IMG-LOGO
Trending Now:
Pustaka

Oligarki Media dan Tantangan Kebebasan Pers di Indonesia

Kamis 15 November 2018 1:10 WIB
Bagikan:
Oligarki Media dan Tantangan Kebebasan Pers di Indonesia
Jakarta, NU Online
Salah satu catatan penting dari buku berjudul ‘Kuasa Media di Indonesia: Kaum Oligarki, Warga dan Revolusi Digital’ yang ditulis oleh Dosen Senior di the Australian National University, Ross Tapsell adalah: pemilik media di Indonesia saat ini lebih mempengaruhi kebijakan pemberitaan dibanding masa sebelumnya.

“Pada pemilu 2014, keberpihakan media lebih terlihat jelas dalam mendukung kandidat capres dan cawapres pada dibanding pemilu 2004,” kata Ross Tapsell dalam Bincang Buku 'Kuasa Media di Indonesia' Kedai Tjikini, Jalan Cikini Raya 17, Jakarta Pusat, Rabu, (14/11). 

Pemilik media di Indonesia yang sebagian merupakan pimpinan partai politik secara terbuka mengakui keberpihakannya. Dukungan pemilik media tersebut pada akhirnya berdampak pada independensi media yang bersangkutan. 

Dalam buku tersebut ditulis secara gamblang bagaimana pemilik media seperti Surya Paloh dan Aburizal Bakrie secara terang-terangan menggunakan medianya sebagai kendaraan politiknya masing-masing. 

"Pada 2004 saat ditanya apakah dia akan menggunakan perusahaan medianya untuk memajukan lebih lanjut kepentingan politiknya, Surya (Paloh) menjawab: 'Secara jujur saya harus mengatakan bahwa saya menggunakan Metro TV dan Media Indonesia. Kalau tidak, apa lagi yang bisa saya gunakan? Kalau ada wartawan yang tak senang, salah sendiri mengapa dia menjadi wartawan di Metro TV dan Media Indonesia,'" tulis buku itu mengutip statemen Surya Paloh.  

Aburizal Bakrie juga mengatakan hal serupa. “Saya bersaing dengan Surya (Paloh) untuk menjadi ketua partai. TV One tentu mendukung saya dan Metro TV mendukungnya,” katanya saat diwawancara Ross pada November 2015 silam.

Parahnya lagi, Era Digital mengubah perusahaan media raksasa di Indonesia memiliki kaki tangan dalam platform lain yang pada akhirnnya menjadi oligarki media. Aburizal Bakrie misalnya, selain memiliki TV One juga menguasai Viva. Surya Paloh mengusai MetroTV, Media Indonesia dan Metrotvnews. Hari Tanoesoedibjo menguasai MNC, GlobalTV, RCTI, Koran Sindo, Okezone, Sindonews, Trijaya FM, ARH Global, dan Radio Dangdut. Demikian pula sejumlah nama lain seperti Chairul Tanjung, Eddy Sariaatmmaja, James Riady, Jacob Oetama dan Dahlan Iskan yang memiliki sejumlah platform medianya masing-masing.

Buku ini menulis adanya tiga tren besar yang muncul berkenaan dengan oligarki media: pertama, pemilik media menjadi lebih kuat secara politik. Kedua, pemilik media umumnya semakin kaya. Perusahaan media menyerupai dinasti.

“Dampak dari era digital adalah media besar semakin besar karena mereka bisa membeli media yang lebih kecil. Media besar menguasai surat kabar, media online, media sosial, hingga sektor lain,” kata Ross. “Dan pada akhirnya mereka sangat mempengaruhi iklim politik Indonesia,” katanya.

Dampak lebih luasnya, oligarki media mempengaruhi kebebasan pers seorang wartawan dan pada iklim jurnalisme itu sendiri. Kesimpulan itu dibuktikan dengan keberpihakan media yang secara ‘telanjang’ terjadi pada Pilpres tahun 2014.

Dampaknya tak kalah buruk; yakni berkurangnya kepercayaan masyarakat pada media arus utama. “Masyarakat melihat sejumlah media arus utama sebagai partisan politik. Sehingga mereka kurang percaya terhadap media mainstream. Mereka pada akhirnya mulai mempercayai media alternatif seperti sosial media. Dari sinilah banyak berita bohong muncul,” kata Ross.

Pernyataan dan temuan Ross Tapsell juga dikonfirmasi oleh organisasi Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) yang pada Agustus 2018 lalu merilis temuan tentang beredarnya fakta hoaks (fakta palsu atau disinformasi) di Indonesia melalui platform media sosial.

Facebook merupakan platform media sosial yang sangat dominan dalam menyebarluaskan hoaks dengan nilai 47.83 persen, disusul Twitter 12.17 persen dan Whatsapp sebesar 11.74 persen. Mafindo juga menemukan bahwa hoaks umumnya didominasi oleh konten politik dengan prosentase sebesar 58.70 persen. Sebagian besar hoaks tersusun dari gabungan narasi dan foto 50.43 persen. 

Edisi asli buku Ross Tapsell ini sendiri menggunakan Bahasa Inggris, dengan judul 'Media Power in Indonesia: Oligarchs, Citizens and the Digital Revolution'. Edisi bahasa Indonesia buku ini diterbitkan oleh Marjin Kiri dengan tebal 298 halaman dan diterjemahkan oleh Wisnu Prasetya Utomo. (Ahmad Rozali)
Bagikan:
Rabu 7 November 2018 17:0 WIB
Kitab Nadzam Sunda Tegaskan Pancasila Sejalan dengan Syariat Islam
Kitab Nadzam Sunda Tegaskan Pancasila Sejalan dengan Syariat Islam
Umat Islam Indonesia mestinya tidak perlu mempermasalahkan Pancasila sebagai dasar negar, sebab isi atau substansinya memuat nilai-nilai ajaran Islam. Mengenai hal ini, salah seorang ulama Sunda yang tidak disebutkan namanya menulis sebuah kitab beraksara arab pegon dengan judul; Nadzam Pancasila, Ieu Nadzam Nyarioskeun Dasar Nagara Indonesia Anu Henteu Bertentangan sareng Qur`an Hadits (Kitab Ini Membahas Dasar Negara Indonesia yang tidak bertentangan dengan Al-Quran Hadits).

Di beberapa bait awal nadzam, penulis kitab mengajak umat Islam untuk taat kepada Allah, Rasulullah dan kepada pemerintah selama tidak bertentangan dengan syariat Islam, serta tidak boleh membantah Pancasila sebab sudah sesuai dengan Al-Quran dan Hadits. Sebagaimana ditulis dalam nadzaman berikut:

Dulur-dulur sadayana # Wajib taat ka Allah na 
(Saudara-saudara semua # Wajib taat kepada Allah)
Reujeung taat ka Rasulna # Kanjeng Muhammad Nabina 
(Dan taat kepada Rasul-Nya # Kanjeng Muhammad nabi-Nya)
Kitu deui ka nagara # Nu berdasar Pancasila 
(Begitu pun kepada Negara # Yang berdasar Pancasila)
Kedah taat tur satia # salami henteu berbeda
(Harus taat dan setia # selama tidak berbeda)
Sareng Al-Quran Haditsna # Ulah Ngabantahna
(Dengan Al-Quran Haditsnya # Jangan membantah)
Sabab dasar Pancasila # Dibenerkeun ku agama
(Sebab dasar Pancasila # Dibenarkan oleh agama)
Sasuai sareng Quran na # Nyakitu deui sareng haditsna
(Sesuai dengan Al-Qurannya # Begitu pun dengan Haditsnya)
Sareng Agama Islam na # Mufakat jeung Syariatna
(Serta Agama Islamnya # Mufakat dengan syariatnya)

Mengenai sila pertama atau Ketuhanan Yang Maha Esa, penulis kitab menyampaikan dalil Al-Quran berupa surat Al-Ikhlash yang menyatakan bahwa Allah Maha Tunggal dan tidak pernah punya keturunan, tidak ada yang menyerupai-Nya dan umat Islam tidak boleh berbuat syirik dari-Nya.

Untuk sila kedua atau kemanusiaan yang adil dan beradab, nadzam yang ditulis dalam kitab yang mempunyai ketebalan 8 halaman ini menyampaikan dalil tentang pentingnya saling menyayangi dan saling membantu dalam kebaikan kepada sesama manusia, apalagi kepada sesama umat Islam serta melarang umat untuk saling memusuhi.

Dalam membahas sila ketiga, kitab yang ditulis di Purwakarta, Jawa Barat itu menerangkan tentang pentingnya sebuah persatuan sebab perpecahan akan mendatangkan bahaya bagi masyarakat Indonesia dan puncaknya adalah negara akan runtuh, sebagaimana ditulis:

Dina Al-Quran diterangkeun # Oge Hadits ngajelaskeun
(Dalam Al-Quran diterangkan # Juga Hadits menjelaskan)
Ulah sok papaseaan # matak mawa ka hancuran
(Jangan suka bertengkar # akan berakibat membawa kehancuran)
Sareng muslim masing akur # jauhkeun sifat takabur
(Dengan muslim harus akur # jauhi sifat takabur)
Ulah osok nyikut batur # dilaknat ku Rabbun Ghafur
(Jangan suka menyikut orang lain # dilaknat oleh Rabbun Ghafur)

Penulis kemudian menyampaikan bahwa orang suka sikut-menyikut orang lain adalah teman iblis sebab iblis menghendaki umat saling bertengkar dan keridlaan Allah Swt bisa diraih dengan berjamaah, sebaliknya dengan pecah belah akan membawa lemah dan hancur.

Selanjutnya dalam membahas sila keempat, penulis menyampaikan tentang pentingnya mengamalkan ajaran musyawarah dalam berbagai urusan terlebih lagi urusan yang berkenaan dengan kerakyatan. Dengan bermusyawarah umat akan selamat dari salah.

Sila kelima, penulis menyampaikan tentang keadilan sosial apalagi kepada kaum fakir dan miskin, sehingga semuanya akan merasakan subur makmur dan yang terpenting adalah tidak lupa untuk bersyukur. Berikutnya, penulis menegaskan bahwa jika Pancasila diamalkan secara nyata maka Indonesia akan menjadi negara yang makmur sentosa dan jauh dari huru-hara. Dengan dasar Pancasila ini umat Islam Indonesia bisa hidup leluasa dalam melaksanakan dakwah dan ibadah syariat Islam. 

Di akhir kitab, tertulis waktu dan tempat penulisan, yaitu Purwakarta tanggal 1 Muharam 1406 H atau bertepatan dengan tanggal 5 Oktober 1985. Sebagaimana sudah disampaikan sebelumnya, penulis tidak mencantumkan namanya di kitab ini, hanya mencantumkan penerbit saja, yaitu Toko Joban Purwakarta. (Aiz Luthfi)



Senin 5 November 2018 23:0 WIB
Syukur Tanpa Tepi, Tanpa Tapi dan Tanpa Henti
Syukur Tanpa Tepi, Tanpa Tapi dan Tanpa Henti
“Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik.” Penggalan lirik lagu yang sempat dipopulerkan oleh Band D’Masiv ini masih lekat di telinga kita. Kurang lebih semangat yang ingin disampaikan Khaliel Anwar melalui buah tangannya ini sama dengan lagu tersebut, yaitu spirit bersyukur dalam menjalani kehidupan. 

Menurut literatur-literatur agama, utamanya yang berbau tasawuf, syukur memiliki beberapa tingkatan, yaitu syukur dengan perkataan(bil lisan), syukur dengan perbuatan(bil arkan) dan syukur dengan hati (bil qalb). Khaliel Anwar mengajak kita menghayati syukur dari tataran yang paling bawah dan paling mudah, yaitu syukur perkataan, dengan sekadar melafadzkan alhamdulillah.

Melalui judul buku yang dicanangkan, Khaliel menegaskan bahwa alhamdulillah bukan kalimat singkat yang semata diucapkan sebagai formalitas kala dikaruniai nikmat oleh Tuhan. Alhamdulillah mengandung kekuatan ilahiah yang jika disadari berimbas pada totalitas penghambaan diri kepada Allah SWT. Sebab seperti kata D’Masiv tadi, hidup kita sejatinya adalah anugerah, terlepas dari banyak kekayaan yang kita miliki atau bahkan tidak memiliki apa-apa sama sekali. Helaan napas, kedipan mata, gerak tangan, langkah kaki adalah sekelumit nikmat agung yang kadang luput kita syukuri, kendati sekadar dengan alhamdulillah.

Di zaman yang kian mendekati ajalnya, syukur seakan menjadi perkara tabu yang tertelungkup di bawah hasrat menggebu untuk menumpuk harta, memanjat tahta, dan menguber dunia. Potret pilu ini dipicu minimnya penghayatan dan penerimaan atas segala nikmat yang telah Allah ruahkan. Padahal, tanpa syukur, orang kaya belum tentu bahagia. Sebaliknya, dengan bersyukur, orang miskin belum tentu menderita. Karena Allah tidak menyertakan kekayaan batin dalam tumpukan kekayaan material yang kita raup (hlm. 26).

Khaliel Anwar menyadari bahwa syukur tidak terbatas saat kita sedang mendapat nikmat, semisal kenaikan pangkat, gaji, lulus ujian dan semacamnya. Segala realitas kehidupan, sejatinya adalah manifestasi dari kehadiran-Nya. Ia pasti telah meramu segenap realitas tersebut dengan ilmu-Nya yang mahaluas. Dan tak ada tujuan dari semua realitas yang telah diramu dengan ilmu-Nya kecuali untuk kebaikan dan kebahagiaan hamba saja. Karena itu, bermacam warna realitas yang singgah, patut kita alhamdulillah-hi tanpa menyoal pahit dan manisnya. 

Syukur yang seakan 'buta' realitas tersebut menjadi alamat dari puncak laku spiritual. Di mana yang tampak berharga bukan apa yang diberikan, namun siapa yang memberi nikmat tersebut. Spirit syukur yang membuhul kuat ini tersimpul dari intensitas kecintaan yang amat kuat pula kepada Allah SWT. melalui dzikir yang senantiasa diucapkan. Sehingga hati tidak pernah menemukan celah keburukan dari setiap hilir mudik realitas yang menghampiri (hlm. 33). 

Pijakan primordial untuk membangun semangat bersyukur tersebut adalah melafadzkan alhamdulillah. Tentunya bukan sebatas pengucapan yang kosong makna atau bernada formal belaka. Alhamdulillah perlu dihayati secara mendalam dengan terus berusaha menguak, meraba bahkan menghitung segenap nikmat yang Allah berikan kepada kita.Tatkala alhamdulillah telah menyublim dalam jiwa, ia akan menjembatani hati dan polah tingkah kita untuk turut padu dan lebur dalam syukur pula.

Dari kacamata alhamdulilah, Khaliel membawa kesadaran kita bertamasya ke setiap lini kehidupan. Ujungnya, kesadaran kita akan serasa dicubit oleh elaborasi-elaborasi bernuansa psikologi spiritual yang amat kontemplatif dan instrospektif. Lebih-lebih bagi kita yang masih sering mengeluh dan enggan berterimakasih atas nikmat-nikmat yang telah Allah limpahkan. 

Gaya bertutur yang khas juga membuat pesan yang hendak disampaikan Khaliel menjadi ringan dicerna, tidak berbelit-belit, tidak pula fakir esensi. Sayangnya, buku ini tidak luput dari peribahasa “tiada gading yang tak retak”. Buku yang saya miliki mengalami cacat cetakan berupa kurangnya beberapa halaman. Sebagai pembaca yang baik—sebagaimana spirit yang ingin dibangun buku ini—saya akan mensyukuri buku ini, sekalipun terdapat ketidaksempurnaan, Alhamdulillah! Dan semoga ini hanya terjadi pada buku yang saya miliki saja. Salam Literasi!

Peresensi adalah Muhammad Faiz As, Pengurus Perpustakaan Pondok Pesantren. Annuqayah Lubangsa Selatan Sumenep, sekaligus staf redaksi Majalah Infitah.

Identitas Buku
Judul Buku: Rasakan Kekuatan Alhamdulillah; 
Latihan Bersyukur Agar Hidup Lebih Berkah dan Makmur 
Penulis: Khaliel Anwar
Cetakan: I, Oktober 2018
Penerbit: PT. Qaf Media Kreativa
Tebal: 291 Halaman
ISBN: 978-602-5547-31-7



Jumat 26 Oktober 2018 12:15 WIB
Menyiapkan Generasi Muslim Berkarakter Nasionalis
Menyiapkan Generasi Muslim Berkarakter Nasionalis
Sejumlah fenomena yang terjadi di Indonesia belakangan ini seringkali menempatkan nasionalisme dan agama pada sisi yang berseberangan. Bahkan sebagian kelompok Islam ada yang beranggapan bahwa nasionalisme dianggap sebagai hal yang tidak penting dan tidak perlu dibela. Sedangkan agama merupakan sesuatu yang mutlak harus dibela. Timbulnya friksi ini pada akhirnya memunculkan stigma bahwa agama mempunyai sifat berbeda terhadap spirit kebangsaan. Fenomena ini, salah satu faktornya dipicu pada pemahaman bahwa nasionalisme adalah bentuk modernitas dan produk kekafiran. 

Kenyataan di atas tentu berbanding terbalik dengan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Konteks nasionalisme sendiri diterapkan berdasarkan atas dasar keimanan pada setiap manusia. Masing-masing agama dalam ajarannya mengajarkan tentang nasionalisme. Dalam Islam misalnya, ajaran tentang nasionalisme dijelaskan dalam QS Al-Hujurat ayat 9, 10, dan 13. Sedangkan dalam Kristen ajaran tersebut dimuat dalam Roma 12: 1-21, Katolik dalam dokumen KWI Umat Katolik Indonesia dalam Masyarakat Pancasila (1985), Hindu dalam Vasudewa Kuttumbakam, Buddha dalam Panca Sila dan Konghucu dalam Kitab Sabda Lun Yu. Bertolak dari sini, maka dalam keyakinan apapun nasionalisme merupakan anjuran bagi setiap umat beragama.

Dalam buku ini, KH Saifuddin Zuhri sebagaimana yang dikutip penulis buku, W Eka Wahyudi menyatakan bahwa nasionalisme merupakan sifat pembawaan manusia yang dilahirkan sebagai bekal mengarungi hidup atas kodrat dan iradat Allah Tuhan Maha Pencipta. Pandangan Kiai Saifuddin ini berupaya mengaitkan posisi sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai cerminan bahwasannya berdirinya negara Indonesia ini berdasarkan asas Ketuhanan. Maka seharusnya eksistensi agama apapun tidak bisa dijadikan alasan untuk merusak konsep nasionalisme.

Pemikiran tentang korelasi agama dan bangsa beriringan dengan statemen Bung Karno saat pidato pelantikan Kiai Saifuddin sebagai Menteri Agama, bahwa agama merupakan unsur mutlak dalam pelaksanaan nation building di Indonesia. Agama dan nasionalisme adalah satu kesatuan yang saling mengimbangi.

Ketimpangan pemahaman nasionalisme yang tidak diimbangi dengan nilai keagaaman sebagaimana di atas tentu salah kaprah. Hal inilah yang dewasa ini menjadi faktor penting dalam menjamurnya  kelompok radikal dan kian semaraknya proxy war di Indonesia. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk meminimilasir berkembangnya paham tersebut. Salah satunya adalah di bidang pendidikan. Melalui pendidikan penguatan karakter yang diintegrasikan dalam konsep Kurikulum 2013 (K-13).

Buku ini menyuguhkan tentang penanaman sikap nasionalis melalui pendidikan guna menancapkan rasa cinta tanah air pada peserta didik. Usaha ini juga sejalan dengan upaya Presiden melalui nawacitanya mengharapkan adanya gerakan revolusi mental yang nantinya melahirkan peserta didik berkarakter Indonesia, yakni religius, nasionalis, gotong royong, mandiri dan memiliki integritas.

Di dalam buku yang mengupas tuntas buah pemikiran Prof KH Saifudin Zuhri tentang Islam, pendidikan dan nasionalisme ini penulis berhasil mengategorikan anatomi nasionalisme ke dalam beberapa poin penting, yaitu: spirit keislaman/ketuhanan, solidaritas kebangsaan, mentalitas budaya, keadilan sosial dan nilai demokrasi.

Beberapa unsur nasionalisme yang diambil dari kristalisasi pemikiran Kiai Saifudin tersebut memiliki relevansi dengan UU Nomor 20 tahun 2003  tentang Sisdiknas Pasal 3 yang memuat tujuan pendidikan nasional yakni mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (halaman 201).

Kurikulum selaku bagian vital dari pendidikan memiliki peranan sangat penting dalam membangun budaya belajar bercorak nasionalis religius. Ironi ketika pendidikan hanya dianggap sebagai pabrik pencetak manusia mekanik untuk memenuhi kebutuhan kerja semata tanpa mengindahkan sisi manusiawinya. Padahal seharusnya pendidikan adalah alat untuk mengenalkan potensi daerah serta pembentukan moral agar peserta didik lebih bangga dengan budaya bangsanya. 

Di sini penulis menguraikan dengan jelas dan lugas bagaimana seorang KH Saifudin Zuhri menawarkan buah pemikirannya sebagai solusi untuk mengatasi problematika pendidik yang memiliki kesamaan sebagaimana K-13.  Buah pemikiran tersebut di antaranya mendidik dengan nasionalisme.

Menurut pandangan KH Saifuddin Zuhri, cara ini merupakan sebuah metode pembelajaran dengan mengolaborasikan antara spirit ketuhanan dengan proses pembentukan warga negara yang demokratis. Di buku ini dijelaskan aktualisasi dari spirit ketuhanan nantinya tidak hanya berorientasi pada nilai spiritual melainkan juga pada sikap sosial sebagai bagian dari solidaritas nasional. Karenanya, spirit ketuhanan ini sangat krusial mengingat untuk membentuk warga negara yang demokratis dan tetap mengedepankan sisi manusiawi memerlukan nilai moral ketuhanan.

Upaya lain yang ditawarkan KH Saifudin Zuhri adalah dengan membangun mentalitas budaya melalui penyisipan materi kedaerahan yang mengangkat tema keunggulan budaya serta potensi kedaerahan  ke dalam pembelajaran.

Penulis menjabarkan bahwasannya upaya ini merupakan bagian dari manifestasi kehidupan pribadi dalam berinteraksi sosial di masyarakat serta dalam kehidupan berbangsa. Di samping itu, berhasil tidaknya pendidikan nasional juga ditentukan oleh unsur nilai kebudayaan dan karakteristik bangsa Indoneisa sebagai landasan filosofisnya.

Secara garis besar buku ini menjelaskan bagaimana buah pemikiran seorang KH Saifudin Zuhri dituangkan ke dalam komponen K-13 yang mengusung jargon sebagai pendidikan penguatan karakter. Konsep yang ditawarkan sangat menggugah gairah untuk segera mengimplementasikannya. Sungguh buku yang sangat luar biasa dan wajib dibaca khususnya bagi para pendidik dan akademisi untuk membantu memudahkan menerapkan pendidikan berbasis nasionalis religius. Lebih-lebih kajian tentang K13 yang saat ini ramai dibicarakan dan ditagih hasilnya.

Dari sudut pandang ini kiranya buku yang berjudul Mendidik Kader Bangsa Nasionalis Religius ini cukup untuk menjawab pelbagai keresahan masyarakat mengenai bagaimana pandangan agama dan sejarah nasionalisme di Indonesia sehingga tidak mudah diadu domba dengan ajaran radikalis yang kian menyesatkan. Belum lagi adanya rentetan upaya polarisasi pembenturan nasionalisme dan agama, maka buku ini merupakan konsumsi wajib terlebih bagi pendidik dan akademisi selaku fasilitator dalam membentuk karakter anak bangsa. Hal tersebut penting agar tidak mudah terprovokasi dengan gerakan separatis berkedok ketuhanan. Selamat membaca.

Peresensi adalah Suci Zulfiyana, pendidik di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Judul Buku: Mendidik Kader Bangsa Nasionalis Religius “Buah Pemikiran Prof KH  Saifuddin Zuhri: Tentang Islam, Pendidikan, dan Nasionalisme”
Penulis : W Eka Wahyudi
Penerbit : Pustaka Tebuireng
Cetakan : I, Oktober 2018
Tebal : 263 halaman.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG