IMG-LOGO
Daerah

B. Hasbulloh, Banser Berusia 74 Tahun dan Tak Mau Pensiun

Rabu 24 Oktober 2018 0:40 WIB
Bagikan:
B. Hasbulloh, Banser Berusia 74 Tahun dan Tak Mau Pensiun
B. Hasbulloh di kediamannya
Tasikmalaya, NU Online
B. Hasbulloh selalu terlihat di kegiatan-kegiatan NU di Kabupaten Tasikmalaya. Ia bukan kiai bukan ajengan. Bukan pula tamu undangan. Ia hanyalah seorang Banser yang berperan mensukseskan acara dengan menjaga keamanan. Paling tidak, merapikan kendaraan roda dua atau empat atau mengatur parkir.    

Terbaru, kekek berusia 74 tahun ini menjaga keamanan pada Halaqah Alim Ulama Jawa Barat di Pondok Pesantren Cipasung saat peringatan Hari Santri, Senin (22/10). Keesokan harinya ia turut serta pada konvoi Kirab Satu Negeri yang telah tiba di kabupaten itu, yang akan segera bertolak ke Kota Banjar.  

Ia melakukan kegiatan-kegiatan semacam itu bukan mulai dari kemarin sore, tapi sejak tahun 1982. Berarti hingga hari ini, ia melakukannya sepanjang 36 tahun. 

Itu di Banser, di organisasi induknya, Gerakan Pemuda Ansor, pria akrab disapa Abah Buloh ini aktif sejak tahun 1971. Namun, pada tahun 1982, ia memilih aktif di Banser. Pada saat bersamaan, ia ditunjuk Ketua RT-nya menjadi anggota Pertahanan Sipil (Hansip) Kampung Bageur, Desa Sukarapih, Kecamatan Sukarame, tempat tinggalnya.   

Pikeun si Buloh, euweuh kitu kieu. Jadi banser teh tah jaga ulama. Hadiran pengajian, jaga pengajian. Aya teu aya materi, lillahi ta'ala (bagi si Buloh, tidak begini begitu. Jadi Banser itu menjaga ulama. Datangi pengajian, jaga pengajian. Ada dan tidaknya materi lillahi ta’ala,” katanya ketika ditemui di kediamannya, Selasa (23/10). 

Menurut Ketua GP Ansor Tasikmalaya Asep Muslim, Abah Buloh merupakan Banser langka. Hingga usia senja tak mau berhenti aktif di Banser. 

Asep bercerita, jika Abah Buloh tidak diberi tahu adanya kegiatan NU atau Banser, maka dia akan marah. Padahal tujuannya agar dia beristirahat mengingat usia dan fisiknya. Namun, di luar dugaan, dia malah tidak suka dianggap seperti itu. 

Pikeun si Buloh, pensiun mah engke pas dikurebkeun, (Bagi si Buloh pensiun dari kegiatan-kegiatan NU dan Banser, nanti ketika ia sudah dikuburkan,” tegas Abah Buloh ketika ditanya kapan pensiun dari Banser.

Di akhir hayatnya ia hanya bercita-cita husnul khatimah, meninggal dengan iman dan Islam yang melekat di dadanya. (Abdullah Alawi)

Bagikan:
Rabu 24 Oktober 2018 22:45 WIB
Sambut Muskerwil, NU Jakarta Bedah 'Peta Jalan NU Abad Kedua'
Sambut Muskerwil, NU Jakarta Bedah 'Peta Jalan NU Abad Kedua'
Jakarta, NU Online
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta menyelenggarakan Bedah Buku Peta Jalan NU Abad Kedua pada Rabu (24/10) di Gedung PWNU Jakarta Timur. Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati Hari Santri 2018 dan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) PWNU DKI Jakarta yang akan diadakan pada Jumat-Sabtu (26-27/10) di Bogor.

Wakil Sekretaris PWNU DKI Djunaidi Sahal mengatakan, penyelenggaraan bedah buku ini untuk menambah wawasan pengurusnya agar memahami tantangan NU ke depan.

"Karena NU DKI sampai sekarang ini belum mampu secara terencana dan sistematis bisa mengembangkan NU menjadi suatu gerakan sosial, tapi masih lebih banyak yang bersifat politis," kata Djunaidi.

Menurut Djunaidi, NU DKI belum memiliki mempunyai lembaga pendidikan, rumah sakit atau klinik. Oleh karena itu, kegiatan ini diharapkan bisa menanamkan ide-ide sehingga menjadi gerakan sosial yang lebih nyata.

Sementara Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU DKI Ahmad Ya'la mengingatkan pengurus NU agar berkomitmen menghidupi organisasi yang didirikan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari ini."NU harusnya ada dimana-mana dan selanjutnya bisa menghidupi NU. Saya PNS, tapi bukan karena saya NU terus jadi PNS. Tapi karena saya PNS maka saya berfikir apa yang bisa saya lakukan untuk NU," tuturnya.

Anggota DPD RI dari DKI Jakarta Abdul Azis Khafia yang menjadi pembicara mengatakan bahwa buku ini sangat menarik karena di dalamnya mengupas banyak hal, seperti perjalanan NU dan peroslan global yang dilakukan NU.

"Buku ini juga menawarkan jalan baru dengan berbagai catatan bahwa kondisi terus dinamis. Kalau NU statis, begini-begini saja, jangan heran kalau NU ditinggalkan. Jadi selain kegelisahan tentang NU, juga ada solusi dan tawaran identitas kebangsaan. Dan yang menarik ada semacam futuristik tentang NU," jelasnya.

Adapun penyunting buku tersebut, Abdul Aziz mengungkapkan, buku tersebut merupakan kompilasi dari sejumlah diskusi terkait NU dengan berbagai tokoh.

"Buku ini merupakan hasil diskusi dua tahun lebih sejak menjelang Muktamar di Jombang. Banyak pikiran dan kritik-kritik terhadap NU yang melihat sebenarnya NU ini besar atau kecil? Dan sebagainya. Itulah yang membuat penulisannya agak panjang," kata Aziz. (Husni Sahal)
Rabu 24 Oktober 2018 18:0 WIB
KIRAB SATU NEGERI
Kirab Satu Negeri GP Ansor Tiba di Tasikmalaya
Kirab Satu Negeri GP Ansor Tiba di Tasikmalaya
Kirab Satu Negeri di Tasikmalaya

Tasikmalaya, NU Online
Kirab Satu Negeri Gerakan Pemuda Ansor bersama 17 bendera yang di awali dari Sabang telah sampai Tasikmalaya. Kirab ini disambut di Makam Pahlawan Nasional KH. Zainal Musthafa Sukamanah, Selasa (23/10).

Ratusan Barisan Ansor Sebaguna (Banser) dengan seragam lengkap memenuhi makam pahlawan menyambut dan merima 17 bendera merah putih  yang telah mengelilingi negeri ini.

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya mengatakan, proses Kirab Satu Negeri ini merupakan peneguhan komitmen kita terhadap bangsa Indonesia. Pasalnya saat ini banyak kelompok yang ingin menghianati konsensus kesepakatan bersama orang tua kita.

Dalam Kirab Satu Negeri ini, terdapat 17 bendera merah putih, sebagai lambang Proklamasi 17 Agustus 1945 yang dibawa dari Sabang sampai Merauke dan akan berakhir di Yogyakarta pada 26 Oktober 2018.

"Ini merupakan bentuk komitmen kita di GP Ansor bahwa kita ini sama. Kita ini bangsa Indonesia dan kita harus mempunyai cita cita yang sama yaitu meningkatkan kesejahteraan, kecerdasan dan segala pembangunan di negeri ini," jelas Asep.

Kita tidak boleh disekat-sekat oleh agama, politik, partai politik, kepentingan, suku, agama dan golongan. "Warna kulit apapun, ras apapun semuanya sama warga Indonesia. Itulah pesan dari Kirab Satu Negeri ini," tegasnya.

Asep menambahkan, semua anggota Banser di daerahnya telah berkumpul selama dua hari. Mereka akan mengawal Halaqah Alim Ulama di Cipasung bersamaan dengan puncak Hari Santri pada 22 Oktober 2018 dan sekarang mengawal bendera merah putih yang telah dibawa dari Garut.


Setelah prosesi penyambutan, anggota Ansor dan Banser ini melakukan ziarah dan tabur bunga di makam pahlawan Nasional KH.Zainal Musthafa sukmanah, yang kemudian dilanjutkan konvoi mengantarkan 17 bendera kirab menuju Balai Kota Tasikmalaya. (Husni Mubarok/Muhammad Faizin)

Rabu 24 Oktober 2018 16:30 WIB
HARI SANTRI 2018
Pelajar Katolik Semangati Peserta Kirab Hari Santri di Jombang
Pelajar Katolik Semangati Peserta Kirab Hari Santri di Jombang
Suasana Kirab Hari Santri di Jombang
Jombang, NU Online
Upaya panitia penyelenggara perhelatan Hari Santri 2018 di Kabupaten Jombang, Jawa Timur untuk mewujudkan Hari Santri sebagai momentum milik bersama dari berbagai elemen masyarakat nampak terlaksana.

Di Kota Santri ini ditemui banyak unsur yang ternyata ikut berpartisipasi memeriahkan dan menyukseskan Hari Santri. Tak hanya dari unsur pondok pesantren dan muslim lainnya, siswa-siswi Katolik juga ikut andil bagian. Seperti yang dilakukan beberapa siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Katolik Wijana.

"Keberadaan SMP Katolik Wijana di Jombang sebagai Kota Santri adalah turut berjuang dan memberikan andil dalam mencerdaskan anak-anak bangsa, tidak pandang bulu dan tidak membedakan suku dan agama," kata Wakil Kepala SMP Katolik Wijana, Yohana Titiek Haryanti kepada NU Online, Rabu (24/10).

Beberapa siswa-siswi tersebut menyapa puluhan ribu peserta Kirab Santri dengan alunan musik yang mereka mainkan di pinggir jalan raya beberapa waktu lalu. Tujuannya untuk menyemangati peserta Kirab, lantaran harus menempuh perjalanan yang cukup jauh, dari Alun-alun hingga Stadion Merdeka Jombang.

"Kita turut andil dalam perayaan Hari Santri tersebut dengan menampilkan seni musik yang memang dipersiapkan untuk mnyambut peserta Kirab Santri," jelasnya.

Ia berharap dengan keterlibatannya bisa kian mempererat tali silaturrahim antarsesama. "Semoga sumbangsih dari kami dapat mempererat tali silaturrahim keanekaragaman agama di Jombang," ucapnya.

Di sisi lain ia juga berharap momentum Hari Santri menjadi jembatan kemajuan pendidikan khususnya di Jombang, baik dari aspek pelayanan maupun aspek sumber daya manusia (SDM) pendidik yang semakin memadai tanpa memetakan suku, agama juga ras tertentu.

"SMPK Wijana berharap semakin meningkatkan mutu pelayanan  pendidikan pada siswa dengan berbenah. Juga meningkatkan SDM pengajar maupun kelengkapan sarana prasarana sekolah tanpa membedakan agama apapun," harapnya. (Syamsul Arifin/Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG