IMG-LOGO
Wawancara

NU Jabar Award untuk Potret Potensi dan Picu Prestasi PCNU

Jumat 30 November 2018 4:0 WIB
Bagikan:
NU Jabar Award untuk Potret Potensi dan Picu Prestasi PCNU
NU di Jawa pada tahun-tahun awal berdiri, sekitar tahun 1930-an, terbilang maju. Usaha-usaha kesehatan, pendidikan, sosial dan peranan untuk perempuan sudah dimulai secara struktural. Pada tahun 1941 NU Bandung telah memiliki poliklinik. Tahun 1933 NU Tasikmalaya punya Al-Mawaidz, dan lain-lain.  

Namun, Ketua Umum PBNU 1999-2010 almaghfurlah KH Hasyim Muzadi pernah mengatakan bahwa NU Jawa Barat merupakan NU ashabul kahfi. Artinya NU yang terlalu lama tertidur. 
 
Di bawah kepemipinan KH Ajengan Nuh Addawami sebagai rais syuriyah dan KH Hasan Nuri Hidayatullah sebagai Ketua PWNU berusaha membangkitkan kembali NU Jawa Barat di berbagai lini. 

Akhir tahun ini, NU Jawa Barat mengadakan NU Jabar Award. Pemenangnya akan diberi anugerah pada harlah NU pada Januari tahun depan. 

Untuk mengetahui apa dan bagaimana NU Jabar Award, Abdullah Alawi dari NU Onlinenya berhasil mewawancarai ketua panitinya, Kiagus Zaenal Mubarok yang merupakan Wakil Ketua PWNU Jabar.     

Apa saja kriteria penilaian NU Jabar Award itu? 

Yaitu bidang administrasi dan kelembagaan, sumber daya manusia, kaderisasi, program dan pelaksanaannya, publikasi dan penerbitan, aset dan inventarisasi, unit usaha, kemandirian dalam pendanaan.   

Apa sebetulnya yang ingin dicapai dari NU Jabar Award ini? 

Dengan adanya NU Jabar Award ini justru ingin memotret potensi dan prestasi masing-masing PCNU kabupaten dan kota di Jabar dengan Instrumen penilaian yang standar berdasarkan parameter akademik yang bisa dipertanggungjawabkan. Sehingga PCNU mempunyai target yang mudah dicapai berdasarkan kriteria yang sama.

Bagaimana jika PCNU tidak terpacu dengan kriteria itu?

Sebelum diadakan NU Jabar Award ini kita sudah sosialisasikan sebagai kegiatan praNU Jabar Award ini ketika diadakan Kirab Resolusi Jihad Hari Santri Nasional kemarin dmn Delegasi Kirab dari PWNU Jabar berkeliling ke seluruh 27 PCNU seJabar, dari pantauan PWNU semya sudah mengetahui dan antusias dengann diadakan NU Jabar Award ini sebagai langkah silaturahim dan monitoring ke daerah.

Panitia telah mengundang seluruh PCNU se-Jabar untuk mendapatkan arahan dari rais dan ketua tentang kebijakan umum PWNU Jabar dan instrumen penilaian dari panitia. Dengan instrumen tersebut seluruh PCNU melakukan dulu penilaian diri mereka sendiri tentang jam'iyyah, lembaga, dan banomnya. Selanjutnya akan dilakukan monitoring dan visitasi ke masing-masing PCNU dalam tempo sebulan. Di akhir Desember 2018 sudah bisa dilakukan penetapan juara 1,2,3, dan harapan dari PCNU seluruh Jabar.

Bertolak dari NU Jabar Award, agenda terbesar atau cita-cita NU Jawa Barat dalam 5 atau 10 tahun yang akan datang bagaimana?

Secara simultan ketika diadakan NU Jabar Award ini, PWNU Jabar akan membangun Operation Room di Kantor PWNU yang berisi Sistem Informasi Manajemen dan Sistem Database secara digital sehingga seluruh aktivitas PWNU akan didukung oleh infrastruktur teknologi yang akan mengintegrasikan seluruh aktivitas PWNU dan PCNU yang bisa mengantisipasi seluruh problem dan tantangan jama'ah dan jam'iyyah di Jawa Barat secara akurat dan modern. 

Sehingga 5 sampai 10 tahun ke depan akan NU jabar akan siap secara kultural, sosial, maupun teknologis (cultural, social, and technological preparedness) menghadapi problem dan tantangan dakwah secara luwes sesuai dengan nilai almuhaafadlatu 'alaa qadliimish shalih wal akhdu bil jadiidil ashlah...

Tantangan terbesar NU Jawa Barat hari ini apa?

Tantangan masyarakat Jawa Barat sekarang secara umum yang dihadapi jam'iyyah NU adalah menghadapi ekses perubahan-ekses sosial yang timbul dari berubahnya masyarakat agraris menjadi masyarakat industri, sehingga terjadi perubahan perilaku yang instan dalam berbagai dimensinya, termasuk sikap dan perilaku beragama yang instan di kalangan masyarakat. Dengan perubahan perilaku yang instan ini terjadilah sikap dan perilaku beragama yang intoleran, radikal dan ekstrem di masyarakat. Inilah tantangan dakwah NU dalam menghadapi perubahan-perubahan sosial yang kompleks di Jawa Barat ini.

Untuk NU Jabar Award apa stimulan yang diberikan kepada PCNU?

PWNU Jabar memberikan stimulan kepada seluruh PCNU se-Jabar sebagai bantuan operasional kegiatan, sehingga dengan stimulan tersebut akan memberikan dorongan aktvitas PCNU secara dinamik. Sehingga tidak ada alasan bagi PCNU untuk tidak melakukan apa-apa  seperti yang dikhawatirkan tadi.

Oh ya, bisa cerita bagaimana PWNU Jabar di pundak kepemimpinan KH Hasan Nuri Hidayatullah (Ketua PWNU) Ajengan KH Nuh Addawami (Rais Syuriyah)?

Yang dilakukan Gus Hasan dan Ajengan Nuh yang dirasakan adalah pada awal masa khidmahnya adalah memperkuat basis jam'iyyah yang kuat dan saling mengisi antara sepuh yang jernih dan bijak dengan Gus Hasan yang muda dan luas jaringannya sehingga ini menjadi kekuatan NU Jabar yang dapat mengantisipasi berbagai persoalan dan tantangan NU Jabar, di antaranya ketika menhhadapi Pemilukada di Jabar, mengambilalih Uninus, harakah ekonomi di kalangan masyarakat (Kimonu-Kios Modern NU, BMT Syariah) dan sebagainya.


Tags:
Bagikan:
Selasa 27 November 2018 15:30 WIB
HARI GURU NASIONAL
Pergunu Soroti Problem Guru, Pendidikan, dan ‘Anak Emas’ PGRI
Pergunu Soroti Problem Guru, Pendidikan, dan ‘Anak Emas’ PGRI
Aris Adi Leksnono (di podium)
Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) terus melakukan konsolidasi organisasi profesi guru dengan visi melakukan perbaikan mutu guru untuk pendidikan berkualitas.

Dalam momen Hari Guru Nasional pada 25 November 2018 lalu, Pergunu menyelenggarakan silaturahim nasional (Silatnas) yang mengundang sejumlah organisasi profesi guru.

Beberapa problem pendidikan, guru, termasuk perlakuan tidak setara terhadap organisasi profesi guru disoroti oleh Pergunu. Pasalnya saat ini pemerintah hanya menganakemaskan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), sedangkan organisasi profesi guru lain yang selama ini berperan penting untuk guru justru diperlakukan tidak setara.

Untuk membincang lebih jauh terkait sejumlah persoalan di atas, Jurnalis NU Online Fathoni Ahmad melakukan wawancara dengan salah seorang Ketua Pimpinan Pusat Pergunu Aris Adi Leksono beberapa waktu lalu di Jakarta.

Apa yang menjadi fokus Pergunu pada momen Hari Guru kali ini?

Kita membuat silaturahim nasional bersama para organisasi profesi guru. Ada Forum Sarekat Guru Indonesia (FSGI), Forum Guru Independen indonesia (FGII), Ikatan Guru Indonesia (IGI), Persatuan Guru Muhammadiyah (PGM), dan PGMI.

Ada beberapa fokus, pertama kita membahas bagaimana penyetaraan atau pemberian perlakukan yang adil terhadap sesama organisasi profesi guru. Dan memberikan ruang yang sama. Misalnya PGRI adalah organisasi profesi guru yang diakui, tetapi Pergunu bersama organisasi profesi yang diakui menjadi bagian yang dilindungi dalam UU.

Selama ini nampaknya yang cenderung mendapat perhatian pemerintah hanya PGRI. Makanya perlu diluruskan agar kedudukan kita setara. Sesuai amanat UU guru dan dosen yang mengharuskan setiap guru bergabung dengan organisasi profesi pada pilihannya masing-masing.

Kasusnya di Jakarta misalkan, Pemprov itu memberikan tambahan penghasilan 500.000 bagi setiap guru. Tetapi penyalurannya melalui PGRI. Sehingga PGRI mewajibkan hal itu agar setiap guru membuat kartu anggota PGRI.

Padahal seharusnya tidak, apapun organisasi profesi gurunya ya tetap mendapat tunjangan kesejahteraan itu. Nah ini kan mestinya sesuatu yang benar tetapi dimanfaatkan sehingga akhirnya tidak benar.

Kedua dalam rangka hari guru ini kita ingin membangun komitmen bersama, bahwa organisasi profesi guru ini harus berperan dalam pengembangan SDM guru. Bukan hanya sarana berkumpul dan berkeluh kesah, tetapi juga sarana berkumpul untuk meningkatkan kompetensi guru.

Caranya adalah, kita tidak boleh memunculkan ego masing-masing, harus harmoni. Harus bisa mengharmonisasikan, saling backup, saling sinergi. Kalau masing-masing jalan dengan ego sendiri-sendiri yang ada hanya persaingan dan tidak akan bisa meningkatkan kualitas pendidikan dan mutu guru sehingga silaturahim ini penting sekali.

Di hari guru ini penting sekali membuat Komisi Perlindungan Guru yang merupakan organ teknis dalam rangka mengawal Undang-Undang guru dan dosen. Ini penting karena tidak ada yang mengawal di wilayah itu.

Kalau pun ada Kemendikbud di bagian perlindungan hukum dan kalau pun ada aparat kepolisian, dan lain sebagainya justru kadang sering tidak mendapatkan data yang objektif karena dia bukan pelaksana langsung.

Karena ini membutuhkan data yang objektif, maka keberadaan komisi perlindungan guru menjadi sangat penting. Misalnya memberikan gambaran yang objektif ketika terjadi kasus kekerasan sehingga seimbang.

Menyikapi pemerintah yang hanya menganakemaskan PGRI?

Silaturahim antarorganisasi profesi guru ini merupakan langkah awal. Menjalin kesepakatan bersama dalam poin misal menyikapi organisasi profesi guru ini bisa setara, penuh keadilan, dan jalan bersama.

Selama ini komunikasi dengan PGRI itu seperti apa?

Komunikasi tetap ada. Tapi yang namanya egosentris tetap ada juga. Langkah berikutnya ada UU dan Perpres yang perlu direvisi. Langkahnya juga melalui jalur hukum dan melalui lobi-lobi. Jalur hukum melalui judicial review, dan lain sebagainya.

Ada semacam komitmen bersama antara Pergunu dengan Organisasi Profesi guru lainnya?

Antara silaturahim bersama untuk merumuskan hal-hal penting dan mendesak yang saya jelaskan di atas.

Bagaimana komitmen dan konsep membangun pendidikan berkualitas dari organisasi profesi guru?

Dalam silaturahim nasional ini, kami mendatangkan Rektor Universitas Terbuka (UT) dan Yayasan Indonesia Emas. Mereka membincang bagaimana membuat konten berkualitas.

Justru hal itu merupakan hal utama, bukan sekadar kumpul-kumpulnya tetapi bagaimana menydiakan konten berkualitas untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Langkahnya adalah tentu dimulai dengan pengembangan dan perbaikan SDM. SDM yang bersentuhan langsung dengan pembelajaran dan kurikulum tentu saja guru.

Gurunya kita berdayakan, tingkatkan kompetensinya tetapu juga kesejejaterannya kita perhatikan, perlindungannya kita perhatikan, maka pengabdiannya juga akan berjalan dengan baik dan maksimal.

Saat ini anggota Pergunu yang tercatat ada berapa?

Kami berdiri di 34 provinisi, 462 pengurus cabang, kalau PAC sekitar 3.700 an. Kalau jumlah anggota lokusnya ada di pengurus wilayah ada sekitar 450.000 anggota.

Konsolidasi hari guru nasional dari Pergunu di berbagai daerah seperti apa?

Kami membuat instruksi, dalam bentuk apapun, mereka melaksanakan kegiatan yang di dalamnya ada nuansa ke-NU-an, dalam bentuk doa bersama istighotsah. Harus ada juga nuansa kebangsaan, dalam rangka penguatan karakter nasionalisme. 

Kami membuat tema besar Guru Bermartabat, NKRI Berdaulat, kami ingin guru berperan mengingat intoleransi dan radikalisme juga menyasar para guru sehingga nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan harus dipahamkan secara seiring.

Tantangan pendidikan yang saat ini Pergunu lihat seperti apa?

Yang pertama problem kepemimpinan. Kepemimpinan pendidikan. Saya tidak langsung kepada institusi atau personal. Walau bagaimana pun, perubahan itu harus dari pemimpinnya itu sendiri.

Bukan kepemimpinan dalam kontek politik. Kepemimpinan di sini ada kepala sekolah, kepala yayasan, kepala dinas, ada kabid pendidikan madrasah. Lalu kemudian mereka mempunyai mindset yang dalam melakukan pemabaruan pendidikan yang visioner untuk menghadapi abad 21. Guru itu mengikuti kebijakan pemimpinnya. 

Kepala sekolah, kepala yayasan pasti lebih diikuti oleh para guru dalam menjalankan kebijakan. Nah yang terjadi kadang kepemimpinan di lokus-lokus ini yang tidak mempunyai ghiroh, mindset untuk berinovasi, dia stag di zona nyaman sehingga berimbas pada yang dipimpin, yang di bawah. Ini yang menurut saya penting karena terkait dengan peningkatan SDM.

Prestasi dan inovasi yang selama ini berhasil diciptakan guru-guru anggota Pergunu seperti apa?

Prestasi bidang karya ilmiah ada dari Jawa Tengah bernama Roni Usman, juara nasional. Jawa Tengah memang konsen dalam soal menulis. Di Jawa Tengah juga ada guru TK yang menjadi juara nasional. Dan yang paling penting menurut saya ialah guru-guru Pergunu di daerah-daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).

Mereka mengabdi tanpa batas dalam kondisi yang bagi saya sangat susah. Kita juga mengirim guru di daerah 3T kerja sama dengan Kementerian Agama. Program berjalan dengan lama pengabdian satu tahun.

Selama ini daerah-daerah yang dituju meliputi apa saja?

Kalimantan Barat, Nunukan Papua, di Flores daerah Nganda, kemudian di Sulawesi, dan daerah-daerah lainnya.

Prosesnya selama ini seperti apa?

Tentu mendaftarkan diri, kemudian diseleksi di Kementerian Agama. Program ini berjalan tiap tahun dengan kuota 20 orang.

Kurikulum yang diterapkan Pergunu untuk memperkuat Aswaja NU?

Kami mewajibkan setiap provinsi untuk membuat MKPNU (Madrasah Kader Penggerak Nahdlatul Ulama). Pesertanya guru-guru di wilayah itu. Kedua membuat buku modul tentang Aswaja sebagai pegangan guru yang saat ini ditulis oleh KH Asep Saifuddin Chalim (Ketum PP Pergunu).

Ketiga membuat lingkungan pembelajaran. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang kemudian mentradisikan amaliyah-amaliyah NU. Yaitu dalam bentuk doa bersama, baca istighotsah, baca yasin, tahlil yang kesemuanya ditujukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah yang berterima kasih kepada orang-orang yang telah berjasa, seperti orang tua, guru, dan lain-lain.

Madrasah yang selama ini menerapkan lingkungan pembelajaran melakukan doa bersama di lapangan setiap hari jumat. Kemudian dilanjutkan dengan shalat dhuha. Ini dalam rangka menerapkan nilai, baik nilai spiritualitas maupun nilai-nilai sosial. Yang tadinya dibatasi oleh tingkatan-tingkatan kelas, sekarang tidak.

Kalau Pergunu melihat dirinya sendiri, apa yang belum tercapai atau apa kelemahannya saat ini?

Yang belum tercapai memaksimalkan database. Itu masih perlu ditingkatkan lagi. Yang kedua peran inisiatif masing-masing wilayah. Inisiatif dalam rangka menghidupkan organisasi. Kalau ikatan terhadap ideologi NU, apalagi di daerah-daerah, sangat kuat sekali.

Pesan Kiai Asep Saifuddin Chalim pada momen Hari Guru ini?

Bolak-balik Kiai Asep berpesan bagaimana guru memiliki peran dalam hal pengembangan mutu pendidikan, perbaikan sistem pendidikan, dan tetap mencanangkan bagaimana pendidikan kita ini berorientasi pada terwujudnya cita-cita kemerdekaan Indonesia, yaitu masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera lahir dan batin. Dan itu dimulai dari pendidikan, lulusan yang baik dan seterusnya. (*)
Rabu 21 November 2018 19:30 WIB
Pengusaha Nahdliyin Soroti Perkembangan Teknologi Blockchain, Apa Itu?
Pengusaha Nahdliyin Soroti Perkembangan Teknologi Blockchain, Apa Itu?
Ketum HPN Abdul Kholik
Perkembangan teknologi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia saat ini, termasuk internet, komputer jaringan, dan lain-lain, termasuk perkembangan teknologi blockchain. Teknologi blockchain saat ini banyak dimanfaatkan dunia bisnis, perbankan, dunia usaha, dan lain-lain untuk dapat meningkatkan daya saing bisnis.

Dalam rangka mengembangkan bisnis jaringan bagi para pengusaha, Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) menggelar Halaqah Blockchain, Sabtu (3/11/2018) lalu di Kantor PBNU Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten di bidang teknologi dan jaringan komputer.

Blockchain memiliki keunikan yaitu dalam hal tersebarnya basis data, transparansi antar pemilik data, dan enkripsi keamanannya dibandingkan basis data biasa.

Revolusi yang dimungkinkan oleh blockchain akan mempermudah transaksi antara seluruh lapisan masyarakat hingga petani. Bukan hanya transaksi keuangan tapi juga transaksi berbagai data yang akan semakin membanjir dengan masuknya kita ke era internet of things (IoT).

Suatu era yang memungkinkan berbagai objek tertentu punya kemampuan untuk mentransfer data lewat jaringan tanpa memerlukan adanya interaksi dari manusia ke manusia ataupun dari manusia ke perangkat komputer.

Untuk mengetahui lebih spesifik tentang teknologi blockchain ini, Jurnalis NU Online Fathoni Ahmad melakukan wawancara dengan Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Abdul Kholik sesaat setelah halaqah blockchain sebagai berikut:

Kenapa HPN ini perlu membincangkan teknologi blockchain ini?

Blockchain ini adalah teknologi yang masih dalam tahap awal. Teknologi ini akan menjadi platform baru setelah platform internet. Jadi kalau kita terlibat sejak awal dalam perkembangan teknologi ini, Insyaallah kita akan memperoleh manfaat yang lebih besar.

Para narsumber misalnya Pak Rick Bleszynki (pengusaha teknologi prosesor asal Indonesia, tinggal di Amerika Serikat) misalnya, dia terlibat dalam teknologi prosesor itu kan dari awal dia, dari nol. Karena dari awal dia terlibat dalam teknologi ini, maka dia memperoleh kesempatan yang lebih besar, kemampuannya ikut melonjak, kemampuan teknologinya, kemampuan usahanya.

Terbukti dia sekarang dipakai oleh militer dan intelijen Amerika Serikat untuk menyuplai prosesornya mereka. Itu artinya hebat sekali. Di kalangan NU jika terlibat sejak awal dalam teknologi ini pada saat teknologi ini baru dan sedang dikembangkan, dan seperti apa yang dikatakan pak rick bahwa Blockchain ini akan menjadi the next platform.

Kesempatan untuk mempelajari blockchain ini penting bagi anak-anak muda NU yang saat ini sudah menggeluti teknologi tapi baru sampai level programming dan pembuatan website. Bincang-bincang ini memberikan kesempatan kepada generasi muda yang sudah bergerak di bidang IT agar arah perubahan IT bisa dipahami oleh anak muda NU.

Apalagi teknologi blokchain ini potensial. Mudah-mudahan ini memberikan kesempatan kepada teman-teman untuk memberikan visi untuk memberikan visi. Kalau mereka terlibat lebih awal dalam mengembangkan teknologi ini, maka akan bergerak maju.

Sudah dikembangkan sejauh mana di dunia bisnis secara spesifik?

Kalau sekarang kan yang banyak dipakai contoh bitcoin tapi itu kan salah satu aplikasi dari pemanfaatan blokchain. Blockhain yang powerfaul dalah bagaimana membuat aplikasi kepercayaan kapada semua orang. Dengan sistem tersebut, maka orang lain tidak perlu lagi memverifikasi kita, karena identitas kita semua sudah berada di Blockhain.

Misal bagaimana mentransfer uang ke Indonesia dari London. Dalam itungan detik, sudah bisa diproses. Tidak memerlukan bank. Sebelumnya, para TKI dari Hong Kong, Arab, Taiwan, dan Korsel, dan lain-lain harus lewat bank, biayanya mahal, waktunya lama. Teknologi blockchain bila dikembangkan bisa membantu TKI kita realtime detik ini pun dikirim, detik ini bisa diterima. Apalagi jika di HPN membuat aplikasi tersebut, maka manfaatnya bagi masyarakat tinggi sekali.

Tapi yang perlu kita lihat meskipun indonesia tidak mengizinkan, tidak ada negara satu pun yang bisa menahan teknolgi ini. Seperti bisnis digital seperti ojek online yang dkembangkan seperti sekarang tetapi mendapat protes, tetapi pada akhirnya pemerintah memberikan izin. Jika warga NU terlibat lebih awal akan mendapatkan peluang yang lebih besar.

Bagaimana generasi muda NU melihat teknologi blockchain ini dan selama ini sudah ada yang memanfaatkannya atau belum?

Sebenarnya ada pada level yang berbeda. Ya kita pernah terapkan tiga tahun yang lalu pada waktu kita membangun microfinance. Jika selama ini kita perlu memberikan kredit kepada masyarakat, syaratnya mereka harus memfotokopi identitas lalu semua diproses. Ini sudah berjalan tiga tahun yang lalu memberikan inovasi baru microfinance dengan teknologi baru yang lebih cepat.

Prosesnya kita fotokopi buku tabungannya lalu kita kirim di aplikasi kita. Hal ini tersistem secara otomatis. Kemudian terlihat, layak atau tidak untuk diberikan kredit. Dalam waktu satu atau dua hari selesai dengan menggunakan sistem microfinance. Ini sistem yang berjalan, rumus-rumus itu yang menentukan.

Misal, si fulan sudah memenuhi kredit tersebut. Kalau yang model konvensional, butuh satu minggu, dengan microfinance hanya butuh satu hari, nah dengan blokchain hanya butuh itungan detik. Selain itu, kita bisa membangun database. Database bisa diakses lebih cepat.

Bentuk lain sebagai wadah transaksi, teknisnya kita punya aplikasi sendiri dan harus mempunyai akun?

Teman-teman kita yang bergelut di bidang IT akan mengembangkan teknologi blockchain ini dalam bentuk aplikasi. Tentu saja sebagai pengguna harus punya akun di aplikasi tersebut.

Kalau kita mendaftrkan ke akun, maka transaksi uang kita akan diubah menjadi koin. Tetapi di Indonesia belum bisa ditukarkan menjadi uang karena pemerintah belum mengizinkan transaksi model tersebut.

Nanti kalau misalnya pemerintah sudah menghizinkan akan bisa dilakukan orang yang punya akun di Dompet HPN, misal dia tahu ada transfer dari Singapura, dia bisa ambil dari koperasi, atau ke mesin ATM punyanya NU.

Sekarnag ini yang bisa dilakukan kalau seandainya pengguna aplikasi di Indonesia lebih banyak, kita beli dalam bentuk poin. Seandainya teman-teman sudah masuk ke akun itu sebenarnya kita hanya butuh poin, beli di NU Mart pakainya poin kalau NU Mart punya akun serupa. Indoneaia belum mengizinkan poin diubah menjadi uang.

Negara mana saja yang sudah menerapkan teknologi blockchain?

Amerika, Jepang, China. Sebenarnya yang menginisiasi ide blockchain ini orang Jepang. 

Kenapa Indoensia belum bisa menerapkan teknologi blockchain?

Sebenarnya di beberapa tempat sudah menerapkan, seperti di Bali. Anda bisa bayar hotel memakai koin. Lalu, kita juga bisa melihat sistem poin yang diterapkan perusahaan ojek online. Cuma poin tidak bisa jadi rupiah.

Bagaimana menyosialisasikan teknologi blockchain kepada warga NU secara umum?

Yang diinginkan oleh HPN, kita punya komunitasnya yang bisa mengembangkan teknologi blockchain. Kalau komunitas ada, kita bisa mengadakan silaturahim teknologi. Tapi kita mengikuti strategi, kalau kita mau mengejar ketertinggalan, kita bisa belajar dari akhir, tidak perlu dari awal. Seperti yang dilakukan Habibie, beliau langsung bikin pesawat. Dari produksi tersebut kita bisa belajar.

Kalau kita terlibat dari awal, kita berarti mulai dari akhir sehingga bisa maju. Supaya kita bisa lebih lanjut ke level yang lebih tinggi. Membetuk komunitas yang saling mengasuh dan mengasah. Selama ini, HPN memggumpulkan para pengusaha di bidang-bidang tertentu.

Perkembangan teknologi blockchain dalam ranah akdemik di perguruan tinggi seperti apa?

Di Indonesia sudah banyak potensi dari perkembangan teknologi blockchain ini. Justru teknologi ini memunculkan ketakutan dari pihak perbankan. Jika kita bisa mengembangkan blockchain ini, kita bisa moneyless, kita juga bankless, kita tidak perlu bank. Jika bank tidak mentransformasi diri, bank akan hilang, karena saat ini yang berkembang sistem crypto currency, kita sudah banyak, kita tidak oleh ketinggalan. 

Empat tahun lagi, teknologi blockchain ini merajalela, kita harus bisa mengembangkan sehingga tidak ketinggalan. Tugas HPN memberikan visi ini bahwa ada anak teknologi baru, jangan sampai ketingalan. (*)
Kamis 1 November 2018 9:0 WIB
Beben Jazz Bisa Mengenal Allah melalui Musik
Beben Jazz Bisa Mengenal Allah melalui Musik
Foto: harnas.co
Belakangan ada kalangan pemusik yang meninggalkan musik. Bukan karena usianya tua atau tak ada lagi fasilitas, tapi lebih karena pemahaman. Bagi mereka, bermain musik adalah haram. Padahal di kalangan ulama sendiri, musik adalah masalah khilafiyah (perbedaan) pendapat. Ada yang membolehkan, ada pula yang mengharamkan. 

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj misalnya pernah berkomentar bahwa seni, termasuk di dalamnya musik, kalau bisa menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, dibolehkan. Yang diharamkan adalah musik yang menjadi sarana maksiat. 

Salah seorang pemusik Indonesia pada genre jazz, yaitu Beben Jazz punya penjelasan tersendiri terkait dia, musik dan Sang Pencipta. Menurut dia, ketika bermain musik, justru bisa mendekatkan diri kepada Allah. Dalam penghayatannya, saat bermain musik bisa merasakan keindahan. Tentu, pada hakikatnya keindahan itu diciptakan Yang Maha Indah. 

Pada saat yang sama, rasa syukur juga bisa timbul karena betapa manfaatnya organ tubuh si pemusik. Jika Beben tak punya satu saja jari kelingking, akan sukar sekali memainkan musik jazz. Dengan demikian, betapa pentingnya kelingking itu. Betapa hebat Sang Pencipta kelingking itu. Dialah Allah.

Untuk lebih lengkap bagaimana pengalaman bermain musik dari Beben Jazz, Abdullah Alawi berhasil mewawancarainya selepas Haul Mahbub Djunaidi yang diselenggarakan PMII UNUSIA Jakarta dan komunitas literasi Omah Aksoro itu di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Jumat (19/10). 

Berikut petikannya: 

Kenapa untuk tahun kedua ini, secara berturut-turut datang dan mengisi acara di Haul Mahbub Djunaidi? 


Pertama sih, kalau dari sisi spiritual, pasti tidak  ada yang kebetulan. Kenapa saya ada di sini lagi? Kedatangan kedua ini semacam menegaskan bahwa Pak Mahbub ini jiwanya jazz. 

Bagi saya, yang pertama adalah pertemuan, perkenalan saya dengan PAK mahbub dan coba kita lihat, jazz dan esai, karena Pak Mahbub sudah Jazz. Tapi apakah cukup suka jazz. Pak Mahbub sudah jazz, anaknya ada yang jazz. 

Kalau yang di atas, sang Maha Kekasah, Allah, biasanya kalau kisah dengan ruh, ruh, penasaran itu, secara enggak langsung seakan-seakan menuju ke arah Pak Mahbub itu jiwanya jazz, jazz dalam politik, dalam organisasi, dalam spiritual. Tapi rasanya,  kurang cukup kalau sekali. 

Oh ya, bisa ceritakan tentang musik jazz, terkait agama? 

Kadang-kadang ada orang cuap-cuap agama, mungkin ahli fiqih, mungkin ahli yang lain. Tetapi ada orang-orang "laku", mungkin "laku"-nya, meskipun tidak bicara ayat, tapi lakunya spiritual; jadi, kadang-kadang bisa bentuknya penyampaian bisa bentuknya simbol, tapi kan poinnya satu, jazznya Allah adalah, ternyata orang bisa menjadi baik enggak lewat masjid semua; orang bisa lewat jazz, bisa lewat komputer itu kenal Allah. Segala sesuatu kan ujung-ujungnya, aku harta karun terpendam, aku ingin ditemukan. Saya menemukan Allah lewat jazz. Saya tidak tahu nanti di Padang Mahsyar, musik jazz saya statusnya saya tidak tahu, tapi saya mengenal Allah melalui jazz. Tapi saya juga nurut atas kehendak Allah, kalau 5 tahun nanti saya tidak ngejazz itu lebih baik, saya nurut juga. Tapi saat ini saya kenal Allah melalui jazz. 

Bagaimana penjelasannya mengenal Allah lewat jazz itu? 

Sederhana. Sebetulnya jazz itu hanya simbol. Kita kan bisa merasakan hadirnya Allah itu lewat rasa takut, keindahan dan knowledge (pengetahuan). Sekarang jazzer salah satu amanahnya adalah menghadirkan keindahan dengan laku yang khusuk, bermain karena Allah, yang semata-mata karena Allah. Ketika kita main, orang positif orang merasakan hadirnya Allah di situ. Atau dengan ma’rifat, mendalami jazz.

Kita kan tahu ketika lautan dijadikan tinta dituliskan di buku, tak akan cukup. Tapi merasa tidak keluasan ilmu Allah. Dan kalau mau merasakan, dalami ilmu satu saja. Contohnya jazz. Jazz itu banyak banget. Allah mengajar, Allah itu maha detail, di cord jazz itu, kok cord jazz itu susah-susah, itu untuk detail, untuk menghadirkan keindahan sejati. Bukankah itu Allah mengajarkan detail. Ya kalau kita paham itu, detailnya jazz itu belum seberapa dengan Allah. Tapi kita lewat jazz dulu supaya kita bisa merasakan apa yang dinamakan Allahu akbar lewat jazz. 

Jadi korelasi begini, bukan hanya jazz, bisa di komputer, bisa di mana pun, tapi saya kan jazzer. Dengan mendalami ilmu jazz, nanti yang dinamakan ilmu Allah itu luas terasa banget. Akhirnya apa? Akhirnya saya ketemu cord c7-9. Terus kalau cord c7-9, kalau kelingking gua enggak ada, gua enggak bisa megang cord ini nih. Akhirnya apa, megang megang cord itu saya menjadi zikir. Kelingking aja itu, kok ada ya cord seperti ini. Detail. 

Dengan menyadari bahwa kelingking ini berfungsi, kadang-kadang kita tak bersyukur dengan adanya kelingking ini, padahal ketika dalam konteks pemain jazz demikian sangat berarti banget. 

Banget. 

Fungsi kelingking saja bagi seorang jazzer bisa mengingatkannya kepada Sang Penciptanya.

Betul. Jadi, semua yang saya lakuin di jazz, bagi saya itu dzikir itu semua. Bagi saya itu ibadah.  

Padahal itu hanya dari satu kelingking; mensyukuri ciptaan Allah melalui kelingking. 

Iya. Itu baru hal kecilnya. Jadi, bagi Rumi, sementara kan, kalau dibicarain panjang ya, isu-isu musik halal haram, halal haram, pasti orang punya perjalanan, spiritual journey, spiritual music, sementara saya merasakan hadirnya Allah, merasakan kebesaran Allah lewat jazz, sementara sahabat spiritual saya, yang saya belum pernah ketemu, Jalaluddin Rumi mengatakan, seni adalah keindahan Tuhan yang turun ke bumi. Tapi intinya adalah lewat jazz, saya bisa mengenal Allah.


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG