IMG-LOGO
Nasional

Hari Pahlawan: Semua Orang Bisa Jadi Pahlawan (1)

Sabtu 10 November 2018 1:30 WIB
Bagikan:
Hari Pahlawan: Semua Orang Bisa Jadi Pahlawan (1)
Pahlawan Ilustrasi
Jakarta, NU Online
Setiap tanggal 10 November tiba, bangsa Indonesia akan memperingati Hari Pahlawan. Tujuannya, selain mengenang jasa pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan, juga tak lain agar semangat perjuangan terus diwarisi oleh generasi saat ini dan generasi mendatang. 

Zaman dulu, kata pahlawan disematkan pada orang yang terlibat dalam peperangan memperjuangkan kemerdekaan dan yang ikut mempertahankannya. Peristiwa kepahlawanan dalam peperangan yang kita rayakan saat ini adalah perayaan terhadap kemenangan atas peperangan 73 tahun silam, di mana pada 10 November 1945 warga Surabaya dan sekitarnya melakukan perlawanan terhadap Belanda yang hendak merebut kemerdekaan Indonesia. 

Namun gelar pahlawan sejatinya tak hilang bersama dengan hilangnya peperangan merebut kemerdekaan. Gelar pahlawan juga dapat digunakan saat ini. NU Online mewawancara beberapa narasumber dari kalangan profesi yang berbeda untuk menangkap makna pahlawan dalam konteks saat ini. 

Hafiz Arfyanto (29), seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh sekolah master di The Australian National University, Canberra Australia mengatakan bahwa siapa saja bisa menjadi pahlawan saat ini. “Pahlawan adalah mereka yang memberi kontribusi nyata. Jadi pada prinsipnya seorang pahlawan bisa siapa saja dan datang dari latar belakang pekerjaan apa saja,” kata Hafiz pada NU Online

Mahasiswa Master of Economics ini memberi contoh kasus defisitnya anggaran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang terjadi karena pemasukan, yang mayoritas berasal dari pembayaran premi, lebih sedikit dari pada penggunaan anggaran. 

Dalam analisanya, hal itu terjadi karena dua hal: pertama banyaknya masyarakat yang tidak membayar premi asuransi. Hal itu berasal dari lemahnya pemahaman tentang skema asuransi. Akibatnya sebagian warga hanya membayar iuran sebelum atau saat mengakses layanan kesehatan. Bahkan, sebagian dari masyarakat berhenti membayar iuran setelah mendapatkan layanan.

Dalam hal itu, lanjut dia, seorang pahlawan adalah mereka yang rajin membayar iuran premi BPJS. “Dalam hal defisit anggaran BPJS, pahlawan adalah mereka yang rutin membayar premi BPJS Kesehatan, sedangkan yang tidak membayar (kecuali penerima bantuan iuran) bukan pahlawan,” katanya. 

Kedua, penyebab lain dari defisit anggaran BPJS Kesehatan adalah sistem pembayaran premi yang kurang adil dan merata. Ia menilai, premi yang dibayarkan dari pekerja yang ditanggung bersama antara pemberi kerja dan pekerja cenderung masih sangat rendah. 

Hal itu disebabkan aturan dalam Perpres 19 tahun 2016 Pasal 16D yang mengatur batas atas pendapatan yang diprosentase 5 persen untuk membayar iuran sebesar 8 juta. Karena batas atas itu, sehingga orang yang gajinya di atas 8 juta, hanya membayar BPJS sebesar 5 persen dari 8 juta saja.

Menurutnya, adanya batas atas ini membuat skema pembayaran tidak adil sebab cenderung menguntungkan kelompok yang bergaji tinggi. Pada konteks itu, pejabat pembuat aturan BPJS juga bisa menjadi pahlawan dengan membuat aturan yang lebih baik dan adil. 

“Misalnya menghapus batas atas gaji yang diprosentasekan untuk membayar BPJS. Dan yang diprosentase jangan gaji pokok saja, tapi keseluruhan dari pendapatan termasuk tunjangan dan manfaat lain,” ujarnya. (Ahmad Rozali)
Tags:
Bagikan:
Sabtu 10 November 2018 23:26 WIB
Karakter Bangsa Dibentuk dari Pendidikan, Dimulai Para Guru
Karakter Bangsa Dibentuk dari Pendidikan, Dimulai Para Guru
Bekasi, NU Online
Karakter positif yang dimiliki suatu bangsa akan  terbentuk melalui rekayasa sosial yang dimulai dari pendidikan. Pendidikan memiliki kekuatan dan tak bisa dipungkiri semuanya dimulai dari para guru sebagai pendidik.

Pesan ini disampaikan Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamarudin Amin dalam kegiatan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), Deradikalisasi, Wawasan Kebangsaan dan Moderasi Islam bagi Guru dan Tenaga Kependidikan, di Bekasi, Sabtu (10/11).

"Para guru jangan hanya mengartikan secara  pedagogik bahwa tujuan pendidikan hanya  semata-mata  proses  transfer of knowledge, karena hal itu bisa digantikan oleh aplikasi atau kemajuan teknologi. Akan tetapi, bagaimana sang guru mampu membentuk karakter anak didik melalui tugas guru yang dilakukan," ucap Kamaruddin.

Menurutnya, guru juga harus mampu membimbing anak didiknya untuk mengamalkan ilmu yang telah diajarkan kepadanya. Selanjutnya, guru membimbing mereka untuk menginternalisasikan pengetahuan yang diperoleh kepada dirinya secara pribadi.

Lebih lanjut, guru juga seharusnya memastikan bagaimana ilmu yang sudah ditanamkan kepada anak didiknya dapat digunakan dalam kehidupan bersama dengan orang atau komunitas lain di sekitarnya.

"Guru juga  diharapkan membawa transformasi masyarakat karena ilmu yang diajarkan," terang Kamaruddin. (Red: Abdullah Alawi)

Sabtu 10 November 2018 18:15 WIB
Dubes Indonesia untuk Aljazair Suka Berpikir 'Out Of The Box'
Dubes Indonesia untuk Aljazair Suka Berpikir 'Out Of The Box'
Safira Rosa Machrusah (tengah)
Jakarta, NU Online
Dubes Indonesia untuk Aljazair Hj Safira Rosa Machrusah membuka acara Bedah Buku dan Temu Penulis di Wahid Foundation, Jakarta Timur, Sabtu (10/10). Kegiatan tersebut diadakan dalam rangka memperingati hari pahlawan nasional.

Dalam sambutannya, Safira mengaku kagum terhadap buku Kitab Santri karya Achmad Tohe, Neng Koala: Kisah-kisah Mahasiswi di Australia yang disunting oleh Melati dan kawan kawan, dan Kisah 5 Benua yang ditulis oleh Yanuardi Syukur dan kawan kawan.

"Saya hanya merasakan, mereka semua ini telah melakukan keberanian berpikir think out of the box," kata Safira.

Menurut Safira, santri yang dianggap sebagai kaum pinggiran, sederhana dan tradisional tidak ditemukan dalam buku Kitab Santri ini. Baginya, Achmad Tohe telah berhasil menyajikan tentang santri.

"Dengan buku Ahmad Tohe ini, kalian akan melihat eksplorasi keberagaman santri. Bagaimana santri bisa dengan mudah bersinergi dengan modernitas. Santri zaman dulu dan zaman now bisa disajikan bagus sekali dalam buku ini," ucapnya.

Buku Ahmad Tohe ini, sambung Safira, dapat menjadi motivasi bagi seseorang yang memiliki latar belakang santri atau siapa saja yang mau berpikir di luar kotak (think out of the box).

Sanjungan juga disampaikan Safira terhadap buku 'Neng koala' yang berisi tentang kisah para penulis ketika pertama kali berjibaku di negara luar dan buku 'Kisah 5 Benua' yang memotivasi seseorang untuk bercita-cita tinggi.

"Dua buku ini, buku yang menurut saya sangat bagus, terutama untuk mereka yang bercita-cita untuk keluar dari dogma yang selama ini ada," ucapnya.

Perempuan kelahiran Yogyakarta itu pun berpesan kepada peserta yang hadir, yang didominasi oleh mahasiswa ini agar mempunyai keinginan yang tinggi, kemudian diserahkan kepada Allah. Hal itu sebagaimana yang telah dilakukan para penulis buku 'Kisah 5 Benua' yang sebelumnya tidak membayangkan ke luar negeri dan mendapat beasiswa.

"Ketika kalian punya niat, ketika kalian punya kehendak, percaya saja, insyallah Allah akan memberi jalan kepada kalian semua. Kalau ini diniati dengan tulus dan punya keberanian yang sangat maksimal, Allah pasti akan memberikan jalan. Mereka ini sudah faidza azamata fatawakkal alallah," jelasnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Sabtu 10 November 2018 18:4 WIB
Maulana Gelar Haul untuk Para Pahlawan dan Dialog Kebangsaan
Maulana Gelar Haul untuk Para Pahlawan dan Dialog Kebangsaan
Jakarta, NU Online 
Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Nasional Majelis Ulama dan Umara Nusantara (Maulana) menggelar Haul untuk Para Pendiri Bangsa dan Dialog Kebangsaan di Gedung Joeang 45, Jakarta, Jumat (9/11) malam. 

Acara ini dihadiri ratusan jamaah dan  berbagai lapisan masyarakat. Hadir sebagai narasumber Ketua Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari KH Zuhri Yakub, Pengasuh Pondok Pesantren Misbahul Munir KH Misbachul Munir, perwakilan umat Buddha Indonesia (Walubi) Bante Damakaro. 

"Kami menggelar acara ini untuk mengenang jasa para pahlawan, para pendiri bangsa, dan para pejuang yang telah mengorbankan jiwa raganya untuk kemerdekaan negara  yang kita cintai ini, dan meneladani perjuangan dan pengorbanan mereka. Pengorbanan mereka bukan hanya fisik, tapi juga nonfisik, mengenyampingkan egoisme sektoral mereka, tidak mentang-mentang mayoritas Muslim kemudian mereka mendirikan negara Islam, tetapi negara berdasarkan kesepakatan sesama anak bangsa," Kata Ketua Umum Maulana KH Nurul Yaqin Ishak.

Kiai yang biasa disapa KNY menambahkan, kita bisa bilang, dengan jiwa besar almaghfurllah KH Abdul Wahid Hasyim merelakan tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi menjaga dan memelihara keutuhan bangsa dan negara. 

"Kemerdekaan kita ini bukan hadiah dari Jepang atau Belanda tetapi kemerdekaan NKRI ini dengan tetesan darah, pengorbanan jiwa dan raga, itu sebabnya kita mempunyai kewajiban menjaga dan merawat bangsa ini," pungkas inisiator Maulana yang merupakan Katib Syuriyah PBNU ini.

Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Bante Damakaro yang turut hadir sebagai narasumber juga mengajak masyarakat Buddhis untuk menjaga dan memelihara persatuan dan keutuhan Indonesia dengan cara saling tolong-menolong.

"Kami kaum Buddha sangat  menyadari bahwa kami sangat minoritas sangat sedikit, namun kami selalu mengarahkan meski sedikit kami terus ingin berperan semampu kami, seperti halnya kami lakukan memberikan bantuan korban bencana di Lombok dan Palu, yang kami tekankan kepada masyarakat buddhis, mari inilah cara kita berperan aktif untuk menjaga dan melestarikan kebersamaan untuk mewujudkan Indonesia yang kita harapkan dan kita inginkan yaitu dengan saling menolong," Kata Bante.

Ketua Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari, KH Zuhri Yakub menggambarkan situasi saat ini sama dengan kondisi pada tahun 1947.

"Buat kita orang-orang NU, NKRI harga mati, kita ini sedang diutak atik dan ini menjadi ancaman serius bagi bangsa, hari ini kita berhadapan kelompok yang kita sebut kelompok intoleran, kelompok yang sedang memaksakan kehendak ideologi mereka, kondisi ini persis seperti tahun 1947 terancam perpecahan sebagai sebuah bangsa dan ini menjadi pengulangan sejarah, ini ujian bagi kita maka menjadi penting memperingati hari pahlawan kita bisa mengambil tauladan bagaimana menghargai orang lain toleran dengan perbedaan, hidup berdampingan secara damai dan mengambil semangat dalam perjuangan," tegasnya.

Kalau tidak, Kiai Zuhri melanjutkan, konflik-konflik besar bisa saja terjadi dan ini mengancam keutuhan kita sebagai bangsa Ini persoalan serius, permasalahan ini sudah menyentuh pada ideologi.

"Kita sedang menghadapi dua masalah besar permasalahan kebangsaan dan keumatan, permasalahan kebangsaan baik di dalam negeri dan dari luar negeri yang harus kita hadapi, permasalahan keumatan bentrok antar umat beragama dan antarintenal agama itu sendiri. Maka ini adalah persoalan keumatan setiap tokoh agama mempunyai kewajiban domainnya para pemimpin agama. Kita selaku umat dan masyarakat mari kita jaga keutuhan dan kebersamaan kita dalam merawat bangsa dan negara Indonesia," pungkasnya. (Junaidi/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG