IMG-LOGO
Daerah

Cerdas Bermedsos, Muslimat NU Pringsewu Gelar Pelatihan IT

Ahad 28 Oktober 2018 20:30 WIB
Bagikan:
Cerdas Bermedsos, Muslimat NU Pringsewu Gelar Pelatihan IT
Pelatihan IT Berbasis Android Muslimat NU Pringsewu
Pringsewu, NU Online
Pengembangan dakwah di dunia maya menjadi perhatian tersendiri bagi Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Kabupaten Pringsewu. Apalagi saat ini, dunia maya khususnya media sosial sudah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan di era milenial. Mulai bangun tidur sampai menjelang tidur, masyarakat saat ini mengakses media sosial baik untuk sebuah kebutuhan ataupun hanya sekedar mencari hiburan.

Melihat realita ini, Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Pringsewu Hj Ani Fitriani menilai pentingnya para pengurus dan anggota muslimat melek terhadap perkembangan informasi dan teknologi sehingga mampu memanfaatkannya sebagai media dakwah.

"Muslimat NU harus cerdas dan santun dalam bermuamalah di media sosial. Muslimat NU harus mampu menjadi pionir dalam menjaga generasi penerus bangsa dari efek negatif media sosial," katanya saat kegiatan Pelatihan IT Berbasis Android bagi para pengurus Muslimat di Pesantren Yasmida Ambarawa, Pringsewu Lampung, Ahad (28/10).

Ibu Ani, begitu ia biasa disapa, menyoroti sebagian perilaku masyarakat dalam bermedsos saat ini yang mengarah kepada perilaku negatif. Derasnya informasi yang diterima melalu media sosial, tidak diiringi dengan selektif sehingga mudah terprofokasi oleh hoaks, fitnah dan ujaran kebencian.

"Terkadang ada pengguna medsos yang secara tidak sadar menyebar hoaks dengan membaginya di medsos. Niatnya mau menanyakan apakah berita yang diterima hoaks atau bukan. Tapi itu sama saja ikut menyebarkan hoaks," terang Bu Ani pada kegiatan yang bertemakan Menuju Muslimat yang Cerdas dan Santun.

Menyikapi realita ini, selaku ketua PC Muslimat, ia terus intensif mengajak para pengurus untuk memanfaatkan android yang setiap harinya dipakai untuk hal-hal positif. Ia juga selalu mengingatkan para pengurus untuk berhati-hati dalam menerima informasi yang setiap saat diterima.

"Kalau mau tabayun minta penjelasan, tanyakan pada yang lebih paham tentang medsos dan IT. Jangan malah disebar di grup. Bukannya mendapat solusi malah meresahkan," anjurnya.

Apalagi saat ini, ia mengingatkan, media sosial sudah menjadi alat yang dipakai oleh kelompok yang ingin merongrong Negera Kesatuan Republik Indonesia. Kelompok ini terus menebar informasi berisi propaganda dengan misi mengadu-domba bangsa yang pada akhirnya setiap elemen bangsa saling bersitegang dan bercerai-berai.

"Jika NKRI terpecah-belah siapa yang rugi? Pastilah kita sendiri. Jadi mari rajut ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah dengan sikap cerdas dalam bermedia sosial. Muslimat punya peran yang strategis untuk mewujudkan ini," tandasnya pada pelatihan yang juga diikuti pengurus kecamatan ini. (Muhammad Faizin)
Bagikan:
Ahad 28 Oktober 2018 23:30 WIB
PMII Sumbar: Perjuangan Santri NU Sudah Jelas
PMII Sumbar: Perjuangan Santri NU Sudah Jelas
Dialog hari santri dan sumpah pemuda PMII Sumbar
Padang, NU Online
Perjuangan santri Nahdlatul Ulama dari dulu sudah jelas bahwasanya Indonesia adalah negara Pancasila. Jika ada yang berniat merubahnya maka di situlah kader PMII harus siap memaparkan gagasannya bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati.

Demikian terungkap dalam Dialog Bersama Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sumatera Barat (Sumbar), Sabtu (27/10 malam di Kantor PW NU Sumatera Barat dalam rangka memeriahkan Hari Santri dan Sumpah Pemuda. 

Ketua Umum PKC PMII Sumbar Rodi Indra Saputra menyebutkan, dialog refleksi Hari Santri dan Sumpah Pemuda dilaksanakan dalam rangka menambah kecintaan kader PMII  terhadap NKRI. Dialog  bertema Peran Kader PMII selaku Santri yang menjaga keutuhan NKRI.

"Dengan pemaparan sejarah hari santri ini, tentunya kader PMII paham bahwa Hari Santri ditetapkan sebagai salah satu bukti perjuangan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia," ujarnya.

Dikatakan, dari sisi  mahasiswa, kader PMII  tentu tidak boleh melupakan bahwa semangat Sumpah Pemuda harus tumbuh dalam jiwa PMII.

Menurut Rodi, PMII harus sadar bahwa Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari berbagai budaya dan agama. Biarpun PMII sebagai organisasi Islam, tapi kader PMII harus tetap teguh menyatakan NKRI adalah harga mati. Pancasila adalah azas negara dan menjujung tinggi Bhineka Tunggal Ika.

Refleksi Hari Santri dan Sumpah Pemuda ini menampilkan  narasumber Ketua KPID Sumbar Afriendi Sukumbang, alumni Pesantren Tawalib Padang Panjang, Anggota KPU Padang Pariaman Ory Sativa Sa'ban, alumni Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Padang Pariaman, Akademisi Universitas Andalas Padang Beni Kharisma Arasuli, alumni Pesantren Canduang dan Anggota Bawaslu Kota Pariaman Ulil Amri.

Beni Kharisma Arrasuli mengatakan, santri berarti berbudi luhur. Seorang santri harus bisa menjaga diri dan siap mengahadapi perubahan.

"Kader PMII selaku santri itu tidak boleh kagetan. Santri itu harus siap menerima perbedaan," kata Ory Sativa Sa'ban.

Sedangkan Ulil Amri menyebutkan, santri itu tidak hanya yang berasal dari pesantren. Kader PMII juga bisa dikatakan santri, seperti yang dikatakan KH Hasyim Asy'ari siapa yang mengurus NU maka dia adalah santriku. Kader PMII bagian dari NU, maka kader PMII bisa kita katakan santrinya KH Hasyim Asy'ari. (Armaidi Tanjung/Muiz)
Ahad 28 Oktober 2018 23:20 WIB
Gus Maksum Semarang Sebut Dai sebagai Pilot Project Masyarakat
Gus Maksum Semarang Sebut Dai sebagai Pilot Project Masyarakat
Semarang, NU Online
Alumni Pendidikan Kader Dai (PKD) XIV Ittihadul Muballighin Jawa Tengah menyelenggarakan Selapanan Fida' Kubro dan Doa Arwah Jama di Mushala Al Qodar Sampangan, Semarang, Sabtu (27/10).

Ketua Alumni PKD XIV, Gus Maksum, mengatakan kegiatan selapanan ini diselenggarakan untuk memupuk persatuan dan persaudaraan para mubaligh, serta meneguhkan kembali peran mereka di masyarakat.

"Upaya untuk meneguhkan kembali peran mubaligh ataupun dai di masyarakat adalah sangat penting. Dakwah pada masa kini harus mencakup dakwah bil hikmah hasanah," ujar alumni Universitas Wahid Hasyim Semarang. 

Gus Maksum menambahkan dai sebagai agent of change harus memiliki gerakan yang jelas, tidak saja menyangkut wawasan Islam yang utuh, tapi tentang problem sosial, ekonomi, politik, budaya dalam mengarahkan umat Islam kepada suatu tatanan yang lebih mapan.

Konsep dakwah yang ideal, kata dia, adalah dakwah yang tidak menyempitkan cakrawala umat dalam emosi keagamaan dan keterpencilan sosial. Seorang dai adalah pilot project (proyek percontohan) bagi masyarakat yang akan dinilai baik dalam perkataan maupun dalam akhlaknya.  

Sementara itu, Bu Nyai Risda al Hafidzoh dalam mauidhoh hasanah-nya mengatakan bahwa Fida' Kubro adalah salah satu dzikir yang menurut hadist Rasul sebagai penebus seorang hamba dari api neraka.

"Sudah selayaknya seorang Muslim yang Mukmin melakukan dzikir Fida' Kubro untuk membentengi diri dari siksa api neraka," tambahnya. 

Fida' Kubro sendiri menurut hadist Nabi adalah pembacaan surat al ikhlas sebanyak 100.000 kali. "Manfaat lain dari Fida' Kubro adalah untuk menterapi ruhaniyah seorang hamba. Karena sejatinya dengan berdzikir berarti kita sedang menterapi bathiniah kita," tambah Nyai Risda.

Acara diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan dari alumni PKD XIV Ittihadul Muballighin kepada takmir dan jamaah Mushala al Qodar. (Red: Kendi Setiawan)
Ahad 28 Oktober 2018 23:15 WIB
Bupati Jepara: Kita Sering Dihadapkan Konten Negatif di Medsos
Bupati Jepara: Kita Sering Dihadapkan Konten Negatif di Medsos
Seminar lintas agama, FKUB Jepara, Jateng
Jepara, NU Online
Bupati Jepara, H Ahmad Marzuqi mengatakan, masyarakat tidak perlu terusik dan terganggu dengan gangguan-gangguan yang muncul saat ini. Tantangan hari ini adalah keberadaan media sosial yang lebih banyak dominan hal negatif daripada hal positifnya. 

Hal tersebut disampaikan pada seminar antar agama yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Jepara, Jawa Tengah dengan tema Membangun Solidaritas dan Kerukunan Antar Umat Beragama di Kabupaten Jepara Menjelang Pemilu 2019, berlangsung di Ruang Setda II Pemkab Jepara, Sabtu (27/10) malam. 

“Kedewasaan dalam menyikapi masalah sangatlah diperlukan. Meski saat sekarang ini, banyak oknum yang memancing kegaduhan,” katanya di hadapan ratusan peserta. 

Kegiatan yang dihadiri tokoh lintas agama, ormas keagamaan, panwascam serta organisasi kepemudaan ini menghadirkan beberapa pembicara. Di antaranya Pendeta mewakili lintas agama, Kesbangpol, Kemenag, Bawaslu, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). 

Pendeta Davit Sriyanti, mewakili lintas agama mengemukakan, pemimpin yang terpilih adalah kewenangan dan otoritas Tuhan yang menentukan, manusia hanyalah ihtiar.

Kepada audiens David memaparkan, negara lain maju karena ada yang ditakuti sehingga berlomba-lomba ingin memenangkan kompetisi. “Negara indonesia tidak maju sebab tidak ada yang ditakuti, bahkan kepada tuhan pun tidak takut,” ujarnya.

Pihaknya kagum dengan sembahyang muslim, “setelah bersyahadat, ia mengucap salam ke kanan dan ke kiri, sebagai isyarat bahwa ia harus membawa keselamatan bagi semua pihak,” tandasnya. 

Sebagai penganut agama Kristen, ia menyatakan pimpinan itu ibarat kepala yang harus dihormati sehingga umat kristiani tidak pernah mendemo pemimpinnya. 

Kepala Bakesbangpol Jepara Dwi Riyanto mengatakan, pihaknya pernah melihat dominasi agama di wilayah tertentu, seperti katolik yang dominan di Flores, hindu di Bali, Islam di Aceh, dsb. “Yang paling terkesan adalah kesedian untuk melebur pada kesatuan NKRI,” ungkapnya.

Pihaknya melanjutkan, pemerintah perlu memfasilitasi dan mendorong proses yang baik dalam pemilu serta punya peran dan tugas sosialisasi agar pemilu sukses. “Kami berharap apa yang terjadi di pusat tidak terjadi di Jepara. Deklarasi pemilu damai merupakan bentuk harapan bersama agar pemilu benar-benar sejuk dan kondusif,” harap Dwi. 

Kepala Kementrian Agama Jepara, H Nor Rosyid yang diwakili Hariadi melontarkan pernyataan umat beragama yang baik selain taat dalam ritual agamanya juga harus saleh sosialnya. 

“Keberagaman dalam keyakinan Islam adalah sunnatullah, oleh karenanya harus disyukuri dan dijaga.” ungkapnya.

Ketua MUI Jepara Mashudi menyampaikan, Pemilu hanyalah sarana bukan tujuan. Makanya pemilu diharapkan bisa menghadirkan pemimpin yang sesuai dengan yang diharapkan.

“Jangan sampai masyarakat tidak peduli dengan kesuksesan pemilu. Posisi tokoh agama dan masyarakat harus berani menjadi panutan dalam kebaikan,” pungkas Mashudi yang juga Ketua FKUB Jepara. (Syaiful Mustaqim/Muiz)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG