IMG-LOGO
Tokoh

Kiai Abu ‘Amar, Cucu Panglima Perang Jawa dan Penerus Kemasyhuran Jamsaren

Jumat 3 Agustus 2018 21:0 WIB
Bagikan:
Kiai Abu ‘Amar, Cucu Panglima Perang Jawa dan Penerus Kemasyhuran Jamsaren
Pada tanggal 3-6 Maret 1954, Menteri Agama KH Masykur menyelenggarakan Konferensi Ulama di Cipanas, Bogor. Konferensi yang antara lain menelurkan keputusan pemberian status Waliyyul Amri Dlaruri bis Syaukah kepada Presiden Soekarno ini menjadi penting, sebab selain menjadi titik temu pembahasan persoalan wali hakim nikah, juga mempertegas sikap mayoritas umat untuk tidak mendukung tindakan makar DI/TII, yang hendak merongrong keutuhan bangsa.

Pertemuan itu dihadiri oleh para ulama yang amat berpengaruh, dari hampir seluruh provinsi kecuali Yogyakarta. Mereka di antaranya ialah: KH Abdurrahman Marasabessy (Maluku), KH Abdurrahman Ambo Dale (Pare-pare), KH Mahrus Ali (Kediri), KH Tubagus Ahmad Khatib (Banten), KH Zuber (Salatiga), KH Abu ‘Amar (Solo), dan lain-lain.

Dari beberapa nama tersebut, turut hadir satu nama ulama dari Kota Solo, yakni KH Abu ‘Amar. Dari data awal inilah, penulis kemudian mulai tertarik untuk mencari keterangan tentang tokoh yang juga disebutkan dalam Muktamar NU ke-X di Surakarta pada 13-19 April 1935 M / 10-15 Muharram 1354 H.

Pada awal pencarian data dengan menulis kata kunci di google, penulis sempat menemukan artikel berjudul Laporan penelitian dan penulisan biografi KH Abu Amar di Provinsi Jawa Tengah yang ditulis oleh Rosihan Anwar dan Chairul Fuad Yusuf. Tulisan tersebut dipublikasikan oleh Balitbang Departemen Agama tahun 1987. Sayangnya, ketika dikonfirmasi ke Balitbang Kemenag, tulisan tersebut tidak dapat ditemukan.

Proses pencarian data kemudian berlanjut dengan mengumpulkan sejumlah keterangan dari hasil wawancara dengan sejumlah narasumber, kemudian dari beberapa buku, dan yang terpenting, yakni sebuah arsip yang ditulis oleh salah satu putra beliau, KH M. Bilal.

Darah Pejuang

Kiai Abu ‘Amar, yang memiliki nama kecil Slamet Abdul Kholiq lahir di Desa Pengkol, Kaligawe, Pedan, Klaten. Ia merupakan keturunan dari para ulama pejuang. Ayahnya bernama Kiai Abdul Ghoniy bin Kiai Maulani bin Kiai Muqoyyad bin Kiai Muqdi (Mukowi) bin Kiai Fatuhuddin Makam Gumantar.

Kakek buyut Kiai Abu ‘Amar, Kiai Muqoyyad, merupakan seorang panglima perang yang ikut berperang bersama Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830) dan mendapatkan julukan Singawaspada. Di daerah Klaten, ia berjuang bersama Kiai Imam Rozi Singamanjat Tempursari Klaten. Kiai Muqoyyad yang memiliki senjata bernama “Kyai Royyan” gugur dan dimakamkan di Juwiring.

Sedari kecil, Abu ‘Amar mendapatkan pendidikan agama dari sang ayah, yang kemudian diperdalam dengan nyantri ke sejumlah pesantren, di antaranya Pondok Ngadirejo Klaten di hadapan Kiai Haji Ahmad. Kemudian, berpindah ke Pesantren Jenengan Sala yang diasuh Kiai Haji Fadil Katib Arum.

Sempat nyantri di Kediri Jawa Timur, selanjutnya ia belajar di Pesantren Jamsaren Solo yang kala itu diasuh Kyai Muhammad Idris. Kemudian pindah ke Yogyakarta mengaji kepada Kiai Haji Mudzakkir (ayah KH Kahar Mudzakkir) untuk menghafal Al-Quran.

Setelah dari Yogyakarta, ia kembali ke Pesantren Jamsaren, yang masih diasuh Kyai Idris, selain itu ia juga bersekolah di Madrasah Mambaul Ulum yang dipimpin oleh kepala sekolah Kiai Haji Bagus Ngarfah.

Sanad Keilmuan

Setelah melanglang buana, mengaji ilmu ke berbagai guru, ia pergi ke Makah untuk memperdalam ilmunya sekaligus menunaikan ibadah haji. Namun, sebelumnya ia telah dinikahkan dengan salah satu putri Kiai Idris dan dikaruniai beberapa anak.

Saat berangkat ke Mekah, Kiai Abu ‘Amar sudah dikaruniai 3 orang anak (1. Belum sempat diberi nama, 2. Badrul Ma’ali / M. Hilal, dan 3. Ali Darokah)

Selama tiga tahun tinggal di Makkah, Kiai Abu Amar mengaji kepada Syaikh Nahrowi (ulama asal Banyumas, yang menjadi Mursyid Thariqah Syadziliyah dan Mufti di Haramain). Ada kemungkinan besar, pergantian nama Kiai Abu Amar, yang memiliki nama kecil Slamet Abdul Kholiq, tabarukan dari nama salah satu saudara Syaikh Nahrowi, yang juga bernama Abu ‘Amar.

Di Tanah Suci, selain berguru kepada Syaikh Nahrowi, ia juga belajar kepada Kiai Haji Mahfud, dan Syekh Abdulkarim Al-Bagistaniy.

Rupanya, setelah belajar di Makah pun, sekembalinya ke Indonesia, Kiai Haji Abu ‘Amar kembali diperintahkan Kiai Idris untuk mondok ke Watucongol Muntilan mengaji Bukhari Muslim kepada Kiai Abdurrahman bin Abdurrauf, dengan pesan langsung dari Kiai Idris: “aku durung tau ngaji kitab Bukhari Muslim, kowe ngajiya (Aku belum pernah mengaji kitab Bukhari Muslim, maka kajilah (kitab itu) !”

Perintah itu kemudian dilaksanakan Kiai Abu Amar, dengan mengaji di hadapan Kiai Abdurrahman dengan sistem sorogan, yang kemudian diberi ijazah sebagaimana biasa.

Dari beberapa riwayat atau sanad keilmuan yang telah ditempuh, dimulai dari KH Ahmad Ngadirejo Klaten, Kiai Idris, serta Syekh Nahrowi maka dapat dikatakan Kiai Abu Amar ini selain dikenal sebagai ulama yang alim khususnya di bidang tauhid (Saifuddin, 2013), juga merupakan penganut Thariqah Syadziliyyah.

Mertua Kiai Abu Amar, Kiai Idris juga dikenal sebagai seorang mursyid Thariqah Syadziliyah yang kemudian diturunkan kemursyidannya kepada Kiai Abdul Muid Tempursari Klaten, dilanjutkan kepada Kiai Ma’ruf Mangunwiyata pengasuh Pesantren Jenengan Solo.

Meski demikian, sampai tulisan ini dimuat, penulis belum bisa menemukan dari jalur mana, Kiai Abu Amar mengambil baiat thariqah.

Riwayat Perjuangan

Setelah banyak belajar di berbagai tempat, ia mulai menetap di rumah Jamsaren. Setiap harinya ia bekerja sebagai magang abdi dalem keraton, yang bertugas di Kepatihan untuk membaca Al-Quran dengan pakaian seragam berkain panjang, berbaju hitam, berkeris, berkepala ikat-ikatan.

Sembari mengajar, ia juga berdagang dengan membuka toko kitab yang dipelajarkan di Jamsaren, serta berbagai barang kebutuhan rumah tangga, seng bekas dari pabrik kayu bakar dan nila dari Tebuireng. Dari relasi ini pula, kemudian dibangun hubungan erat dengan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, yang berlanjut hingga perjuangan bersama di Nahdlatul Ulama (NU).

Pada tahun 1923 Kiai Muhammad Idris wafat. Maka, pihak keraton meminta Kiai Abu Amar untuk menggantikannya sebagai wedana guru. Namun, karena merasa belum sanggup untuk mengembannya, tugas tersebut ditolak oleh Kiai Abu Amar. Posisi wedana guru kemudian diterima oleh KH Muhsan, dan selanjutnya diserahkan kepada Kiai Abdul Jalil (Raden Ngabehi Prajawiyata Al-Jamsari).

Namun, beberapa waktu kemudian, pihak keraton kembali memanggil KH Abu Amar untuk menjadi ulama Masjid Agung dan kemudian tugas tersebut diterimanya. Ia kemudian mendapat gelar Raden Ngabehi Darma Tenaya Abdi Dalem Matri, selanjutnya dinaikkan menjadi khatib diberi gelar Raden Ngabehi Darmadiputra Abdi Dalem Panewu.

Perjuangan hidupnya, memang lebih banyak tercurah pada bidang pendidikan. Di samping mengajar bagi penghafal Al-Quran di Keraton dan khutbah di Masjid Agung, ia juga bercocok tanam di kebun samping rumah dan di daerah Ngruki. Selain itu, ia juga mengajar tafsir Al-Quran di beberapa masjid, dan kitab Ihya Ulumuddin.

Di bidang organisasi kemasyarakatan, Kiai Abu Amar ikut menjadi pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Solo. Bersama sejumlah tokoh ulama, antara lain Kiai Masyhud Keprabon, Kiai Dimyati Al-Karim Mangkunegaran, Kiai Siradj Panularan, Kiai Raden Mohammad Adnan dan lain-lain. Pada tahun 1935, Kota Solo bahkan diberi kepercayaan untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Muktamar NU kesepuluh.

Hingga akhir hayatnya, dari 3 istri yang ia nikahi, Kiai Abu Amar dikaruniai 21 anak (10 laki-laki dan 11 perempuan). Kiai Abu Amar wafat pada Senin 3 Jumadilakhir 1385 H / 29 Agustus 1965 M dan dimakamkan di Makamhaji Pajang.

Sepeninggal Kiai Abu ‘Amar, estafet pengasuh Pesantren Jamsaren kemudian diserahkan kepada salah satu putranya, KH Ali Darokah (wafat 1997). Sedangkan salah satu putrinya yang bernama Nyai Hj Umul Kirom diperistri KH Abdussomad Nirbitan (salah satu tokoh NU Solo, sejak tahun 1930-an). Kiai Abdussomad bersama KH Imam Ghozali, dan KH As’ad inilah yang kemudian merintis berdirinya Madrasah Al-Islam Surakarta.

Hingga sekarang, Pesantren Jamsaren dan Madrasah Al-Islam, masih tetap eksis keberadaannya dan semoga menjadi jariyah bagi para pendahulunya. Lahumu al-fatihah!

Ajie Najmuddin, anggota LTN-NU Boyolali


Rujukan:
Muhammad, Bilal. Riwayat Hidup Bapak Kyai H Abu ‘Amar. Solo. tanpa tahun.
Saifuddin, Zuhri. Berangkat dari Pesantren. Yogyakarta: LKiS. 2013.
Tags:
Bagikan:
Rabu 1 Agustus 2018 9:0 WIB
Surat-surat Ajengan Fadil Sebelum NU Tasikmalaya Berdiri
Surat-surat Ajengan Fadil Sebelum NU Tasikmalaya Berdiri
Di dalam statuten NU, jika belum mendirikan cabang, tetapi memiliki keinginan terhubung dengan NU, seseorang atau sekelompok orang boleh melakukan korespondensi dengan cabang terdekatnya. Jika cabang terdekat belum ada, maka dibolehkan berkorespondensi dengan HBNO atau Pengurus Besar NU di Surabaya.

Sejak kapan cabang-cabang NU di Jawa Barat berdiri?

Sejarawan NU, Choirul Anam menyebutkan, pada tahun 1929, tepatnya di Muktamar NU Semarang, Jawa Barat telah memiliki 13 Cabang. Namun, sayang, ia tidak menyebutkan cabang mana saja. Jadi, bisa dipastikan, beberapa tahun sejak NU berdiri di Surabaya, beberapa cabang berdiri di Jawa Barat. 

Namun, demikian, sebelum tahun 1929, hubungan kiai di wilayah Jawa Barat dengan kiai pendiri NU di Jawa Timur melalui surat-surat dalam bentuk tanya jawab suatu persoalan. 

Ajengan Fadil dari Tasikmalaya berkirim surat ke redaksi Swara Nahdlatoel Oelama. Ia beberapa kali mengajukan pertanyaan. Paling tidak ada tiga kali. Pertama meminta penjelasan tentang awal Ramadhan. 

Berikut laporan dari Swara Nahdlatoel Oelama:

Saya (KH Wahab Hasbullah) mendapatkan surat dari saudara saya, almukarrom Kiai Fadil Tasikmalaya. Isi suratnya menjelaskan bahwa di Tasikmalaya mulai melaksanakan puasa pada hari Rabu. Bagaimana hukumnya orang yang melakukan puasa pada hari Kamis berdasarkan i’timad dari ahli hisab. Tetapi yang melakukan puasa pada hari Kamis itu sebagain setengah dari penduduk Tasikmalaya setelah melihat majalah NU nomor 6 dan juga di majalah NU Nomor 7 dari Riyadlah Atthalabah, di dalam majalah itu menerangkan bahwa permulaan puasa pada hari Kamis dan hari raya hari Jumat, maka puasa hanya dilakukan 29 hari. 
Apakah yang demikian itu wajib melakukan qadha atau tidak?
Pertanyaan saya ini semoga bisa segera dibalas. Jangan sampai tidak dibalas. Karena ada kiai yang mewajibkan melakukan qadha. Saya minta keterangan dari kitab, saya juga menjawab bahwa yang puasa sejak hari Kamis dan tidak wajib qadla. 
Ucapan kiai yang mewajibkan qadha sebab tidak menurut awalnya Ramadhan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah: ucapan saya tidak wajib qadha berawal dari tasdiq dari ahli hisab sehingga tadi bulan hanya 29 hari sedang tersebut dalam kitab-kitab orang yang tasdiq terhadap ahli hisab wajib atau boleh melakukan dan juga tersebut dalam kitab Bughyatul Musytarsyidin halaman 109 maka yang melakukan puasa mulai hari Kamis dengan beriktikad jazem terhadap kebenaran ahli hisab. 
Alhaqir Fadil Ibnu Ilyas Tasikmalaya 
Berikut ini Jawaban KH Wahab Hasbullah:


Saya Abdul Wahab berkata: menurut jawaban soal saudara Kiai Fadil yaitu sudah ada keterangan-keterangan di atas tadi. Akan tetapi, tidak menjadi persoalan saya tambahi lagi dengan keterangan sehingga Saudara Kiai Fadil pikiranya tuma’ninah/tenang di belakang, selamat tidak terjadi fitnah.
Tidak kuatir Kiai Fadhil keberadaan keterangan di beberap kitab seperti dalam kitab Safinatun Najah. Jadi, penting sekali bagi orang yang tasdiq terhadap hisab itu wajib melakukan apa itu keterangan hisab dzalikal hisab. Yang jelas ahli hisab sudah meyakinkan terhadap hasil hisabnya. Jadi, Ramadhan tahun 1346 H itu hanya 29 hari. Dan awal puasanya hari Kamis sudah jelas tidak ada kekurangan apa-apa: seumpamanya ingin mengqadla yaitu mengqadla hari yang yang bulan apa, orang yang sebulan Ramadhan dilakukan puasa semuanya. Keberadaan bulan yang hanya 29 hari itu sudah tetap dari dawuhipun (perkataan) rasulullah SAW (asyyahru hakadza hakadza) yakni 30 hari, sesekali tingkatan 29 hari dalam tingkatan yang lain. Pada masalah sebulan Rasulullah berkata (sesungghuhnya Ramadhan itu 29 hari) dan perkataan lagi ( bulan itu 29 malam) keterangan dalam hadits Bukhori dan lagi Rasulullah sudah berkata (Islam dibangun atas lima perkara) hingga perkataan (puasa romadhan) tidak menggunakan perkataan 30 hari. Jadi jawabanya sudah puasa sebulan Ramadhan sempurna sudah cukup sama dengan bulan (30 hari) atau (29 hari).

(Abdullah Alawi)

Selasa 31 Juli 2018 19:30 WIB
Silisilah Ajengan Unung, Tokoh NU Tasikmalaya, Terhubung dengan Hadratussyekh
Silisilah Ajengan Unung, Tokoh NU Tasikmalaya, Terhubung dengan Hadratussyekh

Di dalam buku A. E. Bunyamin Nahdlatul Ulama di Tengah-tengah Perjuangan Bangsa, NU ke Tasikmalaya diperkenalkan Ajengan Fadil sekitar 1928. Ia merupakan seorang kiai dari daerah Cikotok (sekarang masuk wilayah Kabupaten Ciamis) yang kemudian menetap di daerah Nagarawangi (Tasikmalaya). NU berdiri pun dimulai dari rapat di rumah Ajengan Fadil.

Di antara ajengan yang pertama kali turut menjadi penggurus NU adalah KH Ahmad Qulyubi atau disebut Ajengan Unung. Silsilah nasab leluluhur Ajengan Unung, di dalam buku Ringkasan Riwayat Hidup KH O. Qolyubi yang ditulis putranya KH Ahmad Thabibudin pada 27 November 1955, terhubung dengan pendiri NU, Hadratussyekh KH Hasyim Ays’ari.

Berikut silisilah Ajengan Unung:

Ajengan Unung bin Abdulghani (Asiam atau Icong), bin Natawijaya (Bapa Lijam) , bin Iskin bin Katam Jiwaraga (Aki Dukun) bin Kiai Raden Mas Narawulan (Bagus Jamri, putra Dalem Suniawenang Cineam, Tasik) bin Rd. Mas Sutanagara di Sukasindang, Setia Mulya bin Rd. Mas Wisonajaya bin Rd. Mas Prabu Singajiwakusumah, {kuburannya di Cipajaran, Tamanjaya (Gobras), Cibereum, Tasikrnalaya}. Rd. Mas Rangsang (Rd. Mas Cakrakusumah), Sultan Mataram anu gelarannana: Kanjeng Sultan Agung Senapati Ing Alaga Abdurrohman Sayyidin Panatagama. Rd. Mas Jolang (Panembahan Seda Krapyak), Sultan Mataram, bin Sutawijaya, Senapati Adiwijaya/Kepala Pasukan Pengawal Sultan Adiwijaya (Jakatingkir) di Pajang bin Kiai Ageng Pamanahan, Kepala daerah Mataram/Kepala Pasukan Pengawal Sultan Adiwijaya. 

Di dalam buku tersebut menyebutkan bahwa silsilah itu bisa dilanjutkan dengan menukil silisilah KH Abdul Wahid Hasyim Tebuireng, Jombang. Kiai Ageng Ngluwihan Solo Kiai Ageng Sela Kiai Ageng Soba.

KH A. Qulyubi dilahirkan di kampung Madewangi, Tasikmalaya sekitar tahun 1891 M. Pernah menimba ilmu di Tanah Suci Makkah pada 1912 hingga 1916.

Terkait dengan NU, dalam catatan ringkas "Riwayat Ngadegna NU Cabang Tasikmalaya" yang ditulis KH Ahmad Thabibudin tahun 1955 dengan bahasa Sunda, diceritakan KH Fadil dan KH Unung menemui para kiai di Tasikmalaya. Untuk Kiai yang di kota hanya beberapa tempat, kecuali di Singaparna.

Saat NU akan ramai, kolonial Belanda menakuti-nakuti sampai banyak pengurus dan anggota NU menyerahkan kembali kartu NU. Termasuk di Kampung Madewangi (tempat KH Unung) dari 60 orang tinggal 35 orang. Namun, ketika Ketua NU dipegang "Juragan" Ahmad Dasuki, anggota NU kembali banyak. Dan lagi-lagi terus dihalangi Belanda, kemudian banyak yang keluar lagi. 
(Abdullah Alawi)

Selasa 17 Juli 2018 9:0 WIB
Kiai Masyhud, Ulama Keprabon Sang Pecinta Alfiah
Kiai Masyhud, Ulama Keprabon Sang Pecinta Alfiah
Salah satu murid Kiai Masyhud, KH Saifuddin Zuhri, menyebutkan gurunya tersebut sebagai seorang ulama yang ahli di bidang ilmu nahwu. Saking cintanya ia pada ilmu Nahwu khususnya kitab Alfiah, membuat orang menyebutnya sebagai “Kiai Alfiah”.

Kiai Masyhud putra dari Kiai Qosim lahir di Solo pada tahun 1876 M (beberapa sumber menyebutkan tempat lahir di Bonang Lasem Rembang). Ia merupakan anak pertama dari 4 bersaudara.

Nama kecilnya yakni Mustahal, yang kemudian berganti menjadi Masyhud saat ia pergi haji dan belajar di Makah. Nama Mustahal ini pula yang kelak kemudian juga diberikan kepada salah satu putranya, Mustahal Ahmad.

Setelah banyak menimba ilmu agama di beberapa pesantren, di antaranya ia pernah nyantri kepada Kiai Kholil Bangkalan, Masyhud kemudian berangkat ke Makah.

“Mbah Masjhud ini pergi ke Mekkah, ulama seangkatan beliau KH Hasyim Asy’ari, KH Bisri Syansuri. Satu perguruan. Kalau Mbah Masyhud ini lebih memilih Nahwu Shorof, sehingga disebut ulama spesialisasi nahwu,” terang sang cucu, Chalid Mawardi.

Rupanya, kecintaan Kiai Kholil Bangkalan terhadap ilmu nahwu, khususnya bait-bait dari kitab Alfiyah ibnu Maliki, juga ikut menurun kepada Masyhud.

Selepas menimba ilmu di Makah, ia pun kembali ke Tanah Air. Ada sebuah kisah yang dituturkan salah satu cucu Kiai Masyhud, Nasirul Umam, di mana ketika Kiai Masyhud pulang dari Makah ia sempat mampir ke Pesantren Sarang.

“Di Sarang, Mbah Masyhud ninggali kitab, yang kemudian menjadi koleksi perpustakaan di sana,” terang Nasirul Umam.

Mendirikan Pesantren

Kiai Masyhud menikah dengan seorang perempuan asli Kauman Solo, dan kemudian mendirikan rumah di daerah Keprabon. Rumah tersebut kelak populer disebut dengan nama Pesantren Al-Masyhudiah, merujuk pada nama sang pengasuh.

Pada tahun 1912, Kiai Masyhud dikaruniai anak pertama, seorang putri yang kelak akan menjadi tokoh srikandi NU, Mahmudah Mawardi. Di tahun-tahun berikutnya, menyusul kemudian lahir 4 anak, yang kesemuanya putri. Mereka adalah Mahwiyah, Mahsunah, Mahdumah, dan Mahmulah. Hingga akhirnya, dari istri yang pertama ini total mereka dikaruniai 5 putri.

Setelah sang istri meninggal, Kiai Masyhud menikah dengan Nyai Syuaibah, yang dari perkawinan tersebut mereka dikaruniai satu-satunya putra yang diberi nama Mustahal Ahmad. Tercatat, dalam riwayat hidupnya, Kiai Masyhud pernah menikah sebanyak 4 kali dan dikaruniai 6 anak.

Rumah Kiai Masyhud terletak di sebelah timur langgar Keprabon Wetan. Langgar tersebut, pada masa itu juga menjadi tempat tinggal (kos) sekitar 25 santri, termasuk di antaranya Saifuddin Zuhri muda. Selain menjadi tempat tinggal, langgar tersebut berfungsi sebagai tempat belajar. Mereka belajar bersama, berdiskusi, memusyawarahkan berbagai kebutuhan organisasi pelajar ataupun kebutuhan pribadi.

Sedangkan untuk memperdalam ilmu agama, khususnya dalam pelajaran ilmu Nahwu, para santri tersebut belajar kepada Kiai Masyhud. Para santri yang belajar kepada Kiai Masyhud berasal dari dalam Kota Solo maupun di sekitarnya. Adapun kitab yang dipakai sebagai pedoman adalah Alfiah Ibnu Malik, hingga Kiai Masyhud kadang disebut sebagai “Kiai Alfiah”.

Pada zaman itu, para santri, konon mereka yang hendak khataman kitab Alfiyah, rasanya belum afdol apabila belum sowan dan ditashih oleh Kiai Masjhud. “Ilmu yang ia ajarkan mendapat jaminan mutu,” tulis mantan Menteri Agama RI ini, dalam bukunya Berangkat dari Pesantren.

Santri yang pernah mengaji dengan beliau banyak yang kemudian menjadi tokoh, seperti KH Maimoen Zubaer, Mbah Liem, KH Mukhtar Rosjidi, dan lainnya.

Riwayat Perjuangan

Sejak kelahiran NU pada tahun 1926, beberapa ulama di Kota Solo menyatakan dukungannya kepada organisasi tersebut. Tak terkecuali Kiai Masyhud. Banyak faktor yang akhirnya membuat ia mantap memilih NU sebagai organisasi yang diikuti, selain tentunya ia merupakan murid Kiai Kholil Bangkalan serta sahabat karib Kiai Hasyim Asy’ari.

Sebagai seorang ulama, Kiai Masyhud dikenal memiliki pendirian yang tegas dan teguh terhadap agama. Tokoh NU yang juga mantan Ketua PP GP Ansor KH Chalid Mawardi, mengenang kakeknya sebagai pribadi yang memiliki sikap keras terhadap kaum penjajah.

“Cara pandang dia (Kiai Masyhud, pen) terhadap pemerintahan Belanda juga konservatif. Misalnya, ia melarang keturunannya untuk menjadi pegawai pemerintahan (Ambtenaar). Karena (Belanda) itu pemerintahan kafir, jadi sederhana sekali. Tidak mau tunduk kepada pemerintahan kafir,” tutur Chalid.

Sikap ini sejalan dengan kebijakan yang telah digariskan oleh organisasi yang ia ikuti, Nahdlatul Ulama (NU), yang kala itu mengambil sikap non-kooperatif terhadap Belanda.

Sikap antipati yang diperlihatkan NU ini dilakukan dalam bentuk simbolik, semisal mengharamkan anggotanya menyerupai (tasyabbuh) orang Belanda dalam hal berpakaian (memakai celana, dasi, topi, dan sepatu).

Pun ketika para kyai membentuk Barisan Kyai, yang ikut dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa, Kiai Masyhud pun turut di dalamnya. Sifat pejuang serta komitmennya bersama NU ini kemudian menurun kepada putra-putrinya.

Putrinya yang pertama, Nyai Mahmudah Mawardi menjadi salah satu idola kaum perempuan NU, di mana ia pernah menjadi ketua umum Muslimat NU selama delapan periode (1950-1979). Kemudian, putranya Mustahal Ahmad menjadi tokoh pendiri IPNU, PMII, dan bahkan juga ikut membidani berdirinya IPPNU.

Di Pesantren Al-Masyhudiah ini pula yang pernah menjadi saksi lahirnya salah satu badan otonom di kalangan pelajar putri NU. Beberapa santri putri yang ikut mengaji di tempat tersebut, antara lain, Umroh Machfudzoh, Atikah Murtadlo, Lathifah Hasyim, Romlah, dan Basyiroh Saimuri. Mereka inilah yang kelak menjadi para perintis berdirinya IPNU Puteri (sekarang bernama IPPNU).

Sayangnya, masa-masa kelahiran dan perkembangan IPPNU di Al-Masyhudiah pada tahun 1954 tersebut, tidak dapat disaksikan langsung oleh Kiai Masyhud, sebab sang kiai telah wafat empat tahun sebelumnya. Kiai Masyhud wafat pada tahun 1950 dan dimakamkan di Pemakaman Tipes Surakarta. (Ajie Najmuddin)

Sumber :
- Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, (Yogyakarta, LKiS, 2013)
- Wawancara dengan Nasirul Umam (cucu KH Masyhud/putra H Mustahal Ahmad) di Solo, 2014.
- Wawancara dengan KH Chalid Mawardi (cucu KH Masyhud/putra Nyai Hj Mahmudah Mawardi) di Jakarta, 2017.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG