::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

JQHNU Menyemai Penghafal Al-Qur’an yang Moderat dan Toleran

Rabu, 18 Juli 2018 10:00 Nasional

Bagikan

JQHNU Menyemai Penghafal Al-Qur’an yang Moderat dan Toleran
Jakarta, NU Online
Kitab suci Al-Qur’an itu diterima semua kalangan umat Islam, apa pun kelompok atau golongannya. Namun, ada kalangan dari umat Isla sendiri yang menggunakan Al-Qur’an untuk kepentingan-kepentingan kelompoknya; misalnya mengkaderisasi paham radikalisme dengan berkedok pesantren tahfiz (penghafal Al-Qur’an).

“Siapa sih yang tak mau menerima Al-Qur’an. Jadi, menggunakan Al-Qur’an untuk merekrut anak-anak. Nah, bahwa mereka aslinya mengarahkan unsur-unsur radikalisme, itu masalah lain. Itu sih tugas polisi, keamanan,” kata Rais Majelis Ilmi Jam’iyyatul Qurra wal Huffaz Nahdlatul Ulama KH Ahsin Sakho Muhammad, selepas kongres kelima di Karawang, Ahad (15/7) lalu. 

Kalau begitu, lanjut pakar qiraah sab’ah ini, JQHNU harus merekrut pula anak-anak yang berpotensi, mengkader mereka agar menjadi penghfal Al-Qur’an toleran. 

“Tugas kita bagaimmana menyemai kepada anak-anak supaya bisa menjadi  anak-anak yang toleran, moderat,” lanjut kiai kelahiran Cirebon, cucu dari KH Sathori dari Pondok Pesantren Darut Tauhid Arjawinangun.  

Ia mengajak kepada orang tua dari kalangan Nahdliyin supaya berhati-hati dalam memilih tempat pendidikan anak-anak, termasuk dalam memilih pesanten Al-Qur’an. Kalau tidak mengetahuinya, lebih baik bertanya dulu kepada kiai atau pengurus NU. 

“Ya, hati-hati saja dan sekarang sudah banyak yang hati-hati ke pesantren tahfiz. Banyak orang tua yang menanyakan, itu pesantrennya bagaimana? Tanya sama saya. Oh, itu dari partai anu. Jadi memang semcam cara merekrut melalui masjid, sekolah-sekolah, kegiatan-kegiatan keagamaan yang lain. Mereka begitu,” jelasnya. (Abdullah Alawi)