IMG-LOGO
Nasional

Ulama Miliki Akhlak Seperti Rasulullah

Kamis 26 Juli 2018 7:0 WIB
Bagikan:
Ulama Miliki Akhlak Seperti Rasulullah
KH Ahsin Sakho Muhammad
Bandung, NU Online
Rais Majelis Ilmi Pimpinan Pusat Jam'iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) KH Ahsin Sakho Muhammad berpendapat, salah satu ciri seorang ulama adalah orang yang suka tadabur.

"Kalau seandainya dibacakan ayat Al-Qur’an dia termenung, tadabur, menangis, itu hatinya itu yang peka. Langsung tersungkur," katanya beberapa waktu lalu, pada Kongres kelima JQHNU di Karawang, Jawa Barat. 

Sementara watak lainnya, kata kiai yang ahli qiraah sab'ah ini, seorang ulama  harus sesuai dengan ungkapan Al-Qur’an yang mendeskripsikan sifat Nabi Muhammad, laqad kaana lakum uswatun hasanah. (Pada diri Nabi Muhammad terdapat sifat-sifat suri teladan yang baik).

"Uswatun hasanah, ya artinya panutan yang baik dari segi takwanya, dari segi akhlaknya, dari segi tutur katanya. Akhlaknya semuanya itu. Kalau tidak bisa mengikuti Nabi seratus persen, ya 50 persen. Kalau tidak bisa 50 persen, ya 10 persen saja. Pokoknya sesuai dengan kemampuannya. Orang yang memahami betul tentang ajaran agama Islam dan dia mempraktikannya. Itu dia yang patut diikuti, akhlaknya bagus, pengetahuannya luas," jelasnya.  

Ketika ditanya, jika seorang ulama berkata buruk kepada orang lain dalam berdakwah, dengan alasan  dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar, doktor lulusan Madinah yang hafal Al-Qur'an ini mengaku tidak setuju.

"Enggak, enggak. Enggak boleh menjelek-jelekkan orang, berarti mulutnya jelek. Janganlah berkata-kata kasar. Nabi itu tidak berkata kasar," pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Bagikan:
Kamis 26 Juli 2018 22:40 WIB
Menpora Harap Peserta Paskibraka Jadi Tauladan Anak Muda
Menpora Harap Peserta Paskibraka Jadi Tauladan Anak Muda
Jakarta, NU Online
Menpora Imam Nahrawi bangga terhadap 68 peserta Diklat Paskibraka 2018 yang terpilih menjadi pelaksana upacara peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI di Istana Negara pada 17 Agustus nanti. Menpora berpesan agar para peserta bisa menjadi tauladan bagi seluruh anak muda di Indonesia.

Pesan itu disampaikan Menpora bersama istrinya Shobibah Rohmah saat menghadiri Upacara Pembukaaan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional 2018 di Wisma Soegondo Djoyopuspito, Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (26/7) siang. 

Pada sambutannya, Menpora menyampaikan bahwa, kalian adalah kebanggaan bagi keluarga, daerah darimana kalian berasal dan negara.

"Pada saatnya kalian akan menunjukkan pengabbdian total kepada bangsa dan negara dengan mengibarkan bendera Merah Putih. Selama diklat kalian akan dididik oleh guru atau pembina yang memiliki ilmu dan pengalaman," katanya.

"Manfaatkan ini dengan baik, jadikan diri kalian sebagai inspirasi anak muda Indonesia. Kalian harus saling membantu, menghormati dan menghargai satu sama lain. Saya lihat di sini menemukan semangat baru dari peserta yang memiliki latar belakang berbagai daerah. Meski kalian berbeda tapi kalian harus satu untuk mengawal Bhineka Tunggal Ika," tambahnya.

Saya ingin para peserta jadi pelopor mengawal bendera Merah Putih, Mengawal Kebhinekaan dan Mengawal Bangsa Indonesia. Jadilah kalian sebagai inspirasi, tauladan dan panutan sebagai anak muda hebat yang tidak gampang menyerah dalam kondisi apapun," kata Menpora.

"Kalian sama dengan para atlet Asian Games yang akan berjuang utuk mengharumkan nama bangsa Indonesia. Saya juga meminta kepada adik-adik semua untuk mendoakan atlet Indonesia agar sukses meraih prestasi di Asian Games nanti," tambahnya.

Sementara Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Asrorun Niam menyampaikan peserta Diklat Paskibraka 2018 diikuti 68 peserta dari 34 provinsi. Tim pelatih Diklat Paskibraka sebanyak 12 orang yang dipimpin Letkol Amar."Di dalam pelaksanaan Kemenpora terus sinergi dengan stakeholder untuk meningkatkan acara ini. Diharapkan para peserta Paskibraka untuk hadir di acara pembukaan Asian Games pada 18 Agustus mendatang," kata Niam. 

Ikut hadir mendampingi Menpora yakni, Deputi Pengembangan Pemuda Asrorun Niam, Staf Khusus Kepemudaan dan Anggaran Anggia Ermarini, Staf Khusus Komunikasi dan Kemitraan Zainul Munasichin, Asisten Deputi Kepemimpinan dan Kepeloporan Pemuda Ibnu Hasan, Asisten Deputi Kemitraan dan Penghargaan Pemuda Wisler Manalu, Asisten Deputi Standarisasi dan Infrastruktur Pemuda Zainal Aminin, Sekretaris Deputi Pemberdayaan Pemuda Esa Sukmawijaya, Sekretaris Deputi Pembudayaan Olahraga Samsudin, dan Kepala PPPON Suryati. (Red-Zunus) 
Kamis 26 Juli 2018 21:45 WIB
Yudi Latif Sebut Demokrasi di Indonesia Alami Krisis Legitimasi dan Efisiensi
Yudi Latif Sebut Demokrasi di Indonesia Alami Krisis Legitimasi dan Efisiensi
Yudi Latif
Jakarta, NU Online
Mantan Kepala Badan Pengarah Ideologi Pancasila (BPIP) Yudi Latif mengatakan bahwa demokrasi di Indonesia menglamai dua krisis, yakni krisis legitimasi dan efisiensi.

"Di penghujung reformasi, demokrasi di Indonesia mengalami krisis legitimasi dan efisiensi sekaligus," kata Yudi di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Rabu (25/7).

Yang dimaksud Yudi dengan legitimasi adalah pemerintahan dipilih dan melibatkan partisipasi rakyat. Sementara efisiensi yaitu demokrasi lebih responsif terhadap aspirasi publik.

Menurut Yudi, setelah Indonesia reformasi, mestinya demokrasi menjadi sarana untuk meminimalisir keburukan-keburukan dalam bernegara karena mampu menyeimbangkan antara legitimasi dan efisiensi, namun hal itu tidak terjadi.

Krisis legitimasi bisa dilihat dari banyak hal, seperti Indeks Persepsi Korupsi (IPK) tetap tinggi, partisipasi publik di dalam pemilihan cenderung rendah, dan kepercayaan publik melalui beberapa hasil survei 10 tahun terakhir terhadap lembaga DPR dan partai politik rendah.

Adapun krisis efisiensi bisa dilihat dari produk Undang-undang yang dihasilkan parlemen terlalu sedikit, yakni kurang dari 50 persen dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas), dan politik hanya menjadi sarana memperoleh dan mempertahankan kekuasaan.

"Politik dalam arti kebijakan merespons tantangan dan situasi publik tidak bekerja dalam demokrasi hari ini," jelasnya.

Demokrasi yang belum berjalan dengan baik itu membuatnya kecewa. Terlebih, tokoh-tokoh perintis demokrasi yang tergabung dalam Forum Demokrasi (Forum) seperti KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Marsillam Simanjuntak, Bondan Gunawan, Frans Magnis Suseno, Rahman Tolleng, dan Todung Mulya Lubis tidak menjadi bagian penting dalam perjalanan politik,bahkan sering kali diabaikan.

"Kira-kira mungkin Gus Dur pun kalau bisa bangkit lagi merasa kecewa," ucapnya. (Husni Sahal/Fathoni)
Kamis 26 Juli 2018 21:20 WIB
Dua Syarat Hindari Konflik Politik Berbau Agama
Dua Syarat Hindari Konflik Politik Berbau Agama
KH Ahmad Ishomuddin (Foto: istimewa)
Jakarta, NU Online
Agama seringkali disalahgunakan untuk meraih kekuasaan dalam percaturan politik praktis. Dampak nyata dari penyalahgunaan agama dalam kampanye politik ialah konflik horisontal dan perpecahan bangsa.

Terkait hal itu, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin menjelaskan, konflik politik berbau agama bisa dihindari apabila dua syarat terpenuhi, yaitu seseorang berusaha mengerti agama dan paham wawasan kebangsaan.

Penjelaskan tersebut disampaikan Kiai Ishom saat mengisi materi dalam Pendidikan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) II yang digelar Lakpesdam PBNU, Selasa (24/7) di Pesantren Asshiddiqiyah Kedoya, Jakarta Barat.

“Di negara ini mau shalat sampai jidat hitam, bebas. Kalau politik kita bisa seperti itu, kita bebas dari konflik. Ada dua syarat, yaitu ngerti agama dan wawasan kebangsaan,” ujar Kiai Ishom.

Kiai muda kelahiran Lampung ini menukil Syekh Zakiya Malik yang mengatakan bahwa orang berilmu itu apabila ilmunya luas, maka dia menjadi manusia bijaksana dan sedikit mengingkari orang yang berbeda dengannya.

“Di tangan orang yang tidak bijak, persoalan khilafiyah jadi membesar,” jelasnya.

Dosen UIN Raden Intan Lampung ini menegaskan, kalau dua hal yaitu mengerti agama dan paham wawasan kebangsaan, insyaallah akan menjadi siyasah thoyyibah.

“Bukan politik yang penuh dengan kampanye-kampanye hitam,” tutur Kiai Ishom. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG