IMG-LOGO
Tokoh

O. Hulaemi, Ajengan Kuntet dari Garasi

Rabu 22 Agustus 2018 6:0 WIB
Bagikan:
O. Hulaemi, Ajengan Kuntet dari Garasi
Kehadiran majalah ini menjadi penting karena di Tasikmalaya pada saat itu terdapat pula kumpulan para ulama yang didukung oleh pemerintah yaitu Perkumpulan Guru Ngaji (PGN) yang didirikan oleh Bupati Tasikmalaya yaitu R.A.A. Wiratanuningrat. Ulama yang ada dalam organisasi ini dikenal juga dengan sebutan ulama Idhar. Ulama Idhar menerbitkan pula majalah yang bernama Al-Imtisal.

Antara ulama NU dan ulama Idhar menujukkan adanya persaingan. Kedua kelompok ulama sering berpolemik dalam hal masalah keagamaan dan politik khususnya dalam kaitan dengan sikap terhadap pemerintah. Persaingan ini nampak dari isi majalah Al-Mawa’idz dan Al-Imtisal yang kadang-kadang terjadi polemik. Dalam majalah Al-Mawaidz nama Pak Emi disamarkan menjadi nama K. Kuntet dari Garage (garasi).

Beberapa orang menyangka nama itu adalah Kiai Buntet dari Cirebon. Padahal nama itu adalah nama samaran yang diberikan oleh Sutisna Senjaya kepada Pak Emi yang berarti kiai pendek, kecil yang ngantor di garasi (garage bahasa Belanda)” karena Al-Mawaidz berkantor menyewa di garasi.

Pak Emi, ketika Sutisna Senjaya diminta para kiai untuk menjadi ketua NU, ia meminta Pak Emi untuk mendampinginya. Ia kemudian menjadi Sekretaris NU Cabang Tasikmalaya di samping mengurusi Majalah Al-Mawaidz. 

Ayah Pak Emi lahir di Beber, Cirebon setelah keluar. Setelah keluar dari Verpoleng (SD zaman Belanda, ayahnya menginginkan dia untukk menjadi pegawai pemerintah. Hal itu berbeda dengan ibunya yang menginginkan Pak Emi menjadi seorang ajengan. 

Keluar dari sekolah pernah bekerja sebagai juru tulis di pabrik pad Cikampek dengan gaji f 15 (lima belas ferak) sebulan, tambah bonus 1 sen saru dacin. Tiap hari bisa mengahasilkan 50 SM 100 dacm. Penghasilannya untung untuk ukuran waktu itu sebab harga beras waktu itu hanya 4 sen/kg, daging 6 sen/kg dan ikan 4 sen/kg. 

Baru beberapa bulan jadi juru tulis di sana kemudian ditarik oleh orang tua lalu dimasukkan ke Pesantren Cihaur, Ciawi Gebang, Kuningan dari tahun 1922 sampai tahun I925. Pindah ke Pesantren Ciwaringin disana sampai tahun 1928. Bulan Rayagung pindah lagi ke Pesantren Cikalang, Tasikmalaya, bulan Jumadil awal menikah di Cikalang tanpa memberitahu orang tua di Cirebon.

Ayahanda agak “bendu” sebab ayahnya sudah punya janji dan akan dikawinkan dengan putri Ajengan Amin, kepada adik yang menikah dengan A. Sanusi Catayan, Sukabumi. 

Waktu pondok di Ciwaringin H. Maemunah IH. Irsyad pemah menitipkan anaknya dan beliaupun membcri bekal. Temyata tahu belakangan beliau ada maksud mengambil mantu kepada Pak Emi, Pak Emi panjang lebar menerangkan tentang istrinya yang besar jasanya dalam meniti karier beliau selanjutnya. (Abdullah Alawi)

Tags:
Bagikan:
Selasa 21 Agustus 2018 3:34 WIB
Kepahlawanan Ajengan Ruhiat Cipasung
Kepahlawanan Ajengan Ruhiat Cipasung
Siang itu, pria berumur 34 tahun pergi ke alun-alun Tasikmalaya. Dia kemudian berdiri tegap di atas babancong, podium terbuka yang tak jauh dari pendopo kabupaten. Ia berpidato, menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan yang sudah diraih bangsa Indonesia cocok dengan perjuangan Islam. 

Menurut dia, kemerdekaan harus dipertahankan dan jangan sampai jatuh kembali ke tangan penjajah. Ia meneriakkan pekik merdeka seraya menghunus pedangnya itu.

Dialah Ajengan Ruhiat, tokoh pertama di Tasikmalaya yang melakukan hal itu, tak lama setelah berita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sampai ke Cipasung. Dialah tokoh NU yang berjuang, bersama kiai-kiai lain untuk membesarkan NU di daerah tersebut. 

Seblumnya, sebagai seorang pejuang, Ajengan Ruhiat dipenjara tak kurang dari empat kali. Pertama, pada tahun 1941 ia dipenjara di Sukamiskin selama 53 hari bersama pahlawan nasional KH Zainal Mustofa. Alasan penahanan ini karena Pemerintah Hindia Belanda cemas melihat kemajuan Pesantren Cipasung dan Sukamanah yang dianggap dapat menganggu stabilitas kolonial. 

Kedua, bersama puluhan kiai ia dijebloskan ke penjara Ciamis. Ia hanya tiga hari di dalamnya karena keburu datang tentara Jepang yang mengambil alih kekuasaan atas Hindia Belanda tahun 1942.

Ketiga, tahun 1944 ia dipenjara oleh pemerintah Jepang selama dua bulan, sebagai dampak dari pemberontakan KH Zainal Mustofa di Sukamanah. Pada saat itu, Ajengan Cipasung dan Sukamanah lazim disebut dua serangkai dan sama-sama aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Keempat, ia dijebloskan ke penjara Tasikmalaya, lalu dipindahkan ke Sukamiskin selama 9 bulan pada aksi polisional kedua tahun 1948-1949, dan dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan. 

Dari beberapa kali penangkapannya, membuktikan bahwa Ajengan Ruhiat sangat tidak kooperatif terhadap penjajah Belanda sehingga sangat dibenci. Sebelum masuk penjara yang terakhir itu, sepasukan tentara Belanda datang ke pesantren pada waktu ia sedang Shalat Ashar bersama tiga orang santri. Tanpa peringatan apapun, tentara Belanda memberondong tembakan. Ajengan Ruhiat selamat, tapi dua santrinya tewas seketika. 

***

Ajengan Ruhiat adalah ayahanda Rais Aam PBNU 1994-1999 KH Ilyas Ruhiat atau kakeknya pelukis dan penyair Acep Zamzam Noor. Dalam NU, Ajengan Ruhiat pernah jadi A’wan Syuriyah PBNU  periode 1954-1956 dan 1956-1959.

Ajengan Ruhiat konsisten memilih jalur pesantren sebagai perjuangan sebagai pengabdiannya, bahkan sebagai tarekatnya. “Tarekat Cipasung adalah mengajar santri,” demikian kesaksian HM. Ihrom, salah seorang pengagum Ajengan Ruhiat dari Paseh, Tasikmalaya. 

Ajengan Ruhiat lahir 11 Nopember 1911 dan wafat 28 Nopember 1977. Hari wafatnya bertepatan dengan 17 Dzulhijjah 1397. 

Kiai Ruhiat masuk NU sekitar tahun 1933 disamping mengelola pesantren. Inovasi pendidikan pesantren Cipasung tampak pada tahun 1935 dengan didirikannya Madrasah Diniyyah. Sekolah agama pertama di Pesantren Cipasung. Selanjutnya, pada tahun 1937 didirikan Kursus Kader Muballighin wal Musyawwirin (KKMM). (Abdullah Alawi)

Jumat 10 Agustus 2018 6:0 WIB
Fajrul Falaakh Perumus Nilai Dasar Pergerakan PMII
Fajrul Falaakh Perumus Nilai Dasar Pergerakan PMII
Mohammad Fajrul Falaakh
Mohammad Fajrul Falaakh, adalah salah satu kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang mempunyai prestasi dalam bidang kajian konstitusi dan hukum tata negara. Ia lahir di Gresik, Jawa Timur, 2 April 1959 dan wafat di Jakarta pada tanggal 12 Februari 2014. 

Fajrul, begitu panggilan akrabnya, menyelesaikan Sarjana Muda Hukum (1981) dan Sarjana Hukum di Fakultas Hukum UGM Yogyakarta pada tahun 1983. Ia kemudian melanjutkan kuliahnya di Near and Middle-Eastren Studies di London School of Oriental and African Studies (1990), dan MSc in Comparative Government/Politics di London School of Economics and Political Science (1997). Dedikasinya sebagai pengajar hukum tata negara membuat dirinya diberikan gelar kehormatan oleh Presiden berupa Satya Lencana pada tahun 2004. 

Selian mengajar, Fajrul juga aktif sebagai anggota Majelis Dewan Kehormatan Pusat Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) sejak 2008; anggota Dewan Penasihat CSIS Jakarta (sejak 2007), Widyaisywara Sesdilu (2006-2008, tentang  Indonesia’s contitutional development), dan anggota Komisi Hukum Nasional RI (sejak 2000). Pengalaman lainnya menjadi anggota  Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (2007), anggota Komisi Konstitusi (MPR-RI 2003-2004), Wakil Dekan Dekan Bidang Akademik FH UGM (2001-2004), Ketua PBNU (2004-2009).

Fajrul dalam kalangan akademisi Hukum Tata Negara sangat dihormati karena selalu memberikan ide-ide dan gagasan terhadap kelembagaan dan ketatanegaraan di Indonesia. Oleh karena itu banyak sahabat, akademisi dan masyarakat Indonesia merasa kehilangan ketika Fajrul meninggal. Jimly Asshiddiqie menyebut, Fajrul bukanlah sekedar sarjana kata-kata yang kini banyak beredar di Indonesia. Dia pemikir sekaligus aktivis. Dia out of the box dan tak terpaku dengan hukum positif. Ada moral dan political reading of contitution dalam setiap pemikirannya. Sulit untuk menjadi seorang pemikir hukum tata negara. Karena selain mampu membaca teks-teks hukum, dia juga harus bisa menyeimbangkannya dengan ruh-ruh keadilan. Fajrul sudah mampu melakukannya. 

Selain terkenal dalam dunia Hukum Tata Negara sosok Fajrul juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap PMII, karena Fajrul adalah salah satu perumus Nilai Dasar Pergerakan (NDP). Secara esensial NDP yang dirumuskan oleh Fajrul bersumber dari nilai keislaman dan keindonesiaan dengan kerangka pemahaman keagamaan Ahlussunnah wal Jama’ah yang menjiwai berbagai aturan, memberi arah dan mendorong serta penggerak kegiatan-kegiatan PMII. Dalam merumuskan NDP PMII, Fajrul membutuhkan waktu sampai dengan 15 tahun yang finalisasinya pada forum Kongres IX di Surabaya. Ini adalah bentuk kehati-hatian dan kecermatan yang dilakukan oleh Fajrul.

Pemikiran Hukum Tata Negara

Tidak hanya dalam kalangan PMII, Fajrul juga memberikan kontribusi dan pengaruhnya pada bidang Hukum Tata Negara. Ide-idenya banyak diterapkan dalam sistem ketatanegaraan di Indonesia. 

Negara dan konstitusi adalah dua lembaga yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Konstitusi mendahului setiap pemerintahan, karena konstitusi menentukan kewenangan dan memberikan kepada pemerintah, hak untuk melaksanakan kekuasaannya. Di sisi lain, konstitusi juga mengatur hak-hak dasar dan kewajiban tiap-tiap warga negaranya.

Keistimewaan suatu konstitusi terdapat dari sifatnya yang mulia dengan mencakup kesepakatan-kesepakatan tentang prinsip pokok organisasi negara serta upaya pembatasan kekuasaan negara. Kemuliaan konstitusi itu pulalah yang menjadikannya sebagai fundamental law dan the higher law karena wujudnya yang dapat dipersamakan dengan suatu piagam kelahiran suatu negara baru (a birth certificate).

Dalam konstitusi, terdapat pula cakupan pandangan hidup dan inspirasi bangsa yang memilikinya. Itulah yang menjadikan konstitusi sebagai dokumen hukum yang sangat istimewa dan sebagai sumber hukum yang utama, sehingga tidak boleh ada peraturan perundang-undangan yang boleh bertentangan dengannya.

Sebagai upaya untuk terus membangun kesadaran berkonstitusi bangsa Indonesia dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara ke arah yang semakin baik lagi, Pemerintah Republik Indonesia melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 2008 telah menetapkan tanggal 18 Agustus sebagai Hari Konstitusi Indonesia. Banyak kalangan yang akrab dengannya melalui berbagai artikel yang ditulisnya di koran. Mereka mengagumi alur pikirnya yang jernih, tanpa emosi, mengalir bagaikan air, tajam bagaikan pisau.

Dalam tulisannya yang berjudul Beberapa Gagasan untuk penyempurnaan Amandemen UUD 1945, Fajrul memberikan gambaran tentang sejumlah 'masalah' yang dapat menjadi agenda penyempurnaan atau amandemen kembali UUD 1945. Hal yang menjadi 'masalah' antara lain mengenai Presidensialisme, Yudisial (independensi dan akuntabilitas kekuasaan kehakiman), Sistem Parlemen DPR-DPR, khususnya posisi DPD dalam konteks bikameral. Bagi Fajrul, penyempurnaan terhadap hasil amandemen tak dapat dielakkan, tetapi waktunya tidak dapat diperkirakan. Masalahnya bukan memperkirakan, melainkan kapan MPR melakukannya.

Apa yang digelisahkan Fajrul Falaakh atas belum sempurnanya amandemen UUD 1945 tersebut sejauh ini masih sangat relevan. Terlebih persoalan amandemen terhadap UUD 1945 terus mendapatkan kritik dan upaya-upaya untuk kembali pada UUD 1945 yang asli. (Aldiansyah/Kendi Setiawan)

.

Jumat 3 Agustus 2018 21:0 WIB
Kiai Abu ‘Amar, Cucu Panglima Perang Jawa dan Penerus Kemasyhuran Jamsaren
Kiai Abu ‘Amar, Cucu Panglima Perang Jawa dan Penerus Kemasyhuran Jamsaren
Pada tanggal 3-6 Maret 1954, Menteri Agama KH Masykur menyelenggarakan Konferensi Ulama di Cipanas, Bogor. Konferensi yang antara lain menelurkan keputusan pemberian status Waliyyul Amri Dlaruri bis Syaukah kepada Presiden Soekarno ini menjadi penting, sebab selain menjadi titik temu pembahasan persoalan wali hakim nikah, juga mempertegas sikap mayoritas umat untuk tidak mendukung tindakan makar DI/TII, yang hendak merongrong keutuhan bangsa.

Pertemuan itu dihadiri oleh para ulama yang amat berpengaruh, dari hampir seluruh provinsi kecuali Yogyakarta. Mereka di antaranya ialah: KH Abdurrahman Marasabessy (Maluku), KH Abdurrahman Ambo Dale (Pare-pare), KH Mahrus Ali (Kediri), KH Tubagus Ahmad Khatib (Banten), KH Zuber (Salatiga), KH Abu ‘Amar (Solo), dan lain-lain.

Dari beberapa nama tersebut, turut hadir satu nama ulama dari Kota Solo, yakni KH Abu ‘Amar. Dari data awal inilah, penulis kemudian mulai tertarik untuk mencari keterangan tentang tokoh yang juga disebutkan dalam Muktamar NU ke-X di Surakarta pada 13-19 April 1935 M / 10-15 Muharram 1354 H.

Pada awal pencarian data dengan menulis kata kunci di google, penulis sempat menemukan artikel berjudul Laporan penelitian dan penulisan biografi KH Abu Amar di Provinsi Jawa Tengah yang ditulis oleh Rosihan Anwar dan Chairul Fuad Yusuf. Tulisan tersebut dipublikasikan oleh Balitbang Departemen Agama tahun 1987. Sayangnya, ketika dikonfirmasi ke Balitbang Kemenag, tulisan tersebut tidak dapat ditemukan.

Proses pencarian data kemudian berlanjut dengan mengumpulkan sejumlah keterangan dari hasil wawancara dengan sejumlah narasumber, kemudian dari beberapa buku, dan yang terpenting, yakni sebuah arsip yang ditulis oleh salah satu putra beliau, KH M. Bilal.

Darah Pejuang

Kiai Abu ‘Amar, yang memiliki nama kecil Slamet Abdul Kholiq lahir di Desa Pengkol, Kaligawe, Pedan, Klaten. Ia merupakan keturunan dari para ulama pejuang. Ayahnya bernama Kiai Abdul Ghoniy bin Kiai Maulani bin Kiai Muqoyyad bin Kiai Muqdi (Mukowi) bin Kiai Fatuhuddin Makam Gumantar.

Kakek buyut Kiai Abu ‘Amar, Kiai Muqoyyad, merupakan seorang panglima perang yang ikut berperang bersama Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830) dan mendapatkan julukan Singawaspada. Di daerah Klaten, ia berjuang bersama Kiai Imam Rozi Singamanjat Tempursari Klaten. Kiai Muqoyyad yang memiliki senjata bernama “Kyai Royyan” gugur dan dimakamkan di Juwiring.

Sedari kecil, Abu ‘Amar mendapatkan pendidikan agama dari sang ayah, yang kemudian diperdalam dengan nyantri ke sejumlah pesantren, di antaranya Pondok Ngadirejo Klaten di hadapan Kiai Haji Ahmad. Kemudian, berpindah ke Pesantren Jenengan Sala yang diasuh Kiai Haji Fadil Katib Arum.

Sempat nyantri di Kediri Jawa Timur, selanjutnya ia belajar di Pesantren Jamsaren Solo yang kala itu diasuh Kyai Muhammad Idris. Kemudian pindah ke Yogyakarta mengaji kepada Kiai Haji Mudzakkir (ayah KH Kahar Mudzakkir) untuk menghafal Al-Quran.

Setelah dari Yogyakarta, ia kembali ke Pesantren Jamsaren, yang masih diasuh Kyai Idris, selain itu ia juga bersekolah di Madrasah Mambaul Ulum yang dipimpin oleh kepala sekolah Kiai Haji Bagus Ngarfah.

Sanad Keilmuan

Setelah melanglang buana, mengaji ilmu ke berbagai guru, ia pergi ke Makah untuk memperdalam ilmunya sekaligus menunaikan ibadah haji. Namun, sebelumnya ia telah dinikahkan dengan salah satu putri Kiai Idris dan dikaruniai beberapa anak.

Saat berangkat ke Mekah, Kiai Abu ‘Amar sudah dikaruniai 3 orang anak (1. Belum sempat diberi nama, 2. Badrul Ma’ali / M. Hilal, dan 3. Ali Darokah)

Selama tiga tahun tinggal di Makkah, Kiai Abu Amar mengaji kepada Syaikh Nahrowi (ulama asal Banyumas, yang menjadi Mursyid Thariqah Syadziliyah dan Mufti di Haramain). Ada kemungkinan besar, pergantian nama Kiai Abu Amar, yang memiliki nama kecil Slamet Abdul Kholiq, tabarukan dari nama salah satu saudara Syaikh Nahrowi, yang juga bernama Abu ‘Amar.

Di Tanah Suci, selain berguru kepada Syaikh Nahrowi, ia juga belajar kepada Kiai Haji Mahfud, dan Syekh Abdulkarim Al-Bagistaniy.

Rupanya, setelah belajar di Makah pun, sekembalinya ke Indonesia, Kiai Haji Abu ‘Amar kembali diperintahkan Kiai Idris untuk mondok ke Watucongol Muntilan mengaji Bukhari Muslim kepada Kiai Abdurrahman bin Abdurrauf, dengan pesan langsung dari Kiai Idris: “aku durung tau ngaji kitab Bukhari Muslim, kowe ngajiya (Aku belum pernah mengaji kitab Bukhari Muslim, maka kajilah (kitab itu) !”

Perintah itu kemudian dilaksanakan Kiai Abu Amar, dengan mengaji di hadapan Kiai Abdurrahman dengan sistem sorogan, yang kemudian diberi ijazah sebagaimana biasa.

Dari beberapa riwayat atau sanad keilmuan yang telah ditempuh, dimulai dari KH Ahmad Ngadirejo Klaten, Kiai Idris, serta Syekh Nahrowi maka dapat dikatakan Kiai Abu Amar ini selain dikenal sebagai ulama yang alim khususnya di bidang tauhid (Saifuddin, 2013), juga merupakan penganut Thariqah Syadziliyyah.

Mertua Kiai Abu Amar, Kiai Idris juga dikenal sebagai seorang mursyid Thariqah Syadziliyah yang kemudian diturunkan kemursyidannya kepada Kiai Abdul Muid Tempursari Klaten, dilanjutkan kepada Kiai Ma’ruf Mangunwiyata pengasuh Pesantren Jenengan Solo.

Meski demikian, sampai tulisan ini dimuat, penulis belum bisa menemukan dari jalur mana, Kiai Abu Amar mengambil baiat thariqah.

Riwayat Perjuangan

Setelah banyak belajar di berbagai tempat, ia mulai menetap di rumah Jamsaren. Setiap harinya ia bekerja sebagai magang abdi dalem keraton, yang bertugas di Kepatihan untuk membaca Al-Quran dengan pakaian seragam berkain panjang, berbaju hitam, berkeris, berkepala ikat-ikatan.

Sembari mengajar, ia juga berdagang dengan membuka toko kitab yang dipelajarkan di Jamsaren, serta berbagai barang kebutuhan rumah tangga, seng bekas dari pabrik kayu bakar dan nila dari Tebuireng. Dari relasi ini pula, kemudian dibangun hubungan erat dengan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, yang berlanjut hingga perjuangan bersama di Nahdlatul Ulama (NU).

Pada tahun 1923 Kiai Muhammad Idris wafat. Maka, pihak keraton meminta Kiai Abu Amar untuk menggantikannya sebagai wedana guru. Namun, karena merasa belum sanggup untuk mengembannya, tugas tersebut ditolak oleh Kiai Abu Amar. Posisi wedana guru kemudian diterima oleh KH Muhsan, dan selanjutnya diserahkan kepada Kiai Abdul Jalil (Raden Ngabehi Prajawiyata Al-Jamsari).

Namun, beberapa waktu kemudian, pihak keraton kembali memanggil KH Abu Amar untuk menjadi ulama Masjid Agung dan kemudian tugas tersebut diterimanya. Ia kemudian mendapat gelar Raden Ngabehi Darma Tenaya Abdi Dalem Matri, selanjutnya dinaikkan menjadi khatib diberi gelar Raden Ngabehi Darmadiputra Abdi Dalem Panewu.

Perjuangan hidupnya, memang lebih banyak tercurah pada bidang pendidikan. Di samping mengajar bagi penghafal Al-Quran di Keraton dan khutbah di Masjid Agung, ia juga bercocok tanam di kebun samping rumah dan di daerah Ngruki. Selain itu, ia juga mengajar tafsir Al-Quran di beberapa masjid, dan kitab Ihya Ulumuddin.

Di bidang organisasi kemasyarakatan, Kiai Abu Amar ikut menjadi pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Solo. Bersama sejumlah tokoh ulama, antara lain Kiai Masyhud Keprabon, Kiai Dimyati Al-Karim Mangkunegaran, Kiai Siradj Panularan, Kiai Raden Mohammad Adnan dan lain-lain. Pada tahun 1935, Kota Solo bahkan diberi kepercayaan untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Muktamar NU kesepuluh.

Hingga akhir hayatnya, dari 3 istri yang ia nikahi, Kiai Abu Amar dikaruniai 21 anak (10 laki-laki dan 11 perempuan). Kiai Abu Amar wafat pada Senin 3 Jumadilakhir 1385 H / 29 Agustus 1965 M dan dimakamkan di Makamhaji Pajang.

Sepeninggal Kiai Abu ‘Amar, estafet pengasuh Pesantren Jamsaren kemudian diserahkan kepada salah satu putranya, KH Ali Darokah (wafat 1997). Sedangkan salah satu putrinya yang bernama Nyai Hj Umul Kirom diperistri KH Abdussomad Nirbitan (salah satu tokoh NU Solo, sejak tahun 1930-an). Kiai Abdussomad bersama KH Imam Ghozali, dan KH As’ad inilah yang kemudian merintis berdirinya Madrasah Al-Islam Surakarta.

Hingga sekarang, Pesantren Jamsaren dan Madrasah Al-Islam, masih tetap eksis keberadaannya dan semoga menjadi jariyah bagi para pendahulunya. Lahumu al-fatihah!

Ajie Najmuddin, anggota LTN-NU Boyolali


Rujukan:
Muhammad, Bilal. Riwayat Hidup Bapak Kyai H Abu ‘Amar. Solo. tanpa tahun.
Saifuddin, Zuhri. Berangkat dari Pesantren. Yogyakarta: LKiS. 2013.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG