IMG-LOGO
Opini

Mengusulkan Kiai Abbas Buntet, ‘Macan’ dari Cirebon sebagai Pahlawan Nasional

Sabtu 10 November 2018 11:20 WIB
Bagikan:
Mengusulkan Kiai Abbas Buntet, ‘Macan’ dari Cirebon sebagai Pahlawan Nasional
Kiai Abbas dari Buntet Pesantren Cirebon
Oleh Mustolih Siradj

Setiap 10 November diperingati oleh bangsa Indonesia sebagai hari Pahlawan. Mengapa hari pahlawan harus diperingati? Tanpa cucuran keringat, darah dan air mata yang mereka tumpahkan mustahil bangsa Indonesia bisa merdeka dari penjajah.  

10 November dipilih sebagai Hari Pahlawan diambil dari peristiwa heroik di Surabaya, 10 November 1945. Tanggal itu sebagai penanda peristiwa peperangan dahsyat yang menjadi perhatian dunia internasional antara pejuang kemerdekaan dengan tentara sekutu. Ulama, santri, rakyat, tantara dan semua elemen bersatu angkat senjata.

Ada beberapa aktor penting yang tercatat dalam sejarah atas meletusnya peristiwa itu, antara lain Bung Tomo. Pemuda hebat Surabaya yang mengobarkan semangat patriotisme melalui pidatonya yang berkobar-kobar di radio yang ditutup dengan pekik takbir yang memiliki magnet menggerakkan perlawanan. Mereka yang mendengar pidato Bung Tomo langsung bergegas angkat senjata melawan penjajah, siap mati di medan perang. 

Energi Bung Tomo  menggelorakan pekik takbir dan semangat perlawanan diperoleh setelah mendapatkan restu dari ulama kharismatik Kiai Hasyim Asya’ri, Rais Akbar Nahdlatul Ulama. yang sebelumnya telah mengumumkan fatwa jihad melawan penjajah (resolusi jihad) dan menggelorakan jargon perjuangan hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman). 

Sudah menjadi tradisi dan gaya khas ulama-ulama NU yang tawadhu’, meski KH Hasyim Asy’ari memegang penuh otoritas dan komando perjuangan tetapi Kiai Hasyim Asy’ari tidak mau buru-buru meletupkan perang. Bala tentara rakyat waktu itu diminta Kiai Hasyim menahan diri sampai hadir  ‘Macan dari Cirebon’.  

Siapa “Macan dari Cirebon’? Sosok yang dimaksud adalah Kiai Abbas dari Buntet Pesantren Cirebon, pemimpin pesantren tua yang berdiri sejak abad 17. Kiai Abbas adalah ulama yang tidak hanya dikenal dengan keluasan pengetahuan agamanya, tetapi juga dikenal memiliki ilmu kanuragan/bela diri tingkat tinggi dan ilmu supranatural yang mumpuni. Kiai Abbas juga terlibat dalam penyusunan Resolusi Jihad.

Sesampainya Kiai Abbas di Surabaya, beliau memerintahkan para laskar dan pemuda-pemuda yang akan berjuang melawan penjajah untuk mengambil air wudu dan meminum air yang telah diberi doa. Setelah itu, para pemuda dan rakyat tanpa mengenal takut langsung menyerang tentara Belanda dengan hanya bersenjatakan bambu runcing, dan parang. 

Melihat keberanian pemuda Indonesia, para tentara Belanda menghamburkan pelurunya ke segala arah. Korban dari kalangan pemuda sangat banyak sekali. Namun tidak sedikit juga serdadu Belanda yang tewas di ujung bambu runcing. 

Dalam pertempuran itu, Kiai Abbas dan para kiai lainnya berada di tempat yang agak tinggi, hingga bisa memantau jalannya pertempuran. Dengan menggunakan sandal bakyak, Kiai Abbas berdiri tegak di halaman masjid sambil berdoa. 

Beliau menengadahkan kedua tangannya ke langit, dan keajaiban terjadi. Beribu-ribu talu (penumbuk padi) dan lesung (tempat padi saat ditumbuk) dari rumah-rumah rakyat berhamburan terbang menerjang serdadu–serdadu Belanda.

Suaranya tampak bergemuruh bagaikan air bah, sehingga Belanda kewalahan dan mereka pun mundur. Tidak lama kemudian, pihak sekutu mengirim pesawat bomber Hercules. Akan tetapi pesawat itu tiba-tiba meledak di udara.

Beberapa pesawat sekutu berturut-turut datang lagi dengan maksud menjatuhkan bom-bom untuk menghancurkan Kota Surabaya. Tetapi sekali lagi, pesawat-pesawat itu mengalami nasib yang sama, meledak di udara sebelum beraksi. 

Cerita tentang kiprah perjuangan dan kesaktian Kiai Abbas adalah kisah nyata yang diamini masyarakat/publik secara luas,  atau jika meminjam istilah dalam terminologi Mustalahu Al-Hadis derajatnya Mutawatir, sehingga sulit dibantah. Kiai Abbas wafat pada 1 Rabiul Awal 1365 atau 1946 Masehi, dan dimakamkan di pemakaman Buntet Pesantren. 

Kiai Abbas pernah berguru kepada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Ahmad Zubaidi, dan Syekh Mahfudh at-Termasi di Mekkah. Beliau juga memiliki banyak murid yang menjadi ulama dan intelektual salah satu murid langsung beliau adalah Prof Ibrahim Hossen, ulama dan akademisi ahli fiqih perbandingan (ayah kandung Prof Nadirsyah Hossen). 

Jika menilik kiprah dan peran Kiai Abbas dalam perjuangan kemerdekaan NKRI sesungguhnya beliau sudah sangat layak menyandang gelar sebagai Pahlawan Nasional. 

Sebagaimana didefinisikan dalam Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia. 

Secara substansi (materiil) Kiai Abbas sudah memenuhi kriteria sebagai Pahlawan Nasional, yang perlu ditempuh selanjutnya adalah langkah-langkah formal-prosedural ke birokrasi hingga bisa diresmikan oleh Presiden sebagai kepala negara memberikan pengakuan resmi Kiai Abbas sebagai Pahlawan Nasional. 


Penulis adalah Advokat, Dosen Fakultas Syariah dan Hukun UIN Jakarta

Bagikan:
Sabtu 10 November 2018 21:45 WIB
Khotbah Jumat Berisi Ujaran Kebencian dalam Perjalanan Umat Islam
Khotbah Jumat Berisi Ujaran Kebencian dalam Perjalanan Umat Islam
(Foto: @wikipedia)
Oleh Alhafiz Kurniawan
Khotbah Jumat di Indonesia beberapa tahun belakangan ini terindikasi mengandung ujaran kebencian dan caci maki dengan unsur SARA yang ditujukan ke sejumlah arah. Praktik seperti ini keliru karena praktik ini jauh dari misi khotbah agama yang menyampaikan nilai-nilai ketakwaan dan mencederai kemuliaan hari Jumat. Fenomena ini menjadi catatan hitam dalam perjalanan sejarah umat Islam.

Khotbah Jumat dengan kandungan ujaran kebencian bukan fenomena baru. Praktik ini pernah terjadi beberapa tahun di awal kepemimpinan Dinasti Bani Umayyah. Bahkan khotbah agama dengan ujaran kebencian pada masa itu merupakan diatur dalam sebuah regulasi yang mengikat.

Peraturan ini dibuat oleh Muawiyah bin Abu Sufyan yang berusia 78 tahun (602-680 M). Ia berkuasa pada 661-680 M. Ia meminta para khotib untuk menyelipkan caci maki terhadap pribadi Sayyidina Ali RA di dalam khotbah mereka.

وأول من سن سب المسلمين على المنبر معاوية بن أبي سفيان فإنه فرض أن يسب الإمام علي بن أبي طالب عند كل صلاة في جميع أنحاء ملكه وتابعه على ذلك من خلفه من بني أمية

Artinya, “Orang pertama ang membuat tradisi caci maki di mimbar adalah Muawiyah bin Abu Sufyan. Ia membuat regulasi yang mengharuskan (imam dan khatib) untuk mencaci maki Imam Ali bin Abi Thalib di setiap kali shalat pada seluruh wilayah kekuasaannya. Kebijakan ini diikuti oleh penguasa Bani Umayyah selanjutnya,” (Lihat Abbud As-Syalji, Mausu‘atul Adzab, [Beirut, Ad-Darul Arabiyyah lil Mausu‘at: tanpa catatan tahun], juz I,halaman 17).

Mimbar Jumat yang berisi caci maki dan ujaran kebencian ini tetap berlangsung sepeninggal Muawiyah. Putusan Muawiyah ini juga belum dicabut sampai Khalifah Umar bin Abdul-Aziz berkuasa.

Khalifah Umar bin Abdul-Aziz yang hidup pada 682-720 M membuat regulasi baru. Khalifah Bani Umayyah yang terkenal zuhud dan bijaksana ini memilih untuk mengakhiri khotbah yang berisi ujaran kedengkian terhadap klan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ia berkuasa pada 717 M hingga wafat pada 720 M.

فلما استخلف الخليفة الصالح عمر بن عبد العزيزأبطل ذلك وأمر أن يقرأ في موضع السب الآية كريمة إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya, “Ketika Sayyidina Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai khalifah, ia mencabut regulasi tersebut. Khalifah Bani Umayyah yang saleh ini kemudian memerintahkan agar khotib mengisi sesi caci maki dengan bacaan Surat An-Nahl ayat 90,” (Lihat Abbud As-Syalji, Mausu‘atul Adzab, [Beirut, Ad-Darul Arabiyyah lil Mausu‘at: tanpa catatan tahun], juz I,halaman 17).

Khalifah Umar bin Abdul Aziz memutus tradisi caci maki dalam khotbah Jumat yang berlangsung selama kurang lebih 50 tahun di masa Dinasti Bani Umayyah. Sejak Khalifah Umar bin Abdul Aziz mencabut putusan tersebut, para khotib Jumat hingga saat ini hampir selalu membaca Surat An-Nahl ayat 90.

Penyebutan beberapa nama sahabat Rasulullah SAW yang terlibat konflik di sini dilakukan bukan dalam rangka pemihakan pada blok atau kubu politik mana pun di masa lalu. Pasalnya, kalangan Ahlussunnah wal Jamaah mengambil sikap nonblok di tengah konflik yang melibatkan para sahabat Rasulullah SAW.

Narasi ini diangkat kembali untuk melihat peta perjalanan sejarah umat Islam di mana politik (mungkin juga ekonomi dan lapangan persaingan lainnya) berpengaruh pada mimbar Jumat yang berisi provokasi dan ujaran kebencian.

Fenomena khotbah Jumat di Jakarta dan sekitarnya dengan konten provokasi dan ujaran kebencian yang berunsur SARA beberapa tahun belakangan ini menghidupkan kembali tradisi khotbah di masa awal Dinasti Bani Umayyah dan sudah dicabut Khalifah Umar bin Abdul Aziz sekira 50 tahun sesudah regulasi itu dibuat.

Para khotib Jumat di Jakarta dan sekitarnya beberapa tahun belakangan ini memang tetap mengikuti Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Mereka membaca Surat An-Nahl ayat 90, “Innallāha ya’muru bil ‘adli wal ihsāni wa ītā’i dzil qurbā wa yanhā ‘anil fahsyā’i wal munkari wal baghyi, ya‘izhukum la‘allakum tadzakkarūna (Sungguh, Allah memerintah untuk berbuat adil, berbuat baik, berbagi dengan kerabat, mencegah perbuatan keji, kemungkaran, dan perbuatan melewati batas. Dia menasihatimu agar kamu menerima peringatan). Tetapi pada saat yang bersamaan mereka mengumbar ujaran kebencian yang ditujukan kepada sejumlah pihak dan umat Islam sendiri; tradisi buruk yang telah dicoret oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Lazimnya, fenomena ujaran kebencian dalam khotbah Jumat sepanjang perjalanan umat Islam terjadi karena perbedaan kepentingan politik. Sakralitas mimbar Jumat terkontaminasi oleh ujaran kebencian dan provokasi jamaah.

Kalau melihat Indonesia dengan pergantian kepemimpinan per lima tahun sekali melalui pilpres, pilkada, pilbup, maka kita akan mengalami selama itu ke depan perbedaan kepentingan politik umat Islam yang kompleks dan heterogen.

Dalam konteks Indonesia ini, kita memerlukan kesadaran bersama untuk menjaga sakralitas mimbar Jumat dari caci maki dan provokasi yang mengandung unsur SARA. Kalau kita di tahun 2018 M ke depan ini masih juga melakukan politisasi mimbar Jumat dan menyampaikan ujaran kebencian serta provokasi, maka peradaban kita sebagai umat Islam mundur ke zaman sebelum Khalifah Umat bin Abdul Aziz, sekira 12-13 abad lampau. Sebuah kemuduran yang sangat jauh dan celaka.


*) Penulis adalah santri Jakarta yang kini diamanahi sebagai Ketua PAC GP Ansor Kebayoran Lama. Kini membantu LBM PBNU divisi publikasi.
Sabtu 10 November 2018 15:0 WIB
Kembali ke Marwah Pahlawan
Kembali ke Marwah Pahlawan
Oleh Warsa 

Tema besar peringatan Hari Pahlawan 10 November 2018 adalah Semangat Pahlawan di Dadaku. Pertanyaan yang keluar dari dalam diri kita yaitu mengapa semangat pahlawan perlu diendapkan kembali di dalam diri kita? Karena saat ini semangat pahlawan –sesuai dengan asal kata pahlawan dari pahala- telah tergantikan oleh sikap pamrih sebagai pemicu atau motivator tindakan kita. Bukankah kita sering mendengar ucapan: ada amplopnya atau tidak? keluar dari mulut orang-orang bahkan dari diri kita sendiri ketika akan mengikuti sebuah perhelatan. Bahkan untuk demonstrasi memperjuangkan nasib bangsa, memperjuangkan kepentingan kelompok, dan memperjuangkan ego golongan pun kita sering mendengar istilah pasukan nasi bungkus (panasbung). 

Mengobarkan semangat para pahlawan yang telah berjuang, membawa negara ini ke alam kemerdekaan bukan sekadar wacana tanpa praktik nyata. Lebih dari itu harus diawali oleh apa yang harus diperbuat, bagaimana memperkenalkan dan membumikan semangat para pahlawan ke dalam jiwa generasi sekarang yang telah begitu dalam terjerembab ke dalam ingar-bingar popularitas tokoh-tokoh entertain/hiburan semisal para artis. 

Atau bagaimana cara mengendapkan semangat para pahlawan kepada generasi yang kadung telah menghargamatikan pemujaan mereka kepada tokoh-tokoh luar yang telah terbalut emosi keagamaan. Kedua sikap tersebut memang tidak salah selama sikap mengidolakan para tokoh tersebut tidak disertai sikap fanatik  yang berlebihan.

Hal paling mendesak sebagai upaya mengendapkan semangat para pahlawan di dalam dada ialah dengan mengenalkan para pahlawan, sikap, perjuangan, dan sejarah kehidupan mereka kepada anak-anak dari usia dini (TK dan PAUD) hingga sekolah lanjutan atas (SLTA). Di masa pemerintahan Orde Baru, upaya ini diimplementasikan melalui kurikulum dan mata ajar khusus: Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB), mata ajar IPS (Sejarah) juga banyak membahas perjuangan bangsa dan para pahlawan. Setiap kelas diharuskan memasang gambar para pahlawan berukuran poster. 

Upaya ini dapat dikatakan berhasil, paling tidak para siswa mengenal potret diri para pahlawan. Para siswa mengenal bagaimana perjuangan secara bergerilya Panglima Besar Jendral Sudirman bersama para pahlawan lainnya. Para siswa juga mengenal dengan baik bagaimana sikap kukuh Pangeran Diponegoro menolak kebijakan Belanda saat akan menggerus tanah leluhurnya. 

Saat ini anak-anak pra sekolah dasar, jika kita mau jujur, terlalu ditekan sekadar agar dapat membaca dan menulis. Bahkan buku cerita dan dongeng-dongeng yang disampaikan kepada anak-anak itu lebih didominasi oleh cerita yang tidak bersumber dari akar tradisi dan kebudayaan negara ini. Demi alasan keagamaan, anak-anak itu telah disuguhi cerita-cerita yang tidak memiliki akar apapun dengan sejarah tanah airnya, sejarah kampung halamannya. 

Ketidakberimbangan ini meramaikan pikiran anak-anak sejak reformasi bergulir sampai saat ini. Para tutor berusaha membenamkan kecintaan mereka dalam bentuk devosi kepada tokoh-tokoh dalam keyakinan namun tidak diimbangi dengan ikhtiar membumikan devosi keyakinan mereka terhadap warisan luhur para pahlawan negara ini. Kelompok-kelompok puritan bahkan cenderung membenturkan antara kecintaan/pengidolaan mereka kepada tokoh-tokoh agama dengan para pahlawan menggunakan terminus: syirik. Bahasanya seperti ini; umat yang berlebihan mengidolakan para pahlawan karena alasan nasionalisme dan patriotisme akan dikatakan telah menyekutukan Tuhan. Beberapa tahun sebelum reformasi muncul pandangan kurang baik terhadap lagu Padamu Negeri, Jiwa Raga Kami sebagai kalimat atau bait yang dapat membawa umat kepada penyekutuan terhadap Tuhan. 

Tentu saja sangat berbeda dengan dulu, saat kecil penulis sering mendapatkan informasi bagaimana semangat perjuangan para pahlawan di kampung halaman sendiri seperti KH Sualeman, Ama Erpol, dan lain lain di era kolonial. Nenek dan kakek selalu menceritakan semangat juang para pahlawan tersebut melalui cerita bersambung dari satu malam ke malam berikutnya. 

Guru ngaji tidak sekadar mengisahkan perjuangan Rasulullah dan para sahabat di tanah Arab, juga diselingi oleh pemaparan sejarah perjuangan para ulama, santri, dan gerakan-gerakan kaum sarungan di pesantren dalam memerdekakan negara ini. Maka, di dalam jiwa kita –generasi 70-80an – muncul kebanggan kepada para ulama, santri, dan para pahlawan yang telah menjadi bagian penting membawa negara ini ke alam kemerdekaan. Proses internalisasi semangat juang para pahlawan yang dilakukan oleh para orangtua kita tidak berhenti sampai usia sekolah dasar, setelah duduk di bangku sekolah lanjutan pertama pun cerita-cerita heroik para pejuang secara telaten dikisahkan sebagai pengulangan dari kisah-kisah yang telah diceritakan. 

Tidak hanya di sekolah, pengajian, dan melalui cerita dari orangtua, setiap Minggu malam Televisi Republik Indonesia (TVRI) menyiarkan acara perjuangan para pahlawan selesai magrib. Prolog dalam acara tersebut dilatari oleh lagu kebangsaan Maju Tak Gentar. Orangtua penulis langsung mengajak menonton acara itu. Acara tersebut secara terus-menerus ditonton setiap Minggu malam. Esoknya, para  siswa satu kelas mengulas kembali acara yang mereka tonton. Anak yang tidak mengenal seorang Gatot Subroto tiba-tiba menjadi tahu tentang jenderal berkumis dan berjanggut itu. 

Kemeriahan dalam menceritakan kembali semangat juang para pahlawan semakin semarak pada hari kemerdekaan Republik Indonesia. Gambar-gambar pahlawan dalam kaca-kaca atau gapura dengan berbagai fose perjuangan membentuk diorama sederhana a la masyarakat perkampungan. Ada juga masyarakat yang membuat semacam story board perjuangan para pahlawan dilengkapi dengan pekikan “Merdeka Atau Mati” yang ditulis dan dibubuhi tanda seru sebanyak tiga buah. 

Ya, merdeka atau mati merupakan pembuncah semangat di era revolusi. Kalangan pesantren dan masyarakat umum mulai memekikkan ungkapan ini saat Belanda benar-benar telah menguasai negeri ini secara administratif. Latar belakang penggunaan ungkapan Merdeka atau Mati tidak lahir dan muncul begitu saja, hal ini dipengaruhi oleh sejarah panjang perjalanan kehidupan bangsa Nusantara. 

Salah satu kultur penduduk Nusantara adalah tidak mengenal kosa kata kalah. Bagi penduduk Nusantara, ketika mereka harus berhadapan dengan bangsa asing dalam kehidupan ini hanya ada dua pilihan: menang atau perlaya (pralaya), merdeka atau mati! Watak berani ini diwariskan secara genetik kepada generasi-generasi selanjutnya, maka sangat wajar jika kalangan kyai dan santri memandang bangsa pendatang sebagai manusia yang berada di bawah mereka secara kelas sosial. 

Penduduk Nusantara menempatkan penduduk asing, pendatang, dan orang-orang asing lainnya sebagai warga Mleccha, kelas sosial keenam. Merupakan hal yang sangat terlarang jika ada orang Nusantara menjadi pelayan orang asing. Sejarah telah membuktikan, para pengabdi atau penghamba Belanda adalah penduduk Nusantara dari golongan Tuccha (kelas sosial ketujuh); para begal, pelaku onar, penjahat, dan pencuri yang disewa oleh Belanda sebagai centeng-centeng.

Penduduk Nusantara tidak mengenal kosa kata kalah, secara cognate kata kalah ini merupakan turunan dari kata “ngallah” kembali kepada Allah, artinya tawakal, daripada bertarung dengan sesama satu bangsa lebih baik me-ngalah saja, menyerahkan sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa. Kata ngalah ini diperkenalkan oleh wali songo untuk membentuk karakter lemah lembut. Bangsa kita tidak mengenal kosa kata kalah artinya bangsa ini dihuni oleh manusia-manusia luar biasa, memiliki semangat dalam hidup, para penakluk lautan. Semangat keberanian inilah yang telah menjadi pemantik para pahlawan di nusantara, di negeri ini rela berkalang tanah melawan penjajah hingga merdeka. Sebagai salah satu contoh adalah perang puputan di Bali.

Dari paparan di atas sangat jelas, untuk mengendapkan semangat pahlawan di dalam dada tiada lain dengan menggali dan mengurai kembali sejarah perjuangan bangsa kita sendiri hingga ke akar-akarnya. Menanamkan sikap sebagai bangsa besar di dalam generasi kita yang dapat mengikis sikap inferior kita saat berhadapan dengan bangsa lain. Sebab secara kemanusiaan, siapapun mereka, bule atau hitam merupakan makhluk Tuhan yang sama kedudukannya secara kemanusiaan. Tetapi ketika mereka telah menginjakkan kaki di tanah nusantara ini pepatah di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung. Seperti kata seorang leluhur Nusantara abad ke 12 yang mengatakan: leuwih alus kulit lasun daripada bangsa sorangan tapi ngagul-ngagul budaya deungeun (masih lebih baik kulit musang daripada orang nusantara tapi merasa lebih bangga dengan budaya orang lain).


Penulis adalah guru di MTs Riyadul Jannah, tinggal di Sukabumi

Sabtu 10 November 2018 9:4 WIB
Menjadi Pahlawan Pemuda Indonesia
Menjadi Pahlawan Pemuda Indonesia
Ilustrasi (ist)
Oleh M. Rikza Chamami

Hari pahlawan yang diperingati setiap 10 November, bagi bangsa Indonesia memiliki nilai sejarah yang sangat luar biasa. Kegigihan para pahlawan dalam mengusir penjajah, mempertahankan kemerdekaan dan menjadikan NKRI sebagai rumah bersama tidak bisa dilupakan.

Kini, para pemuda Indonesia dapat menikmati jasa para pahlawan pejuang bangsa. Lalu bagaimana pemuda Indonesia menjadi pahlawan zaman now?

Setidaknya memang tidak nampak kasat mata, bahwa bangsa kita sedang dijajah. Bahkan boleh dikata bahwa kini Indonesia sudah benar-benar merdeka dan tidak memiliki musuh.

Semangat untuk melestarikan negeri bebas musuh dan menikmati kemerdekaan itu lebih meriah dengan lahirnya demokratisasi. Benar sekali. Indonesia memang sangat indah dan sangat demokratis. Dan sudah saatnya pemuda mengisi setiap ruang-ruang demokrasi itu.

Tantangan untuk menuju itu sangat butuh waktu dan kedewasaan. Pemuda sangat bisa dan mampu untuk mewujudkan impian negeri Indonesia menjadi negara berdaulat dan berwibawa di mata dunia.

Lalu dimana kepahlawanan pemuda? Ada di diri sendiri dan semangat persatuan pemuda. Kenapa? Sebab 28 Oktober 1928 sudah mulai ada semangat pemuda Indonesia berikrar soal satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia.

Problem pemuda Indonesia hari ini ada tiga: egoisme, idealisme dan intelektualisme. Jika tiga hal pokok itu dapat teratasi dengan baik, maka pemuda Indonesia akan menjadi energi positif dalam membangun Indonesia.

Egoisme pemuda terkadang lahir dengan sentimen kepentingan kelompok yang kemudian rentan terjadi perbedaan pendapat. Ujung dari itu semua adalah konflik pemuda, atau bahkan ditarik menjadi konflik organisasi pemuda.

Sementara problem idealisme yang menjadi karakter utama pemuda terkadang masih timpang. Oleh sebab itu, idealisme pemuda tetap perlu dijaga dalam rangka menjadikan ide-ide inovatif-kreatif pemuda itu terus mengalir segar menjadi sumber inspirasi kemajuan bangsa.

Sedangkan semangat intelektualisme ini sangat dibutuhkan dalam rangka mendewasakan para pemuda. Apapun perbedaan yang terjadi di Indonesia harus disikapi secara dewasa dan didekati dengan ilmu pengetahuan. 

Dengan cara demikian maka, perpecahan yang disulut akibat egoisme akan terbendung dengan baik. Termasuk menjaga lahirnya idealisme pemuda yang diimbangi dengan basis pemaknaan realisme sosial.

Melihat tantangan Indonesia yang semakin kompleks, perlu kiranya pemuda Indonesia bangkit dalam mengikrarkan kembali semangan pemuda 1928 itu. Bahwa semangat memperkuat Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 itu tetap tertancap rapi.

Maraknya ideologi transnasional yang ingin merubah sistem negara dan gerakan anti Pancasila juga perlu diselesaikan secara konstitusional. Sebab ini akan menjadi masalah besar dan berpotensi merusak semangat nasionalisme.

Pemuda Indonesia dari lintas agama, lintas suku, lintas profesi sangat paham bahwa kita itu tidak sama dan harus sering mencari titik kesamaan. Pemuda yang sama akan mudah bekerjasama.

Kebangkitan pemuda Indonesia sangat dinanti-nantikan. Para pahlawan yang telah wafat sangat menunggu kiprah nyata para pemuda Indonesia. Bangkitlah bangkit putra pertiwi. Tiada gentar dada ke muka. 


Penulis adalah Wakil Ketua DPD KNPI Jateng dan Wakil Sekretaris GP Ansor Jateng
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG