IMG-LOGO
Daerah

Ketua Muslimat NU Majalengka Ajak Tingkatkan Peran

Senin 17 September 2018 0:0 WIB
Bagikan:
Ketua Muslimat NU Majalengka Ajak Tingkatkan Peran

Majalengka, NU Online

Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Majalengka Jawa Barat diminta berperan aktif dalam segala bidang. Tidak hanya mengurus rumah, akan tetapi berperan aktif dalam ekonomi, sosial juga politik. 


Ajakan itu sebagaimana disampaikan Ketua Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Majalengka, Hj Minatun Maula pada peringatan hari lahir ke-72 Muslimat NU. Kegiatan mengambil tema Satukan Langkah Membangun Negeri dan menjaga NKRI, Ahad (16/9).


Kepada ribuan kader Muslimat NU Majalengka yang hadir, Hj Minatun mengajak untuk ikut menyosialisasikan program pemerintah maupun daerah. Menurutnya, dengan begitu Muslimat NU bisa mewakili suara perempuan.


"Alhamdulillah Pimpinan Pusat Muslimat NU dapat amanah dan mengingatkan kembali bahwa tahun 2019 adalah tahun politik. Maka semua harus kerja keras bersama-sama mewujudkan cita-cita  Muslimat NU yang tidak hanya mengurus rumah tetapi juga melek politik," katanya.


Pada kesempatan tersebut juga diingatkan agar para pengurus dan warga Muslimat NU untuk terus memberikan yang terbaik bagi diri, keluarga dan lingkungan sekitar. “Kita semua butuh loyalitas dan komitmen karena bisa melakukan yang terbaik," pungkasnya.


Peringatan harlah berlangsung di Pondok Pesantren Bustanun Nasyiin, Desa Buah Kapas, Kecamatan Sindang Wangi, Majalengka. (Tata Irawan/Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Senin 17 September 2018 23:30 WIB
Ma'arif NU Banyumas Gembleng Peserta KSN Nasional
Ma'arif NU Banyumas Gembleng Peserta KSN Nasional
Banyumas, NU Online
Wafa Abdania Zamzami, siswa Madrasah Tsanawiyah Ma’arif NU 1 Kebasen, Kabupaten Banyumas bakal mewakili Provinsi Jawa Tengah pada ajang Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Nasional di Bengkulu pada 23-29 September mendatang.

Wafa, panggilan akrabnya, sebagai juara I lomba bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) KSM tingkat Jawa Tengah yang digelar beberapa waktu lalu, terus digembleng secara intensif. Pembinaan teknis dilakukan mulai dari internal madrasah sampai ke tingkat provinsi.

Kepala MTs Ma’arif NU 1 Kebasen, Zidni Rosyadi, mengatakan materi pembinaan diberikan melalui pemusatan latihan dan karantina di bawah bimbingan mentor dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah bekerjsama dengan Universitas Negeri Semarang pada Senin (17/9).

Zidni menyampaikan bahwa upaya latihan di madrasah terus dimaksimalkan di bawah arahan guru pembimbing. Persiapan mental dan fisik juga dilakukan untuk menjaga stamina dan performa agar Wafa tetap sehat, konsentrasi dan fokus pada lomba.

“Arahan dari mentor di karantina memberikan tambahan wawasan, pengalaman dan kisi-kisi materi sebagai gambaran lomba. Melihat persiapan yang dilakukan, kita optimis dan harus yakin dapat meraih prestasi yang diharapkan,” tambah Zidni.

Terpisah, Ketua Pimpinan Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kabupaten Banyumas, Fauzi mengatakan pengalaman yang sudah didapatkan pada saat lomba di tingkat Jawa Tengah perlu diasah kembali melalui pendampingan dari guru pembimbing. Dukungan teknis pembinaan dan latihan yang matang diharapkan mampu mendorong prestasi yang membanggakan.  

“Langkah ini merupakan usaha bersama para guru, kepala madrasah, pembimbing, pendamping dan orang tua. Prestasi ini harus ditiru oleh siswa yang lain dan kami mendukung penuh untuk tetap dipertahankan. Penggemblengan peserta yang selama ini sudah dilakukan semoga membuahkan hasil yang optimal,” harapnya. (Musmuallim Ma’arif/Kendi Setiawan)
Senin 17 September 2018 22:0 WIB
Kenalkan Demokrasi, Madrasah Ini Gelar Pemilihan Ketua IPNU
Kenalkan Demokrasi, Madrasah Ini Gelar Pemilihan Ketua IPNU
Kudus, NU Online
Ribuan siswa MTs NU Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus, Jawa Tengah menyelenggarakan pemilihan umum atau Pemilu raya. Hal tersebut untuk menentukan Ketua Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di madrasah setempat.

Penyelenggaraan Pemilu merupakan kali pertama bagi madrasah pimpinan KH Hasan Bisyri MS ini. Hal tersebut sebagaimana diutarakan Ustadz Arif Musta’in selaku Wakil Kepala Madrasah bagian Kurikulum MTs NU TBS Kudus.

“Sistem Pemilu raya seperti ini merupakan yang pertama kalinya. Sebelumnya masih memilih secara langsung di masing-masing kelas,” jelas Ustadz Arif saat dihubungi NU Online, Senin (17/9).

Menurut Ustadz Arif, penggunaan sistem Pemilu raya merupakan langkah MTs TBS untuk mengenalkan siswa-siswanya demokrasi sedini mungkin. “Alasanya agar siswa tau proses demokrasi sedini mungkin,” ujarnya.

Pemilu raya ini nantinya akan diikuti seluruh siswa MTs NU TBS yang berjumlah 1.602 orang.  Mereka akan menggunakan hak pilihnya secara langsung dan rahasia. 

Pemilu tersebut akan dilaksanakan Selasa (18/9) dengan diikuti tiga calon ketua komisariat IPNU. “Ketiga calon berasal dari Jepara, Demak, dan Semarang,” jelasnya.

Menurutnya, Pemilu diawali penyampaian visi misi dan tanya jawab. “Kemudian dilanjutkan dengan kampanye,” jelas Ustadz M Jamiluddin. Sedangkan untuk penghitungan suara akan dilaksanakan setelah pemilihan pada hari itu juga, lanjutnya.

Ustadz Arif menjelaskan bahwa setelah Pemilu dapat tercipta pemilihan yang demokratis, dan siswa tahu serta mampu mengimplementasikan proses dengan baik.

“Ke depan lebih ditingkatkan lagi. Mungkin bisa ditambahi debat visi misi, pasangan calon ketua dan wakil jadi satu, dan sebagainya,” tutup Ustadz Arif. (Hanan/Ibnu Nawawi)

Senin 17 September 2018 19:0 WIB
Perang Media, Sulit Bedakan Berita Hak dan Hoaks
Perang Media, Sulit Bedakan Berita Hak dan Hoaks
Ketua PCNU Kota Bekasi, KH Zamakhsari A. Majid
Bekasi, NU Online
Ketua PCNU Kota Bekasi Jawa Barat, KH Zamakhsyari Abdul Majid mengatakan bahwa saat ini bangsa Indonesia sudah tidak berhadap-hadapan melawan penjajah secara fisik. Melainkan, masyarakat Indonesia di era milenial ini dihadapkan pada perang yang lain.

“Yaitu perang di media. Sehingga kita sudah sulit membedakan mana yang hak dan mana yang hoaks. Ini yang bahaya,” katanya, di SMK Prima Ma’arif NU, pada Sabtu (15/9).

Selain itu, Kiai Zamakhsyari melanjutkan, imbas dari pemikiran barat menyebabkan perang pemikiran yang sangat massif di Indonesia. Hal itu dinamakan sebagai bentuk westernisasi, yakni budaya barat.

“Kita berperang juga dengan budaya barat. Yaitu kemaksiatan-kemaksiatan yang dianggap lumrah. Anak-anak perempuan berpakaian ketat, anak laki-laki menggunakan anting, klub malam dan perhotelan tumbuh subur di mana-mana. Inilah imbas dari pemikiran barat yang kerap muncul melalui berbagai media informasi yang ada,” jelasnya.

Kiai Zamakhsyari kepada NU Online, Senin (17/8) menyampaikan agar para generasi muda NU dapat membedakan antara westernisasi dan modernisasi. Sesuatu yang harus dilawan itu adalah westernisasi karena akan menggerus kebudayaan bangsa Indonesia.

“Sementara modernisasi itu harus. Sebab modernisasi adalah pembaruan. Islam dan NU, tidak anti terhadap pembaruan karena itu merupakan hal yang positif. Punya ilmu dikembangkan, bisa bikin pesawat, bisa merakit mobil dan lain sebagainya,” pungkasnya. (Aru Elgete/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG