IMG-LOGO
Nasional

Alasan Kerajaan Aceh Boleh Dipimpin Perempuan

Ahad 2 Desember 2018 8:0 WIB
Bagikan:
Alasan Kerajaan Aceh Boleh Dipimpin Perempuan
Tadarus Islam Nusantara di Unusia Jakarta
Jakarta, NU Online
Kerajaan Aceh pernah dipimpin oleh seorang perempuan, yakni Sultanah Sofiyatuddin. Hal ini dipandang tabu mengingat belum pernah terjadi dalam dunia Islam.

Mohd Syukri Yeoh Abdullah, guru besar Universitas Kebangsaan Malaysia, menjelaskan bahwa perempuan Melayu Aceh memiliki keberanian yang tinggi.

"Wanita Melayu Aceh adalah wanita yang sangat berani," katanya pada Tadarus Islam Nusantara yang digelar oleh Pusat Kajian Islam Nusantara (PKIN) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta di Griya Gus Dur, Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta, pada Jumat (30/11) malam.

Di samping itu,  keadaan politik saat itu tengah meruncing. Pasalnya, Kerajaan Aceh mengalami kemunduran akibat perbuatan Sultan Iskandar Tsani yang dianggap terlalu murah menerima bangsa Eropa. 

"Kebebasan mereka berjualan di sana menyebabkan kemarahan pembesar kerajaan. Beberapa wilayah Aceh pun memerdekakan diri dari pusat," jelasnya.

Putri Sultan Iskandar Muda itu pun didaulat menggantikan suaminya yang mangkat setelah kepemimpinannya selama lima tahun itu.

Pengangkatan dirinya sebagai sultanah bukan tanpa konflik. Namun, Syiah Kuala berdiri mendukung kepemimpinannya. Syukri menyebut Sultanah bernama Putri Sri Alam dan ulama penulis kitab Mirat al-Thullab itu pernah seperguruan di Zawiyah Fansuri dan Syamsuddin Al-Sumatrani.

Uraian Syukri ini merupakan tanggapan atas pertanyaan Adib Misbahul Islam, filolog Nusantara yang juga pengajar di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta tentang pandangan Syekh Abdul Rauf Singkel terkait kepemimpinan sultanah tersebut.

Kegiatan yang dipandu oleh Ketua PKIN Idris Masudi itu dihadiri oleh Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia Mastuki HS, Sekretaris Awal Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah Al-Nahdliyah (Jatman) Ali M Abdillah, dan para pengajar serta mahasiswa pascasarjana Unusia. (Syakir NF/Muiz)
Bagikan:
Ahad 2 Desember 2018 16:30 WIB
Sejarah Humor dalam Islam
Sejarah Humor dalam Islam
Gus Dur
Jakarta, NU Online
Membahas mengenai statemen “Al Ulama Warotsatul Anbiya” Muhammad Zein Kepala Puslitbang LKKMO dalam Kajian Islam Nusantara Center (INC) melemparkan sebuah pertanyaan mengenai siapakah ulama Nusantara yang kira-kira merepresentasikan sosok Nabi? 
 
“Pertanyaan tersebut cukup meresahkan,” kata Zein dalam diskusi INC yang digelar di rumah HAbdurrahman Mas’ud, Kepala Badan Litbang & Diklat Kemenag RI, Cipayung, Jakarta Timur (1/12). 

Dari pertanyaan tersebut, ia menyambungkan lagi pada pertanyaan sejak kapan dalam diskursus keislaman terdapat larangan tertawa? Yang kemudian ia temukan sebuah jawaban dalam dua buku yang berjudul Humor in Early Islam dan Laughter in Islam.

Dalam buku tersebut ia menyebutkan terdapat beberapa sejarah humor dalam Islam. Pada masa Nabi, tertawa adalah sesuatu yang inheren, humor adalah bagian kontruksi sosial kehidupan sehari-hari dalam Islam. 

“Bahkan kita pernah membaca Hadits, Nabi juga pernah tertawa sampai terlihat rahangnya, beliau tertawa lepas tapi tidak terbahak-bahak,” ungkapnya.

Kemudian, lanjutnya, mulai abad 20 muncul larangan-larangan untuk tertawa, yang mana bebarengan dengan munculnya suatu madzhab di Saudi. “Jangan-jangan di negara tertentu selalu terjadi ketegangan karena larangan tertawa ini,” prediksinya.

Ia melihat bahwa ulama NU, adalah ulama yang paling merepresentasi Nabi dari sisi humor. Tidak ada cerita yang paling kaya mengenai humor kecuali ulama NU. "Itu sebabnya apabila terjadi kerumitan dalam negara itu selalu clear, karena dihadapi dengan santai," jelasnya. 

Dalam buku Laughter in Islam, Zein mengkisahkan bahwa dalam setiap abad ke abad selalu ditemukan tokoh-tokoh jenaka, katkanlah pada masa Harun Ar-Rasyid dengan Abu Nawasnya, di Turki ada Nasruddin, kalau di Jawa ada Mukidi dan lain sebagainya. 

“Meskipun begitu, kalau tertawa jangan sampai terbuka sekali,” pesannya. (Nuri Farikhatin/Muiz)

Ahad 2 Desember 2018 15:30 WIB
Arsitek Intelektual Pesantren Nusantara di Disertasi Abdurrahman Mas'ud
Arsitek Intelektual Pesantren Nusantara di Disertasi Abdurrahman Mas'ud
Direktur INC, A Ginanjar Sya'ban
Jakarta, NU Online
Direktur INC Ginanjar Sya’ban menilai bahwa disertasi yang ditulis oleh Abdurrahaman Mas’ud Dari Haramain ke Nusantara: Jejak Intelektual Arsitek Pesantren adalah perpaduan antara pembahasan jaringan intelektual ulama dan tradisi pesantren. 

Dari pembahasan tersebut, ia menambahkan bahwa ada dua karya lain yang terkait dengan  bagaimana pesantren itu terbentuk. “Berbicara pesantren bukan hanya melihat karakter, jaringanya, juga yang paling penting adalah kurikulumnya,” paparnya dalam diskusi Islam Nusantara Center di Jl. Bambu Petung, Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (1/12). 

Usai membaca karya Abdurrahaman, Ginanjar menyarankan agar membaca juga dua karya lainnya, yakni Shofhat min Tarikh Makkah Al Mukarromah karya Snouck Hurgronje di mana di dalamnya dibahas bagaimana Syekh Nawawi Al-Bantani mengajar di Makkah, siapa murid-muridnya, kitab-kitab apa yang ditulis, dan bagaimana pengaruhnya di Nusantara. 

“Karya ini ditulis ketika Snouck berkunjung ke Makkah dan bertemu dengan Syekh Nawawi,” kata penulis buku Maha Karya Islam Nusantara itu. 

Dalam buku tersebut digambarkan bahwa Syekh Nawawi adalah sosok yang alim, luhur akhlaknya, serta sosok yang tawadhu’. Snouck mengakui kealimannya, karena pada masa tersebut belum ada ulama dalam dunia Islam yang seproduktif Syekh Nawawi.

“Beliau menulis hampir sembilan puluh karya, hampir semua matan atau teks dasar rujukan Islam di syarakh oleh Syekh Nawawi,” imbuhnya.

Ulama Nusantara lainnya yang dibahas dalam buku tersebut adalah seorang mursyid dari Banten, Syekh Abdul Karim Al-Bantani. Berbeda dengan Syekh Nawawi yang memiliki pengaruh atas ilmunya, Syekh Abdul Karim ini berpengaruh karena perlawanannya terhadap kolonial Belanda. 

“Termasuk geger Cilegon 1886, tak lepas dari tokoh Syekh Abdul Karim Al-Bantani, bahkan muridnya merupakan tokoh utama penggerak perlawanan terhadp kolonial Belanda,” jelasnya. 

Buku yang ketiga yang dijelaskan oleh Ginanjar adalah Al-Kitab al-Arobiy fi Indunisiy karangan Marti Van Bruinessen,  buku ini merupakan karya seorang Belanda yang membahas mengenai bagaimana kurikulum pesantren itu terbentuk di Nusantara.

“Jadi kenapa fiqih itu dimulai dari Safinah As-Sholah, kemudian Safinah An-Najah, naik lagi ke Sulam At-Taufiq, Fathul Qorib, Fathul Mu’in. Kemudian kalau nahwunya kenapa dimulai dari ‘Awamil, naik ke Jurumiyah, lalu ‘Imrithi, Alfiyah dan seterusnya,” paparnya.   

Dari ketiga karya tersebut, dimulai dari karya Abdurrahman Mas’ud hingga karya Martin Van Bruinessen, menurut Ginanjar dapat ditelusuri bagaimana pesantren dan ulama itu terbentuk di Nusantara. (Nuri Farikhatin/Muiz
Ahad 2 Desember 2018 14:25 WIB
Keterlibatan PWNU Banten dalam Reuni 212 Adalah Fitnah
Keterlibatan PWNU Banten dalam Reuni 212 Adalah Fitnah
Bendera NU Dikibarkan Dikawasan Silang Monas
Banten, NU Online
Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Banten mengklarifikasi soal beredarnya foto bendera Nahdlatul Ulama berlogo PWNU Banten yang menghadiri reuni akbar 212, di kawasan Monumen Nasional, Ahad (2/12). Foto yang beredar luas melalui Whatsapp seolah menunjukkan bahwa PWNU Banten secara resmi mengutus perwakilan pada acara tersebut. 

Sekertaris PWNU Banten, KH Amas Tadjuddin secara tegas membantah keterlibatan PWNU Banten dalam acara itu. Pasalnya acara tersebut menurut dia tidak sejalan dengan arah dan kebijakan PWNU Banten. 

Namun begitu ia belum mengantongi nama oknum yang mengibarkan bendera NU bertuliskan PWNU Banten. "Belum diketahui identitasnya yang sengaja membuat fitnah, menghasut dan memicu permusuhan khusunya kepada para ulama-kiyai PWNU Banten," ujarnya, pada NU online Ahad (2/12).

Menurutnya, PWNU Banten juga mengimbau pada warga nahdliyin agar memberikan informasi jika mengetahui identitas orang yang ada dalam foto tersebut untuk dimintai keterangan.

Selanjutnya, PWNU Banten juga meminta Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) di bawahnya untuk melakukan upaya hukum terhadap masalah tersebut. (Nubzah/Ahmad Rozali)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG