IMG-LOGO
Tokoh

Habib Utsman Rais Syuriyah PWNU Jabar 1960-1970

Senin 1 Oktober 2018 4:0 WIB
Bagikan:
Habib Utsman Rais Syuriyah PWNU Jabar 1960-1970
KH Habib Utsman bin Husein bin Utsman bin Abdurrahman Al-Idrus lahir di Kota Bandung pada tanggal l Ramadhan 1329 H bertepaten dengan (1911 M.) Ia adalah ulama dan tokoh masyarakat Jawa Barat yang dikenal tidak saja karena pemikiran-pemikirannya seperti yang tertuang dalam berbagai media, melainkan juga karena perhatiannya yang sangat besar kepada dunia kependidikan. 

Ia adalah pendiri Yayasan Assalaam yang bergerak dalam bidang pendidikan formal, mulai dari jenjang Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Menengah Umum, maupun nonformal, serta dalam bidang sosial keagamaan. 

Ia juga perintis dan pendiri Universitas Nahdlatul Ulama (UNNU) yang merupakan cikal bakal Universitas Islam Nusanlara (Uninus) sekarang ini, dan anggola Dewan Kurator Universilas Islam Bandung (UNISBA) (1962-1985).

Pergaulannya luas. Ia dikenal dengan berbagai tokoh termasuk kalangan pemerintahan. Hal itu menjadikannya seorang tokoh masyarakat yang disegani. 

Dalam keluarga besar Nahdlatul Ulama, terutama di Jawa Barat, ia mendapatkan tempat tersendiri. Di kalangan NU sendiri tercipta kultur penghormalan tinggi kepada keturunan Nabi Muhammad (habaib). Namun, di kalangan NU, ia dihormati tidak saja karena kehabibannya, melainkan karea keulamaannya dan perjuangannya di organisasi itu. 

Habib Utsman tercatat Rais Syuriyah NU tingkat Kotamadya Bandung (1950-1955) dan kemudian Rais Syuriyah Pengurus Wilayah NU Jawa Barat (1960-1970). Pada tingkatan nasional, ia terpilih sebagai Ketua Panitia Muktamar NU ke-24 (1967) di Bandung. 

Di kalangan NU, ia dikenal dekat dengan tokoh-tokoh nasional seperti KH Idham Chalid, H. Subhan Z.E., KH Anwar Musyadad, KH Saifuddin Zuhri, KH Burhan, dan KH Moch. Dahlan. Juga H Mahbub Djunaidi, seorang kolumnis terkenal di samping tokoh NU. Bahkan Mahbub Djunaidi dikebumikan di pemakan keluarga sang habib.

Karena kecintaannya kepada NU, ia mengajak kiai di Jawa Barat untuk aktif di NU. Salah satu kiai yang pernah dimintanya adalah KH Ahmad Syuja’i Cianjur, salah seorang kiai yang banyak melahirkan tokoh NU di wilayah Sukabumi, Bogor dan Cianjur sendiri, saat ini.  

Beliau sendiri, bersama dengan KH Abdul Hamid dan KH Abdullatief Yasin dikenal sebagai tiga serangkai yang selalu bersama-sama dan seia sekata dalam melaksanakan tugas berdakwah dan berorganisasi di NU. 

Dekat dengan Kalangan Pesantren
Meski seorang habib, ia menuntut ilmu kepada kalangan pesantren Sunda. Pada masa mudanya, ia pernah nyantri di pondok pesantren terkenal, yaitu Gentur, Cianjur, yang diasuh Mama Ajengan KH Ahmad Syatibi. Sebuah pesantren yang melahirkan tokoh-tokoh besar, di antaranya KH Ahmad Sanusi (Sukabumi), pengarang Tafsir Raudlatul Irfan dan pendiri organisasi Al-Ittihadul Islamiyah (AII, yang kemudian bergabung dengan Perkumpulan Ulama menjadi Persatuan Umat Islam, PUI).

Sepulang menghabiskan waktu empat tahun mengaji kepada Gentur, Habib Utsman menjadi santri kelana. Ia kemudian berguru ke pesatren-pesantren lainnya. Ia melakukan tabaruk kepada para ulama pimpinan pesantren. 

Ia kemudian menjalin hubungan dekat dengan tokoh-tokoh pesantren di antaranya dengan KH Abdullah Falak, Pagentongan (tokoh NU Bogor), KH Sholeh Madani (Cianjur), Mama Ajengan Santang dan KH Abdumhman, KH Tubagus Bakri (Mama Sempur), ketiganya di Purwakarta, Mama Cibaduyut, Mama Cijawura (Bandung) dan lain-lain. 

Beliau dikenal sangat-istiqonmh dalam melaksanakan amaliah kesehatian. Beliau bangun pada sekilar pukul liga dini hnri, melaksanakan shalat malam, mengaji, memimpin shalat. Kemudian memberikan ceramah subuh, ceramah dluha, dan melaksanakan tugas-tugasnya di Yayasan Assalaam. Dengan naik sepeda, kemudian bertabligh.

Di tengah kesibukannya itu, ia menuangkan pemikiran dari keilmuannya melalui buletin yang rutin diterbitkan  1974-1985. Kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku yang diberi judul, Panggilan Selamat. Karyanya yang lain adalah Sumber Peradaban, Al-Muslih dan Tutungkusan. 

Secara garis besar, khazanah pemikirannya terbagi ke dalam beberapa topik antara lain, Islam sebagai agama yang haq, hakikat manusia, hakikat kehidupan, arkanul iman dan implikasinya dalam amal saleh, arkanul Islam berikut hikmah amaliahnya, akhlak dan tasawuf, peristiwa-peristiwa besar yang sarat makna, Asmaul Husna, dan kapita selekta tentang kehidupan sehari-hari. 

Menurut Habib Utsman, agama Islam adalah agama yang haq (benar), pembawa damai dan selamat. Agama Islam diperuntukan bagi manusia hidup, yang hidup akal pikirannya, perasaannya, kemauannya, dan tujuan hidupnya. Dengan agama manusia berbeda dengan binatang, dengan agama manusia menjadi makhluk yang mulia dibandingkan dengan makhluk lainnya. 

Kesempurnaan ilmu seseorang baru berarti apabila disertai agama. Tujuan agama adalah kebenaran dan sasaran ilmu juga kebenaran. Keduanya menuju kebenaran mutlak. Oleh karena itu, ilmu tidak boleh bertentangan dengan agama. Ilmu untuk mengetahui dan agama untuk merasakan, menghayati, dan mengamalkannya. Ilmu itu bendanya dan agama adalah jiwanya. 

Habib Utsman wafat pada 7 Maret 1985 di Bandung dalam usia 74 tahun. Meski dia telah tiada, warisan keilmuannya terwariskan kepada murid dan anak cucunya, yaitu lembaga pendidikan dan karya tulis. Perjuangannya di NU dilanjutkan salah seorang putranya, Habib Syarif yang pernah menjadi Ketua PWNU Jawa Barat dan kini menjadi mustasyar PCNU Kota Bandung. (Abdullah Alawi)




Bagikan:
Sabtu 29 September 2018 5:0 WIB
KH Mas Abdurrahman dari Mathla'ul Anwar ke NU
KH Mas Abdurrahman dari Mathla'ul Anwar ke NU
Ada beberapa organisasi yang memiliki hubungan erat dengan NU. Di Lombok, Nusa Tenggara Barat ada namanya Persatuan Ulama Islam Lombok (PUIL) yang berpusat di Ampenan. Ketika NU berdiri, para tokohnya meleburkan organisasnya dengan NU.

Di Sulawesi Selatan ada Darud Dakwah wal-Irsyad (DDI). Para pengurusnya banyak yang merangkap dengan menjadi pengurus NU. Misalnya KH Ali Yafie. Dan itu sepertinya tidak ada persoalan bagi dua organisasi ini. 

Di Sumatera Barat ada Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) yang didirikan Syekh Sulaiman Ar-Rasuli. Dengan organisasi ini pun NU memiliki sejarah hubungan yang sangat erat. Bahkan bersama-sama mendirikan Liga Muslimin Indonesia pada tahun 1952. Para tokoh dua organisasi ini pun saling mempromosikan. Majalah Berita Nahdlatoel Oelama misalnya merokomendasikan pembacanya untuk membaca buku karya-karya tokok Perti KH Sirojuddin Abbas. Tak heran makanya karyanya menjadi konsumsi di pesantren-pesantren NU. 

Hal itu terjadi karena pemikiran dan haluan organisasi tersebut sejalan dengan NU. Di Subang, ada kiai bernama Moch Anwar. Ia pernah menjadi pengurus NU di Karawang dan di Subang sendiri, tapi kemudian menjadi pengurus Perti.   

Di Sumatera Utara ada organisasi Al-Washliyah. Organisasi itu tetap eksis hingga sekarang. Namun, di antara anggota dan pengurusnya, dalam waktu yang sama aktif juga di NU. Bisa ditemukan misalnya KH Fadlan Zainuddin. Ia adalah anggota Al-Wahsliyah yang menjadi Ketua Jam’iyyatul Qurra wal-Huffaz NU, badan otonom tempat berkumpulnya pra qari dan qariah dan penghafal Al-Qur’an. 

Di Pandeglang ada namanya Mathlaul Anwar yang didirikan oleh beberapa kiai, salah seorang di antaranya adalah KH Mas Abdurrahman. Namun, ketika salah seorang sahabatnya, Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari mendrikan NU, para pendiri Math'laul Anwar sepakat meleburkan diri dengan NU.

KH Mas Abdurrahman sendiri merupakan kiai yang sejak awal ikut muktamar NU pertama di Surabaya. Bahkan ia didudukan pada posisi syuriyah. Satu-satunya kiai dari Jawa Barat yang mendapakannya.  

Mungkin karena ketokohan dia juga sehingga Muktamar NU ke-13 berlangsung di daerahnya, di Menes.

Pada muktamar ketiga, ia kembali duduk di Syuriyah HBNO. Dan dia merupakan satu-satunya ulama dari Jawa Barat yang mendapat kedudukan itu.  Ia hadir pula di muktamar keempat, Semarang tahun 1929. 

Pada muktamar ketiga itu ia menjadi pemimpin di Majelis ketujuh dengan anggota Kiai Hasyim, Kiai Ridwan, Kiai Asnawi, Kiai Yasin (Banten). Ia juga menjadi anggota pada Komisi Lima. Muktamar-muktamar selanjutnya ia terus mengikuti, diantaranya muktamar ke-15 di Surabaya. Sepanjang hidupnya, ia mengikuti muktamar NU, kecuali saat berlangsung di luar Jawa, yaitu pada tahun 1936 di Banjarmasin. 

KH Mas Abdurahman lahir sekitar 1875 dan wafat tahun 1942. Ia dimakamkan di Sodong, Menes. Ia pernah nyantri di Pesantren Sarang (Jawa Tengah), Pesantren Agung Caringin, Purwakarta (Jawa Barat), dan berguru di Makkah. Di sanalah ia bertemu dengan tokoh-tokoh yang kemudian mendirikan NU. 

Ayahnya bernama Jamal. Dari silsilahnya, ia merupakan keturunan sultan Banten sehingga namanya diawali Mas. (Abdullah Alawi) 

Senin 17 September 2018 8:0 WIB
Ibnu Ruslan dan Matan Zubadnya
Ibnu Ruslan dan Matan Zubadnya
Jarang ada ulama sebelum Ibnu Ruslan membuat Matan Zubad, sebuah nazham berisi kajian fiqih. Nazham ini sangat terkenal, di dunia maupun di Nusantara, terkhusus di kalangan santri, lantaran mereka mempelajarinya di pesantren.

Nama lengkap pemilik nazham ini adalah Al-‘Allamah Syihabuddin Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Husain bin Hasan bin ‘Ali bin Yusuf bin ‘Ali bin Ruslan Ar-Ramly As-Syafi’i. Ia lahir di kota Ramlah yang terletak di Palestina pada tahun 773 H. Ada pendapat lain yang mengatakan 775 H. Ia tumbuh di sana dan hafal Al-Quran sejak usia 10 tahun.

Dalam permulaan mencari ilmu, ia memulai dengan mendalami ilmu nahwu, bahasa, dan nazham. Ia kemudian mempelajari kitab Al-Hawi kepada Syekh Syamsudin Al-Qalqasandy. Setelah melanjutkan petualangannya dalam menuntut ilmu, ia sampai di sejumlah muhadditsin pada zaman itu.

Ibnu Ruslan talaqi (membaca di hadapan guru) kitab Shahih Bukhari kepada Syekh Syihabuddin Abu Al-Khairi bin ‘Al-‘Ala, Kitab Muwattho’ yang dengan riwayat Yahya bin Bukair kepada Syekh Abu Hafsh ‘Umar bin Muhammad ‘Ali As-Sholih, Kitab Jami’ At-Tirmidzi, Sunan Ibn Majah, As-Syifa, dan Syirah Ibn Hisyam kepada Syekh Abu Al-‘Abbas Ahmad bin ‘Ali bin Sanjar Al-Mardini, dan membaca sebagian banyak kitab Bukhari kepada Syekh Jalal Al-Bulqini sekaligus mengizinkannya untuk mengeluarkan fatwa, dan mempelajari nahwu pada Syekh Al-Ghumary begitu juga An-Nasawury yang memberi ijazah dalam ilmu nahwu.

Konon ia terus-menerus mengulang-ngulang apa yang telah dipelajarinya, selalu melazimkan memuthala’ah ilmu serta sibuk bermukim di Quds Palestina. Namun kadang-kadang juga di Ramlah sehingga ia dinobatkan sebagai imam yang terkemuka dalam masalah fiqih, ushul fiqih, bahasa arab, sekaligus tafsir, hadits dan ilmu kalam.

Ibnu Ruslan juga terkenal dengan ketaatan dan kerajinannya dalam beribadah terkhusus shalat tahajjud. Selain itu ia lebih suka ‘khumul’ dan zuhud, sehingga di kemudian hari menjadi panutan bagi para salik dan menanamkan mahabbah Allah SWT di hati manusia.

Imam Ibnu Ruslan menuntut ilmu kepada sejumlah masyaikh pada zamannya. Di antaranya: ilmu fiqih kepada Syekh Syamsuddin Al-Qalqasandy, ilmu faraidh dan hisab kepada Syekh Syihabuddin ibn Al-Haim, ilmu tasawuf sekaligus talqin zikir kepada Jalaluddin Al-Busthami, Shihabuddin bin Nashih, Muhammad Al-Qarmy, dan Muhammad Al-Qadiry. Kemudian ia banyak bertalaqi kepada Abu Hurairah bin Adz-Dzahabi, Ibnu Al-‘Izz, Ibn Abu Al-Majdi, Ibnu Shiddiq.

Guru-gurunya antara lain adalah At-Tanukhy, Ibnu Al-Kuwayki, Abu Al-‘Abbas Ahmad bin ‘Ali bin Sanjar Al-Mardini, Nasim bin Abi Sa’id Ad-Daqqaq, Ali bin Ahmad An-Nawiry Al-‘Aqily, Shihabuddin Al-Hasbani, Jalaluddin Al-Bulqini, Sirajuddin Al-Bulqini yang merupakan ayahnya sendiri.

Murid-murid yang menuntut ilmu kepadanya sangat banyak. Namun ia tidak menyebutkan dalam sumber manapun mengenai hal ini. Meski begitu, Imam As-Sakhawi mengatakan bahwa Al-Kamal bin Abi Syarief dan Syihabuddin Abu Al-Basith Ar-Ramly pernah belajar kepada Ibnu Ruslan.

Imam Ibnu Ruslan banyak meninggalkan karangan yang sangat banyak manfaatnya dalam berbagai macam bidang keilmuan. Karyanya meliputi: Syarah Sunan Abu Dawud sebanyak sebelas jilid, Syarah Al-Hawi dalam ilmu furu’, Syarah Jam’il Jawami’ milik Imam As-Subki, Syarah Mukhtashar Ibn Al-Hajib, Nihayah As-Sul Syarah Minhajul Wushul milik Imam Baidhawy, Syarah Shahih Al-Bukhari baru mencapai akhir bab haji berjumlah tiga jilid, Syarah Thayyibat An-Nashr fi Al-Qira’at Al-‘Asyr berjumlah sebelas jilid, Syarah Mulhatul I’rab milik Imam Al-Hariri, Syarah Al-Fiyah Al-‘Iraqi, sebuah ta’liqat kitab Syifa milik Qadhi ‘Iyadh, syarah Al-Bahjah Al-Wardiyyah, Tanqih Al-Adzkar An-Nawawi, Mukhtasar Al-Minhaj, Mukhtasar Raudhatut Thalibin, Manzhumah Ats-Tsalats Al-Qira’ah Az-Zaidah ‘ala As-Sab’i, Manzhumah Ats-Tsalats Az-Zaidah ‘ala Al-‘Asyr, Mukhtasar Hayat Al-Hayawanat, I’rab Al-Alfiyah, Thabaqatul Fuqaha As-Syafi’iyah, Syarah Tarajum Ibn Jamrah, Ar-Raudhah Al-Ardhiyyah Fi Qismil Faridhah, Suthurul A’lam, Syarah Muqaddimah Az-Zahid, Shafwah Az-Zubbad.

Ibnu Ruslan wafat pada 24 Syaban tahun 844 H di tempat tinggalnya di Palestina.

Kitab Shafawatu Zubad atau yang lebih dikenal dengan matan Zubad berisi tiga disiplin ilmu penting dalam Islam, yaitu ilmu tauhid, fiqih, dan tasawuf. Tiga ilmu tersebut adalah refleksi dari hadits yang diriwayatkan sahabat Umar RA tentang islam, iman, dan ihsan:

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ (رواه مسلم)

Artinya, “Dari Umar RA, ia berkata, Ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah SAW suatu hari tiba-tiba datang seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk di hadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah SAW) seraya berkata, “Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam?” Rasulullah SAW bersabda, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang disembah selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu.” Kemudian ia berkata, “Anda benar.” Kami semua heran, ia yang bertanya dan ia pula yang membenarkan. Kemudian ia bertanya lagi, “Beritahukan aku tentang Iman.” Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir. Engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Kemudian ia berkata, “Anda benar.” Kemudian ia berkata lagi, “Beritahukan aku tentang ihsan.” Lalu Rasul SAW bersabda, “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya. Jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau.” Kemudian ia berkata, “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Rasul bersabda, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Ia berkata, “Beritahukan aku tentang tanda-tandanya.” Rasul bersabda, “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya.” Kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian Rasulullah bertanya, “Tahukah engkau siapa yang bertanya?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasul SAW bersabda, “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian,” (HR Muslim).

Ibnu Ruslan menyusun matan ini dengan bentuk rajaz, sebagaimana yang lebih sering dipakai di beberapa kitab manzhumah yang ada. Meski berbentuk nazham, matan Zubad lumayan mudah dipahami bagi para pelajar atau pemula.

Ibarat dalam ilmu fiqih, nazham ini seperti Fathul Qarib atau dalam ilmu ushul fiqih seperti Waraqat yang mana keduanya banyak digunakan oleh para pelajar yang baru memulai mendalami fiqih maupun ushul fiqih.

Imam Ibnu Ruslan mengisyaratkan dalam mata ini di dalam mukaddimahnya:

يسهل حفظُها على الأطفال # نافعة لمبتدي الرجال
تكفي مع التوفيق للمشتغل # إن فهمت وأُتبعت بالعمل

Artinya, “Mudah menghafalkannya bagi anak-anak/dan bermanfaat untuk pemula dari kalangan orang dewasa/
Nazham ini mencukupi (dari yang selainnya) bersama dengan taufiq bagi orang yang menyibukan diri (untuk membaca dan mempelajarinya/jika dipahami dan diikuti dengan amal.”

Ar-Ramli dalam bait kedua ini menerangkan bahwa taufiq adalah di mana Allah SWT menciptakan kemampuan pada seorang hamba untuk melaksanakan ketaatan. Ketaatan adalah sumber dari seseorang bisa memahami suatu ilmu, sebagaimana Allah SWT berfirman:

واتقوا الله ويعلمكم الله  والله بكل شيء عليم

Artinya, “Takwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarkanmu,” (Al-Baqarah ayat 282).

Ayat ini menunjukkan janji Allah SWT bahwa siapa pun yang bertakwa akan diberikan suatu pemahaman dan ilmu. Begitu juga Allah SWT akan menjadikan cahaya di hati orang ini sehingga mudah dalam memahami ilmu.

Matan yang berisi intisari hukum-hukum fiqih ini sangat cocok dijadikan pedoman kita dalam mengarungi bahtera kehidupan di dunia. Tertarik untuk membacanya? (Amien Nurhakim)
Kamis 13 September 2018 9:0 WIB
KH Masruri Mughni dan Budaya Menghafal Al-Qur’an Masyarakat Benda
KH Masruri Mughni dan Budaya Menghafal Al-Qur’an Masyarakat Benda
KH Masruri Abdul Mughni
Setiap tanggal 1 Muharam tahun Hijriyah, masyarakat Desa Benda, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, mengadakan Haul Akbar al-Maghfūr lah KH Masruri Abdul Mughni (1943-2011 M) atau yang akrab disapa Abah Masruri. Namun, sebagian masyarakat belum banyak yang tahu tentang keunikan desa tersebut sebagai kampung yang aktif “memproduksi” Ḥāfiẓ/Ḥāfiẓah di setiap generasinya.

Pada umumnya, Desa Benda dikenal oleh khalayak masyarakat sebagai kampung santri karena keberadaan Pesantren Al-Hikmah, terutama ketika di bawah kepemimpinan kharismatik Abah Masrur, sebagai tokoh generasi kedua.

Meski tidak sepenuhnya salah, namun satu fakta yang tidak boleh luput dari tinta sejarah adalah penisbatan Desa Benda sebagai Dār al-Qur’ān atau desa hunian Qur’āni. Penisbatan demikian tidaklah berlebihan dan sangat beralasan mengingat di samping desa ini memiliki tidak kurang 7 pesantren Taḥfiẓ al-Qur’ān, desa ini juga telah bershasil menciptakan budaya menghafal al-Qur’an bagi masyarakat setempat dan di sekitarnya.

Tujuh pesantren di Desa Benda yang dirintis khusus pembelajaran Taḥfiẓ al-Qur’ān adalah Pesantren Al-Hikmah, Pesantren Al-Amīn, Pesantren Al-ʻIzzah, Pesantren Manārul Qur’ān, Pesantren Al-Istiqāmah, Pesantren Nūr al-Qur’ān, dan muncul belakangan adalah Pesantren Al-Hikmah 1.

Oleh karenanya tidak sedikit para ulama dan tokoh nasional yang sempat berkunjung ke Desa Benda selalu menyebutnya sebagai Dār al-Qur’ān atau Desa Al-Qur’ān  yang layak masuk rekor MURI. Fakta demikian semakin diperkuat dengan data statistik tahun 2013 yang mencatat bahwa jumlah Ḥāfiẓ/Ḥāfiẓah penduduk desa Benda (non-santri) sebanyak 165 orang (JQH Brebes, 2013). Jumlah ini menurun drastis dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan wawancara peneliti dengan ʻIzzuddīn Masruri, Putra Abah Masrur sekaligus Pengasuh Pesantren Taḥfiẓ al-Qur’ān Al-Hikmah, diperoleh sebuah informasi bahwa pendidikan Taḥfiẓ al-Qur’ān di Desa Benda tidak sekonyong-konyong ada, tetapi melalui sebuah proses panjang pengenalan al-Qur’ān  kepada masyarakat yang dimulai dari era Kiai Nasir sampai Kiai Suhaimi.

Kiai Nasir adalah orang yang pertama kali memperkenalkan bacaan al-Qur’ān  kepada masyarakat Benda meski dari segi kualitas bacaan tidak sempurna seperti pengucapan yā ḥayyu menjadi yā kayyu,walāḍḍāllīn menjadi walā lalin dan sebagainya, sampai dengan datangnya Kiai Khalīl bin Maḥallī. Maka perlu dicatat bahwa orang yang pertama kali mereformasi bacaan al-Qur’ān secara tepat dan benar berdasarkan kaidah tajwid adalah Kiai Khalīl sampai dengan lahirnya budaya menghafal al-Qur’ān  di era Kiai Suhaimi 11 tahun kemudian (1922 M).

Abah Masrur adalah cucu pendiri Pondok Pesantren Al-Hikmah (1911 M), KH. Cholil bin Mahali. Ulama yang menjadi Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah hampir dua periode ini dikenal khalayak sebagai kiai kharismatik yang ʻālim hampir di semua bidang ilmu keagamaan sebagaimana menu harian yang dibaca untuk santrinya mulai dari Fatḥ al-Wahāb, Tafsir Jalālain, Sharaḥ Ibn ʻAqīl sampai Ihyā ‘Ulūm al-Dīn.

Khusus bagi santri yang belajar di Madrasah Mu’allimīn dan Muʻallimāt akan mendapat servis plus darinya dengan materi ilmu tafsir, ilmu ‘arūḍ dan ilmu falak. Waktunya hampir habis untuk mengajar para santri yang dimulai dari baʻda subuh hingga tengah malam dan itu dilakukan dengan istiqāmah hingga menjelang wafatnya.

Tidak berlebihan jika sebagian masyarakat menisbatkan tarekatnya sebagai tarekat taʻlīmiyah. Atau bahkan ada yang menisbatkannya dengan tarekat mbanguniyah karena di eranya lah, Al Hikmah mengalami perkembangan pesat dalam ranah pendidikan yang dibarengi dengan pembangunan sarana dan prasarana yang tak bertepi.

Dalam konteks budaya menghafal, kiprah dan kontribusi Abah tidak dapat diabaikan. Meski tidak secara langsung membawahi Pesantren Taḥfiẓ al-Qur’ān, sebagai generasi kedua, peran Abah sangat krusial dan substansial. Abah tidak pernah merasa sungkan untuk selalu memberi motivasi kepada khalayak masyarakat khususnya santri untuk menjadi Ahl al-Qur’ān dengan menghafalkannya.

Bahkan di setiap pengajian-pengajian majlis taʻlim, Abah tidak jarang memberikan tawaran beasiswa kepada siapa saja yang mau menghafal al-Qur’ān dan di manapun pesantren yang diinginkan. Sebuah terobosan yang juga dilakukan pendahulunya, Kiai Suhaimi yang tidak sungkan untuk menjemput bola dan mengajak orang untuk menghafal al-Qur’ān.

Semangat Abah bukan tanpa alasan tetapi terinspirasi oleh ajaran fiqh yang menghukumi Farḍu Kifāyah di dalam menghafal al Qur'ān, yakni harus ada sebagian umat Islam yang hafal Al Qur’ān. Ia melihat selama ini belum ada lembaga yang menyatakan sanggup menjaga ketentuan fardlu kifayah yang satu ini. Untuk itu, melalui pondok pesantrennya, ia ingin sebisa mungkin menjaga ketentuan ini.

“Jangan sampai pada suatu masa nanti, tidak ada lagi satu pun umat Islam yang hafal kitab suci yang terbagi dalam 6 ribu lebih ayat, 114 surat dan 30 juz itu”(Profil Pondok Pesantren Al-Hikmah, t.t.). Bahkan dengan para penghafal al-Qur’ān, Abah tidak segan mengungkapkan jargon “Afḍal al-Ṭarīqah Ṭarīqah Al-Qur’ān”.

Motivasi Abah ini memiliki pengaruh luar biasa di dalam menjaga budaya menghafal al-Qur’an bahkan berhasil melakukan terobosan ke arah pengembangan. Bertambahnya jumlah Pesantren Taḥfiẓ al-Qur’ān di Desa Benda disertai massifnya generasi penerus penghafal al-Qur’an, merupakan fakta yang menggembirakan.

Untuk menyebut dari sekian generasi penerus dan beberapa pesantren yang lahir kemudian seperti Ustāẓ ʻAbdul Hādi (menantu dan penerus Kiai Fatih), KH. Abdul Rauf, KH. Abdur Rasyid dan KH. Mustofa (ketiganya merupakan anak dan penerus KH. Aminuddin), KH. Izzuddin dan Nyai Hj. Minhah (keduanya adalah penerus KH. Alī Ashʻāri).

Sedangkan beberapa Pesantren Taḥfiẓ al-Qur’ān yang lahir kemudian adalah Pesantren Al-Istiqāmah di bawah asuhan KH. Abdul Jamil, Pesantren Nūr al- Qur’ān di bawah Asuhan Kiai Nashroh, Pesantren Al-Izzah di bawah asuhan Ny. Hj. Minhah (isteri KH. Alī ʻAshʻārī) beserta puteranya Ustaẓ Faiq Muʻin dan terkahir pesantren Al-Hikmah I yang diasuh Ustaẓ Ḍiyāulhaq (cucu Kiai Suhaimi dari garis KH. Shodik Suhaimi).

Dengan meningkatnya jumlah generasi penerus dan berkembangnya jumlah pesantren Tahfidz al-Qur’ān, merupakan lompatan besar sebagai keberhasilan kaderisasi yang dilakukan generasi sebelumnya. Dan semuanya tidak dapat dilepaskan dari pengaruh Abah sebagai tokoh sentral masyarakat Desa Benda.

Namun demikian, bertambahnya jumlah pesantren dan jumlah generasi tidak berbanding lurus dengan semangat budaya menghafal al-Qu’ān masyarakat Desa Benda. Hal ini dapat dilihat dari keengganan masyarakat untuk menghafal al-Qur-ān akhir-akhir ini karena sudah dianggap tidak prospektif atau meminjam istilah Kiai Ahsin Sakho sebagai kelompok “masa depan suram”.

Di sinilah makna kerinduan motivasi, laiknya motivasi dari seorang Abah dibutuhkan. Motivasi sebagai suntikan ampuh untuk masyarakat dan khususnya masyarakat Desa Benda agar semakin mencintai al-Qur’ān dan menghafalnya kembali. Setidaknya untuk membuktikan kepada khalayak umum bahwa seorang ḥāfiẓ/ḥāfiẓah tidak lagi identik dengan kelompok masa depan suram tetapi kelompok yang menjaga kalimat Allah dan tentunya membawa pencerahan.
Agus Irfan, alumni Al-Hikmah, Pengurus Ansor Jawa Tengah dan Pengasuh Pesantren Mahasiswa Sultan AgungUNISSULA Semarang.

Referensi :
1. Agus Irfan, Kontekstualisasi Pendidikan Tahfidz al-Qur’ān, Penelitian DIPA Kopertais, Kemenag, 2013.
2. Profil Pondok Pesantren Al-Hikmah, t.t.
3. Laporan Jam’iyat al-Qurrā wa al-Ḥuffāḍ (JQH), Kabupaten Brebes, 2013.
4. Wawancara dengan Izzudin Masruri, 2013 dan 2018
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG