) sebab mereka pasti memahami bahwa kebenaran quick count bersifat hipotesis karena hanya menggunakan sampel-sampel di beberapa lokasi tertentu. Real count yang dilakukan oleh KPU dengan menghitung seluruh hasil pemungutan suara secara langsung akan sekaligus membuktikan benar tidaknya hasil quick count

Jadi real count sebetulnya dapat dianalogikan dengan metode rukyatul hilal yang dapat membuktikan keakuratan metode hisab dengan cara melihat langsung pada seluruh objek (bulan dan matahari) apakah sudah tampak berkumpul dan telah memenuhi kriteria bulan baru berdasarkan ilmu falak dan fiqih. Sekalipun orang-orang NU menguasi metode hisab, mereka tetap menggunakan metode rukyat tanpa mengabaikan metode hisab. 

Oleh karena itu bisa dimengerti Khofifah dan kawan-kawan tidak berlebihan dalam menyikapi kemenangannya berdasarkan quick count dalam kontestasi Pilkada Serentak 2018. Mereka sabar menunggu hasil real count meski hasil quick count telah menunjukkan kemenangannya sebagaimana mereka biasa sabar menunggu hasil rukyat sekalipun sudah tahu hasil hisab jauh hari sebelumnya. 


Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.

Senin 2 Juli 2018 13:15 WIB
Analogi dan Buah Simalakama Demokrasi
Analogi dan Buah Simalakama Demokrasi
Ilustrasi (ist)
Oleh Abdul Ghopur

Tak dapat dipungkiri, sebagian orang nyata-nyata terus saja meributkan istilah, makna dan filosofi demokrasi. Bahkan ada sedikit kalangan yang sangat kecil yang ekstrim berpendapat bahwa demokrasi adalah thoghut, sistem kafir dan haram. Pendapat demikian, sepertinya sangat keliru dan perlu diluruskan. Sebab, demokrasi di Indonesia yang lahir dari hasil ijtihad para pendiri bangsa, anak-anak terbaik bangsa, yang sebagin besarnya adalah para ulama, sangat jauh berbeda dengan demokrasi pada umumnya sebagaimana demokrasinya ala’ orang-orang Barat. Demokrasi ala’ Indonesia adalah demokrasi yang “terpimpin.”

Maksudnya adalah demokrasi yang terpimpin oleh kerakyatan, oleh hikmah dan oleh kebijaksanaan, dalam permusyawaratan dan perwakilan, dan yang jelas yang berketuhanan Yang Maha Esa.Artinya pula, demokrasi Indonesia mengacu dan mendasarkan diri pada nilai-nilai luhur bangsa dan cita-cita bersama bangsa Indonesia (lihat, Abdul Mun’im DZ, Piagam Perjuangan Kebangsaan, 2011).

Pertanyaannya, bagaimana para pendiri bangsa dapat menerima sistem  yang namanya demokrasi? Bukankah kita dulu punya sistem kerajaan, sistem adat-istiadat, punya tata nilai dan lain-lain serta sistem budaya sendiri? Betul. Kita memang sudah punya sistem dan tata nilai sendiri sebagai sebuah bangsa. Justru itu, demokrasi ala’ Indonesia adalah demokrasi yang mengandung unsur-unsur tata nilai budaya bangsa yang adi luhung, dan sekali lagi, yang berketuhanan Yang Maha Esa.

Justru itu pula para pendiri republik ini dapat menerima dan bahkan mengusahakannya dan menciptakannya sebagai maha karya anak bangsa. Sebagaimana dikatakan tadi, para pendiri bangsa yang sebagian besar para Ulama’ dapat menerima sistem demokrasi “terpimpin” ini asal titik-berat dan penekanannya tetap diletakkan pada prinsip dan nilai-nilai demokrasi yang mampu menjaga keutuhan bangsa, menciptakan keadilan, memberikan kesejahteraan dan kemakmuran pada seluruh rakyat, menjaga kerukunan, kesatuan dan kebersamaan dalam kebhinnekaan, memperhatikan prinsip permusyawaratan/perwakilan dan kemufakatan yang mencerminkan keragaman bangsa dan tidak semata-mata berdasarkan mekanisme pemilihan (one man one vote), serta menjamin pengembangan nilai-nilai luhur dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Esa (lihat, Ahamd Musthofa Haroen, Meneguhkan Islam Nusantara: Biografi Pemikiran & Kiprah Kebangsaan KH Said Aqil Siroj, 2015).

Sebab, tanpa adanya kepemimpinan, demokrasi dapat saja menjadi anarkis, demikian juga tanpa demokrasi, maka kepemimpinan menjadi represif. Dengan demikian para Ulama’ yang juga para pendiri bangsa (dalam hal ini ulama NU) menginginkan adanya demokrasi yang terarah, bukan demokrasi liberal yang tanpa arah, yang ada hanya suara dan kesepakatan bersama, bukan demokrasi yang mengabaikan prinsip dan moralitas. Tetapi, demokrasi yang dapat mengatasi anarkisme politik yang ditimbulkan oleh demokrasi liberal-kapitalistik.

Sebagai sebuah sistem, tentu demokrasi memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Akan tetapi di era modern seperti sekarang ini, agaknya, belum ada sistem lain yang mampu atau setidaknya yang pas dengan situasi sosiologis dan antropologis bangsa Indonesia kekinian. Memang, belakangan bentuk penerapan dan pelaksanaan demokrasi banyak mengalami penyimpangan bahkan penyelewengan. Demokrasi dipandang dan dimaknai hanya sebatas sebagai tujuan (goal) semata bukan sebagai alat atau “jembatan emas” menuju kemerdekaan (keadilan, kemakmuran, kesejahteraan, dan kebahagian semua anak bangsa).

Ibarat orang ingin menyantap suatu hidangan atau makanan, di zaman sekarang tentu kita perlu alat pendukung untuk makan seperti piring untuk nasi, sendok-garpu untuk menyantap, mangkuk untuk sayur, juga gelas untuk minum. Tentu seperangkat alat makan dan minum itu bukan tujuann sebenarnya, melainkan nasi, lauk-pauk, sayur dan air lah tujuan sebenarnya kan?Jadi, salah kalau kita menganggap piring, sendok dan garpu serta gelas menjadi tujuan utama dan merasa sudah selesai dan tercapailah suatu tujuan, malah sebaliknya yang terjadi perut kita masih kelaparan dan takkan pernah merasa kenyang. Karena rasa kenyang hanyalah masih di batas angan-angan dan harapan.

Terkadang, atas nama dan dalih serta ritual demokrasi bangsa ini sering terlibat pada pertengkaran sesamanya, yang terkadang pula berujung pada upaya-upaya yang mengarah pada disintegrasi bangsa. Alih-alih, ingin memakmurkan dan mensejahterakan kehidupan bangsa, demokrasi malah menjadi momok yang menakutkan. Sebab, atas nama dan dalih demokrasi, sebagian orang seenaknya berusaha mengubah dasar negara misalnya, seenaknya membuat Undang-Undang yang merugikan hajat hidup orang banyak demi kepentingan kelompoknya sendiri. Bahkan seenaknya mengatakan bahwa Pancasila adalah thoghut, kafir dan haram, akibat dari belum sempurnanya pelaksanaan demokrasi yang ditimbulkan dari menyimpangan demokrasi.

Ibarat naik pesawat terbang, tentu sudah ada aturan dan mekanisme yang disepakati dan disetujui bersama. Misalnya, para penumpang naik pesawat dari Jakarta tujuan Surabaya dengan waktu tempuh sekitar 1 jam dan dengan rute yang sudah diatur oleh maskapai penerbangan. Maka, tak akan mungkin salah-seorang penumpang ingin turun seenaknya dari pesawat sebelum pesawat itu mendarat di tempat tujuan.

Demikian halnya sang pilot, tak akan mungkin seenaknya membelokkan tujuan penerbangan ke tempat lain yang bukan rutenya. Jika semua orang semaunya mengikuti egonya masing-masing di dalam pesawat terbang itu, bayangkan apa yang akan terjadi? Atau ibarat mobil mewah, canggih dan termutakhir dikemudikan oleh supir angkutan umum yang biasa ugal-ugalan, bayangkan pula apa yang akan terjadi dengan nasib si penumpang dan mobil mewah itu?

Nah, itulah demokrasi, Ia bukan tujuan kemakmuran dan kesejahteraan itu sendiri, melainkan hanyalah alat, hanyalah kendaraan, hanyalah jembatan untuk kita menuju pada tujuan akhir sesungguhnya. Tapi ternyata, masih banyak sebagian dari kita yang memandang dan memaknai demokrasi itu adalah tujuan itu sendiri. Ukurannya sederhana, ketika sudah tercapai mekanisme dan prosedur-prosedur demokrasi, maka dianggap itu sudah demokratis.

Walhasil, demokrasi Indonesia mengalami penurunan makna yang sangat jauh dari awal dirumuskan dan dicetuskannya. Demokrasi menjadi sebatas siapa kuat siapa lemah, siapa anak tokoh siapa bukan anak tokoh, siapa rupawan siapa tidak rupawan, siapa artis siapa orang biasa, siapa pejabat siapa bukan pejabat,siapa menang siapa kalah, siapa banyak uang siapa tidak, siapa kaya siapa miskin, dan seterusnya yang ujungnya adalah transaksional politik atau demokrasi yang transaksional.

Dengan model demokrasi semacam ini, jujur, kita tidak bisa berharap banyak pada perwujudan keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan seluruh rakyat. Sebab, rakyat yang sejatinya sebagai subyek penentu demokrasi malah hanya sekedar manjadi obyek demokrasi karena kelemahan yang memang melekat padanya. Tetapi, menjauhi bahkan memusuhi demokrasi sama sekali, tidaklah bijak dan tidak mungkin. Sebab, sebagaimana dikatakan di atas, belum ada sistem lain yang mampu menggantikan atau setidaknya yang pas dan ideal dengan situasi sosiologis dan antropologis serta kultur dan naturnya bangsa Indonesia.

Bagai buah Simalakama, sungguh pilihan yang amat sulitdan dilematis, kalau dimakan ibunya yang mati, kalau tidak dimakan bapaknya yang mati. Anda tentunya tahu arti dan wujud sesungguhnya buah Simalakama, yaitu buah Mahkota Dewa yang tumbuh di tanah Papua. Buah ini sangat banyak khasiatnya bagi kesehatan tubuh manusia. Tapi, kalau tak hati-hati mengolahnya, akan sangat membahayakan kesehatan manusia karena bijinya yang sangat beracun. Pertanyaannya, buah yang sangat berkhasiat ini akankah kita buang?

Atau kalau perlu pohon dari buah ini kita tebang dan kita cabut dari akar-akarnya agar orang tak keracunan biji dari buah ini? Jawabnya, tentu tidak! Justru sebaliknya, “Pohon Demokrasi Indonesia” ini perlu dirawat selalu dan dipupuk terus-menerus agar “buah demokrasinya” nanti bisa dirasakan oleh anak-cucu di masa akan datang. Terkadang, pohon yang sehatdan terbaik sekalipun, tidak selalu berbuah manis dan setiap saat, adakalanya pohon itu sesekali berbuah asam, kecut bahkan pahit.

Tapi, juga tentu berbuah manis  dan lezat di waktu yang lain, tergantung bagaimana cara kita memupuk dan merawatnya sepenuh hati. Yang jelas, jangan cepat mengambil kesimpulan bahkan keputusan yang gegabah untuk menebang pohon yang kebetulan sesekali berbuah kecut tanpa menyadaridan menelisik kenapa pohon itu bisa berbuahkecut atau asam?

Lagi pula, sesungguhnya kita harus bersyukur bahwa pohon tempat kita bernaung dan berlindung dari teriknya Matahari selama ini telah melindungi dan memayungi tubuh kita. Janganlah kita salahkan pohon itu karena sesekali buahnya tidak semanis yang kita harapkan. Sebaliknya, kita harus mengintrospeksi dan mengoreksi diri, apa yang sudah kita perbuat untuk pohon yang telah melindungi kita selama ini?

Oleh karena itu, sebagai generasi bangsa yang hidup di era sekarang ini, sudah selaiknya kita wajib mengembalikan demokrasi pada sumber dasarnya, yaitu Pancasila. Inilah yang belakangan atau selama ini kita kenal dengan istilah Demokrasi Pancasila, demokrasinya ala’ Indonesia, yaitu demokrasi atau kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat-kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan.

Dengan demikian, kebebasan berdemokrasi ala’ Indonesia tetap dibatasi oleh pertama, batas keselamatan bangsa dan negara Indonesia. Kedua, batas persatuan dan kesatuan bangsa. Ketiga, batas kepentingan rakyat banyak (bukan kepentingan segelintir orang).

Keempat, batas keperibadian bangsa (tidak kebarat-baratan atau yang lainnya/harus sesuai dengan kultur dan naturnya bangsa). Kelima, batas norma dan kesusilaan. Keenam, batas pertanggungjawab pada Tuhan Yang Maha Esa. Setiap keputusan yang melanggar keenam batas ini, dinyatakan batal secara moral dan politik. demikian sikap dan pandangan para ulama pendiri bangsa terhadap politik dan demokrasi.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB), menulis buku: Ideologi Kaum Fundamentalis, Menjawab Kegalauan Persoalan Agama dan Negara, Ironi Demokrasi, Menyibak Tabir dan Menggali Makna Tersembunyi Demokrasi
Sabtu 30 Juni 2018 5:0 WIB
Menguatkan Kembali Semangat Nahdlatut Tujjar
Menguatkan Kembali Semangat Nahdlatut Tujjar
Oleh Muslimin 

“Wahai pemuda putra bangsa yang cerdik pandai dan para ustadz yang mulia, mengapa kalian tidak mendirikan saja suatu badan usaha ekonomi yang beroperasi di mana setiap kota terdapat satu badan usaha yang otonom untuk menghidupi para pendidik dan penyerap laju kemaksiatan.” (Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari – Deklarasi Nahdlatut Tujjar 1918). 

Nahdlatut Tujjar (NT) atau kebangkitan pedagang merupakan gerakan kebangkitan ekonomi rakyat yang tidak dapat dipisahkan dengan Nahdlatu Ulama (NU). Fatoni (2017) menyebutkan kelahiran NT sangat dipengaruhi oleh Syarikat Islam (SI), dimana kemudian sekelompok santri di Makkah mendirikan SI Cabang Makkah (1913). Para santri tersebut tertarik karena SI dilihat sebagai gerakan ekonomi masyarakat. Keberadaan SI Cabang Makkah tidak berlangsung lama mengingat pecah Perang Dunia I pada 1914 dan anggota-anggotanya pulang ke tanah air. 

Sekembalinya ke tanah air, para santri yang kemudian dipimpin langsung oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, melanjutkan gerakan ekonomi masyarakat tersebut dengan mendirikan NT, yang secara implementatif kemudian mendirikan Syirkatul ‘Inan atau koperasi sebagai alat gerakan konsolidasi ekonomi masyarakat. Syirkatul ‘Inan dikelola secara profesional oleh para santri dan mampu mengimbangi bank-bank mainstream yang dimiliki oleh pemerintah kolonial, bahkan mampu bersaing dengan bank-bank asing lainnya seperti Taiwan Bank yang membuka cabang di Surabaya. Masa kejayaan NT mulai menurun pada saat Pemerintah Kolonial melalui regulasi-regulasi mempersulit perkembangan koperasi seperti melalui pembebanan biaya yang mahal melalui notaris, penggunaan bahasa Belanda dan lain sebagainya, yang membatasi dan mematikan gerakan NT. 

Batasan-batasan yang mematikan gerakan NT tersebut terlihat dampaknya hingga saat ini. Hal ini dapat diindikasikan dengan minimnya catatan gerakan NU yang bersifat keekonomian dibandingkan dengan catatan pendidikan keagamaan dan sosial politiknya. Sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, NU menjadi daya tarik politik berbagai pihak, dan tarikan-tarikan ini menyebabkan energi NU lebih banyak terdominasi oleh aktivitas politiknya. Dan tanpa basis ekonomi yang kuat, aspek pendidikan keagamaan pun menjadi relatif tertinggal dibandingkan dengan organisasi keagamaan lainnya. Dari kondisi tersebut, ada baiknya kita sebagai sesama jamiyah, menengok kembali wasiat-wasiat pendiri NU, yang jika ditelusuri, sangat visioner. Hal ini setidaknya terlihat dari deklarasi pendirian NT.

Visioneritas Deklarasi Nahdlatut Tujjar
Jika kita membaca kembali wasiat Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pada deklarasi pendirian NT, beberapa catatan yang dapat kita ambil dari visioneritasnya antara lain; Pertama, KH Hasyim Asy’ari menyeru kepada para cerdik pandai dan ustadz. Hal ini mengindikasikan pentingnya kolaborasi kalangan profesional dan agamawan sebagai pondasi badan usaha. Seruan ini terkait dengan tujuan akhir yang diinginkan oleh KH Hasyim As’ary, yaitu sebagai sumber pendanaan kesejahteraan para pendidik agama dan pencegahan kemaksiatan melalui pengentasan kemiskinan.

Tujuan ini tidak dapat dicapai sendiri oleh kalangan agamawan, namun harus ditopang oleh para profesional yang bervisi pada dua tujuan tersebut. Jika kita lihat masa saat ini, apa yang diserukan KH Hasyim Asy’ari, terlihat sekarang ini dengan adanya sejumlah badan usaha yang berjalan melalui prinsip syariah, yang memadukan para profesional dan kalangan agamawan. Bahkan secara sistem, dalam sektor keuangan perbankan, menganut dual system yang mengadopsi perbankan syariah selain perbankan konvensional. 

Kedua, KH Hasyim Asy’ari menyeru lokasi badan usaha tersebut merujuk pada kota. Mengapa kota? Apakah beliau tidak memahami bahwa basis umatnya berada di wilayah perdesaan yang hidup dalam perekonomian subsisten? Perekonomian yang hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya sendiri dan hasilnya tidak diperdagangkan. Kembali di sini pembuktian visi besar pendiri NU yang disampaikan pada awal-awal abad ke-19 menemukan momentumnya. Jauh-jauh hari, KH Hasyim Asy’ari telah menyerukan apa yang saat ini dikenal sebagai linkage, supply chain dan holdings, suatu keterkaitan ekonomi yang merangkai potensi desa-kota dalam satu mata rantai bisnis, yang banyak diaplikasikan oleh perusahaan-perusahaan raksasa dan multinasional saat ini. Pola inilah yang dapat menghantam kekuatan ekonomi kolonial dan asing pada saat itu, dan pola ini juga yang menghantam kita secara nasional, khususnya jamiyah NU, dengan tidak adanya kekuatan ekonomi yang membentengi kalangan agamawan sebagai penyemai akhlak generasi muda. 

Ketiga, KH Hasyim Asy’ari menyeru badan usaha yang beroperasi bersifat otonom. Hal ini mengisyaratkan bahwa pengelolaan badan usaha tersebut harus profesional dengan tata kelola yang baik (good corporate governance: GCG). Dengan tata kelola yang baik, yang juga saat ini menjadi tren dalam dunia bisnis, KH Hasyim Asy’ari sudah memberi contoh kepada para santrinya untuk mengikuti prinsip-prinsip GCG, yang saat ini sudah banyak dirumuskan secara teknis dan diberlakukan pada dunia usaha. Dengan demikian, materi-materi terkait dengan ini setidaknya mulai dikembangkan pada instrumen yang dimiliki NU saat ini, seperti pesantren dan kalangan pengurus hingga tingkat ranting.

Prinsip-prinsip GCG salah satunya adalah mendorong pengelolaan usaha secara modern dengan memisahkan kepemilikan usaha dan manajer perusahaan, dengan tujuan memaksimalkan nilai perusahaan atau para pemilik perusahaan. Melalui tata kelola badan usaha yang modern tersebut, yang pada prinsipnya mengacu pada sifat otonom yang disampaikan oleh KH Hasyim Asy’ari, setiap pihak dapat fokus menjalankan fungsinya masing-masing sesuai dengan keahlian yang dimiliki. 

Keempat, KH Hasyim Asy’ari menyeru badan usaha yang beroperasi bertujuan menghidupi para pendidik dan pencegah laju kemaksiatan. Seruan yang sangat visioner dimana apa yang disampaikannya tersebut saat ini menjadi salah isu sentral dalam bidang manajemen perusahaan, yaitu Corporate Social Responsibility (CSR).

Sejak awal, NT yang dideklarasikan tidak bertujuan pencapaian kesejahteraan ekonomi semata, namun terutama bersifat sosial. Kalangan NU sebenarnya tinggal menggali dan menghidupkan kembali prinsip-prinsip ini, pada saat kalangan lainnya, seperti akademik, masih merumuskan bentuk sintesis dari bisnis dan sosial. Dunia bisnis internasional saat ini bersaing dalam reputasi sebagai perusahaan yang memiliki tanggung jawab sosial melalui ukuran-ukuran kinerja sosial perusahaan, atau bahkan harus bersifat mandatory untuk mengumumkan laporan aktivitas sosialnya dalam laporan kinerja perusahaannya. Dengan melakukan revitalisasi NT, badan usaha yang dijalankan tidak terlalu pusing memikirkan capaian kinerja sosialnya, oleh karena ukuran capaian kinerja sosialnya sudah inheren dalam aktivitas operasional dan tujuan didirikannya. 

Terakhir adalah soal bentuk implementasi badan usaha. Setelah pendeklarasian, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari langsung bergerak membentuk koperasi sebagai badan usaha yang menggerakan ekonomi rakyat, jauh sebelum koperasi menjadi salah satu bentuk badan usaha yang termaktub dalam UUD 1945. Dengan demikian, koperasi yang menjadi sokoguru perekonomian nasional yang ada dalam UUD1945, bukanlah hanya cita-cita yang ahistoris, namun secara empirik pernah dilakukan oleh para santri sebelumnya, yang dikomandani langsung oleh KH Hasyim Asy’ari. Apa yang telah dicontohkan inilah yang saat ini sulit menemukannya.

Sebagai catatan, dari total jumlah koperasi aktif sebanyak 148.220 buah yang tercatat pada BPS Tahun 2016, seberapa banyak yang dikelola oleh para santri? Selain koperasi itu, terdapat koperasi yang berbasis pada pondok pesantren atau kopontren, yang berbasis pada lembaga pendidikan warisan KH Hasyim Asy'ari. Seberapa banyak yang mampu bersaing dengan badan usaha atau bank mainstream di Indonesia? Dengan gerakan koperasinya, KH Hasyim Asy'ari mampu membuat pemerintah kolonial dan bank asing kewalahan menghadapinya, sehingga dibabat dengan cara persaingan yang tidak sehat. Saat ini, berapa koperasi yang digawangi para santri, yang mampu berbuat hal yang sama? Jawabannya hanya satu, kembali pada wasiat spirit NT, atau digilas kapitalisasi ekonomi eksternal. 

Penulis adalah dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG