::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Hukum Berdoa dengan Permintaan “Setengah” Mustahil

Jumat, 07 September 2018 09:00 Bahtsul Masail

Bagikan

Hukum Berdoa dengan Permintaan “Setengah” Mustahil
(Foto: ibtimes)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, saya ingin bertanya perihal doa. Agama Islam menganjurkan kita untuk berdoa kepada Allah selain janji pengabulan atas permintaan kita dalam doa. Pertanyaan saya, bolehkah saya berdoa meminta kesuksesan dalam karier dan kekayaan melimpah dalam tempo singkat? Mohon penjelasan. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Suroso/Cilegon)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Islam menganjurkan kita untuk berdoa kepada Allah. Islam juga memandang doa sebagai bagian dari ikhtiar manusia dan bernilai ibadah. Perintah untuk berdoa tertera dalam Al-Baqarah ayat 186 sebagai berikut:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Artinya, “Jika hamba-Ku bertanya perihal-Ku, maka (katakanlah) bahwa Aku dekat. Aku memenuhi seruan orang yang berdoa jika ia memanggil-Ku. Karenanya, hendaklah mereka memenuhi panggilan-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk,” (Al-Baqarah ayat 186).

Pada Surat Ghafir ayat 60, Allah memerintahkan manusia untuk berdoa. Allah juga menjanjikan pengabulan doa mereka.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Artinya, “Tuhanmu berkata, ‘Serulah Aku, niscaya Kupenuhi panggilanmu,’” (Surat Ghafir ayat 60).

Dari dua ayat ini, kita dapat menarik simpulan bahwa kita bebas meminta apa saja kepada Allah SWT termasuk yang mustahil menurut akal sekali pun atau yang setengah mustahil seperti mustahil menurut adat dan niscaya Allah akan mengabulkan permintaan kita.

Meski kita bebas meminta apa saja, kita juga perlu memerhatikan adab berdoa. Salah satu adab berdoa adalah tidak meminta sesuatu yang tidak lazim secara adat atau yang dikenal sebagai mustahil adi (meski termasuk jaiz aqli).

Kita dapat menderetkan contohnya mustahil adi, yaitu mengharapkan kekayaan melimpah tanpa usaha, memohon kesuksesan karier tanpa melalui proses panjang, mengangan-angankan nilai bagus tanpa belajar, berharap menguasai sebuah keterampilan tanpa giat berlatih, dan berharap hidup sehat tanpa upaya olahraga, membatasi porsi makan, atau menolak polusi yang masuk ke dalam tubuh.

وأن لا يدعو بمحال ولو عادة لأن الدعاء يشبه التحكم على القدرة القاضية بدوامها وذلك إساءة أدب مع الله تعالى

Artinya, “Seyogianya tidak meminta sesuatu yang mustahil dalam doa, meski pun mustahil secara adat karena doa seperti itu serupa dengan memutuskan sesuka hati atas kuasa-Nya yang memutuskan keabadiannya. Doa seperti merupakan su’ul adab (tidak sopan) terhadap Allah,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 92).

Dari sini, kita mendapat keterangan bahwa doa memang tidak memiliki batasan. Tetapi kita perlu memperhatikan adab berdoa agar permohonan kita dalam berdoa tidak melewati batas, yakni meminta sesuatu yang mustahil seperti minta hujan uang atau yang setengah mustahil menjadi sukses dalam hal apa pun tanpa proses, kerja keras, dan upaya konkret dalam mewujudkannya.

Tetapi yang perlu dipahami dari sini, bahwa adab berdoa ini bukan berarti mengecilkan kuasa Allah SWT. Allah SWT pernah mengabulkan doa para nabi untuk menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati, menurunkan makanan dari langit sebagaimana berlaku pada mukjizatul anbiya dan karamatul auliya. Hanya saja adab berdoa ini mendidik kita untuk menghargai proses dan kerja keras.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)