IMG-LOGO
Nasional

Sowan ke Mbah Sholeh Darat

Rabu 18 Juli 2018 16:30 WIB
Bagikan:
Sowan ke Mbah Sholeh Darat
Foto Makam Mbah Soleh Darat Semarang
Semarang, NU Online
Suhu udara di Kota Semarang siang itu mencapai 32 derajat celsius. Namun kawasan pemakaman Mbah Sholeh Darat yang letaknya di dataran tinggi Kota Semarang tetap terasa dingin. Barangkali karena letak pemakaman yang tinggi dan dipadu dengan banyaknya pepohonan yang menjadi alasan.

Makam Mbah Sholeh Darat terletak di tempat pemakaman umum di Desa Randusari, Semarang Selatan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Secara spesifik ia terletak di dalam bangunan berukuran sekitar 20 meter persegi. Lantainya dilapisi karpet warna merah dengan belasan pasang batu nisan berwarna putih yang menyembul berjejer rapih sehingga tampak seperti barisan batu putih yang berbaris empat. Di dalam itulah terapat dua makam utama yakni pesarehan Mbah Sholeh Darat dan pesarehan istri ketiganya, Raden Ayu Siti Aminah. 

“Jumlah makam yang ada di dalam sini sekitar 18 makam. Semuanya adalah keturunan Mbah Sholeh Darat. Ya, kalau dihitung sama makam Mbah Sholeh Darat dan istrinya berarti sekitar 20-an makam,” terang juru kunci makam Mbah Sholeh Darat, Rohmawati (45) kepada NU Online, di Semarang, Rabu (17/7).

Rohmawati sendiri merupakan juru kunci generasi keempat yang menjaga makam. Ia ‘bertugas’ menjaga makam selama empat tahun terakhir menggantikan ibunya yang sudah meninggal. Jumlah total anggota keluarga yang bertugas ‘menjaga’ makam berjumlah belasan orang.

Setiap tahunnya, di pemakaman ini selalu digelar acara haul untuk mengenang Mbah Sholeh Darat. Spanduk acara haul dan tahlil akbar ke-118 tampak masih terpasang di ujung ruangan. Spanduk berukuran kurang lebih enam meter bertuliskan “Ziarah dan Tahlil Akbar Haul KH Sholeh Darat ke-118” masih terpampang di sana. Di dalamnya terdapat tiga logo penyelenggara kegiatan yang tak asing di mata, yakni logo Nahdlatul Ulama.

Pengurus Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Kota Semarang, Nanang Qosim mengatakan bahwa NU Cabang Semarang memberi perhatian pada makam dan kekayaan ilmu Mbah Sholeh Darat, salah satunya dengan menggelar haul setiap tahunnya. “Juni lalu kita menggelar acara itu di sini untuk memperingati haul Mbah Sholeh Darat. Kita juga membentuk komunitas pecinta Mbah Sholeh Darat, kepanjangan dari KOPISODA. Tujuannya untuk melestarikan pemikiran belia dengan terus mengkaji kitab-kitabnya,” ujar Nanang. 

Dengan kegiatan semacam itu, Nanang berharap kajian keilmuan Mbah Sholeh Darat terus dipertahankan dan dilestarikan. Di antara hal yang menarik bagi dia adalah kemampuan Mbah Sholeh darat dalam ‘menerjemahkan’ bahasa Al-Qur’an ke dalam bahasa yang dipahami orang Jawa pada zaman dahulu. 

Barangkali ketertariakan Nanang ini jugalah yang dirasakan Kartini puluhan tahun lalu. Dalam tulisan Muhammad Makhdum di NU Online, ia menulis kegelisahan Kartini akan susahnya mempelajari Islam di zamannya. Sampai akhirnya Kartini berjumpa dengan Mbah Sholeh Darat yang mengajarkan Islam dengan bahasa kesehariannya. 

Lepas itu, Kartini menaruh simpati pada Kiai Sholeh Darat setelah mengikuti pengajian Tafsir al-Fatihah dalam bahasa Jawa yang ditulis dengan aksara Arab atau pegon. “Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami,” tulis Kartini tahun 1899 usai belajar pada Mbah Sholeh Darat.

Sebenarnya sudah banyak karya yang menggali kekayaan ilmu Mbah Sholeh Darat. Di antaranya adalah tulisan Nur Ahmad yang dipublikasi di NU Online, yang menunjukkan kemampuan luar biasa Mbah Sholeh Darat dalam menjembatani antara dua kubu yang saat itu berjauhan; yakni syariat dan tarekat. Kemampuan itu membuat Martin van Bruinessen menyamakan Kiai Soleh Darat Semarang dengan Imam Ghazali dengan menjulukinya Ghazali Kecil atau Al-Ghazālī As-Ṣhagīr.

Dalam lintasan sejarah Islam di tanah air, nama Mbah Sholeh Darat merupakan nama besar. Dari tangan dinginnyalah pendiri Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dilahirkan. Selain Kiai Muhammad Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan, sejumlah nama besar seperti KH Mahfuz Ibn Abdillah al-Manan, KH Abdul Hamid Kendal, KH Munawwir Krapyak Yogyakarta, Kiai Penghulu Tafsir Anom Penghulu Keraton Surakarta yang merupakan ayah KHR Muhammad Adnan, juga berguru ke beliau. 

Nama Sholeh Darat sendiri merupakan nama laqob dari nama lengkapnya Muhammad Salih Ibnu Umar. Muhammad Sholih lahir Desa Kedung Jumbleng, Mayong, Jepara, Jawa Tengah sekitar tahun 1820 dan wafat pada hari Jumat legi tanggal 18 Desember 1903 M/ 28 Ramadhan 1321 H di Semarang. Lalu di kalangan para kiai Jawa sebutan “Kiai Sholeh Darat” atau “Mbah Sholeh Darat” lebih dikenal karena beliau tinggal di kawasan bernama Darat, yaitu sebuah daerah di dekat pantai utara Semarang, yang merupakan tempat berlabuh bagi pendatang dari daerah lain yang datang dengan kapal laut. (Ahmad Rozali)

Bagikan:
Rabu 18 Juli 2018 23:50 WIB
Lepas Kontingen ASG X Malaysia 2018, Menpora Harap Atlet Indonesia Raih Juara Umum
Lepas Kontingen ASG X Malaysia 2018, Menpora Harap Atlet Indonesia Raih Juara Umum
Menpora Imam Nahrawi
Jakarta, NU Online
Sebanyak 231 orang atlet dan ofisial kontingen pelajar yang akan bertanding di Asean Schools Games ke-10 Malaysia 2018 secara resmi di lepas Menpora Imam Nahrawi didampingi Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Mulyana, Selasa (17/7) sore di Auditorium Wisma Menpora, Senayan, Jakarta.
 
Menpora menilai semakin banyak atlet usia dini diproyeksikan di banyak turnamen, singleeven dan multieven maka akan semakin kuat dan semakin cekatan, semakin berpengalaman dan terobsesi menjadi yang terbaik dan juara. "Pengenalan dalam konteks fondasi sangat penting karena karakter dibentuk diusia dini karena tidak ada prestasi tanpa partisipasi," ujar Menpora.
 
Ia melanjutkan saat ini posisi atlet sangat terhormat dan mulia karena mewakili 260 juta penduduk Indonesia untuk mengibarkan Merah-Putih dan mengumandangkan lagu Kebangsaan Indonesia Raya. "Kami sangat bangga dan senang kita akan menjadi bukti sejarah bangsa bahwa di level pelajar atlet Indonesia bisa menjadi yang terbaik," ucap Menpora.
 
"ASG merupakan fondasi penting karena menjadi pengenalan bagaimana mereka bertanding usai berlatih usai pendidikannya dengan atlet dari negara lain, tahun lalu kita jadi runner up tahun ini di ASG Malaysia kita harap bisa memperbaiki peringkat bahkan bisa juara umum dengan target 26 medali emas dan bersaing dengan Thailand," urainya.
 
ASG X Malaysia 2018 akan digelar pada tanggal 19 hingga 27 Juli 2018 di Shah Alam, Selangor dan Kuala Lumpur, diikuti 10 negara anggota yang tergabung dalam Asean Schools Sports Council (ASSC), kontingen Indonesia akan mengikuti delapan cabang olagraga yakni atletik, badminton, bola basket, senam, sepak takraw, renang, squash dan bola voli.
 
Turut hadir Asdep Pembibitan dan Iptek Olahraga Washinton, Sesdep Peningkatan Prestasi Olahraga Marheni Dyah Kusumawati, Staf Ahli Bidang Ekonomi Kreatif Jonni Mardizal, Asdep Pengelolaan Pembinaan Sentra dan Sekolah Khusus Olahraga Bambang Laksono, Asdep Pengembangan Olahraga Tradisional dan Layanan Khusus Bayu Rahadian, CdM Bambang Siswanto. (Red-Zunus)  
Rabu 18 Juli 2018 23:0 WIB
Menpora Dampingi Zohri, Jokowi: Jaga Prestasi Hingga Asian Games
Menpora Dampingi Zohri, Jokowi: Jaga Prestasi Hingga Asian Games
Bogor, NU Online
Pelari tercepat dunia U-20 Lalu Muhammad Zohri  Rabu (18/7) siang, diterima Presiden Joko Widodo bersama Menpora Imam Nahrawi di Istana Bagor, Jawa Barat. Kadatangan Zohri disambut langsung oleh Presiden di ruang Teratai Istana Bogor. 

Presiden pun mengajak Zohri berkeliling Istana dengan mengunakan mobil buggy yang dikemudikan langsung oleh Presiden. Begitu turun dari mobil buggy, Presiden mengajak Zohri berjalan untuk melihat halaman belakang Istana Bogor sambil berbincang santai. Jokowi tampak mengenakan jaket Asian Games, sedangkan Zohri mengenakan jaket putih dan mengalungkan medali emas.
 
Prestasi fenomenal yang diraih oleh Zohri memang menjadi perhatian banyak pihak termasuk Presiden Jokowi. Presiden menyatakan kagum terhadap Zohri yang berhasil menjadi jawara pada nomor paling bergengsi, lari 100 meter Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Finlandia. "Kita semua bangga atas prestasi yang telah di raih oleh Zohri di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Finlandia," katanya. 

"Ada yang menganjal dihati saya, saat Zohri ditanya oleh wartawan. Apa jawaban Zohri, Ia menjawab mau banget ketemu orang besar. Ini yang keliru dan ini yang menganjal hati saya. Orang besarnya itu bukan di sini ( Presiden) tapi Zohri. Dia yang orang besar karena dengan segala keterbatasanya dan segala kekurangan fasilitasnya tapi dia punya ambisi yang besar untuk  menjadi juara dan ia berhasil menjadi juara dunia atletik U-20. Sekali lagi, ini sebuah prestasi yang membanggakan," tambahnya. 

Presiden pun menitip pesan pada Zohri agar prestasi Ini jangan berhenti tapi harus ditingkatkan dengan kegigihan latihan sehingga kita harapkan nanti ini di ajang Asian Games 2018 maupun pada even-even lainnya bisa meraih prestasi. "Ini menjadi modal besar untuk berlaga di ajang Asian Games. Semoga di Asian Games nanti Zohri dan atlet lainnya bisa meraih prestasi. Dan pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih atas prestasi yang telah diberikan kepada bangsa dan negara ini," tutupnya. 

Zohri mengaku senang dan bangga bisa diajak keliling Istana Bogor. "Tadi saya di ajak keliling Istana oleh Pak Presiden, ini sangat luar biasa," ucapnya. Ia pun mengaku diminta oleh Jokowi untuk menjaga prestasi yang telah diraih dan tetap rendah hati," tuturnya. 

"Tadi Pak Presiden titip pesan, untuk tetap latihan terus dengan semangat yang tinggi dan ambisi besar agar apa sudah di capai ini bisa dipertahankan. Dan  tadi saat di tanya Presiden, tentang Asian Games, saya mengatakan akan bekerja keras walaupun atlet yang  tampil adalah atlet senior di  Asian Games, " jelas Zohri. (Red-Zunus) 
Rabu 18 Juli 2018 22:46 WIB
Mahasiswa Baru PTKIN Bakal Dibekali Wawasan Islam Moderat
Mahasiswa Baru PTKIN Bakal Dibekali Wawasan Islam Moderat
Ilustrasi (ist)
Bukittinggi, NU Online
Menyikapi akan maraknya ujaran kebencian dan gerakan keagamaan yang cenderung kurang menampilkan wajah Islam yang moderat dan damai, Kementerian Agama RI akan membekali mahasiswa baru Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indoonesia wawasan Islam yang moderat (wasathiyah).

Rencana itu diutarakan oleh Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Arskal Salim GP saat memberikan materi pada acara Koordinasi Wakil Rektor/Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan PTKIN se-Indonesia di Bukittinggi, Sumatera Barat, Selasa (17/7).

Kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) yang merupakan ritus penyambutan mahasiswa baru dikalangan PTKIN, sangat efektif untuk mengenalkan sejak dini pemahaman Islam yang santun, damai dan toleran. “PTKIN menjadi benteng efektif ntuk melakukan counter ideologi dan conuter wacana Islam radikal,” kata Arskal.
 
Rencananya 543.000 mahasiswa baru tahun akademik 2018/2019 yang berasal dari 58 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri se-Indonesia, akan mendapatkan pencerahan tentang Pengarusutamaan Moderasi Islam dalam ajang PBAK yang akan dilaksanakan bukan Juli dan Agustus. 

“Selain mengenalkan akan tradisi akademik dan kebebasan mimbar akademik, materi-materi PBAK akan dijadikan momentum memantapkan sikap toleransi dan maintriming moderasi Islam,” tandas Arskal.

Arskal menandaskan PTKIN akan mempelopori PBAK yang mainstreamnya adalah moderasi Islam untuk meredam paham-paham dan gerakan radikalisasi di kampus. 

Karenanya Arskal Salim berharap civitas akademika terutama Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan PTKIN se-Indonesia untuk mendampingi pimpinan organisasi kemahasiswaan yang nantinya akan menjadi instruktur dalam PBAK.

Ridha Ahida Rektor IAIN Bukittinggi selaku tuan rumah mengajak kepada para Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan untuk menjadikan fenomena gerakan radikalisme menjadi konsen bersama. “Kita harus mempunyai perspektif dan kepedulian yang sama agar PTKIN menjadi pelopor Islam yang wasathiyah,” ucapnya.

Menanggapi sekelompok mahasiswa yang menghendaki pemakaian cadar di kampus, Ridha Ahida mengatakan, pihaknya tidak pernah mempersoalkan cadar. Yang ditegakan adalah kode etik civitas akademika IAIN Bukittinggi yaitu bahwa mahasiswa harus menampakan wajah ketika mendapatkan layanan akademik di kampus.

“Kode etik kami mengatur tata cara mendapatkan pelayanan akademik termasuk dalam Proses Belajar Mengajar harus menampakan wajah,” kata Ahida.

Sementara itu Syafriansah Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan mengatakan pihaknya akan mengawal dengan serius PBAK agar dijadikan pintu gerbang terbaik bagi mahasiswa baru mengenal kampusnya. “Para Mahasiswa Baru PTKIN harus memerankan dirinya sebagai agen-agen Islam yang moderat ditengah-tengah radikalisme yang semakin kuat," ujarnya. (Basori/Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG