IMG-LOGO
Nasional

PBNU Sayangkan Khutbah Radikal di Masjid Pemerintah

Ahad 8 Juli 2018 16:45 WIB
Bagikan:
PBNU Sayangkan Khutbah Radikal di Masjid Pemerintah
Konferensi pers temuan khutbah radikal masjid pemerintah
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyayangkan tingginya angka radikalisme yang tercermin pada khutbah Jumat masjid-masjid pemerintah. Hal itu terungkap lewat pernyataan Ketua PBNU, KH Abdul Manan Abdul Ghani menanggapi hasil penelitian Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta dan Rumah Kebangsaan pada tahun 2017 terkait materi khutbah radikal di masjid negara.

"PBNU menyesalkan temuan tingginya ujaran kebencian dan radikalisme di masjid-masjid pemerintah," kata Kiai Manan pada konferensi pers hasil penelitian di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Ahad (8/7) siang.

(Baca: PBNU Minta Pemerintah Cegah dan Awasi Masjid dari Khutbah Radikal)


Padahal, masjid-masjid pemerintah sangat mungkin dibangun dan dibiayai melalui dana APBN. “Lalu masjid-masjid digunakan untuk provokasi ajaran intoleransi,” sesalnya.

Ia  menegaskan sejak didirikan, masjid harus difungsikan untuk membangun nilai-nilai ketakwaaan kepada Allah Swt. Masjid sebagai tempat ibadah menjadi dasar ketundukan dan kepatuhan kepada Allah Swt. Oleh karenanya, khutbah dan kegiatan di masjid harusnya jauh dari nilai arogansi dan profovasi. 

Khutbah di masjid harus berupa motivasi dan ajakan orang lebih bertakwa. Hal itu agar masjid (pemerintah) jauh dari korupsi, nepotisme, dan berbagai hal yang munkar. “Baik masjid lembaga negara, BUMN, kementerian harus memotivasi baik pejabat maupun karyawan nilai ketakwaan,” ujarnya.

Nilai-nilai ketakwaan, sebut Kiai Manan, adalah pesan utama dari Allah melalui masjid.

(Baca: Enam Topik Radikal Terpopuler pada Khutbah Jumat Masjid Pemerintah)

Sebelumnya diberitakan, hasil penelitian P3M dan Rumah Kebangsaan menunjukkan 41 masjid pemerintah yang terindikasi radikal, sebanyak 17 (41 persen) masjid berada dalam kategori radikal tinggi. Sisanya sebanyak 17 (41 persen) berkategori radikal sedang; dan hanya tujuh masjid atau 18 persen  yang masuk kategori radikal rendah.

Penelitian dilakukan terhadap khutbah yang disampaikan khatib pada setiap pelaksanaan shalat Jumat, selama empat minggu, dari tanggal 29 September hingga 21 Oktober 2017. Terdapat 100 masjid di Jakarta yang terdiri dari 35 masjid kementerian, 28 masjid lembaga, dan 37 masjid BUMN yang diteliti. 


(Baca: 41 Masjid Pemerintah Terindikasi Sebarkan Paham Radikal)


Selain itu sebanyak 21 (56 persen) dari dari 37 masjid BUMN terindikasi radikal. Sementara dari 28 masjid lembaga, delapan masjid (30 persen) terindikasi radikal. Adapun masjid-masjid kementerian, dari 35 masjid, 12 masjid (34 persen) terindikasi radikal. (Kendi Setiawan)

Bagikan:
Ahad 8 Juli 2018 23:45 WIB
Forum Dai Muda Ajak Masyarakat Perangi Radikalisme dan Terorisme
Forum Dai Muda Ajak Masyarakat Perangi Radikalisme dan Terorisme
Jakarta, NU Online 
Ketua Umum Forum Komunikasi Dai Muda Indonesia (FKDMI), Moh. Nur Huda mengajak masyarakat bersama para dai untuk berperan dalam memerangi radikalisme dan terorisme. Bahakan diharapkan dapat memutus arus penyebaran paham radikalisme dan aksi terorisme yang selalu mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia.  

"Paham radikalisme dan terorisme ini nyata di tengah-tengah kita. Saya mengajak bersama seluruh elemen masyarakat, untuk konsisten menjaga rumah Indonesia.“ Kata Nur Huda saat menyampaikan sambutan pada Halaqoh Kebangsaan Peran Dai Muda dalam Menangkal Paham Radikalisme dan Terorisme di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Sabtu, (7/7).

Tindakan tegas dari aparat penegak hukum dan pemerintah harus ditingkatkan. "Aparat harus tegas. Masyarakat membutuhkan kenyamanan dan ketentraman," tegas Huda.

Sementara itu, menurut Ahmad Sugiyono, Sekretaris Jendral FKDMI, kegiatan Halaqoh Kebangsaan tersebut juga dirangkai dengan Pelantikan dan Rapat Kerja Pengurus Pusat FKDMI sebagai amanat dari Munas IV FKDMI akhir tahun lalu.

"Penyebaran paham-paham kebangsaan, sebagai counter terhadap paham radikalisme dan terorisme akan menjadi garis besar arah program kepengurusan FKDMI pada periode ini," ujar Sugiyono.

Ia menambahkan, ada empat amanah bagi pengurus FKDMI, 

"Pertama, dakwah berkonten rahmatan lil alamin. Kedua, amanah cinta tanah air. Ketiga, dai muda yang tidak hanya di mimbar tapi juga pendampingan/advokasi masyarakat. Keempat memanfaatkan media sosial untuk menjangkau lintas generasi dan lintas batas teretorial," pungkasnya. (Ogie/Abdullah Alawi)

Ahad 8 Juli 2018 23:0 WIB
Enam Topik Radikal Terpopuler pada Khutbah Jumat Masjid Pemerintah
Enam Topik Radikal Terpopuler pada Khutbah Jumat Masjid Pemerintah
Konferensi pers temuan khutbah radikal masjid pemerintah
Jakarta, NU Online
Ketua Dewan Pengawas Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta, Agus Muhammad mengatakan terdapat enam topik radikal yang paling populer atau paling banyak ditemukan pada khutbah Jumat di masjid-masjid pemerintah.

Keenam topik tersebut adalah ujaran kebencian, sikap negatif terhadap agama lain, sikap positif (penerimaan) terhadap paham khilafah, sikap negatif terhadap kaum minoritas, kebencian kepada minoritas, dan sikap negatif terhadap pemimpin perempuan.

Keenam topik juga didasarkan pada tiga level radikalisme, yakni rendah, sedang, dan tinggi. Rendah artinya secara umum cukup moderat tetapi berpotensi radikal. Kategori sedang artinya tingkat radikalismenya cenderung sedang, misalnya dalam konteks intoleransi, khatib setuju tapi tidak sampai memprovokasi jamaah untuk bertindak intoleran. 

(Baca: PBNU Minta Pemerintah Awasi Masjid dari Khutbah Radikal)

Sedangkan kategori tinggi adalah level teratas di mana khatib bukan sekadar setuju, tetapi juga memprovokasi umat agar melakukan tindakan intoleran.

“Pada ujaran kebencian level tinggi seperti melakukan provokasi bahwa kaum kafir menyerang kaum Muslim, provokasi konspirasi bahwa Islam diserang berbagai kekuatan, provokasi bahwa umat Islam dimusuhi dan diperangi, menghina orang kafir, menghina orang yang tidak percaya kepada Allah, menghina orang yang ziarah kubur," kata Agus pada konferensi pers hasil penelitian P3M dan Rumah Kebangsaan di Gedung PBNU Kramat Raya, Jakarta Pusat, Ahad (8/7).

(Baca: Peneliti Dorong Ormas Moderat Cegah Radikalisme di Masjid Pemerintah)
Contoh konten radikal tingkat sedang terkait sikap negatif terhadap agama lain di antaranya memusuhi kelompok lain, menerima dengan terpaksa, membuat stigma negatif terhadap agama lain. Tuduhan terhadap Syiah telah memalsukan 400 hadist juga merupakan temuan ujaran kebencian pada konten radikal tingkat sedang. 

Adapun contoh penerimaan terhadap khilafah pada level sedang adalah menerima sistem demokrasi tapi setuju dengan gagasan khilafah. Menyindir agama lain dan sikap negatif terhadap agama lain menjadi contoh sikap negatif terhadap agama lain pada level radikal rendah.

(Baca: Memakmurkan Masjid Tak Sekadar Ramaikan Shalat Berjamaah)

Penelitian tersebut dilakukan terhadap khutbah yang disampaikan khatib pada setiap pelaksanaan shalat Jumat selama empat minggu, dari tanggal 29 September hingga 21 Oktober 2017. Terdapat 100 masjid di Jakarta yang diteliti. Seratus masjid terdiri dari 35 masjid kementerian, 28 masjid lembaga, dan 37 masjid BUMN. Dari 100 masjid yang diteliti, 41 di antaranya terindikasi menyebarkan konten radikal melalui khutbah Jumat. (Kendi Setiawan)

Ahad 8 Juli 2018 22:30 WIB
Rais Aam: Halal Bihalal Momentum Perkuat Silaturahim Antarwarga
Rais Aam: Halal Bihalal Momentum Perkuat Silaturahim Antarwarga
Jakarta, NU Online 
Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin mengajak kepada seluruh elemen masyarakat, khususnya Jakarta Utara, untuk menjadikan momentum halal bi halal untuk memperkuat ukhuwah, baik islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah. Hal itu disampaikan Kiai Ma'ruf dalam halal bi halal masyarakat Jakarta Utara di Ballrooom Jakarta Islamic Center, Ahad (8/7). 

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ini juga mengajak untuk mengubur kesalapahaman dan menghilangkan kegaduhan.

"Halal bi halal ini hendaknya menjadi momentum untuk mempererat silaturahim kita semua, antarwarga bangsa," ujar Kiai Ma'ruf.

Sebab menurutnya, Idul Fitri merupakan hari kasih sayang, yaumul marhamah. Sehingga jika ada hal-hal yang kurang tersambung, maka halal bi halal ini menjadi penyambung kembali tali silaturahim antarsesama Muslim atau sesama warga bangsa.

"Hendaknya kita menghilangkan dan mengubur kesalahpahaman atau salah pengertian, su'ud tafahum, antarwarga bangsa. Kemudian kita membangun hubungan husnud tafahum, saling pengertian sehingga tidak ada konflik antarsesama," tutur kiai yang berdomisili di wilayah Koja, Jakarta Utara ini.

Kiai Ma'ruf juga menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki landasan bernegara yang kuat, yakni, sebuah titik temu sebagai bangsa yang disebut Pancasila. Kemudian, Indonesia juga punya sebuah kesepakatan yang kuat, yaitu Piagam Jakarta yang setelah dibuang tujuh kata dijadikan sebagai UUD 1945.

"Kita berada di bingkai keindonesiaan, NKRI yang satu. Akan tetapi, karena tingkat kemajemukan yang tinggi, maka potensi konflik jelas tinggi. Karena itu, kita harus jaga, kawal, dan rawat secara lahiriah dan batiniah," pungkasnya. (Khoirul Rizqy At-Tamami/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG