IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Sukses Asian Games, Momentum Perbaikan Olahraga Indonesia

Sabtu 1 September 2018 13:30 WIB
Bagikan:
Sukses Asian Games, Momentum Perbaikan Olahraga Indonesia
Ilustrasi (Antaranews)
Rakyat Indonesia kini dilanda eufaria Asian Games. Ada kebanggaan sebagai sebuah bangsa bahwa kita memiliki prestasi olahraga yang baik di tingkat Asia. Target 16 medali emas ternyata bisa terlampaui dengan perolehan 30 medali emas. Cabang pencak silat yang merupakan olahraga bela diri asli Indonesia memberi sumbangan besar terhadap perolehan emas sebanyak 14 buah atau mencapai komposisi 46.67 persen. Cabang yang tak diunggulkan pun ternyata memberi sumbangan emas, yaitu balap sepeda gunung yang meraih dua emas. Para atlet Indonesia berusaha sekuat tenaga untuk mencapai prestasi terbaik guna mengharumkan nama bangsa. 

Kegembiraan ini sungguh wajar, mengingat selama bertahun-tahun dalam berbagai ajang olahraga internasional, tak banyak medali emas yang berhasil dibawa pulang. Bahkan dalam SEA games, Indonesia bukanlah negara yang selalu berada di puncak klasemen, sekalipun ada jutaan anak muda berbakat dalam bidang olahraga. SEA Games terakhir yang diselenggarakan di Singapura pada 2015 lalu, kontingen Indonesia hanya berada pada peringkat 5, di bawah negara kecil seperti Singapura, Vietnam dan Malaysia, serta Thailand yang menjadi juara umum. Pada Asian Games di Guangzou China (2010) dan Incheon Korsel (2014), Indonesia masing-masing hanya mendapatkan empat emas. Prestasi saat ini mengobati kekecewaan yang terus-menerus dirasakan dalam bidang olahraga.

Capaian saat ini tentu saja harus kita syukuri dengan baik. Posisi sebagai tuan rumah memberikan keuntungan tersendiri karena adanya dukungan publik dan para atletnya dipersiapkan dengan lebih baik. Strategi-strategi sukses saat bisa menjadi pijakan untuk keberhasilan Indonesia dalam ajang olahraga internasional berikutnya seperti Olimpiade Tokyo tahun 2020. Ujian sebenarnya bagi tim kita adalah ketika berkompetisi di negara lain. Di bawah tekanan pendukung dari negara lain dan dalam situasi yang tidak diakrabinya. Jika kita mampu, prestasi tersebut akan lebih membanggakan lagi. Jangan sampai kita hanya serius mengelola olahraga saat menjadi tuan rumah, tetapi melempem saat kompetisi diselenggarakan di negara lain.

Dari prestasi olahraga, sebuah bangsa membangun nasionalismenya. Jutaan orang menyambut juara piala dunia di pusat kota. Stadion selalu penuh ketika tim kebanggaan nasional bertanding. Dan bagi yang tidak bisa datang langsung, mereka menyaksikannya melalui layar kaca atau streaming dari telepon cerdasnya. Ungkapan kebangaan disampaikan melalui media sosial saat kemenangan tiba. Merekalah pahlawan masa kini yang mengangkat harga diri sebuah bangsa.   

Dalam  strategi kompetisi di arena internasional, cabang-cabang olahraga yang sudah kuat inilah yang harus diperkuat agar perolahen medali emasnya banyak. Ini merupakan salah satu keunggulan bersaing yang secara khas dimiliki negara-negara tertentu. Para juara lari dikenal banyak yang berasal dari negara-negara di Afrika, Sepak bola, tentu saja semuanya paham, bahwa tradisi sepak bola sangat kuat di Amerika latin sementara Amerika Serikat dengan kompetisi basket yang sudah mapan, selalu mendominasi olahraga ini. Indonesia yang cukup kuat adalah bidang bulu tangkis dan pencak silat. Saatnya mengidentifikasi bidang-bidang lainnya yang memiliki potensi untuk dikembangkan dengan baik karena tak mungkin kita bisa unggul dalam semua cabang olahraga. 

Untuk mencapai prestasi olahraga dalam tingkat internasional, dibutuhkan komitmen kuat dalam jangka panjang. Para atlet harus berlatih keras sepanjang hari selama bertahun-tahun. Perbedaan dalam hitungan detik dalam sebuah lari 100 meter dihasilkan dari latihan ketat yang membutuhkan ketahanan fisik dan mental. Selain itu juga dibutuhkan komitmen kuat negara untuk memberikan dukungan bagi pengembangan atlet.

Negara memiliki peran penting dalam pembinaan atlet dan penyediaan anggaran. Sebelum mencapai level nasional, atlet-atlet muda merupakan hasil seleksi dari berbagai turnamen lokal seperti ajang pekan olahraga di tingkat daerah atau nasional atau dari kompetisi yang diselenggarakan masing-masing cabang olahraga tersebut. Merekalah yang akan diseleksi untuk terus dikembangkan sehingga kemampuannya semakin terasah. Dan untuk itu dibutuhkan pendanaan yang memadai guna mendukung berbagai kebutuhan yang diperlukan. Tak mungkin atlet diminta mencari pendanaan sendiri sekaligus tiap hari berlatih. Hasilnya tentu akan kurang maksimal. 

Bahkan, kehidupan pascakarir sebagai atlet selesai pun harus dipikirkan oleh pemerintah. Kepastian masa depan setelah mereka gantung sepatu akan membuat para atlet memiliki komitmen penuh untuk menekuni karir olahraga yang berusia pendek. Atlet mencapai puncak prestasinya pada usia muda. Pada usia di 30 tahunan, ketika sejumlah bidang karir baru mulai menanjak, banyak atlet yang sudah tidak dapat berkompetisi dengan mereka yang berusia lebih muda. 

Kisah sedih dapat dibaca di berbagai laporan media yang mengabarkan, para atlet yang dipuja-puja saat meraih prestasi dalam ajang olahraga internasional ternyata hidupnya merana di usia senja. Mereka mengalami kesulitan ekonomi karena tidak ada yang memperhatikan nasibnya. Contoh-contoh seperti ini akan membuat keluarga yang memiliki anak dengan bakat sebagai atlet akan enggan mengarahkan dan mendukung anak tersebut sebagai atlet. Beberapa upaya perbaikan kebijakan telah diupayakan seperti menawari para peraih emas sebagai pegawai negeri sipil (PNS) atau memberi bonus besar atas prestasi yang diraih sang atlet. Mantan atlet berprestasi kini juga diperhatikan nasibnya dengan berbagai tunjangan untuk membantu kehidupannya.  

Olahraga dapat menghasilkan kehidupan yang layak bagi para pemain yang terlibat di dalamnya asal dikelola dengan baik. Di sejumlah negara maju, olahraga telah dikemas sebagai salah satu industri hiburan yang menghasilkan pemasukan uang bagi para pemainnya. Kompetisi sepak bola, tenis, basket, tinju dan beberapa lainnya adalah contohnya. Para pemainnya hidupnya sejahtera dan menjadi pesohor yang menjadi pujaan banyak orang. Para pemain sepak bola kelas dunia memiliki pendapatan mencapai miliaran rupiah per pekannya. Pemain tenis peringkat atas dunia kekayaan tak kalah dari penyanyi papan atas dunia. Para pemain basket bergelimangan harta dengan beragam sumber penghasilan yang tidak hanya dari gaji sebagai pemain, bonus dan dari sponsor. Pemain sepak bola Rolando memuncaki posisi sebagai atlet dengan pendapatan tertinggi tahun 2017 dengan penghasilan 1.24 triliun rupiah. 

Untuk menjadi sebuah industri yang menghasilkan banyak uang dan menghasilkan dampak ikutan yang besar, ajang olahraga harus dikelola dengan baik sehingga enak untuk dinikmati. Upaya tersebut tidaklah mudah. Kompetisi sepak bola di Indonesia masih menimbulkan ketakutan kepada sebagian masyarakat akan potensi kerusuhan yang ditimbulkan oleh pendukung tim yang kalah. Masih banyak PR untuk menjadikan olahraga sebagai sebuah pertunjukan yang enak ditonton oleh siapa saja, menjadi hiburan bagi keluarga yang mana anak-anak pun bisa ikut dengan aman, bukan malah menimbulkan ketakutan. 

Sejumlah negara atau daerah berhasil menjadikan olahraga untuk mendorong industri wisatanya seperti maraton di Tokyo, New York, Berlin, dan lainnya. Para peserta dari negara asing berdatangan untuk mengikuti lomba tersebut. Tour de France menjadi ajang balap sepeda yang ditunggu-tunggu dan kota yang dilaluinya  selalu dipadati penonton. Ajang balap mobil Formula 1 menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu penonton di seluruh dunia. Dalam tingkat lokal, lomba maraton di Bali, Borobudur, Jakarta yang belakangan ini diinisiasi oleh pemerintah daerah untuk memperkenalkan daerahnya.

Keberhasilan atlet profesional dapat menginspirasi generasi di bawahnya untuk meraih sukses dengan meniti karir profesional dalam bidang olahraga. Sementara bagi masyarakat umum, tubuh bugar mereka bisa dipromosikan sebagai teladan untuk aktif berolahraga. Remaja dan anak muda merupakan orang-orang yang selalu mencari teladan dan mereka berusaha menirunya. Teladan dari bidang olahraga memiliki nilai positif yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pesohor dari dunia hiburan yang hidupnya selalu penuh drama, seringkali lebih berupa upaya pengembangkan pencitraan daripada prestasi yang sesungguhnya. Pada dunia olahraga, dengan kompetisi yang ketat, siapa berprestasi dan yang tidak, ketahuan dengan jelas.

Energi yang meluap-luap  para remaja dapat diarahkan ke hal-hal yang sifatnya produktif. Aktivitas olahraga mendorong sikap sportif dan menambah pertemanan. Aktivitas olahraga dapat meningkatkan prestasi akademik. Mereka yang rajin berolahraga memiliki tubuh yang lebih bugar dan lebih mampu berkonsentrasi, sehingga capaian akademik juga meningkat.  

Penyakit-penyakit paling mematikan saat ini bukanlah diakibatkan oleh bakteri atau virus yang menular, melainkan penyakit karena gaya hidup seperti jantung, stroke, dan diabetes. Risiko terhadap penyakit tersebut sesungguhnya bisa dikurangi dengan rutin berolahraga. Apalagi saat ini, kemudahan teknologi semakin membuat orang tidak perlu bergerak. Ke mana-mana kita menggunakan kendaraan bermotor. Beragam pekerjaan di rumah seperti mencuci, membersihkan rumah, memasak, dan lainnya semuanya bisa dilakukan hanya menekan tombol Akibatnya, tubuh manusia yang didesain untuk selalu bergerak menjadi tidak terlatih dan akibatnya, berbagai penyakit muncul. Pada negara yang penduduknya sehat, biaya kesehatan yang harus dikeluarkan pribadi atau pemerintah melalui layanan jaminan kesehatan akan terkendali. Pada masyarakat yang sehat, mereka memiliki produktifitas yang tinggi. 

Olahraga menjadi hulu dari masyarakat yang sehat. Berbagai kompetisi olahraga merupakan sarana untuk mendorong masyarakat berperilaku hidup sehat. Para pemain olahraga dapat menjadi teladan bagi masyarakat untuk berolahraga. Cabang olahraga yang dikemas dengan baik dapat menjadi hiburan bagi masyarakat dan memberikan kesejahteraan bagi para pelakunya. Prestasi yang baik dan memunculkan tradisi berolahraga tidak bisa dicapai dalam jangka pendek, melainkan akumulasi dari ketekunan dan kegigihan, dan kerja sama dari berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah memiliki peran sangat penting dengan kebijakan pembinaan dan penganggaran yang baik. Investasi dalam bidang olahraga merupakan salah satu prasyarat memenangkan kompetisi global. (Achmad Mukafi Niam)

Bagikan:
Jumat 24 Agustus 2018 9:0 WIB
Memulihkan Lombok, Memulihkan Kemanusiaan
Memulihkan Lombok, Memulihkan Kemanusiaan
Ilustrasi: Tim Medis NU Peduli Kemanusiaan
Gempa besar terjadi berturut-turut sampai tiga kali dalam beberapa waktu terakhir di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Upaya pemulihan yang dilakukan setelah gempa besar pertama dan kedua, kembali runtuh dengan terjadinya gempa besar selanjutnya. Biasanya bencana gempa besar yang terjadi di Indonesia adalah, satu kali gempa besar tetapi tidak diikuti dengan gempa susulan yang sama atau lebih besar. Tak ada kepastian apakah ini gempa besar terakhir pada 19 Agustus lalu akan terulang, namun kejadian ini telah menyebabkan penderitaan yang dialami para korban semakin besar. Apa pun yang terjadi, upaya-upaya pemulihan harus terus dilakukan. 

Indonesia merupakan negara yang rawan gempa karena terletak dalam daerah cincin api, yaitu wilayah di cekungan Samudra Pasifik yang sering mengalami gempa dan letusan gunung berapi. Bahkan Indonesia berada dalam jalur paling aktif dari cincin api tersebut. Tak heran, sejak dahulu wilayah Nusantara sering mengalami gempa. Bencana gempa dalam skala besar setelah tahun 2000 saja telah terjadi di sejumlah daerah antara lain Aceh, Nias, Padang, Bengkulu, Yogyakarta, Ciamis, dan lainnya. Gempa yang kemudian disertai tsunami di Aceh menimbulkan korban paling besar. Lebih dari 230 ribu korban meninggal atau hilang. Triliunan aset rusak berat. Butuh upaya bersama dari semua pihak untuk melakukan rekonstruksi sehingga korban keadaan pulih. 

Desain pemulihan pascabencana yang terjadi di Lombok awalnya mengikuti pola penanganan yang terjadi di tempat lain sebelumnya, yaitu satu gempa besar yang segera selesai, kemudian diiringi gempa-tempa kecil yang besarannya tak terlalu signifikan. Dan demi alasan mempertahankan sektor pariwisata yang kini proporsinya semakin besar dalam perekonomian NTB, status bencana tersebut ditetapkan sebagai bencana lokal. Tiga kali bencana besar membuktikan skenario penanganan awal tidak sesuai dengan keadaan. Rencana baru harus segera disusun agar para korban segera pulih. Status bencana nasional baru diputuskan pada Kamis (23/8).

Pemerintah, lembaga-lembaga kemanusiaan, dan masyarakat yang tidak terdampak bencana bahu-membahu menyingsingkan lengan baju agar mereka yang menjadi korban segera mendapatkan pertolongan sebaik-baiknya. Tanpa dikomando, begitu gempa besar terjadi, masyarakat dengan segera mengumpulkan bantuan untuk korban bencana. Media yang melaporkan secara terus-menerus dari lokasi kejadian membuat empati meningkat sehingga mendorong mereka untuk memberikan sumbangan. 

Perayaan Idul Kurban dengan semangat untuk berbagi menjadi saat yang tepat ketika ada saudara kita di Lombok membutuhkan dukungan untuk memulihkan diri dari bencana yang terus-menerus datang. Saatnya bertindak. Seberapa pun jumlah sumbangan yang bisa kita berikan, jika diakumulasikan dengan jutaan orang lainnya di Indonesia atau belahan dunia lainnya, akan memberi dampak yang signifikan dalam upaya pemulihan tersebut.

Nahdlatul Ulama melalui NU Care-LAZISNU (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah) dan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI NU) dan didukung oleh perangkat organisasi NU lainnya seperti GP Ansor, Fatayat NU, IPNU-IPPNU, Ma’arif NU dan lainnya telah terjun secara langsung ke lokasi-lokasi bencana, berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan bekerja sama dengan kepengurusan NU di sana. Mereka terus memberikan bantuan dan dukungan dalam berbagai bentuk. Ini merupakan bagian dari tanggung jawab NU untuk membantu mereka yang mengalami bencana. 

Sementara itu, tim relawan dari lembaga-lembaga kemanusiaan yang sudah terlatih diterjunkan ke lokasi-lokasi paling parah yang diakibatkan gempa. Munculnya lembaga-lembaga kemanusiaan profesional ini merupakan berkah dari era keterbukaan di Indonesia. Mereka dikelola dengan baik sebagai sebuah organisasi yang sifatnya permanen, bukan lembaga sementara yang dibentuk saat terjadi bencana, lalu dibubarkan ketika kondisi sudah pulih. Mereka memiliki tim yang benar-benar tahu bagaimana menangani bencana yang memang kerap terjadi di Indonesia. Standar prosedur operasi dalam penanganan bencana sudah dipahami dan jalankan dengan baik. 

Sayangnya, di tengah bencana yang membutuhkan pertolongan ini, masih saja ada yang sibuk dengan perseteruan politik. Media sosial tetap saja bising dengan unggahan bernada menyerang pihak lawan. Ujaran-ujaran seperti ini menunjukkan kurangnya simpati kepada mereka yang sedang menjadi korban. Jika ada kerabat atau kawan mereka yang turun menjadi korban, para penggembira politik di media sosial tentu akan berpikir ulang untuk membuat kebisingan. Sayangnya, kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain kurang sekali. 

Jangan pula, mengaitkan bencana dengan urusan pilihan politik yang kini mulai menghangat seiring dengan semakin dekatnya pemilu legislatif dan pemilihan presiden. Menuduh pilihan politik seseorang kemudian menimbulkan bencana adalah fitnah dan kekejian kepada orang-orang yang saat ini sudah menderita. Masing-masing pilihan memiliki alasannya masing-masing. Yang penting adalah saling menghormati pilihan. Mengabaikan bencana demi perdebatan-perdebatan politik adalah tindakan yang tidak bermoral, menuduh bencana timbul karena perbedaan pilihan adalah kenistaan.

Yang lebih memprihatinkan lagi adalah beredarnya informasi hoaks tentang bencana tersebut seperti gempa akan terjadi pada tanggal 26 atau pada hari minggu. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan hingga kini belum ada teknologi yang mampu meramalkan kejadian gempa dengan akurat. Masyarakat diharapkan mencari informasi resmi melalui situs bmkg.go.id. Aparat sudah semestinya bertindak pada hal-hal yang meresahkan ini. 

Bantuan dari masyarakat sangat diperlukan untuk memulihkan keadaan. Namun, hal ini juga tergantung pada sikap masyarakat dalam memulihkan dirinya sendiri. Betapapun kecilnya sumberdaya yang tersisa, tetapi jika lengan baju segera disingsingkan, mengerjakan apa saja yang bisa dilakukan, melupakan kesedihan dan menatap masa depan secara bersama-sama, maka pemulihan akan berjalan dengan cepat. 

Bencana juga membutuhkan manajemen pengelolaan yang terkoordinasi dengan baik. Dalam penanganan yang kurang baik, distribusi bantuan tidak berjalan secara merata. Ada satu lokasi yang menerima bantuan secara berlebihan tetapi di lokasi lainnya mengalami kekurangan. Ego bahwa bantuan kepada korban bisa dilakukan terserah pada lembaga masing-masing akan membuat penanganan kurang efektif.   

Sesungguhnya, manajemen bencana yang ada saat ini sudah jauh lebih bagus daripada sebelumnya. Undang-undang kebencanaan yaitu. UU Nomor 24 tahun 2007 Tentang Penanggulangan Kebencanaan menjadi panduan dalam pengelolaan bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dibentuk untuk menangani bencana. Lembaga serupa di tingkat provinsi dan kabupaten juga sudah ada. Namun, mengingat tingginya risiko bencana, perbaikan-perbaikan dalam beragam aspek mendesak untuk terus dilakukan.

Selanjutnya, kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana yang seharusnya mendapat perhatian lebih. Sebagai negeri yang berada dalam posisi cincin api, bencana alam dapat terjadi kapan saja. Ilmu pengetahuan terus berkembang, tetapi kita belum mampu memprediksi kapan sebuah gempa besar akan terjadi. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah mempersiapkan diri dengan upaya terbaik saat situasi tak terduga tersebut datang.

Sejumlah upaya pencegahan akan mengurangi dampak jika bencana terjadi. Standar bangunan tahan gempa akan mengurangi tingkat kerusakan atau korban nyawa. Mengenalkan prosedur evakuasi saat gempa atau tsunami akan mengurangi kepanikan. Kearifan lokal yang banyak terdapat di berbagai daerah dalam menangani bencana layak dipertahankan, seperti sikap masyarakat di Pulau Simeuleu Aceh yang naik ke dataran tinggi ketika ada gempa disertai air laut yang surut sehingga menyelamatkan banyak nyawa. Kita juga bisa belajar dari negara-negara dalam posisi cincin api yang memiliki manajemen bencana yang baik. Jangan sampai bencana alam yang terjadi menimbulkan bencana kemanusiaan karena kita tidak mampu menanganinya dengan tepat. (Achmad Mukafi Niam)

Sabtu 18 Agustus 2018 18:45 WIB
Memaknai Kemerdekaan di Era Revolusi Digital
Memaknai Kemerdekaan di Era Revolusi Digital
Ilustrasi (via vilans.nl)
Perayaan kemerdekaan ke-73 Indonesia yang berlangsung 17 Agustus 2018 meriah sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Upacara bendera berlangsung dengan khidmat. Beragam lomba menambah keceriaan masyarakat dari segala umur dan lapisannya. Di balik rutinitas yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun ini, sesungguhnya dunia telah mengalami perubahan sedemikian cepatnya karena revolusi teknologi digital. Apa yang terjadi ketika kemerdekaan dideklarasikan pada tahun 1945 dan pada 2018 ini sudah sangat berbeda. Teknologi telah mempengaruhi identitas bangsa d seluruh dunia secara keseluruhan. 

Identitas kebangsaan bagi anak-anak generasi milenial dan generasi sesudahnya memiliki makna yang sangat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Bagi generasi baru yang tumbuh dengan teknologi digital ini, yang bisa mengakses segala informasi dari seluruh penjuru dunia, apa yang mereka maknai sebagai sebuah bangsa, tempat dirinya bernaung, tumbuh, dan mengaktualisasikan dirinya berbeda dengan generasi sebelumnya. 

Anak-anak muda kini, dan yang akan terlahir kemudian adalah masyarakat global akibat terpaan teknologi canggih.  Apa yang mereka kagumi, banggakan, layak untuk diperjuangkan, dan identitas yang mereka kenakan tak selamanya berasal dari sekitar lingkungan mereka yang dibatasi oleh wilayah geografis berupa negara. mereka mengidentifikasi diri dengan ikon-ikon global. Mereka bisa lebih mengagumi pesohor dari Hollywood daripada tokoh-tokoh setempat, menggilai makanan dari Jepang, menjadi penggemar berat olahraga sepak bola dari Amerika Latin, atau identitas-identitas khas dengan keunggulan spesifik yang membanggakan. Mereka ingin jadi bagian dari para pemenang dalam bidang-bidang tertentu, dari manapun asalnya. Masih ada nasioalisme yang menggelora seperti pembelaan mereka terhadap kejuaraan-kejuaraan antarnegara pada tim nasional mereka, tetapi hal tersebut tidak menghalanginya untuk mengidentifikasi diri dengan klub internasional pada saat yang berbeda. 

Ada pula sekelompok kecil, yang jumlahnya kini terus membesar, orang-orang yang sudah benar-benar menjadi masyarakat global. Mereka bekerja dari satu negara ke negara lainnya dengan gampang mengingat kompetensi unik yang dibutuhkan di banyak tempat. Sejumlah WNI termasuk kelompok ini. Mereka berkelana ke berbagai belahan dunia di mana keahlian mereka diakui dan dihargai dengan baik. Identitas kebangsaan bisa saja hanyalah sekedar paspor yang kapan saja bisa diganti jika dirasa sudah tidak memenuhi harapannya.

Berbagai negara berebut menjadi tempat bernaung orang-orang terbaik untuk menjadi bagian dari barisan pasukannya untuk bisa berkompetisi dalam beragam ranah. Orang-orang terbaik direkrut sejak dini. Sejumlah siswa potensial, para juara olimpiade dunia asal Indonesia, diberi beasiswa oleh negara lain dan selanjutnya berkarir di sana lain karena negara asal kurang memberi akses mereka untuk berkembang. Bahkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat memiliki kebijakan untuk menarik sumber daya manusia terbaik untuk berkarir di negara tersebut dengan mekanisme green card untuk membangun impian di negeri tersebut. 

Bagi korporasi, yang selalu berpikir rasional dengan tujuan utama untuk meraih keuntungan, mereka menanamkan uangnya di seluruh dunia yang memberikan potensi keuntungan terbaik. Pemilik perusahaan berkewarganegaraan tertentu tak selalu menempatkan investasinya di negara asalnya selama negara tersebut terlalu banyak birokrasi dan hambatan yang menyebabkan bisnis susah berkembang. Korporasi memilih negara yang mampu memberikan penawaran terbaik, perlindungan hukum atau kesempatan berkembang. 

Toh, korporasi atau orang-orang super kaya juga beru “mengakali” pembayaran pajak dengan cara yang legal, yang tidak melanggar hukum. Mereka beroperasi di banyak wilayah, membedakan kedudukan hukum perusahaan dan tempat operasinya, dan sejumlah langkah yang memungkinkan pembayaran kepada negara dilakukan seminimal mungkin. Pajak merupakan sumber pendapatan utama sebuah negara. Kini,  negara, dengan aturan yang diciptakannya sendiri, akhirnya harus melawan korporasi yang dimiliki oleh individu-individu yang memiliki pengaruh besar.

Kepentingan negara bahkan bisa kalah dengan korporasi dalam perjanjian-perjanjian tertentu. Indonesia memiliki pengalaman panjang terkait Freeport yang hingga kini perundingannya masih belum selesai. Ada rasa ketidakadilan di mana kontribusi yang diberikan kepada negara sangat sedikit. Korporasi raksasa bahkan memiliki jumlah karyawan dan pendapatan tahunan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan negara-negara kecil. Pengaruh yang mereka ciptakan lebih besar dari negara.

Tingkat pengaruh sebuah negara tidak ditentukan oleh seberapa luas wilayah yang dimiliki atau seberapa banyak penduduknya. Potensi berupa luas wilayah atau penduduk hanya akan menjadi beban jika tidak dikelola dengan baik. Mereka hanya jadi pasar bagi produk-produk perusahaan dari negara lain. Singapura dan Hong Kong, dengan wilayah dan penduduk kecil, mampu menjadi pusat keuangan dunia. Korea Selatan, dengan jumlah penduduk yang tidak begitu besar, mampu prestasi olahraganya di olimpiade lebih baik dari negara-negara dengan jumlah penduduk besar. Masing-masing negara membangun kekhasan sesuai dengan potensi yang dimiliki. Jangan sampai kita, negara dengan penduduk besar dengan potensi besar, orang-orang terbaiknya tidak tergarap, atau mereka bahkan lari ke negara lain yang lebih menjanjikan. 

Kedaulatan negara kini tidak lagi sebagaimana sebelumnya dengan semakin kuatnya lembaga-lembaga internasional seperti WTO yang berhak menghukum negara-negara yang dinilai menghalangi perdagangan bebas. Negara secara sengaja menyerahkan sebagian kedaulatannya kepada organisasi regional seperti Uni Eropa (UE) untuk kepentingan besama komunitas Eropa. Inisiatif yang sama juga dilakukan dengan membentuk Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang kemungkinan di masa yang akan datang tampaknya akan semakin mengintegrasikan diri. 
 
Di tengah dunia yang semakin terintegrasi ini, yang mana identitas-identitas lokal semakin terserap dalam warna global. Upaya-upaya untuk memisahkan diri dari negara masih saja ada. Ada yang dilakukan dengan cara-cara yang damai melalui referendum seperti di Catalonia dan Skotlandia. Suku Kurdi tak henti-hentinya berusaha menciptakan sebuah negara tersendiri melalui cara-cara militer. Konflik untuk mempejuangkan kemerdekaan masih terjadi di mana-mana. 

Para penyelenggara negara kini tak lagi bisa menanamkan jargon-jargon kosong mengatasnamakan nasionalisme sementara mereka tidak mampu memperbaiki layanannya kepada masyarakat karena kini banyak pilihan. Orang-orang terbaik yang sebenarnya dibutuhkan untuk membangun negara ini, dengan gampang bisa pindah ke negara lain jika negara tidak menghargai dan memberi ruang mereka untuk berkembang. Korporasi, dengan kekuatan modal yang mereka miliki, bisa memilih tempat-tempat terbaik untuk investasi. 

Negara juga harus beradu cerdik dalam menentukan membuat aturan dan melakukan perjanjian dengan korporasi atau mereka hanya akan mendapatkan pepesan kosong. Politisi di negara-negara korup bersedia menukar kepentingan nasional hanya demi keuntungan pribadi saat melakukan perjanjian dengan korporasi internasional. Yang lalu menimbulkan perasaan tidak adil pada masyarakat. 

Negara masih berdaulat atas banyak hal, tetapi kedaulatan kini telah terbagi kepada banyak kekuatan baru seperti lembaga-lembaga internasional, korporasi, organisasi regional, bahkan rakyat kini semakin berdaya. Inilah situasi baru yang harus dihadapi. Era kolonialisme dalam bentuk pendudukan fisik sudah berakhir, tetapi bukan berarti eksploitasi telah berakhir, melainkan berubah dalam bentuk baru yang tampaknya lebih halus, tetapi sesungguhnya sama-sama eksploitatif. Diperlukan cara berpikir baru, strategi baru dan kapasitas baru untuk menanganinya. Selamat HUT ke-73 Republik Indonesia. (Achmad Mukafi Niam)

Rabu 8 Agustus 2018 19:15 WIB
Menjaga Khittah NU dalam Pusaran Pemilihan Presiden-Wakil Presiden
Menjaga Khittah NU dalam Pusaran Pemilihan Presiden-Wakil Presiden
Sejumlah tokoh NU dikabarkan menjadi kandidat utama bakal calon wakil presiden yang digadang-gadang akan mendampingi Joko Widodo dalam pemilihan presiden 2019 mendatang. Tanggal 10 Agustus merupakan akhir penetapan dan pendaftaran calon pasangan presiden-wakil presiden menjadi saat-saat yang sibuk para politisi yang bertarung untuk memperebutkan jabatan paling strategis di Indonesia ini. Nahdlatul Ulama yang merupakan organisasi sosial keagamaan dengan kekuatan massa sangat besar turut bersinggungan dengan momen politik lima tahunan ini.

Posisi strategis NU bahkan bukan hanya terkait dengan kader NU yang dinominasikan sebagai calon wakil presiden. Salah satu kandidat bakal calon presiden juga menyatakan bahwa jika dirinya mengambil pasangan calon wapresnya, maka yang akan diambil adalah cawapres yang bisa diterima oleh warga NU.

NU telah memiliki pengalaman panjang terkait dengan politik praktis. Pada era Orde Lama, NU merupakan partai politik berpengaruh, selanjutnya, pada era Orde Baru, partai NU dengan partai-partai Islam lainnya berfusi dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dinamika dalam berpartai tersebut selanjutnya melahirkan khittah NU 1926, yaitu kembalinya NU menjadi jamiyah diniyah ijtimaiyah. Yaitu menjadi organisasi keagamaan. Situasi keterbukaan pada era Reformasi membuat peluang politik terbuka lebar. Banyak kader NU mengisi ruang-ruang politik tersebut. 

Kembali ke khittah sudah disepakati secara bersama-sama. Yang menjadi persoalan sampai saat ini adalah definisi khittah ketika terjadi momen-momen politik. Banyak sekali kekuatan politik yang ingin mendapatkan dukungan NU dengan kekuatan massanya yang luar biasa ini untuk meraih kemenangan politik. Tak sedikit pengurus NU yang dalam masa jabatannya kemudian mencalonkan diri dalam jabatan-jabatan publik seperti gubernur, bupati, atau walikota. 

Secara organisasi, tak ada satu pun pernyataan resmi yang mengatasnamakan bahwa NU mendukung calon atau partai tertentu. Wilayah abu-abu adalah ketika para pengurus NU ramai-ramai mengatasnamakan dirinya sebagai pribadi, sebagai warga negara yang berhak menyatakan dirinya untuk menyampaikan aspirasi politik ketika terlibat dalam kontestasi politik praktis. 

Sebagai pemimpin organisasi dengan keterikatan kultural yang kuat, sesungguhnya sangat susah untuk membedakan ranah individu dan ranah sebagai pemimpin organisasi. Kredibilitas yang dimiliki naik secara drastis ketika ia menduduki jabatan strategis dalam organisasi tertentu yang dipercaya masyarakat. Modal sosial dimiliki dapat digunakan untuk akses untuk akselerasi vertikal yang lebih tinggi.  

NU memiliki pengalaman yang dapat menjadi pelajaran terkait dengan politik praktis. Pada pemilihan presiden tahun 2004 ketika para tokoh penting NU menjadi calon wakil presiden Warga NU, termasuk para ulama terbelah dalam memberikan dukungan di antara dua kandidat yang mengusung cawapres berlatar belakang NU. Tak ada pernyataan organisasi secara resmi yang menyatakan dukungan pada calon tertentu, tetapi masing-masing kandidat jaringan NU yang dimilikinya. Tak ada dukungan resmi dari Ansor atau Muslimat NU, tetapi sejumlah ketua dan pengurusnya, tentu saja atas nama pribadi, menjadi tim sukses pemenangan salah satu calon. Warga NU terfragmentasi dalam berbagai pilihan yang saling meniadakan. Antara tokoh satu dengan yang lainnya berkontestasi untuk memenangkan kandidat yang didukungnya. Efek pilpres 2004 masih terasa dalam pelaksanaan muktamar 31 NU pada 2005 yang berlangsung di Asrama Haji Donohudan Solo.

Hal yang sama terjadi pula pada proses pemilihan gubernur Jawa Timur yang baru saja berlalu dengan kemenangan Khofifah Indar Parawansa atas Syaifullah Yusuf. Dua-duanya merupakan tokoh NU, yaitu Khofifah sebagai ketua umum Muslimat NU sedangkan Syaifullah Yusuf merupakan salah satu ketua PBNU. Sebelumnya ia merupakan ketua umum GP Ansor. Tak ada sikap resmi dari Muslimat NU atau PWNU Jawa Timur yang menyatakan dukungan kepada salah satu kandidat, namun para aktivis di Muslimat NU secara kasat mata memberi dukungan Khofifah. Demikian pula, sejumlah pengurus NU Jatim dengan jelas terlibat dalam sejumlah kampanye pemenangan Syaifullah Yusuf. 

Yang cukup berbeda dari keterlibatan tokoh struktural NU dalam penentuan capres-cawapres tahun 2004 dan era-era sesudahnya adalah sikap para aktivis NU. Pada masa tersebut, pengurus NU yang terlibat dalam politik praktis  mendapat kritikan keras dari para aktivis sebagai orang-orang yang melanggar khittah. Kini, suara-suara untuk menjaga khittah NU tak sekencang dahulu. Bahkan di saat ruang untuk mengekspresikan pendapat di media sosial semakin terbuka lebar. Sejumlah aktivis NU bahkan jauh terlibat dalam arus kekuasaan. 

Pendirian Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sesungguhnya diniatkan sebagai saluran aspirasi politik warga NU. Sementara NU tetap mengurusi politik tingkat tinggi, menjadi penjaga bangsa, menjadi organisasi massa Islam. Tetapi ternyata tak mudah mengelola hubungan ini. Hubungan NU-PKB sejak pendirian partai tersebut didirikan penuh dinamika. Ada suatu masa ketika hubungan tersebut bak bapak dan anak yang masing-masing jalan sendiri. Saat lainnya, menjadi satu keluarga yang sudah sama-sama dewasa, yang saling mendukung satu sama lain dengan tetap menghormati posisinya.  

Ranah kerja-kerja sosial kemasyarakatan kini menunggu sentuhan tangan-tangan para pengurus dan aktivis NU untuk mengelolanya. Ada puluhan universitas NU yang baru didirikan dalam tahun-tahun belakangan ini yang membutuhkan kerja keras untuk membesarkannya sebagai ruang untuk memberikan pelayanan pendidikan. Sejumlah pusat layanan kesehatan sedang dalam proses pengerjaan agar warga NU memiliki kesehatan yang baik. Inisiatif pengembangan ekonomi masyarakat yang diinisiasi di lingkungan NU juga bergairah untuk warga yang sejahtera. Berbagai kelompok masyarakat tak henti-hentinya menyampaikan keluhan atas nasib mereka di sejumlah daerah juga membutuhkan advokasi. 

Nahdlatul Ulama juga memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap isu-isu perdamaian baik di tingkat nasional maupun internasional yang belakangan ini mengalami banyak tantangan. Upaya-upaya perdamaian dan rekonsiliasi dan domestik dan internasional terus digalang. Konservatisme beragama yang belakangan menguat menjadi tantangan yang harus dihadapi. NU dengan nilai-nilai Islam moderatnya memiliki peluang untuk membuat Islam di Indonesia tetap sebagai Islam yang moderat dan cinta damai. Pada ruang-ruang inilah kita mencurahkan energi.

Ruang abu-abu yang saat ini masih luas, khususnya terkait dengan posisi para pengurus NU sebagai pribadi dan mewakili organisasi sudah saatnya diperjelas. Hal ini untuk menghindari pemanfaatan organisasi untuk kepentingan individu mengingat sangat susah untuk memisahkan dengan tegas antara keduanya. Aturan yang baik dan disertai dengan mekanisme agar aturan tersebut bisa berlaku dengan baik akan membuat organisasi bisa berjalan dengan tertib. (Achmad Mukafi Niam)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG