IMG-LOGO
Trending Now:
Nasional

Kiai Ma’ruf Khozin: Kriteria Istri Salihah Bukan karena Langsing 55 Kg

Kamis 19 Juli 2018 20:45 WIB
Bagikan:
Kiai Ma’ruf Khozin: Kriteria Istri Salihah Bukan karena Langsing 55 Kg
Surabaya, NU Online
Sedang ramai di media sosial bahwa di antara kriteria istri salihah adalah perempuan yang memiliki berat badan 55 kilogram ataupun langsing. Penjelasan tersebut langsung dibantah oleh KH Ma'ruf Khozin. 

"Kriteria istri salihah bukan dilihat dari penampilan fisik, termasuk berat badan," katanya, Kamis (19/7).

Dalam pandangan tim narasumber Pimpinan Wilayah Aswaja NU Center Jawa Timur ini, ada sejumlah kriteria yang dapat disematkan kepada istri salihah. 

"Sebaik baiknya istri adalah perempuan yang membahagiakan saat engkau melihatnya," kata alumnus Pondok Pesantren Ploso Kediri tersebut.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Thabrani dari Abdullah bin Salam juga disebutkan syarat lanjutan. 

"Yakni yang mematuhi saat sang suami memerintahnya, serta menjaga diri dan harta suami saat tidak di dekatnya," ungkapnya. "Bahkan bisa jadi istri yang memiliki berat badan lebih dari 55 kilogram itu pertanda bahwa sang suami berhasil membahagiakannya," urai Kiai Ma'ruf Khozin.

Lebih lanjut, aktivis Pimpinan Wilayah (PW) Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Jatim ini menyampaikan hadits lain tentang kriteria perempuan atau istri salihah. 

"Di hadits yang lain disebutkan bahwa sebaik-baik istri adalah yang dapat memiliki banyak anak dan penyayang kepada keluarga," katanya yang mengemukakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan Al-Baihaqi.

Dalam pandangannya, kalau Nabi Muhammad menganjurkan menikah dengan perempuan yang reproduksi bagus, otomatis akan memiliki berat badan lebih. 

"Dan Nabi tidak menjadikan langsing sebagai pertanda kesalihan seorang istri," ungkapnya.

Terkait dengan kondisi fisik istri Nabi Muhammad, Siti Aisyah, Kiai Ma'ruf memberikan argumen. 

"Beliau tidak punya putra dengan Rasulullah. Dan saat menikah, sampai Nabi Muhammad SAW wafat pun Sayyidah Aisyah masih muda," pungkasnya.
 
Seperti sedang menjadi perbincangan ada salah seorang ustadz yang menerangkan bahwa istri salihah adalah perempuan yang memiliki berat badan tidak lebih dari 55 kilogram. Sang ustadz yang mengakui sebagai lulusan salah satu kampus terkenal di Mesir tersebut mengemukan pandangannya dalam sebuah tayangan video yang mendapat tanggapan beragam dari warganet. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Tags:
Bagikan:
Kamis 19 Juli 2018 22:30 WIB
Cerita Kiai Said tentang Maulid yang Kerap Dianggap Bid'ah
Cerita Kiai Said tentang Maulid yang Kerap Dianggap Bid'ah
Kiai Said di Tambakberas, Jombang
Jombang, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengungkapkan, hingga kini dirinya masih kerap kali dinilai ahli bid'ah, lantaran sering menyinggung terkait Maulid Nabi Muhammad SAW.

Seseorang atau kelompok yang menganggap Maulid Nabi Muhammad adalah bid'ah, menurutnya mereka tidak paham sejarah, atau bahkan tidak pernah membaca sejarah.

Kiai Said bercerita, pada zaman Rasulullah SAW ada suatu keadaan di mana ratusan sahabat berlomba-lomba memuji Rasulullah dengan membuat syair-syair yang begitu indah. Hal itu berlangsung tanpa perintah Rasulullah sebelumnya.

"Rasulullah tidak pernah memerintahkan sahabatnya supaya dipuji dengan syair-syairnya," ungkapnya saat menghadiri puncak peringatan Haflah Kubro Madrasah dan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur pekan ini.

Syair-syair tersebut lambat laun kemudian diketahui Nabi Muhammad. "Tapi apakah Rasulullah melarangnya saat itu?," jelas Kiai Said sembari bertanya.

Dalam sejarahnya, imbuh Kiai Said, Rasulullah tidak melarang saat mengetahui terkait sejumlah syair yang dibuat para sahabatnya untuk memuji dirinya itu.

"Tapi saat sahabat memuji dirinya, Nabi Muhammad tidak melarang, bahkan membenarkan. Perintah tidak, melarang tidak, tapi membenarkan," tuturnya.

Menurut Kiai Said sejarah yang demikian itu sudah sangat cukup menjadi dalil bantahan terkait seseorang yang menganggap Maulid Nabi adalah bid'ah.

Dari sejarah tersebut, paparnya, dapat dikatakan bahwa Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan bagian dari sunnah taqririyah. (Syamsul Arifin/Muiz)
Kamis 19 Juli 2018 21:0 WIB
Katib PBNU: Pergunu Wajib Tangkal Radikalisme
Katib PBNU: Pergunu Wajib Tangkal Radikalisme
Bandung, NU Online
Calon Pimpinan Wilayah (PW) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Barat mendapatkan pembekalan dari Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Mujib Qulyubi. Kegiatan dikemas  dengan tema Penguatan Nilai-nilai Paham Ahlus Sunah wal Jamaah  An-Nahdliyah dan Penegasan Komitmen Berorganisasi Calon Pengurus PW Pergunu Jawa Barat.

Kegiatan yang dilangsaungkan di gedung PWNU Jabar tersebut diikuti puluhan calon pengurus. Turut hadir Sekretaris PWNU Jawa Barat H Asep Abdillah dan Ketua PW Pergunu Jabar, H Saepuloh.

H Saepuloh sangat kagum dengan antusiasnya peserta mengikuti pembekalan. Hal tersebut dibuktikan dengan penuh semangatnya mereka mengikuti kegiatan hingga dini hari.

"Saya sangat berterima kasih kepada KH Mujib yang berkenan untuk memberikan pembekalan kepada calon pengurus. Semangat peserta sangat luar biasa," tutur Saepuloh.

Lebih lanjut Saepuloh menjelaskan bahwa pembekalan diharapkan dapat menguatkan pemahaman ideologi Aswaja bagi calon PW Pergunu Jabar. “Sehingga betul-betul memahami apa itu Aswaja Annahdliyah serta dapat membangun komitmen positif dalam upaya membangun Pergunu Jabar,” ungkapnya.

Sementara itu, Kiai Mujib menjelaskan bahwa pentingnya Pergunu dalam upaya menangkal radikalisme di kalangan pelajar dan mahasiswa. 

"Dari beberapa hasil penelitian, seperti diskusi dengan LIPI menyatakan bahwa anak muda makin mengalami radikalisme secara ideologis dan makin tidak toleran,” katanya. Hal tersebut lantaran perguruan tinggi banyak dikuasai kelompok garis keras, lanjutnya.

Kiai Mujib juga berharap guru-guru yang tergabung dalam Pergunu harus bisa mensosialisasikan Islam toleran dan paham kebangsaan kepada peserta didik.

"Kita harus berperan dalam upaya mencegah peserta didik dan mencegah mereka dari keterlibatan aksi kekerasan dan intoleran," pungkasnya. (Ais Saepullah/Ibnu Nawawi)

Kamis 19 Juli 2018 20:50 WIB
Royalti Buku Sekjen PBNU Disalurkan ke LAZISNU
Royalti Buku Sekjen PBNU Disalurkan ke LAZISNU
Jakarta, NU Online
Sekretaris Jenderal PBNU A Helmy Faishal Zaini meluncur buku termutakhir Nasionalisme Kaum Sarungan, yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Peluncuran dibarengkan dengan diskusi buku di lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (19/7).

Dalam sambutannya Sekjen PBNU HA Helmy Faishal Zaini, menyampaikan buku Nasionalisme Kaum Sarungan merupakan kumpulan tulisannya yang dimuat di Harian Kompas. Ia pun mengatakan seluruh royalti dari penjualan buku tersebut disumbangkan melalui NU Care-LAZISNU.

“Terima kasih kepada Penerbit Buku Kompas. Dan, seluruh royalti dari penjualan buku ini akan disalurkan ke NU Care-LAZISNU. Jadi, yang membeli buku ini juga beramal di LAZISNU,” ujar Helmy.

Ia menegaskan langkah menyumbangkan royalti buku melalui NU Care-LAZISNU sebagai khidmat untuk Nahdlatul Ulama.

Lebih lanjut, dirinya menjelaskan, buku yang diberi kata pengantar oleh Guru Besar Australia National University, Greg Fealy, itu mengupas banyak hal tentang NU dan kebangsaan. Istilah 'kaum sarungan' sendiri menegaskan bahwa di Indonesia ada sekelompok masyarakat yang tetap teguh berpancasila, di tengah rongrongan paham transnasional dan cenderung radikal yang mengusik kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Bahwa NU sejak dulu, pada Mukatamar tahun 1936 di Banjarmasin sudah merumuskan konsep bernegara, yang memunculkan dua pertanyaan penting yaitu bagaimana hukum melawan penjajah dan bagaimana konsep bernegara itu sendiri, yang antara lain diperkenalkan konsep Darul Islam, Darul Harb, dan Darussalam atau Nation State,” jelas Helmy.

Helmy juga mengatakan, bahwa pendiri NU Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari sudah menegaskan lewat adagiumnya yang masyhur, Hubbul Wathon minal Iman. “Membela Tanah Air adalah bagian dari iman. Atau dalam bahasanya Kiai Said, nasionalisme adalah perintah agama,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengucapkan selamat kepada Helmy Faishal atas peluncuran buku tersebut. “Selamat. Hari ini adalah hari bahagia untuk Mas Helmy,” kata kiai asal Cirebon itu.

Dalam sambutannya, Kiai Said menyebut bahwa sarungan adalah simbol orang cerdas dan orang berakhlak. Kaum sarungan adalah orang-orang yang tawasuth (moderat).

Tawasuth merupakan prinsip yang dinamis. Sikap tawasuth membutuhkan kecerdasan. Imam Syafi'i, Imam Ghazali, Hasan Bashri, Hasratussyekh Hasyim Asy’ari, mereka tawasuth,” urai Pengasuh Pesantren Al-Tsaqofah Ciganjur, Jakarta Selatan itu.

Kedua, lanjut Kiai Said, tasamuh, sikap yang dimiliki kaum sarungan. “Toleran. Bukan hanya toleran, tapi berbuat baik membantu sesama manusia. Yang tidak boleh itu membantu orang kafir yang menyerang muslim. Kesimpulannya, orang sarungan itu orang yang cerdas dan berakhlak mulia karena tawasuth dan tasamuh,” pungkas kiai alumnus Univesitas Ummul Qura tersebut.

Usai sambutan Ketum PBNU, acara dilanjutkan dengan pembacaan salah satu esai yang termaktub dalam buku Nasionalisme Kaum Sarungan. Diskusi buku dimoderatori oleh Wakil Sekjen PBNU Masduki Baidlowi, dengan pemateri Greg Fealy dan Redaktur Pelaksana Harian Kompas Muhammad Bakir.

Pada kesempatan itu, juga dihadiahkan 50 buku Nasionalisme Kaum Sarungan secara gratis kepada para peserta. Turut hadir di antaranya Waketum PBNU dan Rektor Unusia Jakarta, Maksum Mahfoedz, Ketua PBNU Robikin Emhas, serta ketua-ketua lembaga di bawah PBNU. (Wahyu Noerhadi/Kendi Setiawan)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG