Ada Indikasi Pembunuhan KH Asmuni Bermotif Politik

, Ada Indikasi Pembunuhan KH Asmuni Bermotif Politik
, Ada Indikasi Pembunuhan KH Asmuni Bermotif Politik

Jakarta, NU.Online
Berdasarkan hasil penyelidikan tim investigasi Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Lumajang, ditemukan indikasi kuat pembunuhan Pengurus Anak Cabang (PAC) PKB, KH Asmuni, bermotif politik. Meski demikian, tim investigasi tidak mengklaim hasil temuan mereka sebagai yang paling benar dan tetap menghormati hasil penyelidikan pihak kepolisian.

Hasil penyelidikan tim itu disampaikan oleh Ketua DPP PKB, AS Hikam, dan Sekretaris Tim, Misbahul Munir, di Jakarta, Jumat (5/12). "Pemberitaan kasus ini mulai membesar. Untuk itu, DPP PKB merasa berkewajiban melakukan penyelidikan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap para nahdliyin," kata Hikam.

<>

Dikatakan, pemberitaan yang semakin membesar itu bisa menyebabkan terjadi simpang siur dalam melihat kasus pembunuhan itu. Tim investigasi PKB itu, kata Hikam, dibentuk untuk mengatasi perbedaan tafsir berbagai pihak atas peristiwa itu. "Salah tafsir itu bisa berdampak pada PKB apalagi kontroversi yang muncul saat ini menyangkut masalah motif pembunuhan. Namun, hasil penyelidikan ini sekadar versi PKB dan memang belum maksimal. Kami tidak akan mengesampingkan hasil penyelidikan lain, termasuk dari tim kepolisian," kata Hikam.

Menurut Misbahul, tim investigasi DPC PKB Lumajang telah memeriksa beberapa orang sebagai saksi. Saksi utama adalah istri, anak-anak, dan saudara korban. Dari hasil pemeriksaan itu, tim menyimpulkan ada indikasi kuat kasus pembunuhan KH Asmuni itu bermotif politik. Namun, Misbahul tidak menegaskan motif politik seperti apa yang menjadi motif itu. "Beberapa saat setelah terjadi pembunuhan muncul paling tidak lima dugaan motif, yaitu perampokan, persaingan bisnis, balas dendam, salah sasaran, dan politik. Namun, hasil penyelidikan kami, empat motif awal sangat tidak kuat," kata Misbahul.

Berdasarkan keterangan istri korban, Mudmaidah, orang yang hendak dibacok pertama kali bukan KH Asmuni melainkan istrinya. Korban terkena bacokan setelah berusaha membela istrinya. Selain itu, menurut istri korban, usai melakukan aksinya para pelaku langsung melarikan diri dan menghilang. Berdasarkan keterangan anak-anak korban, jumlah pelaku lebih dari enam orang. "Hal yang menguatkan dugaan kami adalah munculnya aksi teror terhadap sejumlah tokoh PKB setelah peristiwa pembunuhan itu. Teror disampaikan melalui saluran telepon rumah yang meminta aktivis PKB Lumajang tidak membesarkan partai itu agar tidak bernasib sama seperti KH Asmuni," kata Misbahul.

Pada kesempatan itu Misbahul juga menyesalkan sikap tidak profesional dari aparat kepolisian. Pasalnya, garis polisi (police line) baru dipasang di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) tiga hari setelah peristiwa pembunuhan itu terjadi.

Ketua Umum PBNU KH A Hasyim Muzadi mengatakan, dia telah memperoleh informasi bahwa tewasnya tokoh PKB Lumajang KH Asmuni bermotif dendam pribadi dengan menggunakan pembunuh bayaran. "Sebaiknya warga NU ikut mendoakan pula agar kerja keras aparat kepolisian membuahkan hasil dengan mengungkap lebih cepat tersangka pelakunya secara benar, dengan bukti-bukti material yang cukup," kata Hasyim usai memberikan bantuan sumbangan Rp 5 juta kepada keluarga almarhum KH Asmuni, kemarin.

Hasyim mengaku sudah memperoleh informasi, ada seseorang yang disebutkan polisi ikut terlibat kasus pembunuhan Kiai Asmuni dengan latarbelakang dendam pribadi. "Mungkin pelakunya menggunakan jasa sekelompok pembunuh bayaran," ujar pengasuh Pesantren Al Hikam Malang itu.

Menurut Hasyim, warga NU jangan malah ikut mempolitisasi orang meninggal untuk kepentingan sesaat, tetapi membantu keluarganya dan mendoakan arwah almarhum agar diterima di sisi Allah SWT. Dia juga mengulangi harapannya agar semua warga NU tidak ikut-ikutan terseret adanya upaya politisasi atas musibah yang menimpa Rais Syuriah Majelis Wilayah Cabang Nahdlatul Ulama (WMC-NU) Jatiroto, Kamis (27/11) malam lalu tersebut. (sp/cih)***

 

BNI Mobile