IMG-LOGO
Internasional

74 Mahasiswa Indonesia Lulus dari Universitas Al-Ahgaff Yaman

Sabtu 21 Juli 2018 9:30 WIB
Bagikan:
74 Mahasiswa Indonesia Lulus dari Universitas Al-Ahgaff Yaman
Tarim, NU Online
Universitas Al-Ahgaff Tarim, Hadramaut, Yaman, salah satu anggota dari persatuan universitas liga-liga Arab yang berafiliasikan Ahlusunnah wal Jamaah, Senin (16/7) telah menggelar acara wisuda angkatan 19 untuk Fakultas Syariah dan Hukum. 

Total wisudawan tahun ini sebanyak 104 orang dari berbagai macam Negara. 74 orang di antaranya berasal dari Indonesia.

Mereka yang diwisuda merupakan orang-orang terpilih  hasil seleksi. Dari jumlah awal semester satu sekitar 200 orang, yang bertahan hingga diwisuda hanya 104 orang.

Mahasiswa yang diwisuda mengenakan jubah hijau serta peci bersorban ala al-Ahgaff. Bertempat di Auditorium Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Ahgaff, acara wisuda dimulai pukul 18.30 waktu setempat. 

Prosesi wisuda dilakukan dengan mempersilakan satu demi satu mahasiswa untuk naik ke atas panggung dan diwisuda oleh Rektor Universitas Al-Ahgaff dan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum.

Selanjutnya, Prof Al-Habib Abdullah Baharun dalam sambutannya berpesan kepada para wisudawan agar terus mengamalkan apa yang telah didapat di Al-Ahgaff serta tidak berfatwa sembarangan setelah kepulangan ke negara masing-masing.

Acara prosesi wisuda berlangsung dengan khidmat. Selain Rektor, turut berhadir juga mufti Tarim, Syekh Muhammad Ali Al-Khatib, dewan guru, petugas kampus serta tamu undangan. (Gamal Abd Nasir/Fathoni)
Bagikan:
Sabtu 21 Juli 2018 6:45 WIB
Peti Mati Misterius dari Zaman Fir'aun Ditemukan di Alexandria
Peti Mati Misterius dari Zaman Fir'aun Ditemukan di Alexandria
Peti misterius zaman Fir'aun (Foto: EPA)
Alexandria, NU Online
Dua pekan lalu Arkeolog di Mesir menemukan peti mati besar berbahan granit berwarna hitam di Iskandariyah atau yang dikenal Kota Alexandria, Mesir. Selama 2.000 tahun peti ini tak tersentuh.

Bisa dipahami jika penemuan peti mati kuno atau sarkofagus ini memicu rumor dalam beberapa hari terakhir. Ada yang mengira peti mati ini berisi jenazah Iskandar Agung, sementara yang lain mengatakan jangan-jangan peti ini berisi kutukan maut.

Setelah dibuka dan dilakukan penelitian, ternyata bukan keduanya. Isi peti mati ini adalah tiga kerangka dan air selokan berwarna merah kecokelatan.

Dilansir bbc.com, Jumat (20/7), Kementerian yang mengurusi benda-bendo kuno di Mesir secara khusus menunjuk tim yang ditugaskan untuk membuka peti mati yang ditemukan di satu daerah konstruksi tersebut.

Menurut media Mesir El-Watan, mereka awalnya membuka sedikit peti ini, sekitar lima sentimeter, tapi anggota tim menghadapi bau dari dalam peti yang sangat menyengat.

Begitu tajamnya, seluruh anggota tim angkat kaki dan menjauh dari peti. Upaya pembukaan peti mati yang kedua dibantu oleh tim dari militer Mesir.

"Yang kami dapatkan adalah tulang belulang tiga orang, ini seperti pemakaman keluarga. Sayangnya mumi yang ada di peti tidak dalam keadaan bagus, jadi yang tersisa adalah tulang belulang," ungkap Mostafa Waziri, sekretaris jenderal dewan yang membidangi benda-benda kuno.

Waziri menepis rumor bahwa peti mengandung kutukan Fir'aun yang mematikan, seperti yang ramai dibicarakan masyarakat.

"Kami sudah membuka petinya dan ternyata dunia tidak menjadi gelap gulita. Saya orang pertama yang melihat isi sarkofagus dan saya masih bisa berdiri di hadapan Anda dan saya baik-baik saja," kata Waziri saat menjawab pertanyaan media.

Meski demikian, untuk sementara peti ini dikarantina untuk mencegah kemungkinan peti ini mengeluarkan gas beracun yang mematikan kata koran Al-Ahram.

Para pakar mengatakan tulang-tulang di peti mati ini besar kemungkinan adalah tentara yang hidup di zaman Fir'aun. Salah satu tengkorak memperlihatkan bekas luka terkena panah.

Sarkofagus memiliki panjang tiga meter dengan tinggi hampir dua meter. Ini adalah sarkofagus terbesar yang ditemukan dalam keadaan utuh.

Beratnya sekitar 27 ton dan diduga berasal dari era 323 SM atau setelah kematian Iskandar Agung. Para Arkeolog sekarang melakukan kajian mendalam untuk menentukan secara pasti kapan pemilik kerangka ini hidup dan bagaimana mereka meninggal dunia. (Red: Fathoni)
Jumat 20 Juli 2018 22:15 WIB
Greg Fealy Harapkan NU Mampu Bersaing di Tengah Generasi Milenial
Greg Fealy Harapkan NU Mampu Bersaing di Tengah Generasi Milenial
Guru Besar Universitas Nasional Australia Greg Fealy (kanan)
Jakarta, NU Online
Guru Besar Universitas Nasional Australia (ANU) Greg Fealy menilai gerakan milenial Nahdlatul Ulama sudah cukup baik di media sosial.

"Saya kira ada banyak orang yang sangat sanggup dengan sosial media dan sebagainya," katanya usai menjadi narasumber pada diskusi buku Nasionalisme Kaum Sarungan, Kamis (20/7).

Ia mencontohkan dengan adanya komunitas-komunitas media sosial, misalnya Arus Informasi Santri (AIS) Nusantara, NU Online, dan Cyber Army Ansor. "Jadi ini prestasi yang sangat baik supaya ada informasi dari kedua belah pihak," ujarnya.

Meski demikian, ada hal lain yang menjadi catatan dari Greg, yakni belum menemukannya gaya baru dalam menarik kaum muda yang tidak menikmati gaya lama NU. Pasalnya, perubahan saat ini begitu cepat. "Gaya lama mungkin tidak begitu asik untuk generasi muda," ucapnya.

Di samping itu, pergeseran kaum menengah ke arah konservatif juga menjadi tantangan lain bagi NU. Sebab, mereka memilih cara instan dalam menemukan jawaban atas permasalahan agama yang mereka temui. "(Gaya lama) untuk kaum menengah yang semakin konservatif yang tidak ingin merefleksi lama tentang agama, ingin jawaban cepat," lanjutnya.

Oleh karena itu, Greg berharap agar NU dapat bersaing di tengah pusaran konservatisme dan gaya baru milenial. "Jadi saya berharap NU bisa bersaing dalam pasar ini tapi ya semakin sulit," pungkasnya.

Buku Nasionalisme Kaum Sarungan merupakan kumpulan artikel yang ditulisSekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Helmy Faisal Zaini di Gedung PBNU. Peluncuran dan diskusi berlangsung di Lantai 8 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta. Hadir juga pada kesempatan tersebut Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, Waketum PBN H Makusm Mahfoedz, Wakil Sekjen PBNU Masduki Baidlowi, Redaktur Pelaksana Harian Kompas Muhammad Bakir, Ketua PBNU H Robikin Emhas. (Syakir NF/Kendi Setiawan)

Jumat 20 Juli 2018 21:15 WIB
Ulama Maroko Yakini NU Model dan Teladan Ulama Dunia
Ulama Maroko Yakini NU Model dan Teladan Ulama Dunia
Jakarta, NU Online
Ulama asal Maroko Syeikh Ahmad Yakhluf menyebut Nahdlatul Ulama sebagai model bagi ulama-ulama dunia.

"NU model dan teladan bagi ulama dunia secara keseluruhan," katanya saat ditemui NU Online usai berbincang dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Gedung PBNU lantai 3, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, pada Jumat (20/7) sore.

Ia beralasan bahwa NU menyebarkan Islam yang toleran dan pemahamannya yang sangat dalam. Hal ini membuatnya gembira melihat Muslim di Indonesia yang terlihat toleran dan moderat.

"Saya gembira dengan toleransi, paham Islam yang dalam, dakwah dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik dari ulama Indonesia, dan pesantren yang menggambarkan tawasuth," kata Rektor Muassasah Al-Fath, Wujdah, Maroko itu.

Ia menyatakan tidak pernah melihat hal tersebut di Arab. "Saya tidak melihat orang Arab mengikuti orang Islam Indonesia," katanya.

Senada dengan Syeikh Ahmad, ulama asal Ukraina Syeikh Tamim juga menyatakan bahwa masyarakat Muslim Indonesia merupakan model baik untuk bangsa lain. Pasalnya, mereka, katanya, berpegang teguh pada pemahaman dan akidah yang baik.

"Dia menunjukkan identitas Islam dengan penuh akhlak yang mulia," katanya.

Mufti Ukraina itu berpandang bahwa NU merupakan organisasi yang membangkitkan umat Islam dengan perantara ulama. Ia kagum dengan keberadaannya yang tersebar di berbagai negara.

"Kami berharap agar NU tetap menjaga manhaj yang telah Hadratussyeikh Hasyim Asyari bangun pondasinya dalam menjaga identitas Muslim, menyebarkan akidah yang baik, dan melawan ahlul bidah," pungkasnya.

Keduanya mengunjungi PBNU dalam rangka menyambung silaturahim dan bertukar pikir mengenai kondisi kebangsaan dan keislaman terkini. (Syakir NF/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG