IMG-LOGO
Daerah

Sejumlah Tokoh Membincang Muslim Minoritas di Asia Tenggara


Senin 3 September 2018 21:30 WIB
Bagikan:
Sejumlah Tokoh Membincang Muslim Minoritas di Asia Tenggara
Jakarta, NU Online
Guru besar Universitas Isalam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra mengungkapkan bahwa setidaknya ada tiga faktor yang memengaruhi kondisi minoritas, yakni sejarah, politik, dan perubahan internasional.

Hal tersebut ia sampaikan saat menjadi narasumber pada peluncuran buku Islam, Minorities, and Identity in Southeast Asia di Gedung Japan Foundation, Gedung Summitmas 1 Lt. 2 Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Selatan, Jakarta, Senin (3/9).

Azyumardi mencontohkan sejarah koersi Spanyol terhadap Muslim Filipina. "Spanyol melakukan koersi untuk penduduk Muslim agar memeluk Katolik," katanya. Hal tersebut, menurutnya, menimbulkan kekacauan sosial ekonomi.

Di samping itu, kebijakan politik berpengaruh. Di Thailand, misalnya, terdapat genosida kebudayaan dengan kebijakan pemerintah yang diterapkan.

"Di Thailand karena ada siamisasi. Tidak boleh bahasa Melayu, tapi Thai," ungkapnya.
Dunia internasional juga, menurutnya, memengaruhi hal ini mengingat pemerintah seringkali tidak memahami Muslim Melayu dan Muslim Salafi.

Sementara itu, Hisanori Kato, guru besar Universitas Chuo, menyebutkan bahwa mentalitas masyarakat mayoritas seringkali seperti minoritas. Hal ini berdampak pada adanya pembunuhan.

Ia menceritakan bahwa seorang Muslimah di Mindanao pernah menangis ketika ia wawancarai. "Mereka dilukai, identitas mereka merasa ditolak," katanya.

Sepakat dengan Kato, Ahmad Suaedy, penulis buku, menambahkan bahwa mentalitas mayoritas di negara manapun sama.

Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) itu juga menceritakan bahwa pernah hampir ada kesepakatan antara MILF dan pemerintah Filipina. Namun, hal itu batal karena Mahkamah Agung menyatakan ketidaksahannya. Ia menyebutnya sebagai sebuah kekhawatiran masyarakat mayoritas di sana.

Padahal, Suaedy menegaskan bahwa mereka hanya mengupayakan kelestarian identitasnya sebagai pribumi. "Sedang mempertahankan kepribumian mereka," ujarnya.

Konflik minoritas dan mayoritas seringkali memunculkan radikalisme. Yenny Wahid, Direktur Wahid Foundation, mengungkapkan bahwa di antara faktor kemunculan hal itu adalah putus asa. Hal ini yang perlu dipahami secara kontekstual.

"Kalau kita ingin memahami perasaan putus asa yang terjadi di sebuah komunitas, di sebuah daerah, maka kita perlu mengetahui konteks lokal di sana. Dinamika historis seperti apa yang kemudian membuat orang menjadi putus asa," jelasnya. (Syakir NF/Ibnu Nawawi)

Bagikan:
IMG
IMG