Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

China Luncurkan Kampanye Anti-Halal di Xinjiang

China Luncurkan Kampanye Anti-Halal di Xinjiang
Foto: dw.com
Foto: dw.com
Shanghai, NU Online
Otoritas China meluncurkan kampanye anti produk yang berlabel halal di Provinsi Xinjiang dengan alasan untuk memerangi ekstremisme dan menghentikan pengaruh Islam dalam kehidupan sekuler di China.

Dikutip laman Reuters, Rabu (10/10), dalam sebuah pertemuan pada Senin (8/10) lalu para elit Partai Komunis Urumqi Xinjiang memimpin para kadernya untuk bertekad bertarung melawan ‘pan-halalisasi.’ 

Para pemimpin partai juga mengatakan, anggota partai dan pejabat pemerintahan perlu menegaskan kepercayaan mereka pada Marxisme-Leninisme, bukan pada agama. Mereka juga harus berbicara dengan bahasa Mandarin di depan umum.

Di Global Times, sebuah tabloid yang dikelola China, ada beberapa artikel pembenaran terkait langkah China meluncurkan kampanye anti-halal. Di artikel tersebut, para ahli menyebutkan kalau tren halal cenderung membuat batas antara agama dan kehidupan sekuler menjadi kabur. Akibatnya, ini akan membuat Xinjiang mudah jatuh ke dalam ekstremisme agama.   

Perlu diketahui bahwa Xinjiang adalah rumah bagi Muslim Uighur. Secara administratif, Xinjiang merupakan sebuah wilayah yang otonom. Namun Beijing tetap mengontrol wilayah tersebut. Yakni dengan menerbitkan peraturan-peraturan yang memberatkan Muslim Uighur dalam menjalankan ajaran agamanya.

Muslim Uighur adalah etnis minoritas yang ada di China. Mereka menganggap dirinya lebih dekat dengan bangsa Turki di Asia Tengah dalam hal budaya, dari pada dengan bangsa Han, etnis mayoritas di China. 

Muslim Uighur sudah berabad-abad mendiami wilayah yang dilewati jalur sutra itu. Bahkan pada awal abad ke-20, Muslim Uighur mendeklarasikan kemerdekaannya dengan nama Turkestan Timur. Akan tetapi, Mao Zedong berhasil menarik kembali Xinjiang ke dalam wilayah kedaulatan China pada 1949. 

Sebagai umat Islam, Muslim Uighur senantiasa menjalani ajaran agamanya. Salah satunya dengan memproduksi dan menggunakan produk-produk yang halal. Setiap hari, produk-produk halal seperti makanan dan pasta gigi diproduksi sesuai dengan hukum Islam.

Sebelumnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan kelompok hak asasi manusia telah mengecam China karena perlakuan kerasnya terhadap Muslim Uighur. Dilaporkan bahwa China telah menahan sejuta Muslim Uighur secara sewenang. Mereka ditempatkan di kamp-kamp rahasia di sebuah wilayah di Xinjiang.

Meski demikian, China menyangkal telah melakukan kekerasan secara sistematis kepada Muslim Uighur. Mereka menyatakan, langkah-langkah itu merupakan upaya untuk melawan ekstremisme dan separatisme. (Red: Muchlishon)
BNI Mobile