IMG-LOGO
Daerah

Aksi Bela Tauhid dengan Membaca Yasin dan Tahlil

Jumat 26 Oktober 2018 6:0 WIB
Bagikan:
Aksi Bela Tauhid dengan Membaca Yasin dan Tahlil
Banjar, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, KH Muin Abdurrahim mengajak para santrinya melakukan aksi bela tauhid (Islam) dengan melantunkan surat Yasin, Tahlil, Tahmid dan Takbir.

"Orang tua kita, guru-guru kita yang telah dahulu meninggalkan kita telah mengajarkan pembacaan Surat Yasin," kata Kiai Muin pada pengajian maghrib, Kamis (25/10) petang.  

Kiai Muin meminta hadirin memahami bagaimana menghormati dan mengagungkan kalimat Tauhid, termasuk bahwa penulisan kalimat Tauhid di kain tidaklah tepat.

"Mazhab yang empat telah mengharamkan menulis kalimah Tauhid di kain. Menuliskan kalimat 'Lailahaillallah' di baju, kaos, topi hukumnya haram," kata Kiai Muin pada pengajian yang berlangsung di masjid pesantren tersebut.

Menurut Kiai Muin, jika kain itu kotor, maka akan dicuci, dibawa ke WC, digilas-gilas, haram hukumnya. "Sangatlah sulit menghormati dan mengagungkan kalimah tauhid (yang ditulis di kain). Santri Citangkolo harus paham," tegasnya. 

Ia juga menceritakan pada masa Rasulullah yang ada hanya kain putih dan hitam saja. Walaupun ada tulisan 'Lailahaillallah' itu pun menggunakan huruf liwa.

"Tidak ada harkat, dan titik pada kalimat 'Lailahaillallah," lanjutnya.

Setelah ada Al Qaeda, kata Kiai Muin, barulah bendera 'Lailahaillallah ada warna hitam dan putih. Dibawa ke Indonesia ada harkat dan titik pada kalimat Tauhid tersebut, yang sering dipakai oleh ormas yang dilarang oleh pemerintah, yaitu Hizbut Tahrir Indonesia.

"Santri Citangkolo jangan mudah terprovokasi dengan aksi bela tauhid. Aksi bela tauhid Islam kita dengan membaca Yasin, Tahlil, Tahmid dan Takbir. Kita jangan ikut-ikutan," tukasnya. (Siti Aisyah/Kendi Setiawan)

Tags:
Bagikan:
Jumat 26 Oktober 2018 23:30 WIB
'Atlas Walisongo' Berawal dari Ketiadaan Data Walisongo di Ensiklopedi
'Atlas Walisongo' Berawal dari Ketiadaan Data Walisongo di Ensiklopedi
Bedah buku atlas wali songo di Surakarta, Jateng
Sukoharjo, NU Online
Penulis buku 'Atlas Walisongo' KH Agus Sunyoto mengungkapkan, penulisan buku tersebut berasal dari ketidaksengajaannya ketika membuka buku ensiklopedi, dan mencari Sunan Kalijaga dan Walisongo namun tidak ketemu.

Baru kemudian ia dapati judul walisongo dikupas singkat tetapi dengan sumber data dari Babad Diponegoro, namun akhirnya dalam isinya mengalami kekacauan.

"Sementara, tokoh-tokoh penyebar islam lain diuraikan secara gamblang oleh ensiklopedi. Terdapat sebuah buku yang menghilangkan peran walisongo dari sejarah," ungkap dia, pada acara bedah buku "Atlas Walisongo" yang diselenggarakan HMJ Sejarah Peradaban Islam di Gedung Graha IAIN Surakarta, Kamis (25/10).

Ditambahkan dia, ketika orang membaca sejarah walisongo mayoritas menggunakan pandangan orang luar, semisal tulisan Snouck Hurgronje. "Maka penting untuk merintis sejarah menurut kita sendiri, Atlas Walisongo ini pandangan islam di Indonesia menurut kacamata orang Indonesia," ungkap Kiai Agus yang juga Ketua Lesbumi PBNU itu.

Sementara itu, Akademisi  IAIN Surakarta Islah Gusmian menambahkan, ada banyak sejarah ditulis di Indonesia dengan perspektif kolonial.

"Buku (Atlas Walisongo) ini memberikan contoh yg baik. Karena terdapat dua bidang studi yg selama ini terabaikan dalam penulisan sejarah yakni ilmu filologi yg membahas mengenai naskah dan ilmu arkeologi," papar dia. (Ajie Najmuddin/Muiz)
Jumat 26 Oktober 2018 23:0 WIB
Masyarakat Diminta Kritis Terhadap Siaran Televisi dan Radio
Masyarakat Diminta Kritis Terhadap Siaran Televisi dan Radio
Wk Sekretaris Ansor Jateng, Rikza Chamami (kiri)
Solo, NU Online
Masyarakat diharapkan ikut berpartisipasi dalam peningkatan mutu siaran media televisi maupun radio. Partisipasi tersebut bisa ditunjukkan dengan memunculkan sifat kritis.

Demikian disampaikan Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah M Rikza Chamami pada  kegiatan Literasi Media Memilih Siaran Yang Berkualitas yang diselenggarakan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di Hotel Lor in Solo Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah, Kamis (25/10).

Akademisi UIN Walisongo Semarang itu menekankan perlunya jiwa kritis dalam melihat tayangan TV dan siaran radio. "Kalau masyarakat kritis pada isi siaran, maka semua isi siaran otomatis menjadi berkualitas," kata dia.

Salah satunya adalah melaporkan setiap pelanggaran isi siaran pada KPID dan KPI Pusat. 

"Indonesia sudah memiliki aturan baku soal penyiaran, itu harus dihormati. Jadi hari ini yang dibutuhkan adalah siaran radio dan TV sesuai dengan jiwa kebangsaan yang damai dan rukun," imbuhnya. 

Senada dengan Rikza, narasumber lainnya Dewi Setyarini dari Komisioner KPI Pusat mengatakan pengelola radio dan televisi memiliki tanggungjawab menyajikan siaran yang berkualitas. 

"Jika isi siarannya bagus dan masyarakat menikmati dengan baik, maka masyarakat akan semakin cerdas," terang Dewi.

Lebih lanjut dijelaskan Dewi bahwa potensi dan minat menonton TV bagi anak muda sangat tinggi. Jika generasi muda disajikan siaran televisi yang mendidik dan menghibur, kualitas anak bangsa akan lebih baik.

Disadari bahwa KPI Pusat selalu mendorong lembaga penyiaran untuk taat dan patuh pada aturan penyiaran dengan membuka Sekolah P3SPS. "Kalau para pengelola lembaga penyiaran sudah paham aturan penyiaran, kualitas isi siaran harus lebih baik dan mengedukasi masyarakat," tegas Dewi.

Sementara itu Tenaga Ahli Anggota Komisi I DPR RI Budiyono menegaskan bahwa jangan sampai siaran televisi dan radio hanya dijadikan lahan industri yang dikuasai oleh kelompok tertentu. 

"Frekuensi itu barang langka yang dikuasai Pemerintah, maka pemilik radio dan TV harus taat pada regulasi penyiaran," tandasnya.

Di tahun politik ini, Budi berharap televisi memberikan informasi dan edukasi pada masyarakat dengan baik. "Jangan ada lagi berita hoaks yang ikut dipublikasi di layar kaca karena akan membuat masyarakat gaduh. Ilmu jurnalistik itu penting bagi lembaga penyiaran," imbuhnya. (Ajie Najmuddin/Muiz)

Jumat 26 Oktober 2018 22:0 WIB
NU PEDULI SULTENG
LPBINU Mojokerto Kumpulkan Dana untuk Sulteng
LPBINU Mojokerto Kumpulkan Dana untuk Sulteng
LPBI Mojokerto salurkan donasi untuk Sulteng
Mojokerto, NU Online
Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur menggalang dana untuk korban bencana alam di Sulawesi Tengah.

Menurut Ketua LPBINU Mojokerto Saiful Anam, dana tersebut dikumpulkan dari masyarakat umum dan warga nahdliyin yang ada di Mojokerto. Cara mengumpulkannya dengan membentuk perwakilan di setiap desa.

"LPBINU Kabupaten Mojokerto baru saja menerima amanah bantuan hasil penggalangan dana belasan juta dari Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Bantuan ini untuk korban bencana di Sulawesi Tengah," jelasnya, Jumat (26/10).

Pria yang akrab disapa Cak Anam ini menyebutkan, pihaknya dalam beberapa bulan terakhir fokus membantu korban bencana alam di beberapa daerah. Dana-dana tersebut terkadang dititipkan ke NU Care (NU Peduli) atau LPBI Pusat.

Penggalangan dana ini akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Hal tersebut tergantung dari kebutuhan di lapangan atau lokasi bencana. Namun pihaknya kini hanya menerima sumbangan berupa uang saja. Sedangkan untuk bantuan seperti baju, kain, sarung belum bisa diterima.

"Sengaja masih penggalangan dana, karena kita melihat masih banyak kebutuhan di sana, terutama untuk pembangunan masjid, madrasah, mushalla, pesantren, dan fasilitas umum lainnya," ujar Cak Anam.

Ia menambahkan, LPBINU Mojokerto juga berencana akan mengunjungi lokasi bencana di Kota Palu dan Donggala bulan depan. Mereka akan bergabung dengan LPBINU setempat dan dari pusat. Hal ini juga bertujuan untuk menyegarkan tenaga relawan LPBINU yang sedang bertugas di lokasi bencana.

"Rencananya LPBINU Mojokerto akan memberangkatkan relawan ke Palu dan Donggala untuk memperkuat tim LPBINU Pusat. Mohon doanya, semoga niat baik ini bisa terwujud dan dapat meringankan beban saudara kita di sana," tandas Cak Anam. (Syarif Abdurrahman/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG