IMG-LOGO
Nasional

Forum Dai Muda Ajak Masyarakat Perangi Radikalisme dan Terorisme

Ahad 8 Juli 2018 23:45 WIB
Bagikan:
Forum Dai Muda Ajak Masyarakat Perangi Radikalisme dan Terorisme
Jakarta, NU Online 
Ketua Umum Forum Komunikasi Dai Muda Indonesia (FKDMI), Moh. Nur Huda mengajak masyarakat bersama para dai untuk berperan dalam memerangi radikalisme dan terorisme. Bahakan diharapkan dapat memutus arus penyebaran paham radikalisme dan aksi terorisme yang selalu mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia.  

"Paham radikalisme dan terorisme ini nyata di tengah-tengah kita. Saya mengajak bersama seluruh elemen masyarakat, untuk konsisten menjaga rumah Indonesia.“ Kata Nur Huda saat menyampaikan sambutan pada Halaqoh Kebangsaan Peran Dai Muda dalam Menangkal Paham Radikalisme dan Terorisme di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Sabtu, (7/7).

Tindakan tegas dari aparat penegak hukum dan pemerintah harus ditingkatkan. "Aparat harus tegas. Masyarakat membutuhkan kenyamanan dan ketentraman," tegas Huda.

Sementara itu, menurut Ahmad Sugiyono, Sekretaris Jendral FKDMI, kegiatan Halaqoh Kebangsaan tersebut juga dirangkai dengan Pelantikan dan Rapat Kerja Pengurus Pusat FKDMI sebagai amanat dari Munas IV FKDMI akhir tahun lalu.

"Penyebaran paham-paham kebangsaan, sebagai counter terhadap paham radikalisme dan terorisme akan menjadi garis besar arah program kepengurusan FKDMI pada periode ini," ujar Sugiyono.

Ia menambahkan, ada empat amanah bagi pengurus FKDMI, 

"Pertama, dakwah berkonten rahmatan lil alamin. Kedua, amanah cinta tanah air. Ketiga, dai muda yang tidak hanya di mimbar tapi juga pendampingan/advokasi masyarakat. Keempat memanfaatkan media sosial untuk menjangkau lintas generasi dan lintas batas teretorial," pungkasnya. (Ogie/Abdullah Alawi)

Tags:
Bagikan:
Ahad 8 Juli 2018 23:0 WIB
Enam Topik Radikal Terpopuler pada Khutbah Jumat Masjid Pemerintah
Enam Topik Radikal Terpopuler pada Khutbah Jumat Masjid Pemerintah
Konferensi pers temuan khutbah radikal masjid pemerintah
Jakarta, NU Online
Ketua Dewan Pengawas Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta, Agus Muhammad mengatakan terdapat enam topik radikal yang paling populer atau paling banyak ditemukan pada khutbah Jumat di masjid-masjid pemerintah.

Keenam topik tersebut adalah ujaran kebencian, sikap negatif terhadap agama lain, sikap positif (penerimaan) terhadap paham khilafah, sikap negatif terhadap kaum minoritas, kebencian kepada minoritas, dan sikap negatif terhadap pemimpin perempuan.

Keenam topik juga didasarkan pada tiga level radikalisme, yakni rendah, sedang, dan tinggi. Rendah artinya secara umum cukup moderat tetapi berpotensi radikal. Kategori sedang artinya tingkat radikalismenya cenderung sedang, misalnya dalam konteks intoleransi, khatib setuju tapi tidak sampai memprovokasi jamaah untuk bertindak intoleran. 

(Baca: PBNU Minta Pemerintah Awasi Masjid dari Khutbah Radikal)

Sedangkan kategori tinggi adalah level teratas di mana khatib bukan sekadar setuju, tetapi juga memprovokasi umat agar melakukan tindakan intoleran.

“Pada ujaran kebencian level tinggi seperti melakukan provokasi bahwa kaum kafir menyerang kaum Muslim, provokasi konspirasi bahwa Islam diserang berbagai kekuatan, provokasi bahwa umat Islam dimusuhi dan diperangi, menghina orang kafir, menghina orang yang tidak percaya kepada Allah, menghina orang yang ziarah kubur," kata Agus pada konferensi pers hasil penelitian P3M dan Rumah Kebangsaan di Gedung PBNU Kramat Raya, Jakarta Pusat, Ahad (8/7).

(Baca: Peneliti Dorong Ormas Moderat Cegah Radikalisme di Masjid Pemerintah)
Contoh konten radikal tingkat sedang terkait sikap negatif terhadap agama lain di antaranya memusuhi kelompok lain, menerima dengan terpaksa, membuat stigma negatif terhadap agama lain. Tuduhan terhadap Syiah telah memalsukan 400 hadist juga merupakan temuan ujaran kebencian pada konten radikal tingkat sedang. 

Adapun contoh penerimaan terhadap khilafah pada level sedang adalah menerima sistem demokrasi tapi setuju dengan gagasan khilafah. Menyindir agama lain dan sikap negatif terhadap agama lain menjadi contoh sikap negatif terhadap agama lain pada level radikal rendah.

(Baca: Memakmurkan Masjid Tak Sekadar Ramaikan Shalat Berjamaah)

Penelitian tersebut dilakukan terhadap khutbah yang disampaikan khatib pada setiap pelaksanaan shalat Jumat selama empat minggu, dari tanggal 29 September hingga 21 Oktober 2017. Terdapat 100 masjid di Jakarta yang diteliti. Seratus masjid terdiri dari 35 masjid kementerian, 28 masjid lembaga, dan 37 masjid BUMN. Dari 100 masjid yang diteliti, 41 di antaranya terindikasi menyebarkan konten radikal melalui khutbah Jumat. (Kendi Setiawan)

Ahad 8 Juli 2018 22:30 WIB
Rais Aam: Halal Bihalal Momentum Perkuat Silaturahim Antarwarga
Rais Aam: Halal Bihalal Momentum Perkuat Silaturahim Antarwarga
Jakarta, NU Online 
Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin mengajak kepada seluruh elemen masyarakat, khususnya Jakarta Utara, untuk menjadikan momentum halal bi halal untuk memperkuat ukhuwah, baik islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah. Hal itu disampaikan Kiai Ma'ruf dalam halal bi halal masyarakat Jakarta Utara di Ballrooom Jakarta Islamic Center, Ahad (8/7). 

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ini juga mengajak untuk mengubur kesalapahaman dan menghilangkan kegaduhan.

"Halal bi halal ini hendaknya menjadi momentum untuk mempererat silaturahim kita semua, antarwarga bangsa," ujar Kiai Ma'ruf.

Sebab menurutnya, Idul Fitri merupakan hari kasih sayang, yaumul marhamah. Sehingga jika ada hal-hal yang kurang tersambung, maka halal bi halal ini menjadi penyambung kembali tali silaturahim antarsesama Muslim atau sesama warga bangsa.

"Hendaknya kita menghilangkan dan mengubur kesalahpahaman atau salah pengertian, su'ud tafahum, antarwarga bangsa. Kemudian kita membangun hubungan husnud tafahum, saling pengertian sehingga tidak ada konflik antarsesama," tutur kiai yang berdomisili di wilayah Koja, Jakarta Utara ini.

Kiai Ma'ruf juga menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki landasan bernegara yang kuat, yakni, sebuah titik temu sebagai bangsa yang disebut Pancasila. Kemudian, Indonesia juga punya sebuah kesepakatan yang kuat, yaitu Piagam Jakarta yang setelah dibuang tujuh kata dijadikan sebagai UUD 1945.

"Kita berada di bingkai keindonesiaan, NKRI yang satu. Akan tetapi, karena tingkat kemajemukan yang tinggi, maka potensi konflik jelas tinggi. Karena itu, kita harus jaga, kawal, dan rawat secara lahiriah dan batiniah," pungkasnya. (Khoirul Rizqy At-Tamami/Abdullah Alawi)

Ahad 8 Juli 2018 22:0 WIB
Perukyah Aswaja Berkumpul di Klaten
Perukyah Aswaja Berkumpul di Klaten
Klaten, NU Online
Suasana di Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Barokah Kesamben Gunting Wonosari, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ramai dengan hadirnya para praktisi Jam'iyah Rukqah Aswaja (JRA) se-Nusantara pada Sabtu (7/7) malam. Acara yang dikemas dengan tajuk Silaturahim NUsantara Praktisi Jam'iyah Ruqyah Aswaja (JRA) dihadiri oleh ratusan praktisi dari berbagai daerah.

"Alhamdulillah, data di daftar hadir kegiatan ini dihadiri 650 peruqyah JRA se-Nusantara," kata Ketua Panitia, Muhammad Mahmul.

Peserta peserta hadir dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Madura, bahkan Sumatra dan Kalimantan berkumpul di Klaten untuk menimba Ilmu dan saling tukar pengalaman atau saling bercerita suka-duka selama menjadi praktisi ruqyah JRA.

Gus Amak panggilan dari Allama A'lauddin Shiddiqi selaku founder dan Ketua Dewan Pembina Pusat JRA bersyukur atas tumbuh kembangnya JRA di bumi Indonesia. "Alhamdulillah dengan pertolongan Allah Swt di Jawa timur saja tinggal dua kabupaten yang belum ter-JRA-kan. JRA mulai berkembang mulai dari Jawa Timur hingga luar Jawa bahkan hingga ke luar negeri. Semua itu tidak lepas dari kerja keras pengurus anak cabang, cabang, wilayah hingga pengurus pusat JRA," ungkap Gus Amak.

Karena itulah, Gus Amak mempersembahkan oleh-oleh berupa Mars JRA kepada seluruh praktisi dan pengurus JRA di berbagai tingkatan. Hal itu dilakukan dengan harapan, ke depan praktisi JRA akan semakin semangat dan militan mendakwahkan Al-Qur'an sebagai obat pertama dan utama bagi makhluk yang sakit.

Berikut Mars JRA yang dikumandangkan saat acara silaturahim praktisi JRA.

Mars JRA


di Jam'iyah Ruqyah Aswaja 
lahirlah Pejuang Sejati 
berilmu, beradab dan bertakwa 
Al-Qur'an dakwah kami 
kami berjuang, kami militan 
taat pada Sang Guru
membantu para marqi, menggapai kesembuhan 
menuju kebahagiaan 
jangan menyerah, jangan mengeluh 
Allah bersama kita 
perangi kemaksiatan, menuju Ridha Allah 
bekal kita ke akhirat 
semangat mendakwahkan
Al-Qur'an sebagai syifa'
bersama Nahdlatul Ulama.

(Alfin Maulana Haz/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG