Pesantren Ashiddiqiyah 3 Karawang Didik Santri dan Masyarakat

Pesantren Ashiddiqiyah 3 Karawang Didik Santri dan Masyarakat
Pondok Pesantren Asshiddiqyah Karawang merupakan bagian dari pengembangan Asshiddiqyah Jakarta sebagai induknya yang didirikan KH Nur Iskandar SQ pada pada Rabi’ul Awal 1406 H bertepatan dengan 1 Juli 1985. Pengembangan di Karawang dilakukan mulai 1992. 

Di dalam laman Asshiddiqyah disebutkan, pesantren itu didirikan dalam kapasitasnya sebagai lembaga pendidikan keagamaan dan sosial kemasyarakatan, senantiasa eksis dan tetap pada komitmennya sebagai benteng perjuangan syiar Islam.

Namanya syiar, tentu harus dikembangkan, dikembangkan lagi, dan terus dikembangkan. Makanya Asshiddiqiyah melebarkan sayapnya. Selain di  Karawang, tersebar dibeberapa daerah, yaitu Batu Ceper (Banten), Bogor (Jawa Barat), Palembang (Sumatera Selatan), Way Kanan (Lampung), Sukabumi (Jawa Barat),  dan lainnya. Jumlahnya kini ada 12. 

Pesantren di Karawang, yang terletak di Kecamatan Cilamaya, adalah pesantren nomor tiga dalam pengembangan Asshiddiqiyah dan Batu Ceper. 

Tentu saja, mengembangkan pesantren tidak semudah membalikkan tangan. Sejak berdiri pada 1992, Asshiddiqiyah Karawang jatuh-bangun di tangan empat kiai. Tidak sesuai dengan yang diharapkan Kiai Nur.

Lalu, pada 2001, pesantren tersebut digerakkan seorang kiai muda yang baru lulus menimba ilmu di Madinah, KH Hasan Nuri Hidayatullah. Pria yang akrab disapa Gus Hasan ini merupakan alumnus dari Asshiddiqiyah induk di Jakarta. Lalu nyantri di Habib Zein bi Smith di Madinah selama 4 tahun. 

Sepulang dari Madinah, ia diminta Kiai Nur untuk menangani Asshiddiqiyah Karawang. Waktu itu  Gus Hasan masih lajang dan berusia 23 tahun. Dua tahun kemudian, ia diambil mantu oleh Kiai Nur.  

Patuh pada guru dan orang tua
Di  tangan Gus Hasan, Asshiddiqiiyah Karawang dikembangkan lagi menjadi beberapa, yaitu di Karawang sendiri dan di Jonggol. Bahkan kini  telah berdiri Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Asshiddiqiiyah Karawang. Jumlah keseluruhan santri yang ditangani Gus Hasan saat ini sekitar 1200 orang. Padahal ketika ia masuk pada 2001hanya ada 30-40 santri dengan fasilitas yang minim. Hanya satu asrama puti, du kobong putra dan satu masjid.  

“Saya kembangkan menjadi ada Ashiddiqiyah dalam bentuk sekolah tinggi dua tahun ke belakang. Setahun ke belakang saya mengembangkan di Jonggol,” ungkap Gus Hasan di kediamannya, di Kompleks Asshiddiqiiyah Karawang, 14 Juli lalu. “Asshiddiqiiyah 3 ada dua, putri dan putra, Ashidiqiyah 4 hanya putra dan mahasiswa,” lanjutnya. 

Di samping itu, Asshiddiqiiyah 3 menyelenggarakan pendidikan dalam beberapa jenjang mulai Madrasah Ibtidaiyah, Tsanwiyah, Aliyah, SMK dan SMA. Semua siswa dan siswi, kecuali Madrasah Ibtidaiyah, berada dan tinggal di asrama. 

Selain mendidik santri, Asshiddiqiiyah 3 mengadakan pengajiian untuk masyarakat. Setahun setelah berada di pesantren itu, Gus Hasan membuka pengajian umum setiap Rabu malam.  

“Pada tahun 2002 saya langsung mengadakan pengajian. Sambil silaturahim ya sambil mengaji. Mula-mula ada berapa orang, dua, tiga orang. Awal-awal di teras rumah ngajiinya,” kata Ketua PWNU Jawa Barat ini. 

Kini, pengajian yang mengupas Tafsir Jalalayn tersebut makin diikuti banyak jamaah. Jumlahnya ribuan. Tidak hanya desa terdekat, tapi melampaui batas kecamatan dan kabupaten.

“Ya kalau cuacanya bagus, orang-orang banyak yang kosong kegiatan, tidak ada hajatan, kadang sampai seribu. Di depan itu full itu. Apalagi pas maulid. Semuanya karena Allah. Kita ini, tanpa pertolongan Allah tidak apa-apa,” ungkap Gus Hasan. 

Keberhasilannya dalam mengembangkan pesantren dan pengajian bersama masyarakat, menurut Gus Hasan adalah patuh kepada perintah guru dan orang tua. Kedua, banyak silaturahim dengan masyarakat setempat. (Abdullah Alawi)


BNI Mobile