IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Salah Kaprah Memahami Islam Nusantara

Ahad 29 Juli 2018 12:30 WIB
Bagikan:
Salah Kaprah Memahami Islam Nusantara
“Islam itu sudah sempurna, tidak perlu embel-embel lagi. Islam Nusantara malah mereduksi makna Islam itu sendiri”.  Demikan di antara ungkapan ketidaksetujuan atas penggunaan istilah Islam Nusantara yang banyak beredar di media sosial. Alasan ini pula yang menjadi salah satu pertimbangan MUI Sumbar yang baru-baru ini menyatakan tidak perlunya Islam Nusantara berada di wilayah Sumatera Barat

Jika alasannya karena Islam sudah sempurna, dan tidak perlu embel-embel lagi, mengapa tak ada keberatan dengan penggunaan istilah Islam Kaffah (berarti ada Islam yang tidak kaffah), Islam Berkemajuan (berarti ada Islam yang tidak berkemajuan), Islam Wasathiyah atau Islam Moderat (berarti ada Islam yang tidak Moderat), dan sederetan istilah lainnya seperti Islam Transformatif, Islam Hadhari, atau Islam Progresif yang coba dikembangkan oleh organisasi masyarakat Islam atau intelektual Muslim? 

Bahkan ada pula yang tampaknya dengan sengaja menulis Islam Nusantara sebagai agama baru. Mereka yang ikut Islam Nusantara dianggap sudah batal keislamannya sehingga harus syahadat ulang. Jelas bagi orang seperti itu, telah merendahkan dirinya sendiri di depan publik sebagai pembuat fitnah dan berita bohong belaka. Mereka yang membagikannya di media sosial tanpa alasan jelas juga menunjukkan literasi digitalnya rendah karena membantu menyebarkan informasi hoaks di dunia maya. 

Media sosial membuat semua orang menjadi setara, siapa pun bebas berkomentar atas masalah apa pun. Mereka yang mengkaji ilmu agama bertahun-tahun dikomentari oleh anak-anak muda bersemangat agama tinggi, tapi minim pengetahuan. Memiliki pengetahuan sepotong-sepotong, yang seharusnya masih harus banyak belajar, tapi mengomentari beragam permasalahan agama. Tak menyadari bahwa dirinya masih belum banyak tahu dan dengan bangganya menjadi pasukan sorak hore kepentingan tertentu. 

Tampaknya ada orang-orang tertentu yang tidak suka dengan Nahdlatul Ulama dan apa yang datang darinya. Apa saja yang datang dari NU, perlu diawasi dan dikritisi. Yang tidak disetujui bukan lagi soal idenya, tetapi dari mana ide tersebut datang. Tapi situasi itu bukan hal yang baru bagi NU. Sejak NU didirikan, beragam dinamika terhadap pandangan keislaman sudah terjadi. Toh, NU tetap tumbuh dan berkembang serta mendapat kepercayaan dari umat. Pandangan-pandangannya makin berterima di masyarakat. Metode-metode dakwahnya bahkan diadopsi oleh mereka yang dulu menentangnya.

Baca:
Sementara NU mengakui keragaman pendapat agama dalam empat mazhab, kelompok-kelompok Islam puritan merasa bahwa hanya pandangannya saja yang benar, hanya Islamnya saja yang berhak masuk surga, hanya kitab tertentu yang boleh dibaca, dan hanya pendapat gurunya saja yang dianggap otoritatif. Tampak penuh semangat dan menarik generasi muda atau orang yang baru bersemangat dalam berislam, mereka bagai meteor yang bersinar terang, tapi kemudian cepat pudar dan akhirnya padam. Zaman telah membuktikan, gerakan-gerakan seperti itu tumbuh dan hilang berganti dengan cepat. 

Mereka yang tidak setuju Islam Nusantara mengkritiknya tanpa merujuk makna yang dikembangkan NU, melainkan membuat definisi sendiri, lalu mengembangkan makna dan tafsir atas definisi yang dibuatnya tersebut. Dari situ Islam Nusantara dikritik dan dan disebutkan sederet kesalahan-kesalahannya atas nama Al-Qur’an dan Sunnah sebagai legitimasinya. Seolah-olah para ulama NU yang membuat konsep Islam Nusantara tak paham agama dan tak merujuk pada Qur’an  dan Hadits. Seolah-olah, hanya tafsirnya saja yang dianggap otoritatif. Menghakimi tanpa melakukan tabayyun atau berdiskusi terlebih dulu. Dengan bangga paling merasa sesuai Qur’an dan Sunnah, sementara para imam pendiri mazhab saja menghargai perbedaan pandangan ulama lainnya. 

Sebagian pengkritik bahkan mengaku tak paham agama secara mendalam tapi merasa menjadi tokoh yang bisa mengomentasi apa saja, termasuk masalah agama hanya berdasarkan logikanya semata. 

Unduh: Hasil Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur tentang Islam Nusantara
Spirit Islam Nusantara adalah penghargaan tradisi lokal yang tidak pertentangan dengan nilai-nilai agama. Di sini, Islam Nusantara kemudian dituduh anti-Arab. Padahal, Islam tidak identik dengan Arab sehingga tradisi lokal yang bersesuaian dengan nilai-nilai Islam harus dihargai dan dikembangkan. Hal ini sudah lama berjalan dan kemudian NU mendefinisikan apa yang terjadi dalam proses dakwah Islam di wilayah Nusantara ini sebagai Islam Nusantara.

Spirit ini layak dikembangkan dalam konteks kekinian ketika Islam berkembang ke seluruh pelosok dunia melalui proses migrasi dan kemudahan komunikasi. Beberapa negara tempat Muslim bermigrasi mengeluhkan soal integrasi Muslim dengan masyarakat lokal. Sikap tertutup seperti ini memunculkan kesan bahwa Islam itu eksklusif. Pesan bahwa Islam adalah agama yang memberi rahmat bagi seluruh alam tidak akan muncul melalui ekslusifitas tersebut 

Bagi Nahdlatul Ulama, masukan dan diskusi untuk membahas Islam Nusantara yang dilakukan dengan baik dan sopan, dengan pendekatan intelektual akan diterima dengan baik. NU memiliki tradisi bahtsul masail yang sangat kuat di lingkungan pesantren dan forum-forum resmi organisasi. Dalam forum itu, perdebatan-perdebatan tentang berbagai tema dilakukan secara terbuka.  Masing-masing menyampaikan argumentasi yang paling otoritatif. Dari situ, pendapat yang paling kuat yang akan disepakati. Kadang, ada ketidaksepakatan terhadap masalah tertentu yang disebut maukuf, yang nantinya akan dibahas lebih lanjut di kesempatan berbeda atau forum lebih tinggi. Konsep Islam Nusantara telah dibahas dalam forum tertinggi NU, yaitu dalam Muktamar ke-33 NU di Jombang, yang merupakan forum tertinggi organisasi.

Beragam konsep pengembangan Islam yang digagas oleh organisasi Islam atau intelektual Islam sesungguhnya memiliki irisan yang kuat. Nilai yang dikembangkan NU, yaitu tawassuth, juga dikembangkan oleh Islam Wasathiyah. NU juga dengan memiliki prinsip menjaga nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik, dan melakukan perbaikan secara terus menerus. Dengan demikian, NU juga mendorong kemajuan. NU juga menghargai dan mengembangkan Islam Berkemajuan. 

Kini kajian Islam Nusantara dikembangkan lebih lanjut di lingkungan perguruan tinggi supaya dihasilkan temuan-temuan baru dan mengembangkan pengetahuan yang sudah ada. Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta telah membuka jurusan pascasarjana program Islam Nusantara untuk strata magister yang sudah berjalan beberapa tahun dan pada 2018 ini, sudah dibuka program’ doktor Kajian Islam Nusantara. Dari situ, konsep Islam Nusantara akan dikaji lebih matang dan lebih komprehensif untuk memberi sumbangan pada peradaban Islam. Dari NU, untuk Indonesia, untuk dunia. (Achmad Mukafi Niam)
Tags:
Bagikan:
Ahad 22 Juli 2018 15:45 WIB
Menanti Inovasi Gerakan Para Pengaji dan Penghafal Al-Qur’an
Menanti Inovasi Gerakan Para Pengaji dan Penghafal Al-Qur’an
Ilustrasi (Reuters)
Organisasi para pengaji dan penghafal Al-Qur’an di lingkungan Nahdlatul Ulama, Jamiyyatul Qurra wal Huffadh NU (JQHNU) selesai sudah melakukan musyawarah tertinggi pada 15 Juli 2018 di Pondok Pesantren Assidiqiyah, Kerawang. Pemimpin baru sudah terpilih dengan amanat berat untuk menggerakkan organisasi pada era perubahan lingkungan sosial budaya yang sangat cepat dan kecenderungan mengerasnya pandangan keagamaan akibat masuknya ajaran Islam transnasional serta berkembangnya media sosial sebagai pilihan belajar keagamaan.

Tradisi menghafal Al-Qur’an sudah lama tumbuh dan berkembang di lingkungan pesantren-pesantren NU. Sejumlah pesantren secara khusus mengembangkan para menghafal Quran ini. Keberadaan JQHNU adalah untuk mewadahi tradisi yang sudah lama hidup ini. Di antara di Jawa yang sangat terkenal adalah pesantren Krapyak dan Pesantren Arwaniyah Kudus. Di dua pesantren tersebut, para penghafal Al-Quran dari seluruh Indonesia belajar dan kemudian menyebarluaskan tradisi menghafal tersebut hingga kini. Tradisi tilawah Al-Qur’an atau seni membaca Al-Qur’an kini juga berkembang luas. Banyak acara yang digelar dari tingkat lokal sampai internasional dengan intensitas yang rapat. 

Jika dulu, hanya komunitas Nahdliyin yang cukup intens dalam membaca dan menghafalkan Qur’an, kini perhatian dan minat publik untuk membaca dan menghafalkan Qur’an ini meningkat dengan pesat. Pesantren tahfidh berdiri di mana-mana dengan peminat yang luar biasa banyak, bukan hanya dari komunitas pesantren NU. Tradisi mengaji Al-Qur’an yang dikhatamkan bersama juga berkembang dalam kelompok One Day One Juz (ODOJ). Teknologi telah menembus jarak sehingga koordinasi siapa membaca juz atau surat Al-Qur’an yang ke berapa menjadi mudah dalam sebuah grup ODOJ.

Berbagai perguruan tinggi memberikan beasiswa khusus kepada para penghafal Qur’an sebagai bentuk apresiasi kepada mereka. Hanya orang-orang cerdas yang mampu menghafalkan sedemikian banyak ayat. Demikian pula, sejumlah pesantren Al-Qur’an memberikan beasiswa kepada santri yang menghafalkan Al-Qur’an. 

Satu aspek yang belum mendapat perhatian yang memadai adalah mempelajari tafsir Al-Qur’an. Belum banyak pesantren yang mengkhususkan diri dalam bidang tafsir. Pesantren tahfidh yang sudah lama dengan puluhan tahun dan melahirkan ribuan hafiz-hafizah juga belum terlihat mengarahkan kebijakannya untuk mengembangkan kurikulum dalam bidang tafsir. Bidang ini lebih banyak dikaji di perguruan tinggi Islam. 

Menghafal Al-Qur’an, bagi orang Indonesia yang berbahasa ibu bukan bahasa Arab bukan persoalan mudah dalam konteks memahami makna yang terkandung di dalamnya. Butuh kerja ekstra untuk belajar bahasa Arab dan lalu belajar metodologi tafsirnya. Jika ingin tak sekadar hafal, maka langkah-langkah tersebut harus dilakukan. Dengan perencanaan yang baik, tentu hal tersebut akan dapat dilakukan. Sangat disayangkan misalnya, sudah menghafal Al-Qur’an pada usia 20 atau 30 tahunan dan kemudian sampai usia 60 sampai 70 tahunan tetap saja berkutat pada apa yang telah dipelajari 30 tahun yang lalu. 

Penguatan aspek tafsir Al-Qur’an ini penting mengingat, belakangan ini, terdapat kelompok yang memaknai Al-Qur’an hanya secara tekstual. Memiliki semangat beragama tinggi tetapi kurang memiliki pengetahuan. Mereka berusaha menafsirkan Al-Qur’an hanya berdasarkan terjemahan saja atau sekadar menjadi jamaah kelompok pengajian. Dengan bekal sekadarnya tersebut, mereka sudah merasa paling benar dalam beragama. Adanya ahli-ahli tafsir dengan kredibilitas tinggi akan mampu menjelaskan dan menafsirkan dengan baik makna dari sebuah ayat dengan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan. 

Persoalan lain adalah upaya politisasi ayat-ayat Al-Qur’an yang dilakukan kelompok politik tertentu untuk kepentingan mereka sendiri. Ajaran agama ditafsirkan yang menguntungkannya. Umat Islam lain, yang tidak sejalan dengan pandangan politiknya menjadi musuhnya. Para ahli tafsir bisa menetralkan penggunaan ayat-ayat untuk kepentingan politik ini kepada publik.

Penguatan kajian tafsir Al-Qur’an yang selama ini kurang menonjol sudah layaknya mendapatkan perhatian serius dalam program kerja JQHNU. Ke sanalah para penghafal harus diarahkan, menjadi intelektual agama dengan pengkhususan tafsir. Mereka akan mampu memberi pengaruh lebih besar terhadap corak keberagaman di Indonesia. Para intelektual Muslim, salah satunya para pengkaji Al-Qur’an yang mampu menanamkan pandangan agama ke isi kepala anak-anak muda yang kini rentan beralih pada kelompok radikal yang berkembang melalui dunia maya. 

Inovasi gerakan tentu bukan hal yang mudah karena membutuhkan banyak sumber daya. Tetapi hal ini akan membuat organisasi lebih dinamis, lebih menantang, dan memberi kontribusi yang lebih besar kepada pengkajian Islam di Indonesia yang kini sedang mengembangkan kekhasannya. Tafsir-tafsir baru yang lebih kontekstual diperlukan untuk menambah kekayaan kajian keagamaan seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan sosial kemasyarakatan. 

Tentu saja, kerja-kerja besar tersebut tidak dapat dilakukan sendiri. Sinergi dengan perguruan tinggi Islam, Kementerian Agama, lembaga pengkaji tafsir, komunitas internasional dan pemangku kepentingan lainnya bisa dilakukan. Hasil yang dicapai juga tidak dapat diperoleh dengan instant atau seketika. Tidak jika upaya ini berhasil, akan memberi pengaruh jangka panjang dalam cara keberislaman di Indonesia yang moderat dan damai ini. (Achmad Mukafi Niam)
Ahad 15 Juli 2018 9:30 WIB
Mensyukuri 15 Tahun NU Online Dipercaya Masyarakat
Mensyukuri 15 Tahun NU Online Dipercaya Masyarakat
Tanggal 11 Juni merupakan hari istimewa bagi NU Online karena pada setiap tanggal tersebut, situs resmi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini menandai pertambahan usianya. Diluncurkan pada 11 Juli 2003, pada 2018 ini, kami genap berusia 15 tahun memberikan layanan informasi ke-NU-an dan keislaman kepada masyarakat, dan terutama kepada warga NU. 

Apresiasi, dukungan, dan harapan agar kami lebih baik datang dari para tokoh masyarakat dan warganet. Menteri Agama melalui akun twitternya berharap NU Online terus mencerahan dan menebar perdamaian kepada siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Hal yang sama juga disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Dosen Senior Monash Law School Australia Nadirsyah Hosen berpesan agar NU Online tetap menjadi corong Aswaja dengan menebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin. 

Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia banyak isu nasional yang mendapat tanggapan dari NU. Sebagai media resmi, NU Online selalu berusaha memenuhi kehausan publik terkait informasi kegiatan, sikap, dan kebijakan Nahdlatul Ulama. Advokasi-advokasi NU terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat bawah atas ketidakadilan juga menjadi perhatian penting untuk membela mereka. Tak kalah pentingnya adalah bagaimana menginsipasi dan menularkan program-program sukses yang digagas di satu daerah agar bisa direplikasi ke lokasi lain di suatu kepengurusan Nahdlatul Ulama.

Masalah-masalah keagamaan menjadi titik fokus utama NU Online. Masyarakat umum menginginkan adanya panduan yang otoritatif terhadap tata cara menjalankan amaliyah keagamaan seperti shalat, zakat, puasa, dan lainnya. Bagi kalangan pesantren, banyak hal-hal yang dianggap sederhana seperti niat zakat atau niat puasa rajab. Bagi publik umum, yaitu kelompok masyarakat yang tidak memperoleh pendidikan agama secara khusus sebagaimana kelompok santri, hal tersebut menjadi persoalan. Internet memberi panduan yang praktis. Dengan adanya mesin pencari seperti Google dan Yahoo, maka segala kebutuhan masyarakat akan tuntunan keagamaan dengan mudah bisa diakses. Karena itu, sangat penting bagi NU Online untuk menyediakan ruang khusus pembahasan masalah-masalah keislaman untuk membantu masyarakat menemukan solusi atas persoalan tersebut. 

NU harus mengantisipasi perubahan perilaku masyarakat dalam mencari solusi permasalahan keagamaan. Jika pada masa lalu, masyarakat datang ke kiai untuk menemukan solusi masalah keagamaannya, pada masa mendatang, sebagian besarnya akan mengakses internet untuk mencari jawabannya. Mengingat banyaknya persoalan khilafiyah, maka menjadi tugas utama NU Online untuk memastikan bahwa amaliyah NU beserta dalil-dalilnya dapat dengan mudah diakses publik di internet untuk memandu masyarakat agar mereka beribadah dengan tenang karena apa yang mereka lakukan memiliki pijakan yang kuat. 

Salah satu keunggulan internet adalah adanya komunikasi dua arah. Publik bisa secara langsung memberikan tanggapan atas artikel-artikel yang dimuat atau mengusulkan sesuatu untuk kebaikan NU. Media sosial menjadi sarana untuk komunikasi timbal balik ini secara efektif. Seiring dengan perkembangan medsos ini, NU Online memberi perhatian penting terhadap pengembangan medsos. Kini medsos bahkan menduduki peringkat pertama sebagai sarana yang dibuka pertama kali atau paling banyak dibuka di internet. Saat bangun atau menjelang tidur, yang dibuka pertama kali adalah Whatsapp atau Facebook. Medsos menjadi sarana efektif untuk mendiseminasi informasi.

Di samping kemudahan dari media sosial yang memungkinkan kita terhubung dengan teman lama yang sudah lama tak bersua, penyebaran hoaks menjadi tantangan yang harus diatasi. Orang-orang tak bertanggung jawab dengan sengaja menyebarkan berita bohong yang menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Ajaran-ajaran NU termasuk yang menjadi sasaran dari upaya disinformasi dari kelompok-kelompok yang tidak suka.

Media sosial memiliki kelebihan akan kecepatan penyebaran informasi. Masalah yang timbul adalah, tidak adanya proses pengecekan ulang dan menjagaan kualitas informasi sebagaimana yang terjadi di media massa di mana terjadi proses pengecekan selama beberapa tahap dari seorang jurnalis di lapangan, ke redaktur sampai dengan ke pemimpin redaksi. NU Online memiliki tugas untuk memastikan akurasi informasi tentang ke-NU-an yang bisa menjadi panduan bagi pengurus di berbagai tingkatan dan warga NU untuk mengambil sikap.  

Inovasi-inovasi baru teknologi informasi akan terus muncul. Mereka yang tidak mengikuti perkembangan baru akan ditinggalkan publik. Konvergensi media dalam bentuk teks, foto, dan video menjadi tantangan dalam beberapa tahun ke depan agar NU Online tetap mampu memenuhi kebutuhan informasi masyarakat dengan baik. Hal ini membutuhkan sumber daya yang  banyak. Kami terus melangkah menuju inovasi-inovasi baru tersebut guna memenuhi tuntutan pengunjung NU Online.

Keterlibatan para kontributor yang mengirimkan beragam tulisan memiliki andil besar dalam menjaga kuantitas dan kualitas tulisan-tulisan di NU Online. Kontributor berita yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia secara rutin mengirimkan laporan kegiatan-kegiatan NU di wilayahnya. Para penulis keislaman yang berasal dari berbagai pesantren dan kemudian melanjutkan ke pendidikan formalnya di berbagai perguruan tinggi Islam memberikan kontribusi besar tulisan-tulisan keislaman yang kini secara rutin terus kami tingkatkan kuantitasnya. 

Dukungan-dukungan dalam bentuk lain juga diberikan dengan antusias berupa akses dana, saran-saran tata kelola media, dan hal-hal lainnya. Banyak orang merasa bergembira mampu memberikan kontribusi sesuai dengan bidangnya untuk kemajuan NU Online. Tentu saja kami mengucapkan banyak terima kasih. Semoga kerja sama tersebut dapat terus berlangsung dan ditingkatkan untuk meningkatkan layanan informasi ke-NU-an dan keislaman kepada publik. (Achmad Mukafi Niam)

Rabu 4 Juli 2018 23:45 WIB
Belajar dari Pilkada: Menuju Demokrasi yang Matang
Belajar dari Pilkada: Menuju Demokrasi yang Matang
Salah satu calon gubernur Maluku Utara Ahmad Hidayat Mus dan calon bupati Tulungagung Syahri Mulyo yang keduanya ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendapatkan suara terbanyak dalam pilkada serentak 2018 yang berlangsung akhir Juni lalu. Sejumah mantan terpidana korupsi yang juga mencalonkan diri dalam pilkada tersebut juga mendapat dukungan suara yang luamayan banyak sekalipun tidak terpilih. Kini, Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) yang melarang mantan terpidana korupsi juga ditentang oleh banyak pihak.

Apa sebenarnya yang terjadi dalam pikiran masyarakat, ketika suara pemberantasan korupsi begitu kencang disampaikan, tetapi ketika mendapatkan kesempatan memilih pemimpin, mereka yang sedang menghadapi masalah hukum tetap dipilih. Apakah masyarakat sudah demikian permisif terhadap korupsi? Saat jalan-jalan di kampungnya rusak dan tidak dibenahi, mereka mengumpat pemimpinnya. Saat layanan birokrasi kurang memuaskan, mereka mengeluh buruknya pemerintahan, tetapi saat-saat menentukan dalam pemilihan umum, mereka kembali memilih pemimpin-pemimpin yang kurang kompeten, baik secara moral maupun manajerial.

Para calon yang bertarung dalam pilkada menggunakan beragam cara untuk bisa meraih simpati masyarakat. Cara-cara yang formal seperti kampanye terbuka, dukungan mesin partai atau tokoh masyarakat maupun cara-cara bawah tanah yang dalam bentuk politik uang dengan beragam variannya. Bauran dari beragam faktor ini ikut menentukan kemenangan mereka dalam pilkada.

Tahapan pertama yang harus dilalui seorang calon pemimpin daerah adalah mendapat dukungan partai. Ini bukan hal yang mudah karena banyak sekali orang yang berminat untuk melamar. Ketua atau elit partai di daerah tentu ingin ikut pertarungan tetapi belum tentu populer. Belum lagi jaringan oligarki politik di daerah tersebut. Ada pula politisi di tingkat pusat yang melobi ketua umum partai agar bisa terpilih. Besarnya biaya politik juga mendorong para pengusaha lokal yang sudah merasa sukses untuk mencoba peruntungan dalam politik. Di sini, orang-orang yang pernah bermasalah dengan hukum atau sedang bermasalah ikut bertarung. Beberapa orang akhirnya mendapat tiket untuk bertarung.

Pemenang akhir dari pertarungan internal ini sesungguhnya belum tentu calon-calon terbaik yang dikehendaki rakyat. Sejumlah partai yang memiliki basis kuat di daerah tertentu calon-calon yang diusung kalah. Jumlah suara yang diperoleh dalam pemilu legislatif tidak secara otomatis merupakan dukungan dalam pilkada. Beberapa orang bermasalah yang memiliki jejak kurang baik atau sedang bermasalah akhirnya ada juga yang menang. Kesadaran bahwa calon yang diusung harus orang-orang terbaik sudah meningkat, tetapi hasil yang menunjukkan bahwa orang tertentu, sekalipun memiliki catatan merah, tetap dipilih oleh rakyat mendorong elit partai untuk berspekulasi mengusung calon-calon yang tidak sepenuhnya didukung oleh rakyat, tetapi lebih pada pertimbangan elit politik yang menentukan siapa yang akan diusung.

Demokrasi liberal dengan mekanisme satu orang satu suara mensyaratkan kampanye yang luas. Hal ini tentu saja memakan ongkos politik yang mahal. Mesin partai untuk meraih dukungan juga hanya bisa digerakkan jika ada uang operasional bagi mereka. Tak ada yang gratis dengan memperjuangkan mengedepankan ideologi partai sebagaimana masa lalu. Politisi dengan gampang loncat dari satu partai ke partai lain sejauh mereka memiliki sumber daya yang dimanfaatkan partai. Pragmatisme dari partai menyebabkan kader partai di jajaran bawah enggan untuk melakukan kerja-kerja politik tanpa dukungan dana operasional. 

Lembaga penyelenggara pemilu juga belum sepenuhnya dipercaya oleh masyarakat. Masing-masing calon harus menyiapkan saksinya sendiri-sendiri untuk mengawal suara di tiap tempat pemungutan suara. Ini tentu saja biaya tambahan yang harus dikeluarkan oleh politisi yang sedang berkontestasi. Ini merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Jika berhasil, maka akan cukup menekan biaya pemilihan bagi masing-masing calon.

Cara yang paling kasar digunakan dalam kontestasi pilkada adalah politik uang. Sesungguhnya ini sudah berakar lama dalam tradisi politik lokal pada pemilihan kepala desa. Rakyat yang tidak mendapat uang saku tidak mau datang untuk memilih karena lebih mengutamakan bekerja di ladang. Hal ini juga dilakukan untuk memastikan dukungan. Tradisi ini kemudian dgunakan dalam kontestasi politik yang lebih luas. Dulu dikenal istilah serangan fajar, yaitu pada malam sebelum pemilihan, para pemilih mendapatkan uang dari calon tertentu untuk memilihnya. 

Akumulasi dari berbagai biaya politik ini menyebabkan calon-calon yang ingin berkontestasi harus memiliki modal besar. Hal ini hanya dimiliki oleh para penguasa, politisi yang menggunakan kekuasaannya untuk mengakumulasi orang melalui korupsi, atau politisi yang memiliki jaringan pengusaha yang bersedia memberi modal dengan konsekuensi pembagian kue-kue proyek jika menang dalam pemilu. 

Mengubah segala tradisi politik tidak sehat yang sudah mengakar kuat di masyarakat bukanlah hal yang mudah. Jika ditengok ke belakang, beberapa permasalahan seperti konflik antarmasyarakat saat pilkada sudah jauh berkurang. Mendidik masyarakat untuk memilih calon yang baik akan memastikan daerah mereka akan lebih baik dalam periode lima tahun ke depan. Menyejahterakan masyarakat akan memastikan bahwa mereka tidak akan tergiur dengan pilihan-pilihan jangka pendek berupa politik uang. Perbaikan sistem pemilu penting terus dilakukan untuk mendorong pemilu yang efektif dan efisien serta terpercaya oleh masyarakat. 

Kepada mereka yang terpilih, kini saatnya untuk mulai memikirkan rancangan secara lebih detail bagaimana janji-janji kampanye dalam segera dilaksanakan begitu mereka dilantik. Bukan lagi waktu untuk terus mengumbar wacana dan janji karena tugas pemimpin untuk melaksanakan kerja-kerja nyata. Inilah jalan panjang menuju demokrasi yang lebih matang di Indonesia. (Achmad Mukafi Niam)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG