IMG-LOGO
Internasional

Drama Jamal Khashoggi, Jurnalis Asal Saudi yang Hilang di Turki (Bagian VI)

Jumat 12 Oktober 2018 18:30 WIB
Bagikan:
Drama Jamal Khashoggi, Jurnalis Asal Saudi yang Hilang di Turki (Bagian VI)
Foto: Middle East Monitor/Handout via REUTERS/File Photo
Istanbul, NU Online
Kabar hilangnya Jamal Khashoggi (59) di gedung Konsulat Saudi di Istanbul Turki pada 2 Oktober lalu sedikit demi sedikit mulai terungkap. Pejabat Turki dan Amerika Serikat (AS) mengklaim memiliki bukti bahwa Jamal disiksa dan dibunuh di dalam Konsulat. Bukti yang dimaksud adalah rekaman video dan audio.

Dikutip The Washington Post, Jumat (12/10), para pejabat Turki dan AS yang tidak bersedia disebutkan identitasnya menyebutkan bahwa rekaman dan video tersebut menjadi bukti kalau Jamal betul-betul dibunuh di Konsulat.


Disebutkan bahwa, dari rekaman audio diketahui ada suara yang mengerikan. Suara yang memerperdengarkan suara Jamal Khashoggi setelah ia masuk ke dalam gedung Konsulat. Dalam rekaman tersebut dilaporkan bahwa terdengar sejumlah pria berbahasa Arab yang tengah menginterogasi dan menyiksa Jamal Khashoggi.


“Anda bisa mendengar bagaimana dia (Jamal Khashoggi) diinterogasi, disiksa dan kemudian dibunuh," kata salah satu sumber yang mengetahui rekaman itu kepada The Washington Post.  

Pejabat Turki menegaskan, tidak akan menyebarluaskan rekaman audio dan video tersebut dengan alasan tertentu. Belum jelas juga, bagaimana pihak Turki atau pun AS mendapatkan rekaman audio dan video tersebut.


Sebelumnya, The Washington Post melaporkan bahwa Putera Mahkota Muhammad bin Salman pernah memerintahkan untuk menjebak Jamal Khashoggi, jurnalis asal Saudi yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan sang putera mahkota. Laporan itu merujuk pada data penyadapan intelijen AS. Semenjak setahun terakhir, Jamal pindah ke AS untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. 


Terkait laporan tersebut, belum ada tanggapan dari pihak Saudi. 

Tim gabungan

Pemerintah Turki dan Arab Saudi berencana membentuk tim gabungan untuk mengungkap kasus hilangnya Jamal Khashoggi di gedung Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu. 

“Dalam konteks kerja sama erat antara Turki dan Arab Saudi, kami menerima usulan dan siap membentuk tim kerja gabungan Turki dan Saudi untuk mengungkap kasus Jamal dan," kata Staf Presiden Turki, Ibrahim Kalin, dilaporkan kantor berita Turki Anadolu Agency, Jumat (12/10).

Baca juga: Drama Jamal Khashoggi, Jurnalis Asal Saudi yang Hilang di Turki (Bagian I)

Meski demikian, Jaksa penuntut umum Turki menegaskan akan tetap melanjutkan investigasi terkait hilangnya Jamal. Dalam melaksanakan investigasi, Jaksa Turki akan berada terpisah dengan tim gabungan.

Pihak Saudi belum memberikan keterangan yang jelas tentang nasib Jamal Khashoggi, sementara beberapa negara  seperti Turki, AS dan Inggris terus mendesak untuk memberikan klarifikasi. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Jumat 12 Oktober 2018 23:30 WIB
China Melegalkan ‘Kamp Interniran’ untuk Muslim Xinjiang Setelah Menyangkal Keberadaannya
China Melegalkan ‘Kamp Interniran’ untuk Muslim Xinjiang Setelah Menyangkal Keberadaannya
Foto: Reuters
Urumqi, NU Online
Otoritas Xinjiang China telah melegalkan apa yang disebut ‘kamp pendidikan ulang’ bagi orang-orang yang dituduh terpapar ekstremisme agama. Sebelumnya, China menyangkal keberadaan kamp-kamp tersebut. 

Akan tetapi, negara-negara Barat dan organisasi hak asasi internasional menyebut tempat tersebut sebagai ‘kamp interniran’ bagi Muslim Uighur. Dilaporkan bahwa satu juta lebih Muslim Uighur ditahan di sini. 

Menurut Human Right Watch, di ‘kamp-kamp tahanan itu,’ Muslim Uighur dan lainnya dilarang mengucapkan salam. Mereka harus mempelajari bahasa Mandarin dan menyanyikan lagu-lagu propaganda. Jika menolak instruksi yang ditetapkan pihak berwenang, mereka akan dihukum seperti tidak mendapatkan makanan, berdiri selama 24 jam, atau ditempatkan di ruang isolasi. 

Dikutip CNN, Kamis (11/10), pada Selasa lalu Pemerintah Xinjiang menambahkan satu pasal ke dalam Undang-Undang (UU) Anti-Ekstremisme Xinjiang. Isinya, ‘pusat pelatihan’ tersebut dimaksudkan untuk ‘melaksanakan pendidikan ideologi anti-ekstremis’ dan mentransformasi para tahanan.

Dalam UU yang direvisi tersebut, Pasal 33 menetapkan bahwa "lembaga seperti pusat pelatihan pendidikan keterampilan kejuruan harus melaksanakan pelatihan tentang bahasa nasional yang umum, hukum dan peraturan, dan keterampilan kejuruan. Ditambah melaksanakan pendidikan ideologi anti-ekstremis, psikologis dan perilaku koreksi untuk mempromosikan transformasi pikiran peserta pelatihan, dan membantu mereka kembali ke masyarakat dan keluarga. "

Sebelumnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa satu juta lebih Muslim Uighur dan yang lainnya ditahan dalam waktu yang lama tanpa putusan pengadilan dengan dalih melawan terorisme dan ekstremisme agama. Hal yang sama juga dilaporkan organisasi hak asasi manusia internasional.

Pemerintah China menyangkal tuduhan itu. Mereka menegaskan bahwa tidak ada penahanan secara sewenang-wenang. 

“Warga Xinjiang termasuk orang-orang Uyghur menikmati kebebasan dan hak yang sama," Hu Lianhe, juru bicara Departemen Pekerjaan Front Bersatu Cina.

Dilaporkan abc, Rabu (10/10), UU Anti-Ekstremisme di Xinjiang sudah berlaku sejak April tahun lalu. Di dalam UU tersebut juga ditetapkan bahwa laki-laki dilarang memelihara jenggot yang ‘tidak normal’, sementara perempuan dilarang mengenakan jilbab di depan umum. (Red: Muchlishon)
Jumat 12 Oktober 2018 8:0 WIB
Nahdliyin Pakistan Ingat Tanah Air dengan Gelar Istighotsah
Nahdliyin Pakistan Ingat Tanah Air dengan Gelar Istighotsah
Warga NU di Pakistan berkumul dan mendoakan Indonesia.
Islamabad, NU Online
Ada tradisi yang tetap dipertahankan sejumlah warga NU di Pakistan. Yakni berkumpul sesama nahdliyin dengan menggelar kegiatan. Dari mulai iabadah bersama, hingga membahas program yang telah dan akan dilaksanakan. 

Seperti yang dilakukan Kamis (11/10). Nahdliyin yang terhimpun dalam Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Pakistan ini menyelenggarakan pertemuan di kediaman salah seorang warga, Bapak Heryanto.

“Kegiatan yang kami namakan dengan Indonesia Memanggil ini diisi dengan istighotsah dan shalawat bersama,” kata H Zulkifti kepada media ini. 

Acara dimulai pukul lima sore yang diawali dengan laporan kegiatan PCINU Pakistan. “Alhamdulillah Ketua PCINU Pakistan yakni Tahsya Ainul Haq hadir dan menyampaikan sejumlah capaian yang dilakukan selama ini,” ungkapnya. 

Demikian pula pada saat yang sama dilanjutkan dengan berbagai rencana acara pada waktu mendatang. “Seperti kajian rutin mingguan dan bulanan yang digagas Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia atau Lakpesdam, serta kajian tahunan bahtsul masail,” jelasnya. 

Setelah dilakukan tanya jawab dan pemberian masukan dari sejumlah hadirin, acara dilanjutkan shalat maghrib berjamaah. “Kegiatan berikutnya adalah istighotsah,” katanya.

Menurut H Zulkifti, kegiatan berlasung khidmat serta khusyu dan tentu saja guyub. “Kita berharap ridha dan pertolongan dari Allah dengan perantara Rasul-Nya semoga akan tetap dan tambah cinta kepada ibu pertiwi kita, Indonesia,” pungkasnya. (Ihza/Ibnu Nawawi)

Kamis 11 Oktober 2018 23:0 WIB
Drama Jamal Khashoggi, Jurnalis Asal Saudi yang Hilang di Turki (Bagian V)
Drama Jamal Khashoggi, Jurnalis Asal Saudi yang Hilang di Turki (Bagian V)
Foto: Middle East Monitor/Handout via REUTERS/File Photo
Istanbul, NU Online
Belum ada titik terang terkait dengan keberadaan Jamal Khashoggi (59), jurnalis asal Saudi yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan Kerajaan. Ia hilang pada 2 Oktober lalu setelah memasuki gedung Konsulat Saudi di Istanbul Turki untuk mengurus surat pernikahannya. 

Semenjak itu, tidak ada kabar tentang Jamal. Berbagai macam spekulasi pun muncul. Pihak Saudi menyatakan kalau Jamal sudah keluar gedung Kedutaan beberapa jam setelah masuk. Tunangannya Jamal, Hatice Cengiz, yang menunggu di luar Konsulat –karena tidak diperkenankan masuk- mengemukakan kalau tidak ada tanda-tanda Jamal keluar. Sementara itu, pihak Turki menuduh Jamal telah dibunuh di dalam Konsulat.

Untuk mengungkap keberadaan Jamal Khashoggi, Turki terus melakukan investigasi. Pihak Turki kini fokus melakukan penyelidikan terhadap jam tangan pintar (smart watch) yang dikenakan Jamal ketika memasuki Konsulat Saudi. 

Diketahui bahwa jam tangan pintar yang dipakai Jamal terhubung dengan salah telepon genggamnya yang dibawa Hatice di depan Konsulat. Ketika hendak memasuki gedung Konsulat, Jamal tidak diperkenankan membawa telepon genggamnya karena prosedur peraturan. Kemudian ia menitipkannya ke Hatice. 

Seperti dilansir Reuters, Kamis (11/10), pihak Turki berharap, jam tangan pintar bisa memberikan petunjuk penting terkait keberadaan dan kondisi Jamal. Seorang pejabat Turki yang tidak dapat disebutkan namanya menyebut, jam tangan pintar yang terhubung dengan telepon genggam Jamal tersebut menjadi kunci dalam proses penyelidikan hilangnya Jamal. Sebelumnya Saudi mengatakan kalau kamera perekam tidak berfungsi pada saat Jamal masuk ke dalam.

Disebutkan bahwa jam tangan pintar bisa memberikan data tentang keberadaan dan detak jantung pemakai ke telepon genggam yang tersambung dengannya. Namun demikian, itu semua tergantung pada jenis jam tangan pintar dipakai dan kedekatan jam tangan pintar tersebut dengan telepon. 

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan, dalam hal ini Turki tidak boleh diam. Mengapa? Karena baginya ini bukan lah peristiwa biasa. Dan ini terjadi di negara yang dipimpinnya.

“Kita tengah menyelidiki semua aspek peristiwa ini. Tidak mungkin bagi kita untuk tetap diam terhadap peristiwa seperti ini, karena ini bukan peristiwa yang biasa terjadi," kata Erdogan, dilansir Reuters, Kamis (11/10).

Kontra narasi

Tunangan Jamal Khashoggi, Hatice Cengiz, menilai, beberapa pernyataan yang dikeluarkan pihak Saudi tidak meyakinkan dirinya. Seperti Saudi mengemukakan kalau Jamal sudah keluar gedung Konsulat, namun mereka tidak mampu menghadirkan buktinya dari rekaman video.    

Hatice menyayangkan, pihak Saudi yang menyebut kalau kamera perekam di gedung Konsulat tidak berfungsi pada saat Jamal berada di dalam gedung. Dia menilai, penjelasan Saudi tidak konsisten dan tidak meyakinkan.

Tidak hanya itu, Hatice mengaku heran dengan kontra narasi yang berkembang terkait kasus Jamal Khashoggi. Misalnya narasi yang meragukan kalau Jamal Khashoggi benar-benar masuk gedung Konsulat Saudi di Istanbul. 

Hatice menuduh, kontra narasi dan fitnah yang dialamatkan kepada dirinya dilakukan oleh media-media yang didukung Kerajaan Saudi. 

“Hal ini tentu sangat menyedihkan. Respons seperti ini sendiri menunjukkan bahwa ada banyak kecurigaan soal kasus ini,” kata Hatice, kantor berita Turki, Anadolu Agency, Kamis (11/10). (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG