IMG-LOGO
Wawancara

‘Jurnal Pegon’ dan Upaya Menggali Khazanah Islam Nusantara

Ahad 8 Juli 2018 21:30 WIB
Bagikan:
‘Jurnal Pegon’ dan Upaya Menggali Khazanah Islam Nusantara
Dalam beberapa sumber –sebagaimana yang diuraikan sejarawan Agus Sunyoto misalnya- disebutkan bahwa Islam masuk ke wilayah Nusantara pada abad ketujuh Masehi atau awal Hijriyah. Para pendakwah mencoba mendakwahkan Islam kepada masyarakat lokal Nusantara yang pada saat itu memeluk Hindu-Budha. 

Tahun berganti tahun, abad berganti abad, selama tujuh abad berselang para pendakwah itu ‘gagal’ menancapkan ajaran Islam di bumi Nusantara. Masyarakat Nusantara tetap memeluk agama lamanya. Selama itu pula Islam tidak ‘digubris’, bahkan ditentang. 

Keadaan berbalik ketika Islam didakwahkan Wali Songo pada abad ke-14. Dengan menerapkan dakwah yang kreatif, inovatif, dan revolusioner, Wali Songo berhasil mengambil hati masyarakat Nusantara hingga akhirnya mereka menerima Islam. Kiprah Wali Songo dalam mengislamkan masyarakat Nusantara sangat lah luar biasa. Bayangkan, hanya dalam kurun waktu setengah abad, masyarakat Nusantara –sepanjang pesisir Jawa- memeluk Islam. Semenjak itu, Islam terus berkembang ke seluruh wilayah Nusantara hingga sampai hari ini. 

Dalam sejarahnya, Islam begitu mewarnai sendi-sendi kehidupan –budaya, adat, tradisi- masyarakat Nusantara. Pun sebaliknya. Terjadi dialektika diantara keduanya sehingga membentuk karakter Islam yang khas Nusantara. 

Dewasa ini karakter Islam yang seperti itu dikenal dengan istilah Islam Nusantara. Nahdlatul Ulama (NU) lah yang mengusung dan menggaungkan istilah tersebut. Islam Nusantara terus digali dan dikembangkan sehingga menjadi sebuah konsepsi yang kukuh. Tidak lain, ini dimaksudkan –salah satunya- sebagai antitesa dari Islam transnasional yang semakin berkembang di wilayah Nusantara, Indonesia.  

Sabtu, (7/7) kemarin, Islam Nusantara Center (INC), menerbitkan sebuah jurnal dengan nama The International Journal of Pegon: Islam Nusantara Civilitation (Jurnal Pegon). Sebuah jurnal yang dimaksudkan –salah satunya- sebagai upaya untuk menggali khazanah peradaban Islam Nusantara. 

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Jurnal Pegon, Jurnalis NU Online A Muchlishon Rochmat, berkesempatan mewawancarai Managing Editor Jurnal Pegon A. Khoirul Anam. Berikut petikan wawancaranya:

Apa maksud dan tujuan dari penerbitan Jurnal Pegon ini?

Kita ingin mengulas kajian secara lebih mendalam tentang beberapa hal terkait dengan Islam Nusantara. Mulai dari manuskrip, perkembangan Islam di berbagai daerah di Nusantara, dan lainnya. 

Di samping melakukan kajian yang lebih mendalam, melalui jurnal ini kita juga berupaya untuk mengonseptualisasikan Islam Nusantara yang sudah dipraktikkan selama ini. Sehingga menjadi konsep yang baku, bisa dijelaskan secara ilmiah, dan bisa ‘diekspor’ ke luar negeri. 

Ini juga merupakan upaya untuk memagari dan model keislaman yang sudah dibangun selama berabad-abad agar tidak rusak disebabkan masuknya paham keislaman baru dan teknologi. 

Kenapa namanya Jurnal Pegon? 

Kita ingin menggugah kembali kekayaan besar dalam Islam Nusantara, yakni huruf pegon. Kita tahu bahwa huruf pegon adalah perpaduan antara bahasa lokal dengan huruf Arab. Dulu, pegon digunakan para ulama untuk mengelabuhi kolonial karena pada saat itu penjajah sudah mulai belajar bahasa Arab. Hingga hari ini pegon masih digunakan di pesantren-pesantren.  
Di dalam istilah pegon sendiri memuat pesan bahwa Islam Nusantara itu juga terkait dengan wacana keilmuan. Pegon adalah bagian dari khazanah peradaban Islam Nusantara.  

Apakah artikel-artikelnya ditulis dengan huruf pegon mengingat namanya Jurnal Pegon?

Secara bertahap nanti akan ditulis dengan huruf pegon. Kita terus memikirkan akan hal itu, tapi untuk bahasa Inggris sepertinya tidak akan bisa. Yang artikel bahasa Indonesia akan ditulis dengan huruf pegon.

Di cetakan pertama ini, ada delapan artikel. Dua diantaranya ditulis dengan menggunakan huruf pegon; (artikel tentang Syekh Muhammad Mukhtar Atharid Al-Bughuri yang ditulis Ginanjar A Sya’ban dan Syekh Nawawi Al-Bantani yang ditulis Dzulkifli Hadi Imawan). Selain itu, semua abstrak artikel ditulis dengan tiga bahasa; Indonesia, Inggris, dan pegon. 

Apa sih yang khas dari Jurnal Pegon ini?

Yang khas dari jurnal ini adalah seri kajian manuskrip ulama Nusantara yang belum diterbitkan secara masif. Pada intinya, jurnal ini berupaya untuk menuangkan kajian-kajian yang dilakukan oleh teman-teman, baik yang berada di dalam atau di luar lingkungan perguruan tinggi, di dalam atau di luar pesantren, serta di dalam atau di luar negeri, mengenai Islam Nusantara. 

Apa target dari penelitian Islam Nusantara yang dilakukan secara mendalam?

Kita berupaya mengonseptualisasikan Islam Nusantara sehingga menjadi konsep yang baku, bisa dijelaskan secara ilmiah. Target ideal kita adalah kita ingin Islam yang diterapkan di Indonesia ini bisa menjadi prototipe keislaman luar negeri.
Namun yang perlu diingat, ketika bicara Islam Nusantara maka tidak harus disandingkan dengan Arab atau dibanding-bandingkan. Kita ingin menjelaskan bahwa apa yang diajarkan oleh para ulama itu seperti ini. 

Jurnal Pegon ini terbit berapa kali dalam satu tahun?

Jurnal ini terbit dua kali dalam satu tahun.

Untuk penulisnnya apakah ada kriteria khusus atau seperti apa?

Kita membuka dan mengundang para peneliti-peneliti dari luar untuk menulis di jurnal ini. Seperti jurnal pada umumnya, mereka bisa mengirimkan karya-karyanya, nanti akan diseleksi oleh tim editor kita. Struktur dan sistematika penulisannya sama seperti standar jurnal internasional lainnya.

Kalau ada yang mengirimkan karya, bisa dikirim langsung ke email: jaringansantri95@gmail.com.
Bagikan:
Jumat 6 Juli 2018 13:30 WIB
KH Asep Saifuddin Chalim dan Gagasan Menciptakan Generasi Unggul
KH Asep Saifuddin Chalim dan Gagasan Menciptakan Generasi Unggul
Ketum Pergunu KH Asep Saifuddin Chalim
Tanggung jawab pendidikan sesungguhnya ending-nya ialah mencetak individu-individu yang berkarakter yang mampu mewujudkan dirinya sejahtera dan berpihak pada keadilan.

Perkara mendidik tidak cukup sebatas memberikan materi normatif setiap hari demi memenuhi beban mengajar. Tetapi perlu adanya tanggung jawab besar dari guru dan stakeholders pendidikan agar tujuan pendidikan nasional bisa tercapai demi menciptakan generasi unggul.

Terkait hal itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) KH Asep Saifuddin Chalim menjelaskan beberapa poin penting yang menjadi tanggung jawab guru untuk mempersiapkan generasi unggul, utuh, dan berkualitas.

Berikut petikan wawancara Jurnalis NU Online, Fathoni Ahmad bersama Kiai Asep Saifuddin Chalim di sela-sela kegiatan Rapat Kerja Nasional Pergunu 2018 beberapa waktu lalu.

Apa yang harus dilakukan oleh para guru NU untuk memajukan pendidikan dan mencetak generasi unggul?

Perlu adanya tanggung jawab besar untuk memenuhi tujuan pendidikan nasional. Tanggung jawab ini harus dilakukan bersama-sama, terutama oleh para guru NU dan guru-guru di seluruh Indonesia, para pengelola, dan pengambil kebijakan pendidikan.

Seperti apa tanggung jawab yang dimaksud?

Pertama tanggung jawab dalam upaya penguatan keimanan kepada anak didik. Tangung jawab keimanan ini yang akan mewujudkan generasi berkarakter.

Keimanan akan menumbuhkan ketakwaan sehingga akan mewujudkan tujuan pendidikan nasional dalam mencetak generasi-generasi berkarakter.

Bagaimana korelasi keimanan dan ketakwaan sebagai salah satu tanggung jawab yang harus diemban guru?

Aplikasi keimanan itu adalah ketakwaan. Ketakwaan itu sendiri merupakan realisasi dari keimanan. Dengan keimanan dan ketakwaan, seseorang bisa mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan.

Waman yataqillaha yaj’alahu makhraja, wa yarzuqhu min haitsu layahtasib. Barangsiapa yang bertakawa kepada Allah, maka ia akan memperoleh jalan keluar terbaik dan akan diberi rezeki dari jalan yang tidak terduga-duga.

Selain tanggung jawab membentuk keimanan dan ketakwaan?

Tanggung jawab akhlakul karimah. Upaya pembentukan akhlakul karimah ini akan mewujudkan anak-anak dengan disiplin tinggi dan bertanggung jawab. Tanggung jawab akhlakul karimah ini juga akan menjaga perkataan dan perbuatan anak didik agar menjadi lebih baik.

Dengan kata lain?

Akhlakul karimah itu ialah piawai dalam bergaul. Memuliakan yang lebih sepuh, menghormati yang sebaya, dan mengasihani yang lebih muda. Tapi tidak cuma itu saja, termasuk dalam akhlakul karimah ialah tidak boleh malas, tidak boleh tidak bertanggung jawab, tidak boleh berkata tidak bisa, tidak boleh putus asa.

Itu namanya akhlakul karimah. Yang begini ini harus ditanamkan kepada murid dengan berbagai motivasi-motivasi, dengan pencontohan dirinya yang disiplin.

Lalu, tanggung jawab seperti apa lagi yang harus dimiliki guru?

Tanggung akademis. Tanggung jawab akademis guru terkait dengan profesionalisme dan kompetensinya. Guru wajib menyampaikan materi agar anak didik mampu memahaminya. Artinya, materi pelajaran dikemas sedemikian rupa agar siswa mampu menerimanya dengan baik.

Akademis juga bisa dikatakan tuntas jangkauan, tuntas muatan. Tuntas jangkauan itu ya kalau misal 40, seluruhnya itu harus dipahami. Tnutas muatan bahwa kurikulum yang disampaikan harus tuntas semuanya jangan mencari-cari mana yang lebih mudah. Baik yang mudah maupun yang sulit harus tersampaikan dan menjangkau seluruh peserta didik.

Setelah tanggung jawab akademis?

Tanggung jawab kecerdasan. Tanggung jawab ini akan terwujud bila seorang guru tak sekali memberikan pemahaman kepada siswa. Di sini faktor pengayaan berperan penting. Siswa diarahkan untuk memperkaya materi agar memahami berkali-kali.

Ketika seorang guru itu telah mampu mewujudkan tanggung jawab akademis, membuat muridnya paham dan mengerti, maka hal ini akan membuat seseorang menjadi cerdas. Jadi kaitannya erat sekali antara tanggung jawab akademis dan tanggung jawab pembentukan kecerdasan.

Kemudian, yang terkait dengan fisik siswa sebagai bagian dari motorik. Seperti apa tanggung jawab guru?

Tanggung jawab kesehatan. Dalam dunia pendidikan, sekolah wajib memberikan menyehatkan jasmani dan rohani anak didik. Tanggung jawab ini menurut Kiai Asep bisa melalui olahraga yang tiap minggu dilakukan. Juga bisa memperdalam pencak silat, misalnya.

Tangung jawab ini di-handle oleh guru olahraga. Di samping memberikan teori, guru olahraga juga harus memberikan latihan-latihan fisik untuk melatih motorik siswa agar lebih terampil.

Kecerdasan dalam bidang seni juga penting bagi siswa?

Ya, tanggung jawab seni. Seni menurut juga bagian dari upaya membentuk generasi-generasi agar mempunyai perangai yang halus. Ini sangat terkait dengan agama juga karena agama berupaya membentuk anak agar memiliki perilaku lemah lembut.

Kesenian ini mewujud ke dalam berbagai macam bentuk, baik itu tari, musik, rupa, kaligrafi, pertunjukan. Intinya ialah terletak pada keindahan dan kehalusan nilai-nilai seni. Bukan semata-mata pada bentuknya saja yang harus dipahami. 

Dunia modern menuntut skill, inovasi, dan kreativitas. Bagaiman hal ini bisa diwujudkan terhadap murid?

Itu ada dalam tanggung jawab kreativitas. Kreativitas lahir dari pikiran yang selalu berusaha kritis. Kreativitas tidak perlu diajarkan tetapi dipahamkan kepada anak didik. Kreativitas ini bisa diolah dari tanggung jawab akademik dengan tanggung kecerdasan. Lalu kedua tanggung jawab tersebut digerakkan dengan mesin kecerdasan, maka akan mewujudkan generasi berkualitas.

Kemudian, ketika kreativitas ini dioperasionalkan dengan akhlakul karimah, maka seseorang akan mampu mewujudkan kesejahteraan bagi dirinya. Setelah untuk dirinya tentu akan berkembang untuk orang lain. Lalu jika kreativitas ini dikemas dalam ketakwaan, maka hal ini akan menciptakan keadilan dalam kehidupan. (*)
Senin 2 Juli 2018 19:45 WIB
Tuduhan Tidak Islam Kaffah dan Liberal dari Simpatisan Parpol
Tuduhan Tidak Islam Kaffah dan Liberal dari Simpatisan Parpol
Pilkada langsung serentak di 171 daerah telah berakhir. Pasangan calon dan pra pendukung dan simpatisan tinggal menunggu hasil penghitungan resmi dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD). Dari hasil penghitungan itu, tentu ada yang menang dan kalah.  

Namun, ada sebagian pendukung atau simpatisan yang sepertinya tidak siap menerima kekalahan. Ungkapan mereka di media sosial baik tertutup maupun terbuka dilampiaskan dengan hujatan kepada pihak lain. 

Hujatan itu kadang beraroma SARA yang mudah mengundang kemarahan pihak lain. Misalnya ada ungkapan, jika di sebuah daerah calon yang didukungnya kalah, maka daerah itu mayoritas dihuni penduduk tidak beragama secara kaffah. Di saat sama berarti banyak warga yang liberal. 

Tentu ungkapan tersebut tidak tepat karena tidak ada hubungannya sama sekali. Untuk mengetahui fenomena semacam itu, Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai Direktur Said Aqil Siroj Institute M. Imdadun Rahmat di PBNU, Jumat (29/6). Berikut petikannya: 

Ada kecenderungan Pilkada dikaitkan dengan agama. Anehnya, pengaitannnya itu adalah tuduhan bahwa jika partainya kalah di suatu daerah, maka daerah tersebut kebanyakan bukan pemeluk Islam kaffah. Bahkan liberal. Menurut Anda bagaimana

Yang pertama, bahwa klaim seperti itu adalah arogansi teologis, arogansi keagamaan masih diidap oleh kelompok itu. Ada klaim hanya mereka sendiri Islam kaffah, yang sempurna agamanya. 

Menurut saya, arogansi seperti ini menunjukkan ada unsur kuat menuju radikalisme. Karena salah satu elemen penting dalam radikalisme agama klaim mutlak hanya dirinya yang benar, yang lain salah. 

Kita prihatin dengan fenomena ini karena klaim kebenaran mutlak satu kelompok dan menyalahkan tidak sempurna keimanan menjadi potensi pertentangan antarkelompok, kebencian kelompok dengan kelompok lain. Dengan demikian ukhuwah islamiyah tidak akan tercapai kalau arogansi seperti ini masih ada

Kedua, klaim spserti ini kontraproduktif dengan kelompok tersebut yang menyatakan partai dakwah. Kalau partai tersebut partai dakwah, mereka menderita kerugian sekaligus. Sebagai parpol, dia akan menjauhkan konstituen massa mengambang karena melebarkan bibit jarak di saat sama mempersempit konstituen yang lain. Sebagai partai, dia akan kehilangan vootersnya.  Hal penting diingat karena di indonesia massa mengambang jumlahnya banyak. Massa ini akan berhasil ditarik kalau terpikat. Kalau dicaci maki dan dijelek-jelekkan, secara rasional akan menjauh. Partai ini akan rugi dari ceruk swings vooter itu. 

Dari sisi gerakan dakwah, ini kontraproduktif dengan metode dakwah yang benar karena dakwah yang benar mencari simpati dan menambah kawan. Bukan penghakiman tidak kaffah, tidak sempurna, libaral. Justru itu akan membuat objek dakwah untuk Islam yang lebih baik itu, akan lari. Tidak cocok dengan prinsip dan metode yang benar dalam berdakwah. Kita prihatin dengan maraknya statement seperti itu karena efeknya bahaya, karena mengobarkan kebencian kepada sesama Muslim dan potensial memunculkan konflik. 

Apa pendapat Anda dari hasil penghitungan sementara pada pilkada serentak ini?

Hasil penghitungan suara di pilkada ini menunjukkan bahwa partai-partai yang mengkampanyekan jagonya dengan mengeksploitasi sentimen identitas agama itu cenderung tidak laku. Kampanye yang menggunakan jargon-jargon fanatisme regliigus ke kanan itu tidak laku di publik. Buktinya jago dari partai inklusif dan terbuka itu yang memenangkan pilkada. Mestinya justru pendukng dan pengurus partai ini mesti belajar bahwa jualan kebencian itu tidak disambut oleh konstituen, oleh vooters. 

Sinyalemen apa ini jika dikaitkan dengan pilpres? 

Saya kira ini sinyalemen menggemberikan karena sebentar akan menghadapi pileg dan pilpres. Saya berkeyakinan para kandidat yang pluralis, yang mengutamakan bangsa, dan harmoni bangsa itu akan terpilih di 2019. Jadi, ini adalah pembelajaran politik masyarakat. Jadi, masyarakat semakin rasional semakin terbentuk budaya demokrasinya, rasional dan tidak mudah dimanipulasi identitas, khususnya agama. 

Ke depan, idealnya partai islam berlomba mewujudkan nilai-nilai luhur dari agama itu tentang keadilan, kejujuran, antimonipolitik, keberpihakan kepada orang banyak di atas kelompok, keadilan ekonomi. Itu yang perlu diwujudkan dari keislaman sebuah partai, bukan simbolisme. Kehadiran agama itu pada nilai-nilai. Agama memakai politik untuk tujuan hakiki dari agama, bukan politik memakai agama untuk tujuan kekuasaan. Jadi titik singgung agama dan politik itu pada nilai-nilai luhurnya. Parameter adalah sejauh mana memperjuangkan keadilan, memperjuangkan alokasi pembangunan, melindungi kelompok minoritas, bukan malah ikut-ikutan korupsi. Bukan malah mengorbankan kepentingan bangsa, kepentingan bersama untuk kepentingan diri dan kelompoknya. 

Apa itu watak bawaan orang per orang atau doktrin dari partai mereka? 

Itu watak bawaan karena yang dilatih pada bab pertama mereka adalah identifikasi siapa kawan dan siapa musuh, itu di awal pada proses pendidikan. Dengan begitu bahwa klaim kebenaran mereka pada bab awal pendidikan. Konsekuensinya harus ada yang disalahkan. Kelompok lainlah yang harus dicitrakan salah. Maka ada kawan ada lawan. Ada teman ada musuh. 

Pada perkembangannya (menyebut nama partai) pernah sadar cara pandang seperti ini kontraproduktif kalau dilempar ke publik. Pada 2009 kampanye mereka cenderung ini inklusif, menerima siapa saja, bahkan menerima non-Muslim untuk menjadi caleg. Pada saat itu pencitraan cukup berhasil. Dan hasilnya suara raihan mereka di pemilu meningkat drastis, 6,7 persen. Berkat dari proses itu, mengadaptasi dengan kondisi Indonesia, paling tidak di permukaan. Tapi kemudian pencitraan itu semakin memudar. Tapi kemudian tampil seperti sedia kala. Bahkan mengekslusi menuduh tidak kaffah. itu merugikan citra mereka sendiri dan kepentingan mebangun ukhwah islamiyah. Merugikan ukhwah islamiyah, ukhwah wathoniyah dan insaniyah. Karena tiga ukhwah ini satu kesatuan. Kalau salah satu unsurnya dilanggar, mustahil membangun wathaniyah kalau islamiyahnya tidak selesai. 

Ketiga ukhwah terbangun kalau ada kesiapan mental menerima perbedaan. Dengan sesama Islam saja sudah menuduh, bagaimana dengan kalangan yang berbeda banyak suku, bangsa, bentuk fisik. Berbeda sedikit tidak bisa, mana mungkin menerima dengan perbedaan yang banyak. 

Bagaimana nasib mereka masa depan? 

Untuk itu, melihat perkembangan mau organisasi maupun partai, semakin ekslusif sebuah organisasi atau partai, maka semakin mudah mati. Apa sebabnya? Karena kelompok atau partai dengan ideologi ekslusif artinya menarik garis sempit. Itu membuat pendukungnya semakin sedikit. Kalau seseorang tidak sama persis dengan garis partai akan ketendang keluar, disebut bidah, inhirof bahkan kafir itu menyebabkan orang banyak susah masuk. Yang sudah di dalam berpotensi keluar. Karena berbeda sedikit dikeluarkan, ini akan menimbulkan sempalan. Bahkan terbelah menjadi dua. Dan sering kali kelompok radikal di Indonesia mati dan melemah karena konflik di internalnya sendiri. Berbeda dikit pecah. 

Parpol atau organisasi tidak bisa memakai model ideologi radikal seperti ini. Betul memang atraktif, menarik, khususnya anak muda yang galau dan mudah sekali membentuk militansi. Partai kader biasanya terbangun dari model pengorganisasian seperti ini, ideologi sempit, ketat, berbeda sedikit out, itu salah satu watak dari partai kader. Memang ada proses pendidikan kaderisasi intensif, akan muncul tokoh dan kader militan. Kelebihannya di situ. Namun, partai kader tidak akan mampu menjaring suara konstituen yang besar karena daya tolaknya tinggi. 

Sehingga partai seperti ini tidak punya masa depan untuk massa. Partai massa tumbuh dengan prinsip longgar. Tingkat disiplin rendah, dan inklusif dan memberikan jarak yang luas. Dan tidak senang mengeluarkan orang. Sejauh mendukung partai dia akan diakomodasi. Partai massa ini yang dimana-mana menjadi besar dan memenangkan pemilu, dan menduduki jabatan strategis di negara. 

Ada contohnya? 

Misalnya di Eropa, di situ itu ada partai kanan, baik itu kanan agama maupun nasionalis. Itu selalu jadi partai oposisi dan gurem. Di sampaing ada kiri sosialis. Tidak membesar juga. Nah, yang selalu memenangkan parlemen dan pemilu adalah partai-partai tengah karena naturenya mengakomodasi keragaman kontituen. Biasanya partai-partai tengah ini bersaing merebut ceruk swing vooter. Tidak militan. 

Kembali lagi ke pertanyaan awal, tuduhan mereka tidak Islam kaffah dan liberal jika partainya kalah. Sikap warga NU terhadap cara pandang seperti itu bagaimana? 

Sikap yang paling bijak adalah tidak membalas dengan hujatan. Tapi menjelaskan bahwa menghujat itu tidak baik. Apa bedanya Islam rahmatan lil alamin yang menjadi slogan warga NU dengan islam yang suka menghujat kalau dibalas dengan menghujat. Kita membuat pagar betis saja, isolasi cara pandang mereka agar virus suka membenci warga lain tidak menulari warga NU. Memang akan selalu kalah di awal karena pagar betis dan mengisolirnya harus penuh kesabaran. Dalam pertarungan itu, memang pertahanan yang baik adalah menyerang, tapi ini kita ingin menciptakan dunia yang tidak ada kekerasan. Kita harus isolasi dan pagar betis.

Caranya bagaimana? 

Harus ada upaya ekstra kalau kasusnya ekstra ordinary, darurat; maka pagar betis dan isolasinya harus ekstra juga. Modal sosial dan struktural, kultural NU sudah cukup. Di Jawa, struktur NU sudah sampai ke desa-desa. Di luar Jawa, sudah sampai ke cabang, ada yang kecamatan, ada juga yang sampai di desa seperti di Lampung. 

Secara kultural NU punya pesantren, punya tradisi yasinan, slametan, dibaan, itu adalah media yang sangat efektif memagari umat kita dari kelompok penyerang ini. Tinggal meyebarkan tanbih (peringatan) agar kaum Nahdliyin sadar ancaman ini. Secara otomatis mereka akan melakukan pembelaan diri. Dan itu sudah dibuktikan berkali-kali oleh Nahdliyin.

Jumat 15 Juni 2018 10:0 WIB
Cengkraman Radikalisme di Kampus Perguruan Tinggi
Cengkraman Radikalisme di Kampus Perguruan Tinggi
KH Mohammad Mukri, Ketua PWNU Lampung
Berkembangnya radikalisme di Indonesia saat ini menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi semua elemen bangsa. Upaya deradikalisasi sudah dilakukan oleh pemerintah dengan menggandeng stake holders terkait. Harapannya, pemahaman, sikap, dan aksi radikalisme dapat diberantas sampai ke akar-akarnya. Namun seakan-akan "patah tumbuh hilang berganti". Kelompok-kelompok radikal terus berupaya menebarkan virus radikalismenya melalui segala lini, mencengkram dengan jaringan yang terstruktur sehingga berbagai lini sudah mampu dikuasai.

Salah satu jaringan yang sudah menjadi lahan subur tumbuhnya paham radikal adalah lembaga pendidikan baik sekolah maupun kampus perguruan tinggi. Kondisi ini ini tentu sangat memprihatinkan karena bagaimana pun para pelajar dan mahasiswa adalah kader yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di negeri ini dan kepada merekalah eksistensi negara Indonesia harus dilanjutkan dan dipertahankan.

Terkait permasalahan ini dan bagaimana langkah NU menghadapi kondisi yang jika didiamkan mampu merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia, Jurnalis NU Online Muhammad Faizin melakukan wawancara dengan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung yang juga Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung KH Mohammad Mukri di kediamannya di daerah Sukarame Bandarlampung, Rabu (13/6) malam. Berikut hasil wawancara dengan Professor Ilmu Ushul Fiqh ini.

Apakah paham radikalisme memang berkembang di kampus perguruan tinggi, Prof? Elemen apa yang terpapar?

Iya, paham radikalisme memang tumbuh di kampus-kampus dan memang ada. Utamanya tumbuh subur di kampus- kampus perguruan tinggi umum. Kenapa? Karena yang mengajarkan agama di perguruan tinggi negeri umum itu adalah orang atau dosen yang tidak didesain menjadi dosen agama. Ada kecenderungan orang yang senang dengan agama tapi tidak dididik secara sistematis untuk tahu agama dari madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah sampai dengan perguruan tinggi agama. Mereka malah berasal dari pendidikan umum SD, SMP, SMA yang kurang bersentuhan dengan pendidikan ilmu agama kemudian di perguruan tinggi bergabung dengan halaqah-halaqah (perkumpulan) dengan belajar agama sendiri.

Mereka tidak paham bahwa ilmu agama itu punya sanad, metodologi dan manhaj tertentu. Sehingga yang seperti ini sangat berbahaya apalagi disusupi paham radikal yang menafsirkan Al-Qur’an dan Hadits melalui cara yang bertentangan dengan kaidah dan nilai-nilai dasar yang disepakati. Pemahaman seperti inilah yang ditanamkan kelompok radikal sehingga menganggap pancasila, UUD 45 tidak islami serta menuduh Indonesia negara taghut dan tidak ada yang baik dalam pandangan kelompok ini. Semua jadi jelek dan ini kontra produktif. Ingat, mendirikan bangsa ini bukan main-main.

Kemudian bagaimana NU khususnya PWNU Lampung menyikapi kondisi memprihatinkan ini?

NU sudah melakukan aksi nyata terkait kondisi ini. Tidak hanya sekedar wacana, karya kata namun karya nyata. NU sudah melakukan langkah-langkah terstruktur terkait kaderisasi melalui Pendidikan Kader Penggerak NU ataupun Madrasah Kader kepada pengurus dan warga NU. Tujuan kaderisasi ini adalah mengarusutamakan paham Islam wasathiyah (moderat). Kenapa harus moderat? Karena fakta Indonesia sudah ditakdirkan oleh Allah sebagai negara multikultural, multietnis, multiagama, multibahasa dan dengan pemahaman yang moderat sampai dengan saat ini masih damai. Namun kalau paham-paham ini (radikal, red) masuk maka akan muncul ketidak damaian di negeri ini. Apa yang dilakukan NU akan dan harus terus diperkuat secara sistematis dan masif.

Perkembangan paham radikalisme di kampus disinyalir juga bersemai subur di masjid-masjid kampus. Bagaimana tanggapan Profesor?

Secara umum ada perbedaan perkembangan paham radikal di masjid kampus perguruan tinggi umum dan masjid perguruan tinggi agama. Kalau di kampus perguruan tinggi agama, memang menjadi tempat dan banyak ahli agama. Sehingga paham-paham seperti ini bisa dibendung. Seperti pengalaman saya ketika menjadi Pembantu Rektor III saya selalu memberikan pengarahan kepada mahasiswa yang akan melaksanakan kajian keagamaan agar mengundang pemateri yang memang memiliki kapasitas dan keilmuan yang jelas. Tidak mendatangkan pemateri yang tidak jelas background (latar belakang) pendidikan agamanya apalagi mendatangkan orang yang memiliki misi politik dibungkus agama.

Kalau di perguruan tinggi umum kenyataannya banyak halaqah-halaqah dan kajian agama beraliran Islam transnasional yang selanjutnya menjadi cikal bakal pergerakan di dunia politik. Di sejumlah negara Timur Tengah, aliran ini sudah dilarang seperti di Mesir, Yordania, Arab Saudi. Karena negara Indonesia adalah negara demokrasi, dipersilahkan sepanjang dia (kelompok Islam transnasional) bisa mendapat tempat di masyarakat. Sehingga kelompok ini pun bisa berkembang di Indonesia dan memiliki jaringan serta memiliki kader yang well-educated (berpendidikan baik).

Mereka juga memiliki tim cyber internet (media sosial) sendiri yang senang memanfaatkan dan menggoreng berita yang sedang viral untuk kepentingan mereka. Apalagi isu-isu terkait agama dari dulu memang menjadi komoditi dan menarik karena ada ayatnya, ada dalilnya, ada penganutnya dan janjinya surga. Dan mereka memiliki kesemangatan beragamanya tinggi namun memahami agama secara tekstualis, tidak melihat konteksnya di mana, masyarakatnya seperti apa. Maka seperti kelompok-kelompok khawarij, Ibnu Muljam itu menjelma kembali.

Kenapa Islam moderat cocok untuk Indonesia dan bagaimana paham radikal mempengaruhi pola pikir masyarakat yang aslinya sudah moderat?

Islam moderat itu damai dengan lingkungan serta menjunjung tinggi budaya selama tidak bertentangan dengan agama. Maka itu kebiasaan seperti Yasinan, Barzanji, Nujuh Hari mampu dilestarikan selaras dengan nilai-nilai agama. Sebelum Islam datang ke Indonesia, sudah ada Majapahit. Sudah mapan selama 600 tahun tidak kebayang bisa bubar. Pada zaman Majapahit yang berbicara masalah agama adalah sekelas Brahma atau Kiai. Dan seorang Priyayi atau Ningrat tidak boleh berbicara masalah agama.

Berbeda dengan kondisi saat ini di mana semua orang bicara agama dengan retorika diri sendiri. Seolah-olah sudah paling alim agama padahal baru saja belajar dari media sosial. Pengaruh perkembangan teknologi informasi memang sangat luar biasa. Dan ini yang dimanfaatkan untuk menyebarkan paham-paham baru ke masyarakat. Saat ini orang yang sudah punya kemampuan bidang agama juga bisa terpapar pola pikir radikal karena membaca broadcast di medsos yang dirangkai dengan kata-kata halus dan narasi yang bagus sehingga kalau orang tidak tahu bisa terpengaruh karena pelan-pelan dimasukkan kalimat-kalimat propaganda yang mempengaruhi pemahaman pembaca. Jangankan yang punya modal pengetahuan agama setengah-setengah, yang alumni pesantrenpun ada yang terpapar paham radikal transnasional melalu media sosial.

Jadi jika tidak hati-hati, semua bisa terpapar radikalisme?

Ya. Tidak hanya pelajar saja namun saat ini sudah ada para cendikiawan yang juga terpapar oleh paham radikal. Anehnya yang bersangkutan tidak merasa radikal tapi merasa benar. Mereka akan terus merasa tidak senang dengan kelompok selain mereka. Semua kan bermula dari rahmah, rasa cinta. Kalau orang tasawuf, lihat orang sakit jiwa saja masih tetep cinta. Lihat orang melakukan yang menurut ilmu fiqh itu jahat kadang tersenyum.

Oleh karenanya kita harus mencontoh kiai-kiai Nahdlatul Ulama yang mampu membentengi diri dari paham-paham radikal walaupun mereka belajar agama lama di Timur Tengah. Seperti Gus Mus, Kiai Said dan yang lainnya. Malah saat ini yang belajar cuma setahun dua tahun begitu pulang ke tanah air sudah berubah dan radikal.

Perilaku dan tindakan radikal berawal dari pola pikir radikal. Sehingga harus ada yang pola deradikalisasi yang salah satunya pemberian ruang untuk Islam washatiyah. Makanya NU saat ini programnya bukan hanya sekedar dakwah menggelorakan Islam washatiyah tapi juga dakwah yang didalamnya ada pendidikan. Jangan pernah merasa lelah karena kalau kita berhenti kelompok ini akan tetap hadir.

Dalam hal ini pemerintah saat ini sangat memerlukan NU. Saya tidak bisa membayangkan jika negara Indonesia ini tidak ada Nahdlatul Ulama. NU itu secara kuantitas banyak. Kualitas keilmuan agama para ulamanya juga tidak diragukan lagi. Kalau ada orang alim walaupun tidak secara langsung menunjukkan ke-NU-annya, namun secara amaliah mayoritas memegang kuat amaliah NU dan paham Ahlussunnah wal Jama’ah.(*)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG