IMG-LOGO
Trending Now:
Esai

Mengawinkan Kaligrafi dan Filologi di Taman Mini

Rabu 7 November 2018 11:15 WIB
Bagikan:
Mengawinkan Kaligrafi dan Filologi di Taman Mini
Oleh Didin Sirojuddin AR
Perjalanan paling mengasyikkan adalah perjalanan sambil nengok kanan-kiri.

قل سيروافى الأرض فانظروا

Artinya, “Katakan, ‘Berjalanlah di bumi, lalu lihatlah!"

Perjalanan mengasyikkan itu seperti Safari Seni oleh 200-an santri Pesantren Kaligrafi Al-Quran Lemka ke Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Di anjungan Bayt Al-Qur'an dan Museum Istiqlal (BQ & MI), para santri yang lagi PPL Sejarah  menyaksikan dua dunia satu atap  yaitu tulisan/lukisan kaligrafi dari dunia seni dan naskah-naskah kuno dari dunia Filologi.

Mereka bermaksud melirikkan pandangan kepada keduanya. Sebab, kajian kaligrafi dan filologi, selama ini, seakan “pisah ranjang.” Ada yang hanya kesengsem kaligrafi lantaran  lebih cantik dan komersil. Yang satunya serius sendirian sehingga kajian terhadap naskah-naskah Nusantara didominasi para filolog yang hanya mengkaji teks, bukan oleh kaligrafer dan peminat atau sejarawan seni.

"Kami ingin mengombinasi keduanya," kata seorang santriwati  Lemka yang saban hari tangannya belepotan karena  dipakai ngaduk cat. Ia  mengibaratkannya dengan teknik mixed media atau media campuran oil painting dengan acrylic dalam lukisan.

"Minyak dan air saja bisa dipersatukan dalam canvas. Nggak seperti kata Mansyur S penyanyi dangdut itu," tambahnya sedikit berseloroh.

Benar juga sich. Lha wong partai-partai politik yang berlawanan saja bisa berkoalisi.

Benar-benar asyik. Karya-karya kaligrafi di gedung buatan Presiden Soeharto 1997 warisan Festival Istiqlal I & II ini menerangkan banyak hal: teknik apresiasi dan variasi gaya para master khat dengan sederet nama para kaligrafer. Informasi tentang perkakas tulis dan lukis, dan pelajaran yang dimulai dari rancang bangun desain dan teknik menggores kalam dan menorehkan kuas, sampai finishing touch melalui pertimbangan  unsur-unsur elemen rupa: unsur garis, bentuk, volume, cahaya, warna, tekstur, ruang, dan bidang.

Mazhab-mazhab tradisional dan kontemporer. Karya-karya hasil MTQ Nasional (naskah, hiasan mushaf, dekorasi, dan kontemporer) dan kompetisi di Islamic Art Festival. Banyak pula lukisan kaligrafi koleksi Lemka.

Beberapa bahkan diterakan pada benda-benda tua seperti gerabah, kayu, kaca, dan kain tapis. Kanvaslah yang paling mendominasi, kebanyakan produk tahun 2000-an.  Tampilan karya-karya ini seperti menelusuri zona waktu yang telah melahirkan keahlian dan  kebudayaan semesta.

الخط من الصناعات المدنية التى تقوى وتضعف بقوة الحضارة وضعفها

Artinya, “Kaligrafi adalah produk kemajuan yang menguat dan melemah karena kuat dan lemahnya   kebudayaan."

Pameran di BQ & MI didominasi oleh naskah-naskah Al-Qur'an dan tafsir berbentuk manuskrip dan cetakan. Banyak pula manuskrip keagamaan bukan Al-Qur'an. Pendukungnya adalah karya-karya arsitektur, tekstil, nisan, seni rupa tradisional, seni rupa moderen, dan warisan budaya Islam (Islamic Heritage).

Yang paling menarik adalah naskah-naskah Al-Qur'an tua dari abad ke-17-20 M dan tulisan tangan Al-Qur'an modern yang dipelopori oleh Mushaf Istiqlal (1991-1995), Mushaf Sundawi, Mushaf Jakarta, Mushaf Ibu Tien Soeharto, sampai Mushaf Al-Bantani.

Perhatian tertuju pada rasam dan sisi visualnya, yaitu iluminasi dan kaligrafi yang jadi "makanan sehari-hari"  santri Lemka tapi kurang mendapat perhatian dari para peminat kajian naskah Nusantara. "Untuk zamannya, semuanya indah-indah, luaaar biasa,"  komentar para santri.

"Dan Mushaf Istiqlal, ini dia maha karya putra-putri terbaik Indonesia, karena beriluminasi ragam hias Nusantara yang melibatkan desainer, para khattat kreatif (warraqun mubdi'un, الوراقون المبدؤون), dan iluminator ahli." 

Tampak cahaya Islam tambah jelas via pancaran cahaya Al-Quran:

القرآن هوأول رافع لمناظرالخط العربى

Artinya, "Al-Qur'an adalah yang pertama kali mengangkat mercusuar kaligrafi."

Seluruh kerja kreatif ini, sebagaimana dalam tradisi penyalinan mushaf dan teks-teks non-Qur'anis di dunia Islam, masuk lingkup gerakan ilmiah dan kebudayaan mengiringi  pergerakan sejarah kebudayaan umat  manusia.

Warraqah (الوراقة) atau "kegiatan penyalinan naskah: penulisannya, penyebarannya, editingnya, dan distribusinya" benar-benar jadi barokah untuk para penulis (mencakup iluminator dan petugas peng-emasan), pasar kertas dan peralatan tulis seperti kalam khat, tinta dan wadahnya, penjilidan dan  penjual buku.

Setelah rehat 2 jam untuk menikmati pusat-pusat hiburan Taman Mini, para santri Lemka memasuki Teater Imax Keong Emas untuk nonton film The Journey to Mekkah, kisah sulitnya perjalanan Ibnu Batutah yang harus bersabung nyawa untuk pergi haji.

Nobar ini merupakan "praktik merasakan" sebagian dari naskah filologis Ibnu Juza'i, Tuhfahtun Nuzzar fi Gara'ib il Amshar wa 'Aja'ibil Asfar (Persembahan Seorang Pengamat tentang Kota-Kota Asing dan Perjalanan yang Mengagumkan) atau yang lebih dikenal dengan Kitab Al-Rihlah (journey, perjalanan) Ibnu Batutah.

Hebat tidak? Ketika usia 21 tahun, Ibnu Batutah yang lahir di Marokko 25 Februari 1304 M memulai perjalanan panjang yang mencakup 120.700 km² selama hampir 3 dasawarsa. Tiga kali lebih dahsyat daripada pengembara Marcopolo!

Ibnu Batutah berkelana dengan tujuan untuk mengenal bangsa-bangsa baru dan bertemu banyak orang dari latar belakang dan kebudayaan yang beragam. Karena terkagum-kagum dengan perjalanan pertamanya, ia bersumpah untuk mengunjungi sebanyak mungkin tempat yang dapat dikunjunginya selama hayatnya.

Salah satu kunjungannya adalah Pulau Sumatera, yang disebutnya "Pulau Jawa yang menghijau". Ibnu Batutah sampai di pelabuhan Kerajaan Samudera Pasai yang disebutnya "kota yg indah".

Ya, seindah perjalanan menuntut ilmu dan seindah bisa menautkan studi  kaligrafi dengan filologi.


*) Penulis adalah pengurus Lembaga Kaligrafi (Lemka) dan pengasuh pesantren kaligrafi di Sukabumi. Maestro kaligrafi ini juga mengajar di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Tags:
Bagikan:
Sabtu 3 November 2018 17:30 WIB
Crypto di Aksi NU Peduli
Crypto di Aksi NU Peduli
Penggalangan donasi untuk NU Peduli melalui Crypto.
Oleh Muhammad Sulton Fatoni

Hari ini Sabtu, 3 November 2018, di Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta Pust, berlangsung "Halaqah Blockchain" yang diinisiasi oleh Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN). Halaqah ini disambut sangat antusias oleh Nahdliyyin. Saya menyesal tidak bisa hadir karena pada waktu bersamaan sedang berada di Solo, Jawa Tenga. Namun, saya masih bisa mengikuti halaqah tersebut melalui saluran 164 Channel.

Saya teringat, beberapa pekan lalu seorang ahli financial technology menghubungi saya. Namanya Konstantine Papadimitriou. Dia tertarik membaca publikasi Nahdlatul Ulama yang aktif dalam aksi kemanusiaan di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Tengah. Hasrat pun ia ungkapkan untuk ikut menggalang dana sosial dalam bentuk donasi Crypto. 

Melalui media sosial, penggalangan donasi Crypto pun tersebar di jaringannya yang lintas negara. Hanya butuh kurang dari sepekan, donasi berbentuk Crypto masuk ke rekening NU Peduli yang setelah dikonversi menjadi seratus juta rupiah. Tahap kedua kembali terkumpul donasi Crypto senilai seratus empat puluh tujuh juta rupiah.

Saat ini memasuki pekan ketiga donasi untuk NU Peduli melalui Crypto masuk tahap ketiga. Dalam sejarah penggalangan dana berbasis teknologi digital yang pernah dilakukan NU Care-LAZISNU, donasi Crypto inilah yang tercepat.

Apa sih Crypto atau Cryptocurrency itu? Crypto itu aset yang berbentuk digital, dirancang sebagai media tukar-menukar. Praktisnya, Cryptocurrency sejenis mata uang alternatif, mata uang digital. Crypto pertama dirilis pada tahun 2009 bernama Bitcoin. Stephanie Yang dalam The Wall Street Journal menyebut bitcoin dan sejenisnya sebagai mata uang alternatif yang berbentuk digital (2018).

Transaksi Crypto ini tercatat dalam buku digital yang populer disebut teknologi Blockchain. Menurut Konstantin (2018), Blockchain menerapkan prinsip keterbukaan dan independensi. Tekanan politik dan gangguan regulasi diatasi dengan infrastruktur jaringan Blockchain yang terdesentralisasi sehingga ia tidak dapat dikontrol oleh siapa pun. 

Teknologi digital telah mendorong dunia mengalami percepatan dinamika yang tidak beriringan dengan regulasi formal. Blockchain seakan membuktikan bahwa moralitas itu bisa mewujud dalam bingkai teknologi. Pada konteks ini moralitas tidak selalu memerlukan regulasi. Tujuan Blockchain bukan untuk dikontrol oleh suatu lembaga tertentu. Blockchain justru berdasarkan konsensus dan kesepakatan bersama, yang bisa dimonitor secara transparan.

Blockchain telah memberikan secercah harapan masyarakat tentang perlunya kehadiran sebuah era yang didominasi oleh kultur masyarakat yang berperadaban luhur. Slank menyebutnya dengan era 'pulau biru', atau al-Madinatul fadhilah dalam versi al-Farabi.

Suatu sore saya melanjutkan perbincangan dengan Konstantin, Zac Cheah dan Muhammad Said. Meeting kali ini membincang urgensi menghadirkan Cryptocurrency di tengah masyarakat Nahdliyyin. Termasuk lebih mengakrabkan Blockchain yang terbukti telah memberikan alternatif baru budaya internet yang berbasis moralitas.

Cryptocurrency ini kami beri nama nucoins yang sistem kerjanya bermazhab stablecoin, yaitu cryptocurrency yang dirancang untuk meminimalkan gejolak harga. Tema besar pilihan ini untuk merancang pasar uang yang lebih menjamin ketertiban dan stabilitas sosial. Kehadiran 'nucoins' tadi melengkapi fitur zakat, wakaf uang, iuran anggota, donasi yang telah tersedia di aplikasi NU Cash.

Penulis adalah Ketua PBNU.


Sabtu 3 November 2018 0:0 WIB
Kaca Mata
Kaca Mata
(ilustrasi: pixabay)
Oleh Abdul Basyid 

Siapa yang tidak tahu kaca mata? Kaca mata adalah alat bantu penglihatan. Bagi mereka yang bermasalah penglihatannya karena usia, seperti plus atau minus, kaca mata menjadi solusinya. Namun, ada pula kaca mata hanya sebagai pemanis belaka, penunjang penampilan atau live style. 

Kaca mata memang bukan barang istimewa, karena selain mudah mendapatkannya, harga kaca mata pun sangat variatif tergantung kekuatan financial masing-masing pembeli. Jika uang terbatas kaca mata dapat dibeli di kaki lima.  Namun, jika uang  cukup berlebih, silahkan membeli kaca mata di optic dengan menggunakan resep dokter. 

Hal ini berbeda ceritanya jika kaca mata hanya sekedar pemanis penampilan. Mereka rela merogoh koceknya hingga ratusan ribu atau bahkan jutaan rupiah. Bahkan ke luar negeri pun mereka lakukan guna memenuhi kesempurnanaan penampilan sebagaimana yang sering dipertontonkan oleh selebritis kondang negeri ini.
    
Apabila kaca mata merupakan satu kebutuhan agar sesuatu yang dilakukan dapat berhasil maksimal,  tidak bisa tidak kacamata harus dipenuhi, agar sang pemakai kaca mata tidak menemukan hambatan dalam beraktivitas seperti mengaji, atau mengerjakan yang lainnya. 

Tetapi, akhir-akhir ini, banyak kegaduhan disebabkan kurang obyektifnya penglihatan mereka dalam memandang persoalan bangsa.  Semua tidak lepas dari pilihan kaca mata yang dipakainya. Maka tidaklah mengherankan jika produksi hoaks dari hari ke hari kian merajarela. 

Di zaman seperti ini, betapa pentingnya memakai kaca mata bening (transparan) dalam memahami persoalan kebangsaan atau masalah-masalah lainnya yang berhubungan dengan keumatan. Dengan berkaca mata bening diharapkan dapat bertindak dan berargumen sesuai fakta yang ditemukan. Bahkan di dalam diriya pun, tidak terbersit rasa untuk memfitnah atau mem-bully siapa pun. Jika hal ini disadari semua pihak, maka betapa eloknya negeri ini, suasana  damai dan kondusif akan terjaga sepanjang masa.

Fakta berbicara lain, riuh rendah, hiruk pikuk di media sosial yang sekarang menjadi ujung tombak propaganda sering mempertontonkan sesuatu yang tidak sehat. Cacian dan umpatan hingga berujung debat kusir di medsos  terus terjadi setiap hari. Semua juga tidak lepas dari pilihan kaca matanya. Bila dia memakai kaca mata merah, apapun yang dilakukan si merah akan sikapinya dengan baik. Begitu pula ketika dia memakai kaca mata hijau, kuning, biru atau hitam.

Parahnya ketika dia memakai kaca mata biru semua aktivitas atau karya bakti yang dilakukan oleh si merah, hijau, atau kuning selalu disikapi dengan sinis dan apatis oleh mereka yang berbeda kaca matanya, dengan dalih  tebar pesonalah, mencuri starlah , atau yang lainnya. Inikah yang dinamakan pendidikan politik di jaman milineal? Ataukah ini bagian dari cara berpolitik di era globalisasi ? Entahlah.

Fenomena tersebut bak gunung es ketika memasuki tahun politik. Para selebritis negeri, membuang jauh-jauh  kaca mata bening dalam bersikap. Ini sudah banyak dipertontonkan oleh selebritis Senayan. Bahkan, tempat  yang seharusnya untuk mendekatkan diri kepada Yang Kuasa juga dikotori dengan umpatan dan cacian yang kasar dari mereka yang memantapkan dirinya sebagai tokoh umat. Belum lagi mereka yang selama ini mengaku dirinya  penerus para nabi atau kekasih Tuhan juga ramai-ramai berteriak lantang membuat  opini pedas, menyakitkan bahkan provakatif padahal  tugas beliau untuk bermauidloh khasanah rakyat atau umat.  

Ironis memang! Tapi mau apalagi jika hal tersebut sudah menjadi mind set-nya dalam rangka membangun popularitas di tengah kegaduhan politik dalam negeri.

Namun demikain,  kita tidak boleh hanyut dalam carut marutnya keadaan. Kewaspadaan dan tabayun harus tetap terjaga agar kebeningan kaca mata tidak tenodai oleh intrik-intrik semu sebagaimana yang sering dipertontonkan oleh pengguna kaca mata hitam. Aktivitas pemakai  kaca mata hitam patut  diwaspadai, karena mereka sering menampilakan intrik-intrik yang dibalut agama. Agama dijadikan sarana berlindung guna memuluskan niat jangka panjangnya, sehingga orang menjadi terlena. 

Kaca mata hitam adalah tempat bersembunyi yang paling aman untuk  melakukan gerakan kemunafikan, atau  kebohongan kepada masyarakat.  Dia mau melirik, memandang, menatap, atau bahkan tertidurpun orang di sekitarnya tidak tahu. Maka tidaklah mengherankan bila mereka yang jiwanya  labil atau terbatas pengetahuan agamanya sering menjadi sasaran gerakannya. Sensifitas agama, golongan, dan semangat jihat  merupakan alat propaganda  paling banter dikampayekan di kampus-kampus atau di instansi pemerintah.

Oleh sebab itu, penting adanya pondasi akidah dan nasionalisme ditanamkan sejak dini. Jangan sampai kealpaan kita terhadap lingkungan berdampak runtuhnya pondasi yang sudah dibangun selama ini terutama ketika anak-anak memasuki usia emas. Bagi orang tua, pilihlah sekolah untuk anak-anaknya yang betul-betul diketahui latar belakangnya. Jangan sampai tergiur megahnya bangunan, jaminan hafal Al-Qur'an dan beasiswa, akidah dan jiwa nasiolisme anak-anak kita terbang melayang.     

Penulis adalah Mantan Pengurus IPNU PC Kendal, saat ini Pengurus Harian MWCNU Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal. 

Kamis 1 November 2018 2:0 WIB
Memahami Agama ala Don Quixote
Memahami Agama ala Don Quixote
ilustrasi: emaze.com
Oleh Miftakhul Ainun Arif

Ini merupakan pertama kalinya saya perasaan saya benar-benar kontras ketika membaca cerita Don Quixote. Sedih sekaligus senang di waktu yang bersamaan. Bahkan saya bingung harus memilih antara ingin tertawa atau terharu. Sungguh karya yang sangat fenomenal.

Don Quixote, Don Kisot, atau El Ingenioso Hidalgo Don Quijote de la Mancha versi asli spanyolnya, merupakan novel klasik awal abad ke 17 karangan Miguel de Cervantes yang mengisahkan tentang seorang lelaki paruh baya bernama Alonso Quixano yang terobsesi pada kisah fiksi ksatria pengelana dalam buku-buku yang dibacanya. Dengan mengenakan baju zirah dan pedang tinggalan kakek buyutnya. Dia lantas menyebut dirinya sebagai Don Quixote, ksatria dari La Mancha.

Sebagai orang tua yang dianggap gila (dan memang agak gila), Don Quixote mengalami berbagai macam tantangan. Salah satunya kala menemukan suatu penginapan di suatu tempat. Dengan spontan Don Quixote menyebutnya sebagai sebuah kastil. Ia pun memasukinya. Dengan sedikit terkejut, sang pemilik penginapan pun menjamunya seperti halnya pengunjung lainnya. Dan anehnya Don Quixote menyebut pemilik penginapan sebagai seorang raja dan meminta si ‘raja’ untuk menahbiskannya sebagai seorang ksatria kerajaan. 

Sang ‘raja’ pun mengabulkan permintaannya. Setelah penjamuan selesai, sebagai pemilik penginapan, dia menyodorkan tagihan kepada Don Quixote. Dengan jumawanya, Don Quixote menjawab bahwa ksatria kerajaan tidak diperkenankan membawa uang. Mendengar perkataan Don Quixote, tanpa babibu dia langsung mengusir Don Quixote dari penginapannya. “Dasar tua gila” umpatnya kepada Don Quixote.

Di lain kisah kala Don Quixote bertemu pasukan kerajaan yang sedang mengawal para tawanan kriminal, tiba-tiba Don Quixote menghadangnya. Dengan sedikit terhuyung-huyung, Don Quixote mengarahkan tombaknya ke arah pimpinan pasukan dan lantas memerintahkan untuk membebaskan tawanan yang ia anggap sebagai budak-budak. 

Sontak seluruh pasukan kaget. Momen tersebut kemudian dimanfaatkan para tawanan untuk menyerang dan berhasil melepaskan diri. Bukannya berterima kasih, tawanan tersebut malah menyerang Don Quixote dan mencambuk Rosinante, kuda Don Quixote, sehingga lepas kendali. Don Quixote yang sebelumya bak pahlawan, ia lalu nampak seperti orang tolol berbaju zirah yang tersungkur di atas tanah.

Sungguh saya ingin menangis dan tertawa di waktu yang sama.

Obsesi yang besar akan kegagahan ksatria dalam bukunya menyebabkan seorang Alonso Quixano lupa akan realita yang ada. Saking terobsesinya, dia bahkan mempraktikkan secara ‘utuh’ kisah-kisah yang telah dibacanya.

Seperti halnya sastra-sastra klasik yang dianggap abadi, ‘keabadian’ kisah Don Quixote pun masih terbukti hingga saat ini. Sayangnya bukan dari kisah ksatria pengelana, namun berasal dari kisah mereka yang mengaku paling beragama. Yakni orang-orang yang mempraktikkan secara ‘utuh’ apa yang ada dalam kitab suci mereka. Khususon bagi yang merasa paling ‘islam’.

Sejatinya dalam agama islam, semua aspek yang berhubungan dengan kegiatan peribadatan berdasar pada Al-Qur’an  dan hadits. Itu mutlak. Tidak boleh diganggu gugat.  

ذلِكَ اْلكِتَبَ لاَرَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (Al-Baqarah; 2)

Namun dikarenakan Al-Qur’an  yang sudah pakem dan hadits yang jumlahnya terbatas sedangkan masalah-masalah yang dialami manusia semakin banyak dan dinamis. Oleh karena itu, selain pemahaman tekstual, diperlukan pula pemahaman kontekstual.

Pemahaman tekstual biasanya digunakan untuk membahas mengenai tata gramatikal suatu ayat atau hadits secara harfiah. Sedangkan pemahaman kontekstual lebih pada memahami keduanya terkait situasi, kondisi, serta maksud penggunaan kala kemunculan suatu ayat atau hadits. Pengkajian secara teks maupun konteks ditujukan agar mendapatkan pemahaman yang benar-benar lengkap, baik mengenai makna harfiah maupun inti sari dari suatu ayat atau hadits. Hal ini yang akan membuktikan universalitas islam.

Perintah Nabi, “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat”, maka pertanyaanya, seandainya ada sahabat Nabi yang shalat dibelakang Nabi lantas mendengar setelah takbir Nabi batuk 3 kali, apakah batuknya Nabi ini merupakan hal yang harus diikuti atau ini hanya sisi kemanusiaan Nabi yang kebetulan sedang batuk?” (Nadirsyah Hosen – Rais Syuriah PCI NU Australia)

Dan akan menjadi suatu kelucuan sekaligus kemirisan jika memahami dan mengamalkan suatu ayat ataupun hadits secara tekstual saja. 

Boro-boro mau pake smartphone, mau kemana-mana aja masih bingung. Kan, Nabi kemana-mananya pake onta,  bukan pake gojek, eh motor ding. 

Kalo masih aja ngotot, bisa jadi si doi itu Don Quixote jaman now.


Penulis adalah mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG