::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Sowan ke Mbah Sholeh Darat

Rabu, 18 Juli 2018 16:30 Nasional

Bagikan

Sowan ke Mbah Sholeh Darat
Foto Makam Mbah Soleh Darat Semarang
Semarang, NU Online
Suhu udara di Kota Semarang siang itu mencapai 32 derajat celsius. Namun kawasan pemakaman Mbah Sholeh Darat yang letaknya di dataran tinggi Kota Semarang tetap terasa dingin. Barangkali karena letak pemakaman yang tinggi dan dipadu dengan banyaknya pepohonan yang menjadi alasan.

Makam Mbah Sholeh Darat terletak di tempat pemakaman umum di Desa Randusari, Semarang Selatan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Secara spesifik ia terletak di dalam bangunan berukuran sekitar 20 meter persegi. Lantainya dilapisi karpet warna merah dengan belasan pasang batu nisan berwarna putih yang menyembul berjejer rapih sehingga tampak seperti barisan batu putih yang berbaris empat. Di dalam itulah terapat dua makam utama yakni pesarehan Mbah Sholeh Darat dan pesarehan istri ketiganya, Raden Ayu Siti Aminah. 

“Jumlah makam yang ada di dalam sini sekitar 18 makam. Semuanya adalah keturunan Mbah Sholeh Darat. Ya, kalau dihitung sama makam Mbah Sholeh Darat dan istrinya berarti sekitar 20-an makam,” terang juru kunci makam Mbah Sholeh Darat, Rohmawati (45) kepada NU Online, di Semarang, Rabu (17/7).

Rohmawati sendiri merupakan juru kunci generasi keempat yang menjaga makam. Ia ‘bertugas’ menjaga makam selama empat tahun terakhir menggantikan ibunya yang sudah meninggal. Jumlah total anggota keluarga yang bertugas ‘menjaga’ makam berjumlah belasan orang.

Setiap tahunnya, di pemakaman ini selalu digelar acara haul untuk mengenang Mbah Sholeh Darat. Spanduk acara haul dan tahlil akbar ke-118 tampak masih terpasang di ujung ruangan. Spanduk berukuran kurang lebih enam meter bertuliskan “Ziarah dan Tahlil Akbar Haul KH Sholeh Darat ke-118” masih terpampang di sana. Di dalamnya terdapat tiga logo penyelenggara kegiatan yang tak asing di mata, yakni logo Nahdlatul Ulama.

Pengurus Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Kota Semarang, Nanang Qosim mengatakan bahwa NU Cabang Semarang memberi perhatian pada makam dan kekayaan ilmu Mbah Sholeh Darat, salah satunya dengan menggelar haul setiap tahunnya. “Juni lalu kita menggelar acara itu di sini untuk memperingati haul Mbah Sholeh Darat. Kita juga membentuk komunitas pecinta Mbah Sholeh Darat, kepanjangan dari KOPISODA. Tujuannya untuk melestarikan pemikiran belia dengan terus mengkaji kitab-kitabnya,” ujar Nanang. 

Dengan kegiatan semacam itu, Nanang berharap kajian keilmuan Mbah Sholeh Darat terus dipertahankan dan dilestarikan. Di antara hal yang menarik bagi dia adalah kemampuan Mbah Sholeh darat dalam ‘menerjemahkan’ bahasa Al-Qur’an ke dalam bahasa yang dipahami orang Jawa pada zaman dahulu. 

Barangkali ketertariakan Nanang ini jugalah yang dirasakan Kartini puluhan tahun lalu. Dalam tulisan Muhammad Makhdum di NU Online, ia menulis kegelisahan Kartini akan susahnya mempelajari Islam di zamannya. Sampai akhirnya Kartini berjumpa dengan Mbah Sholeh Darat yang mengajarkan Islam dengan bahasa kesehariannya. 

Lepas itu, Kartini menaruh simpati pada Kiai Sholeh Darat setelah mengikuti pengajian Tafsir al-Fatihah dalam bahasa Jawa yang ditulis dengan aksara Arab atau pegon. “Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami,” tulis Kartini tahun 1899 usai belajar pada Mbah Sholeh Darat.

Sebenarnya sudah banyak karya yang menggali kekayaan ilmu Mbah Sholeh Darat. Di antaranya adalah tulisan Nur Ahmad yang dipublikasi di NU Online, yang menunjukkan kemampuan luar biasa Mbah Sholeh Darat dalam menjembatani antara dua kubu yang saat itu berjauhan; yakni syariat dan tarekat. Kemampuan itu membuat Martin van Bruinessen menyamakan Kiai Soleh Darat Semarang dengan Imam Ghazali dengan menjulukinya Ghazali Kecil atau Al-Ghazālī As-Ṣhagīr.

Dalam lintasan sejarah Islam di tanah air, nama Mbah Sholeh Darat merupakan nama besar. Dari tangan dinginnyalah pendiri Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dilahirkan. Selain Kiai Muhammad Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan, sejumlah nama besar seperti KH Mahfuz Ibn Abdillah al-Manan, KH Abdul Hamid Kendal, KH Munawwir Krapyak Yogyakarta, Kiai Penghulu Tafsir Anom Penghulu Keraton Surakarta yang merupakan ayah KHR Muhammad Adnan, juga berguru ke beliau. 

Nama Sholeh Darat sendiri merupakan nama laqob dari nama lengkapnya Muhammad Salih Ibnu Umar. Muhammad Sholih lahir Desa Kedung Jumbleng, Mayong, Jepara, Jawa Tengah sekitar tahun 1820 dan wafat pada hari Jumat legi tanggal 18 Desember 1903 M/ 28 Ramadhan 1321 H di Semarang. Lalu di kalangan para kiai Jawa sebutan “Kiai Sholeh Darat” atau “Mbah Sholeh Darat” lebih dikenal karena beliau tinggal di kawasan bernama Darat, yaitu sebuah daerah di dekat pantai utara Semarang, yang merupakan tempat berlabuh bagi pendatang dari daerah lain yang datang dengan kapal laut. (Ahmad Rozali)