IMG-LOGO
Fragmen

Kilas Balik 1962 (1): Menyambut Jenderal Maut

Rabu 29 Agustus 2018 11:0 WIB
Bagikan:
Kilas Balik 1962 (1): Menyambut Jenderal Maut
Arsip istimewa
Bagi politisi Partai NU, KH Zainul Arifin, tahun 1962 merupakan tahun yang penuh dengan dinamika politik selain momen di mana Indonesia juga menjadi tuan rumah Asian Games ke-4 saat itu. Memasuki tahun kedua sebagai Ketua DPRGR, beberapa agenda kenegaraan harus dijalaninya diselingi insiden percobaan pembunuhan terhadap Presiden.

Mulai dari menerima tamu negara wakil presiden Mesir Jenderal Abdul Hamid Amir bulan Januari, percobaan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno dalam Tragedi Sholat Idul Korban Berdarah 14 Mei 1962 hingga  menghadiri Upacara Asian Games keempat yang dituanrumahi Indonesia pada Agustus.

Jenderal Wapres

Awal Januari 1962 Wapres Mesir Abdul Hakim Amir mengadakan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Di bandara Kemayoran ketibaan jenderal mantan panglima militer flamboyan ini disambut langsung oleh Menteri Pertama Ir H Juanda diiringi upacara kehormatan militer.

Abdul Hakim Amir merupakan tokoh jenderal yang berperan menggulingkan Raja Farouk lewat kudeta militer pada 1952, mengakhiri era monarki serta membawa Jenderal Muhammad Najib dan Kolonel Gamal Abdul Nasser ke puncak pemerintahan Mesir. Atas jasanya ini Amir kemudian dianugrahi kenaikan pangkat sampai 4 tingkatan agar dapat ditetapkan sebagai Pangab.

Enam tahun sebelum kunjungannya ke Indonesia, Amir memimpin pasukan Mesir dalam Perang Suez tahun 1956 melawan pasukan Israel yang dibantu tentara sekutu Inggris-Perancis.

Bersulang dan Pil Racun

Dari Kemayoran, wapres Abdul Hakim Amir diantar ke Istana Negara dimana Sukarno sudah menanti untuk menyambutnya sebagai tamu negara di Istana kepresidenan. Malam harinya diadakan jamuan kenegaraan dilanjutkan malam kesenian yang dihadiri Ketua DPR dari NU KH Zainul Arifin.

Dalam sambutannya ketika jamuan kenegaraan berlangsung, Presiden Sukarno mengajak seluruh hadirin untuk bersulang guna menghormati tamu negara.

Menarik untuk disimak, lima tahun sesudah kunjungannya ke Jakarta itu Jenderal Abdul Hakim Amir mengomandani Perang Enam Hari pada 1967 melawan Israel yang berakhir dengan kekalahan di fihak pasukan Mesir. Celakanya, militer Mesir menimpakan kekalahan sebagai kesalahan Amir.

Hal ini membuat Amir depresi. Puncaknya adalah ketika Abdul Hakim Amir dan puluhan jenderal militer dan dua menteri dituduh berencana makar terhadap pemerintahan Nasser membuat mereka ditangkap serta dikenakan tahanan rumah. Amir kemudian menelan banyak pil racun beberapa saat sebelum para petinggi militer mendatangi rumahnya untuk menyeretnya ke pengadilan.

Versi lain sejarah Mesir mengungkap para petinggi militer itu memberi Amir dua pilihan: diseret ke pengadilan dan divonis hukuman mati atau membunuh dirinya sendiri dengan meminum pil racun. Abdul Hakim Amir memilih yang kedua. Dia meninggal dalam usia 48 tahun dan dikuburkan di desa kelahirannya di Astal, Mesir.

Ario Helmy, penulis buku "KH Zainul Arifin Pohan, Panglima Santri: Ikhlas Membangun Negeri" (2015)
Tags:
Bagikan:
Senin 27 Agustus 2018 15:0 WIB
Tuan Syekh Djalaluddin Pane Parsambilan dan Gerakan Aswaja di Tapanuli (2)
Tuan Syekh Djalaluddin Pane Parsambilan dan Gerakan Aswaja di Tapanuli (2)
(Foto: pixabay)
Kaum Padri dan Ja Mangilat
Tuanku Rao (nama asli Syamsul Bahri yang bergelar Bagindo Sali) dalam memperluas kekuasaan Kaum Padri di daerah Tapanuli tidak berjalan sendiri. Ia memercayakannya kepada mantunya, Pongki Nangolngolan Sinambela. Tuan Rao sendiri tetap berada di Benteng Rao.

Banyak para penulis sejarah yang menyatakan bahwa Tuanku Rao adalah Pongki Nangolngolan Sinambela (seterusnya ditulis dengan Pongki Nangolngolan). Saya mengikuti pendapat Ender Pane dan sumber lainnya yang menyatakan bahwa Tuanku Rao bukanlah Pongki Nangolngolan. Keduanya adalah dua sosok yang berbeda.

Dalam perjalanannya, Pongki Nangolngolan tidak hanya bermaksud menyebarkan ajaran Islam kepada orang-orang Tapanuli yang masih menganut agama leluhur dan menghilangkan tradisi mengorbankan manusia untuk persembahan, tetapi mempunyai misi tersembunyi karena ingin membalas dendam, yaitu membunuh paman kandungnya sendiri, Si Singamangaraja X di Bakkara, Tapanuli Utara.

Pongki Nangolngolan menaruh dendam karena ia adalah kemenakan Si Singamangaraja X yang orang tuanya dan dirinya diusir dari Bakkara dan terdampar di tanah Rao. Perjalanan yang dilatarbelakangi balas dendam ini terjadi dari tahun 1825 sampai 1829 dan Si Singamangaraja X berhasil dibunuh oleh Pongki Nangolngolan.

Pasukan Rao di bawah kepemimpinan Pongki Nangolngolan bergerak seperti air bah yang tumpah. Orang pribumi menyebut perang dengan Kaum Paderi ini dengan sebutan ”Porang Monjo” (perang melawan Orang Bonjol) atau ”Porang Pidari” (perang melawan orang Paderi). Pasukan ini terus  bergerak ke Sipirok, Simangambat, Pangaribuan, dan terus ke wilayah-wilayah di Tapanuli Utara. Dalam perang ini, banyak pribumi yang masih menganut animisme kemudian memeluk Islam.

Dua tahun sebelum Pongki Nangolngolan berdakwah dengan kekerasan di daerah Tapanuli, yaitu tahun 1823 di Desa Paran Padang, Sipirok, Tapanuli Selatan lahir seorang anak laki-laki. Ia diberi nama Jalo, artinya ”anak pertama”, yang kelak dikenal sebagai Tuan Syekh Djalaluddin Pane gelar Tuongku Sutan Pane Parsambilan.

Dalam bahasa Tapanuli Toba, Jalo dilafalkan dan dituliskan dengan Jolo yang berarti “anak pertama”. Menurut Doangsa P.L. Situmeang di dalam bukunya yang berjudul Nama Etnis Batak Toba, setiap wilayah (di Tapanuli) memiliki penekanan serta dialek yang berbeda. Namun, kita tidak akan menemukan nama orang Tapanuli asli (bukan dari Islam atau Kristen) yang dimulai dengan huruf c, f, k, q, v, w, x, y, z, karena abjad tersebut tidak ada dalam aksara Tapanuli. Dialek setempat kadang kala berbeda dengan tempat lain. Abjad yang paling sering berubah karena dialek adalah huruf a menjadi o, misalnya Bonar menjadi Bonor, begitu pula Jalo menjadi Jolo.

Jalo adalah putra tunggal Ja Mangilat, cucu dari Ompu Ja Galanggang I yang membuka perkampungan Paran Padang. Jalo dan leluhurnya bermarga Pane  yang berasal dari pomparan (keturunan) Datu Mangantar Bilang di Sibadoar, Sipirok, Tapanuli Selatan yang berasal dari keturunan Ompu Raja Pane di Lobu Lancat. Dalam Tarombo (silsilah) marga Pane di Paran Padang tertera Putra Ompu Ja Galanggang I ada lima orang, yaitu Ja Naek, Ja Moppo, Ja Pattis, Ja Mangilat, dan Ja Panggorean. Kelima anak Ompu Ja Galanggang I ini terkenal dengan kemampuan mereka membangun benteng pertahanan gerbang bambu berduri di desa Paran Padang bagian hulu.

Ayah, paman, dan kakek Jalo masih kuat menganut paham Pelbegu (animisme) seperti pada umumnya orang Tapanuli waktu itu, paham yang menjadi sasaran Kaum Padri untuk dihilangkan dan diislamkan penganutnya. Belum saja Jalo bisa berjalan, belum juga berumur tiga tahun, Pongki Nangolngolan dan pasukannya telah sampai di desanya untuk mengislamkan semua penduduk desa dengan paksaan, mendatangi setiap orang dan menanyakan, ”Tobet (bertobatlah!). Apakah mau masuk agama Islam?” 

Jika ada yang menentang, akan diperangi dan si penantang akan ditanya sekali lagi sambil memperlihatkan pedang yang terhunus, ”Tobet?” Kalau si penantang masih tetap pada pendirian semula, tidak bersedia menerima anjuran masuk agama Islam karena merasa lebih takut terhadap begu-begu yang dipuja, maka orang seperti ini bagi pasukan Rao tidak akan diampuni. Langsung dieksekusi di tempat dengan leher terputus.

Namun, untuk mengeksekusi orang Tapanuli yang berani menentang bahkan menantang tidaklah mudah. Biasanya si penantang punya ilmu tinggi, termasuk ilmu kebal yang hampir tidak mungkin ditaklukan oleh orang di luar Tapanuli. Hanya orang Tapanuli sendiri yang berilmu juga yang mampu melumpuhkan. Hal ini yang menjadi salah satu alasan Kaum Padri di Sumatera Barat memilih orang Tapanuli Muslim di Kaum Padri untuk berperang menyebarkan Islam di seluruh daerah Tapanuli, seperti Pongki Nangolngolan. Bahkan disinyalir sebagian besar tentara Pongki Nangolngolan merupakan orang-orang Tapanuli asli hasil rekrutan dari daerah-daerah yang ditaklukan di Mandailing, Angkola, dan Sipirok yang sekali lagi memang direkrut dan dipersiapkan untuk misi akhir, yaitu ke Bakkara membunuh Si Singamangaraja X. Sebagai buktinya, sebagian besar tentara Pongki Nangolngolan tersebut berbicara dalam bahasa Tapanuli.

Salah satu penantang itu ada di desa Paran Padang yang tengah kedatangan pasukan Pongki Nangolngolan. Dia adalah Ja Mangilat, anak dari Ompu Ja Galanggang I, ayah dari Jalo. Dibandingkan saudara-saudaranya, Ja Mangilat memilki kelebihan fisik, ilmu kanuragan (ilmu kebal, dan lain-lain) yang diwariskan oleh Ompu Ja Galanggang I dan mendapatkan titisan keberanian serta kebesaran dari Datu Mangantar Bilang yang meresap secara utuh di dalam jiwanya.

Berputih mata pantang mundur menghadapi maut, berani mati asal saja tidak melanggar tumbal yang dipuja terhadap roh nenek moyang. Inilah alasan penentangan dan penantangan Ja Mangilat terhadap Pongki Nangolngolan dan pasukannya yang berjubah putih dan sedang menyerang di sekitar daerah Sipirok sambil berteriak-teriak, ”Tobet, tobet, tobet...”.

Saat itu, Ja Mangilat sedang berada di sebatang pohon beringin di Sidodangdodang, di tepi pekan (pasar) yang didirikan oleh ayahnya. Kawasan pekan ini dijadikan Ja Mangilat sebagai kubu pertahanan sesuai dengan anjuran ayahnya. Pekan Sidodangdodang itu hanya merupakan tanah lapang dan hanya didirikan satu-dua gubuk beratap ilalang tanpa dinding. Terletak di ketinggian tanah di dekat jembatan Siduadua.

Pribumi berpekan di tempat itu seminggu sekali setiap hari Senin. Umumnya mereka hanya tukar-menukar barang keperluan sehari-hari. Ada juga tukar-menukar dengan alat-alat besi untuk keperluan pertanian, yaitu parang, cangkul, pisau, dan sabit. Kerbau atau kuda dijual dengan cara berdiri sambil berbisik-bisik meraba jari untuk menentukan harga penjualan. Kemudian si pembeli juga mengisyaratkan jari dalam tawaran. 

Pada masa itu, pekan Sidodangdodang sengaja didirikan oleh Ompu Ja Galanggang untuk menjaga perdamaian dan mencegah pertikaian antara pomparan Ni Ompu Ha Tunggal Raja Sipirok dan pomparan Ni Ompu Parlindungan Raja Baringin dan juga terhadap pomparan Ni Saur Matua Raja Parau Sorat. Ketiga raja ini bersaudara, sama-sama bermarga Siregar namun sering bertikai karena masing-masing mau memperlihatkan kekuasaannya. Pada masa kemudian, pekan ini ditutup oleh Belanda setelah membentuk kepala Kuria di Sipirok, Baringin, dan Parau Sorat dan pekan dipindahkan ke Pasar Sipirok yang dibuka pada Hari Kamis.

Setelah bertahan, terkepung, Ja Mangilat kemudian bersembunyi di kampung pemukiman Ompu Ja Galanggang I yang pada masa itu bertempat di Lobu yang memiliki telaga Palakka Gading. Telaga itu menjadi sumber mata air yang sekaligus sebagai tempat tumpuan pemujaan terhadap begu roh nenek moyang. Sambil menggendong putranya, Jalo yang masih kecil dan belum bisa berjalan, ia tetap waspada sambil terus mencari-cari informasi tentang keberadaan Pongki Nangolngolan dan pasukan padrinya.

Terakhir ia mendengar bahwa masyarakat yang tinggal di  daerah-daerah yang dilalui pasukan Padri tersebut telah banyak yang memeluk agama Islam. Pongki Nangolngolan dan pasukannya. Sambil meminang dan mencium Jalo, air mata Ja Mangilat berlinang-linang di tempat persembunyian tersebut. Setelah merenung, kemudian Ja Mangilat berucap,”Ale Ompung, muda na denggan do uga mo silom naro i, lehen ma gogo dohot hasa nggapan tu anakku si sada-sada on. Gonanan do au mate rap-rap dohot ho ompung.” (Oh nene, roh nenek moyang-, kalau memang bagus agama Islam yang datang itu, berikanlah kekuatan dan wibawa kepada putra tunggalku ini. Lebih baik aku mati bersama engkau nek...).

Setelah itu, Ja Mangilat bangkit dan bersama seorang pengiringnya ia tampil untuk menghadapi pasukan Rao yang sedang mengadakan pengepungan. Begitu ia keluar dari persembunyian, ia langsung dihadang oleh pasukan Pongki Nangolngolan yang sudah siap untuk menyerangnya dengan mengayun-ngayunkan pedang.

Ja Mangilat yang memiliki ilmu kebal tidak tinggal diam begitu saja. Ia bertekad untuk membunuh paling sedikit sepuluh orang musuh sebelum ia tertangkap. Ini terbukti karena ada sekian jumlah orang dari pasukan Rao yang tumbang, terkapar berlumuran darah. Namun jumlah lawan yang begitu banyak, akhirnya tidak dapat dihadapi oleh Ja Mangilat.  Ia pun tertangkap, tangannya diikat dan dihadapkan kepada Pongki Nangolngolan yang sedang memegang pedang di tangan.

Untuk beberapa saat keduanya saling berpandangan, membisu. Saat itu, Pongki Nangolngolan menyadari bahwa di dalam darah Ja Mangilat mengalir suatu kekuatan jiwa yang sulit ditandingi. Kekuatan jiwa itu sejajar dengan bentuk postur tubuh Ja Mangilat yang tegap dan kekar. Melihat hal itu, Pongki Nangolngolan berkeinginan untuk mengajak Ja Mangilat masuk Islam, menjadi sahabat, dan bersama-sama berjuang menjadi bagian dari pasukannya meneruskan perjalanan ke Bakkara.

Terjadilah dialog dalam bahasa Tapanuli,”Ra do ho tobet?” tanya Pongki Nangolngolan berusaha mempengaruhi Ja Mangilat. Namun, Ja Mangilat menggeleng-gelengkan kepala, matanya menatap tajam lawan bicaranya dengan tubuh dibasahi peluh. ”Dan tela porsea tu begu, holan Allah do sombaon.” (Tidak bagus percaya kepada begu, hanya Allah yang patut disembah), sambung Pongki Nangolngolan lembut. Ja Mangilat menimpali seraya menunjukkan jari ke arah putra tunggalnya, Jalo, yang sedang digendong oleh salah seorang penggiringnya, ”Molo dengan do ugamo Silom i, lehenma gogo tu anakki.” (Kalau memang bagus ajaran agama Islam itu, berikanlah kekuatan terhadap anakku itu).

Keduanya memang sama-sama memiliki ilmu kesaktian. Ja Mangilat memiliki ilmu ”Panihat dan Pakko Sikkam” (ilmu tangkal begu jembalang dan ilmu kebal). Sedangkan Pongki Nangolngolan memiliki Batu Wasit ”Pungga Omasan dan Tintin Tumbuk” (benda wasiat pusaka Si Singamangaraja yang memiliki kesaktian dan memperkukuh ketinggian semangat dan wibawa).

Selama terjadinya dialog, Jalo yang masih kecil terus meronta-ronta karena melihat ayahnya dalam keadaan terikat di bawah tekanan dan kepungan pasukan yang jumlah begitu banyak. Sementara Ja Mangilat tetap bergeming dan terus-menerus menggeleng-gelengkan kepala, menatap tajam Pongki Nangolngolan sambil mengucapkan beberapa potong mantera. 

Untuk kesekian kalinya, Pongki Nangolngolan mengucapkan, ”Tobet!” dan Ja Mangilat mengulangi kembali jawabannya, ”Molo dengan do ugamo Silom i, lehenma gogo tu anaki.”

Karena Ja Mangilat tetap teguh pada pendiriannya, perlahan seorang algojo pasukan mengayunkan pedang ke arah leher Ja Mangilat. Tapi, sebelum pedang itu mengenai sasaran, tiba-tiba tubuh si algojo menjadi lemas tak berdaya, bagai daun keladi ditempa panas. Melihat hal seperti itu, Pongki Nangolngolan tampil mendekat menggantikan si algojo sambil berkata pelan, ”Sattabi di raja i.” (Maafkanlah wahai raja). Kemudian Pongki Nangolngolan membuang ”Golang Imbalo” (gelang) yang menjadi sumber kekebalan Ja Mangilat.

Dalam suasana yang sangat mencekam itu, perlahan Pongki Nangolngolan mengayunkan pedang ke tengkuk Ja Mangilat. Akhirnya, dalam hitungan detik, tubuh Ja Mangilat jatuh tersungkur dengan kepala terlepas dari badannya. Suasana duka pun pecah. Orang-orang dekat Ja Mangilat tidak dapat menahan duka terutama setelah mendengar tangisan Jalo yang terus meronta-ronta di sisi jenazah ayahnya. Sedangkan Pongki Nangolngolan beserta pasukannya meninggalkan tempat tersebut sambil terus meneriakan,”Tobet, tobet, tobet...”.

Lebih seminggu lamanya Pongki Nangolngolan dan pasukannya berada di Sipirok. Berjaga-jaga di tepi sungai Aek Lampesong di kawasan Sipirok Godang. Tawanan yang bersedia mengikuti barisan dikumpulkan di situ, menunggu saat disumpah. Tapi masih banyak juga yang membangkang sehingga mendapat hukuman pancung. Tentang Raja Sipirok yang ketika dijabat oleh Raja Hanggar Laut Siregar, belum jelas kisahnya. (bersambung...)    


*) Rakhmad Zailani Kiki. Penulis adalah sekretaris RMI NU DKI Jakarta. Ia juga diamanahi sebagai Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre (JIC).
Ahad 26 Agustus 2018 13:47 WIB
Saat Belanda Mengkriminalisasi Pesantren Tebuireng
Saat Belanda Mengkriminalisasi Pesantren Tebuireng
Pesantren Tebuireng (Arsip Perpustakaan PBNU)
Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur merupakan mercusuar perjuangan umat Islam dan rakyat Indonesia yang didirikan Hsdlratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari pada 1899 M beberapa waktu setelah kepulangannya dari Makkah. Komitmen, janji, dan sumpah Kiai Hasyim saat di Multazam tidak hanya untuk mengembangkan ilmu agama Islam, tetapi juga membebaskan bangsa Indonesia dari kungkungan penjajahan.

Dari Pesantren Tebuireng ini, kemudian dihimpun calon-calon pejuang Muslim yang tangguh, yang mampu memelihara, melestarikan, mengamalkan, dan mengembangkan ajaran Islam ke seluruh pelosok Nusantara. Kiai Hasyim juga berhasil mengawali perjuangan kultural rakyat Indonesia melalui pesantren.

Dari fakta tersebut, tidak heran ketika gerik-gerik KH Hasyim Asy’ari tidak pernah luput dari sorotan spionase atau mata-mata Belanda kala itu. Resistensi ini menambah tantangan dakwah Pesantren Tebuireng yang makin tidak mudah. Karena di awal pendiriannya saja, Kiai Hasyim harus menghadapi berbagai macam rintangan, bahkan marabahaya yang tidak jarang mengancam nyawanya karena beliau harus menghadapi para jawara setempat.

Belanda memahami, Kiai Hasyim Asy’ari merupakan sosok ulama besar yang kemasyhurannya telah diakui oleh tokoh-tokoh di daerah lainnya. Menyerang secara frontal justru akan menjadi blunder bagi eksistensi kolonial. Sebab, itu berbagai macam cara dilakukan oleh Belanda untuk menghilangkan jejak Pesantren Tebuireng, sebagai basis dan wadah pergerakan nasional. Upaya politisasi oleh Belanda terus diupayakan dengan sejumlah tuduhan-tuduhan.

Choirul Anam dalam Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama (2010) mengungkapkan bahwa beberapa pembesar Belanda seringkali menyambangi Tebuireng dengan membawa tuduhan bermacam-macam. Tuduhan yang biasa dilontarkan ialah Pesantren Tebuireng telah mengadakan kerusuhan, pemberontakan, dan pembunuhan. Setiap terjadi pembunuhan di sekitar Jombang, pasti santri Tebuireng yang menjadi sasaran kriminalisasi oleh Belanda.

Tuduhan tidak berdasar dan mengada-ada tersebut bertujuan mengerdilkan peran Pesantren Tebuireng. Dari situ Pemerintah Hindia-Belanda kerap kali mengirimkan semacam teguran yang ada pada intinya meminta KH Hasyim Asy’ari menghentikan seluruh kegiatan dan aktivitas pesantren.

Melihat perlakuan Hindia-Belanda yang semakin kentara ingin menghentikan peran Pesantren Tebuireng, Kiai Hasyim Asy’ari tidak terpengaruh, tidak pula khawatir. Bahkan kondisi tersebut makin memperkuat daya perjuangan Kiai Hasyim dan para santrinya untuk betul-betul melawan penjajah. Perlakuan Belanda kepada Tebuireng tersebut juga makin membuka mata masyarakat akan perlawanan terhadap penjajah sehingga mereka juga tergerak ikut berjuang.

Pesantren Tebuireng semakin masyhur di telinga masyarakat akan perlawanan sosok Kiai Hasyim Asy’ari terhadap Belanda. Hal itu membuat pihak Belanda merasa perlu untuk mencari jalan pintas dalam menghentikan kegiatan Pesantren Tebuireng.

Choirul Anam mencatat, sekitar tahun 1913 Pondok Pesantren Tebuireng diserang secara membabi buta oleh Belanda. Bangunan pondok dihancurkan hingga berkeping-keping. Kitab-kitab agam yang diajarkan di pondok pesantren dirampas dan sebagian dimusnahkan. Namun, sampai sejauh itu tidak dijelaskan mengenai jatuhnya korban jiwa.

Keganasan penjajah Belanda tersebut didukung oleh pemberitaan bohong untuk melegitimasi gerakannya. Karena pemberitaan sepihak oleh Belanda yang beredar ialah Pesantren Tebuireng merupakan markas pemberontak dan pusat ekstrimis Muslim. Padahal, itu tidak lain karena Pesantren Tebuireng pimpinan KH Hasyim Asy’ari menjadi ancaman eksistensi kolonialisme Belanda.

Atas kekejian dan fitnah tersebut, Kiai Hasyim tidak satu langkah pun mundur untuk melawan penjajahan. Karena keganasan Belanda tersebut sekaligus menjadi gambaran kekejaman mereka selama ini terhadap bangsa Indonesia. Sebab itu, kepada para santri, Kiai Hasyim Asy’ari berkata: “Kejadian ini justru menambah semangat kita untuk terus berjuang menegakkan Islam dan Kemerdekaan (Indonesia) yang hakiki”. (Fathoni)
Kamis 23 Agustus 2018 12:15 WIB
Tuan Syekh Djalaluddin Pane Parsambilan dan Gerakan Aswaja di Tapanuli (1)
Tuan Syekh Djalaluddin Pane Parsambilan dan Gerakan Aswaja di Tapanuli (1)
(Foto: Lyceum.id)
Pada tahun 2011, saya diminta oleh Djalaluddin Pane Foundation (DPF) untuk meneliti tentang sosok seorang ulama asal Tapanuli, yaitu Syekh Djalaluddin Pane Parsambilan. Penelitian ini menarik karena belum banyak ulama asal Tapanuli yang dijadikan bahan penelitian dan hasilnya diperkenalkan ke publik, bahkan sampai saat ini. Salah satunya adalah Tuan Syekh Djalaluddin Pane Parsambilan.

Dari kisah hidup Tuan Syekh Djalaluddin Pane Parsambilan, kita mengetahui tentang kekejaman Kaum Padri, pengikut Wahabi, dalam menyiarkan paham mereka di tanah Tapanuli karena ia adalah saksi hidup dari kekerasan mereka.

Selain itu, kita dapat mengetahui dan memahami tentang adat istiadat dan budaya masyarakat Tapanuli, sejarah masuknya Islam di Tapanuli, serta tantangan, suka duka, dari  perjuangan dakwah Islam di Tapanuli di masa Tuan Syekh Djalaluddin Pane Parsambilan. Kisahnya ini tentu untuk menjadi pelajaran yang berharga  bagi para juru dakwah dan hikmahnya untuk kita semua.

Perjalanan hidup Tuan Syekh Djalaluddin Pane Parsambilan tidak terlepas dari gerakan Kaum Padri yang mempunyai kaitan dengan gerakan Wahabi yang muncul di Arab Saudi. Paham dan gerakan Wahabi ini (yang keras dan tidak segan-segan memaksakan pahamnya dengan kekerasan atau perang) mewarnai pandangan Haji Miskin dari Pandaui Sikat (Luhak Agam), Haji Abdur Rahman dari Piabang (Luhak Lima Puluh) dan Haji Muhammad Arief dari Sumanik (Luhak Tanah Datar) yang  bermukim di Makkah, Arab Saudi dan merupakan pendiri Kaum Padri.

Pada tahun 1802 M, ketiga orang ini kembali ke Sumatera Barat. Dari praktik keislaman yang dijalankan kaum Muslimin di Sumatera Barat waktu itu, mereka menilai bahwa yang dijalankan baru kulitnya saja, hanya mengaku beragama Islam namun praktik keagamaannya masih jauh dari ajaran Islam yang sejati.

Dengan penilaian semacam ini, maka mereka mulai berdakwah di daerahnya masing-masing. Namun dakwah mereka tidak mulus. H. Muhammad Arief di Sumanik mendapat tantangan hebat di daerahnya sehingga terpaksa pindah ke Lintau; Haji Miskin juga mendapat perlawanan hebat di daerahnya dan terpaksa harus pindah ke Ampat Angkat. Hanya Haji Abdur Rahman di Piabang yang tidak banyak halangan dan tantangan.    

Kepindahan Haji Miskin ke Ampat Angkat tidaklah sia-sia, karena ia mendapatkan sahabat-sahabat perjuangan yang setia. Di antaranya adalah Tuanku Nan Renceh di Kamang, Tuanku di Kubu Sanang, Tuanku di Ladang Lawas, Tuanku di Koto di Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Koto Ambalau, dan Tuanku di Lubuk Aur.

Mereka inilah tujuh orang yang berbai`ah (berjanji sehidup semati) dengan Tuanku Haji Miskin. Jumlah para ulama yang berbai`ah ini menjadi delapan orang yang kemudian terkenal dengan sebutan Harimau Nan Salapan.

Harimau Nan Salapan ini menyadari bahwa gerakan mereka akan lebih berhasil jika mendapat dukungan dari ulama yang lebih senior dan lebih berpengaruh, yaitu Tuanku Nan Tuo di Ampat Angkat. Oleh mereka, diutuslah Tuanku Nan Renceh yang lebih berani dan lebih lincah untuk menjumpai Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat berkali-kali dengan maksud agar ia bersedia menjadi imam atau pemimpin gerakan ini.

Setelah bertukar-pikiran berulang kali, Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat menolak tawaran itu. Sebab penolakan itu karena Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat memandang Harimau Nan Salapan hendak memaksakan penerapan syari`at Islam di setiap negeri yang telah ditaklukannya, kalau perlu dilakukan dengan kekuataan dan kekuasaaan.

Padahal menurutnya, jika ada orang yang beriman di satu nagari walaupun hanya seorang, maka nagari itu tidak boleh diserang. Yang penting adalah menanamkan pengaruh yang besar pada setiap nagari. Apabila seorang ulama di satu nagari telah besar pengaruhnya, ulama itu dapat memasukkan pengaruhnya kepada penghulu-penghulu, imam khatib, mantra dan dubalang.

Karena berbedaan pendapat ini, Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat tidak mungkin diangkat oleh Harimau Nan Salapan sebagai imam atau pemimpin gerakan ini. Untuk memecahkan kebuntuan ini, Harimau Nan Salapan mencoba mengajak Tuanku di Mansiangan, yaitu putra dari Tuanku Mansiangan Nan Tuo yang merupakan guru dari Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat. Rupanya Tuanku yang muda di Mansiangan ini bersedia diangkat menjadi imam gerakan Harimau Nan Salapan dengan gelar Tuanku Nan Tuo.  

Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat akhirnya sulit untuk mencegah dan menentang gerakan Harimau Nan Salapan karena yang diangkat menjadi imamnya adalah anak dari gurunya sendiri. Padahal sebenarnya yang menjadi imam dari  gerakan ini adalah Tuanku Nan Renceh, sedangkan Tuanku  Nan Tuo di Mansiangan hanya sebagai simbol saja.

Kaum Harimau Nan Salapan selalu memakai pakaian putih-putih sebagai lambang kesucian dan kebersihan yang kemudian gerakan kaum ini terkenal dengan nama Gerakan Padri atau gerakan Kaum Padri.

Asal kata padri ada yang berpendapat  berasal dari kata Pidari dari Sumatera Barat, dan ada yang berpendapat berasal dari kata Padre, bahasa Portugis, yang artinya pendeta, dalam hal ini adalah ulama.

Setelah berhasil mengangkat Tuanku Nan Tuo Mansiangan menjadi imam gerakan Padri, maka Tuanku Nan Renceh selaku pimpinan yang paling menonjol dari Harimau Nan Lapan mencanangkan perjuangan Kaum Padri ini dan memusatkan gerakannya di daerah Kamang.

Untuk memuluskan aksinya mereka berpendapat bahwa tidak ada cara lain selain memperoleh kekuasaan politik. Sedangkan kekuasaan politik saat itu berada di tangan para penghulu adat.

Oleh karenanya, untuk memperoleh kekuasaan politik, juga tidak ada cara lain kecuali merebut kekuasaan dari tangan para penghulu adat. Karena daerah Kamang menjadi pusat perjuangan Kaum Padri, maka kekuasaan Penghulu Kamang harus diambil alih oleh Kaum Padri dan usaha itu berjalan dengan baik.

Sementara itu, para penghulu adat dari daerah-daerah lain yang mendengar keberhasilan Kaum Padri mengambil kekuasaan Penghulu Kamang ingin membuktikan sampai sejauh mana kemampuan alim ulama dalam perjuangan mereka untuk melaksanakan syari`at Islam secara utuh dan murni ini. Para penghulu adat itu kemudian memilih Bukit Batabuh dengan Sungai Puar di lereng Gunung Merapi sebagai tempat memancing reaksi Kaum Padri kepada mereka.

Para penghulu adat itu dengan sengaja dan mencolok mengadakan penyambungan ayam, main judi, dan minum-minuman keras yang dimeriahkan dengan berbagai macam pertunjukan. Tentu saja pancingan ini membuat marah Kaum Padri.

Dengan segala persenjataan yang ada, seperti setengger (senapan balansa), parang, tombak, cangkul, sabit, pisau dan sebagainya, Kaum Padri pergi ke Bukit Batabuh untuk membubarkan pesta maksiat yang diselenggarakan oleh golongan Penghulu Adat tersebut.

Sesampainya Kaum Padri di Bukit Batabuh, mereka disambut dengan serangan dari kelompok Penghulu Adat. Pertempuran yang banyak menelan korban di kedua belah pihak, akhirnya dimenangkan oleh Kaum Padri. Inilah awal permulaan peperangan yang dilancarkan oleh Kaum Padri, bukan hanya di Sumatera Barat tetapi sampai ke tanah Tapanuli.       

Setelah seluruh Pasaman dikuasai, maka untuk memperkuat basis pertahanan untuk penyerangan ke utara, didirikan pula benteng di Rao dan di Dalu-Dalu. Benteng ini terletak agak ke sebelah utara Minangkabau dan masuk di daerah Tapanuli.

Benteng Rao dikepalai oleh Tuanku Rao sedangkan Benteng Dalu-Dalu dikepalai Tuanku Tambuse. Kedua perwira Padri ini berasal dari Tapanuli dan berada di bawah pimpinan Imam Bonjol.

Dengan mengangkat Tuanku Rao dan Tuanku Tambuse, kaum Padri dengan kedua pimpinan tersebut, secara ekspansif melakukan perluasan kekuasaanya di daerah Tapanuli yang memiliki sistem religi tersendiri yang sudah mapan dan berbeda dengan masyarakat Pariaman. (bersambung…)


*) Rakhmad Zailani Kiki Penulis adalah Sekretaris RMI NU DKI Jakarta. Ia juga diamanahi sebagai Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre (JIC).
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG