IMG-LOGO
Nasional

Prabowo Kunjungi PBNU

Senin 16 Juli 2018 19:46 WIB
Bagikan:
Prabowo Kunjungi PBNU
Jakarta, NU Online
Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam rangka menjalin silaturahim.

"Prabowo sudah lama belum silaturahim ke PBNU," ujar Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya Nomor 164, Jakarta, Senin (16/7) malam.

Silaturahim ini, kata Kiai Said, bukan untuk politik praktis. Tetapi guna menjalin silatul afkar, tukar pemikiran. 

"Syukur-syukur bisa menjadi silatul amal," sambungnya.

Dalam pertemuan itu, Kiai Said juga menegaskan sikap PBNU yang selalu berada di jalur konstitusi yang sah. Pasalnya, NU punya pengalaman pahit ketika KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dijatuhkan dari presiden tanpa kesalahan yang jelas.

"Sangat pahit. Punya presiden diturunkan ditengah jalan dengan kesalahan yang tidak berdasar," katanya.

Pada pertemuan tersebut, hadir jajaran pengurus tanfidziyah PBNU. Di antaranya Wakil Ketua Umum H Mashum Mahfoedz, Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, H Robikin Emhas, H Eman Suryaman, Sekretaris Jenderal Helmy Faisal Zaini, dan lain-lain. (Syakir NF/Zunus)
Bagikan:
Senin 16 Juli 2018 23:45 WIB
Padat Karya Tunai Dorong Warga Bondowoso Bangun Desa
Padat Karya Tunai Dorong Warga Bondowoso Bangun Desa
Bondowoso, NU Online
Deru mesin molen pengaduk batu, pasir, dan semen yang memekakkan telinga bercampur denting cangkul yang mengeruk pasir untuk kemudian dilemparkan ke mulut mesin penggiling itu. Berember-ember adukan diangkut dan ditumpahkan untuk membuat jalan rabat. Tak kurang 30 pekerja terlibat dalam pembangunan jalan rabat itu. Tua, muda, petani, buruh, sampai pencari belut turut serta membangun desanya dengan program padat karya tunai (PKT).

Program PKT yang kian digalakkan ini memantik warga untuk terjun langsung berpartisipasi dalam pembangunan desa.
Seperti yang dilakukan di Desa Ramban Kulon, Kecamatan Cermee, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, program yang langsung memberi hasil bagi pekerjanya ini tengah dijalankan untuk membuat jalan rabat.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo pun meninjau langsung program PKT di Desa Ramban Kulon itu. "Saya meninjau apakah dana desa terserap tahap 1 dan 2 , ternyata sudah terserap. Selain itu, mengecek apakah PKT berjalan. Memang yang mengerjakan masyarakat asli desa dan sesuai UMP setempat," kata Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo, Senin (16/7).

Dia berharap dengan program PKT ini masyarakat mendapat income langsung dan terjadi perputaran ekonomi di desa-desa. "Saya juga mengapresiasi jumlah kemiskinan yang turun di Bondowoso dari 22 persen menjadi 14 persen," ujarnya selepas meninjau pelaksanaan PKT di Bondowoso.

Mayoritas penduduk di Desa Ramban Kulon bermatapencaharian sebagai petani. Pembangunan akses menuju lahan pertanian menjadi hal yang urgent. Dari hasil musyawarah desa dan kebaikan hati seorang warga, Ahmad Yasin, yang mewakafkan sebagian tanah sawahnya untuk jalan tani, dimulailah pembangunan jalan rabat dengan volume 241x2x0,15 meter.

Dari total anggaran dana desa di Desa Ramban sebesar 957.245.000 dialokasikan untuk pembangunan jalan rabat sebesar Rp94.639.795 dan HOK Rp26.830.000. Pekerja mendapat upah per hari untuk tukang Rp70.000, untuk buruh Rp55.000, dengan lama waktu pelaksanaan 14 hari.

Pemanfaatan jalan tani ini bakal menjangkau hingga 129 KK, dilakukan dengan swakelola dan melibatkan masyarakat warga sekitar yang masuk kategori miskin dan buruh.

Latif, Sekretaris Desa Ramban Kulon mengatakan bahwa pelaksanaan jalan rabat ini dinilai penting. "Akses ini penting untuk pertanian, sebagai akses jalan hasil pertanian dan mempermudah akses para petani. Tadinya jalan berbatu, becek, dan hanya bisa dilewati dengan jalan kaki. Akses perekonomian semakin baik. Dengan adanya PKT mereka bisa bekerja," ungkapnya.

Sementara itu, Pendamping Desa Andiono menyampaikan bahwa tugas pendamping desa adalah untuk mendorong dan menstimulus,  adapun yang bergerak adalah masyarakatnya sendiri. "Kita mendorong transparansi, salah satunya dengan mempublikasikan APBDes di kantor desa juga di jalan-jalan startegis, dan mendorong partisipasi dengan keterlibatan masyarakat di musyawarah desa (musdes)," terangnya.

Program PKT ini, Hasian, seorang warga, mengaku telah dapat menerima manfaatnya. Diakuinya secara ekonomi, PKT mampu membuka lahan pekerjaan bagi masyarakat yang belum memiliki pekerjaan. "Awalnya becek dan jauh tempat ini.
Thaun 2015 baru di buka setelah ada dana desa. Dengan dirabat enak sudah manfaatnya, petani yang sebelah bisa lewat semua," ucapnya optimistis. (Red: Kendi Setiawan)
Senin 16 Juli 2018 23:30 WIB
Kemenag: Spirit Qur'ani Harus Jadi Rujukan Utama
Kemenag: Spirit Qur'ani Harus Jadi Rujukan Utama
Kepala Lajnah Pentashih Al-Qur'an, Mukhlis Hanafi
Karawang, NU Online
Globalisasi terus berlangsung mengikis norma dan moral bangsa Indonesia. Kepala Lajnah Pentashih Al-Qur'an Kementerian Agama, Mukhlis Hanafi menyatakan bahwa umat Islam memiliki kewajiban yang besar untuk mengawal moral bangsa.

"Nilai-nilai Islami dan spirit qur'ani haruslah menjadi rujukan utama, baik di lingkungan keluarga, lingkungan sosial, maupun dalam tataran bangsa dan negara," katanya mewakili Menag Lukman Hakim Saifuddin sebelum menutup secara resmi Kongres Kelima Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional Antarpondok Pesantren Kedelapan dan MTQ Internasional Kedua di Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah 3, Cilamaya, Karawang, Jawa Barat, pada Ahad (15/7) malam.

Peran agama sebagai sumber daya moral dan spiritual, menurutnya, tidak hanya memantulkan gema dan pengaruh yang terbatas pada wilayah pribadi. Tetapi perannya juga harus memberi pengaruh pada wilayah publik.

"Saya harap (ulama) selalu mengamati permasalahan aktual yang terjadi di dalam kehidupan yang terjadi di dalam kehidupan umat dan bangsa kita dewasa ini  serta turut memikirkan solusinya," ujarnya.

Di samping itu, komitmen umat Islam, katanya, dalam menguatkan pilar-pilar kebangsaaan dan keumatan perlu terus dijaga. Keteguhan jati diri yang menjunjung tinggi ketuhanan yang Mahaesa, menurutnya, perlu disegarkan dan digelorakan.

Oleh karenanya, ia mengimbau mengimbau dan mengajak para alim ulama untuk bergandengan tangan. "Mari, kita bersanding. Mari, kita bergandengan tangan, untuk meningkatkan kualitas pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama di tengah masyarakat," katanya.

Begitupun JQHNU yang membawa misi dan tujuan yang sama dalam kehidupan masyarakat. Perannya tidak dapat diukur oleh jumlah MTQ atau hafiz dan qari yang dihasilkan. "Tapi harus dilihat dalam pandangan jangkauan yang lebih luas, yaitu seberapa berhasilkah kita mewarnai kehidupan sosial dengan nilai-nilai dan etika sosial yang bersumber dari Al-Qur'an yang mengajarkan moderasi beragama," katanya. (Syakir NF/Kendi Setiawan)
Senin 16 Juli 2018 22:30 WIB
Ini yang Harus Dilakukan Nahdliyin agar NU Tetap Diperhitungkan
Ini yang Harus Dilakukan Nahdliyin agar NU Tetap Diperhitungkan
foto: illustrasi (antarafoto)
Jombang, NU Online
Usia Nahdlatul Ulama (NU) yang merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia tidak lama lagi memasuki usia satu abad. Beragam tantangan dilalui NU dari masa ke masa.

Terlebih pada usia memasuki abad kedua NU nanti, menurut Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj akan lebih banyak lagi tantangan yang akan dihadapinya. Dari yang berkaitan dengan ideologi hingga pada perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Oleh karenanya, sebagai warga NU harus selalu siap menghadapi segala tantangan yang mengancam eksistensi NU dari berbagai sisi, baik secara kelembagaan maupun mengancam sejumlah ajarannya.

"NU sekarang sudah menjelang satu abad, dan pada abad kedua, kira-kira NU masih ada nggak ya? Jawabannya masih ada, tetapi apakah tetap diperhitungkan?," ungkapnya saat menyampaikan ceramah agamanya di Haflah Kubro Madrasah dan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Sabtu (14/7) malam di halaman Gedung Serba Guna Tambakberas.

Pada abad kedua NU, menurut pandangan Kiai Said semua warga NU tidak boleh kehilangan rasa bangganya dalam ber-NU. Bahkan harus lebih menunjukkan kebanggaannya telah turut berjuang melalui organisasi bentukan para ulama itu, kemudian nahdliyin juga harus menggalakkan ajaran-ajaran dan nilai-nilai ke-NUan yang digagas oleh para ulama serta pendiri NU.

"100 tahun kemudian yang harus kita lakukan selain dorongan untuk terus pengembangan ilmu pengetahuan kita juga harus bangga dengan NU, bangga menjadi orang NU, dan bangga menjalankan ajaran NU," ujarnya.

Jika warga NU sendiri sudah kehilangan rasa bangganya terhadap organisasi yang dipilihnya sendiri itu, maka sangat mungkin NU tidak lagi akan berumur panjang hingga berabad-abad. "Dimulai dari ketidakbanggaannya kita menjadi orang NU, NU akan mulai merosot bahkan hancur," ucapnya.

Namun sebaliknya, NU akan terus dapat dirasakan manfaatnya di tengah masyarakat saat warganya terus memupuk rasa bangganya dalam ber-NU.

"Kalau kita bangga dengan NU, dengan ulama-ulama NU, Mbah Hasyim, Mbah Wahab, Mbah Bisri Syansuri dan tokoh tokoh yang lain, maka Insyaallah NU sampai hari kiamat akan tetap ada dan diperhitungkan," jelasnya. (Syamsul Arifin/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG