IMG-LOGO
Nasional

NH Dini Wafat Setelah Mengalami Kecelakaan

Selasa 4 Desember 2018 18:55 WIB
Bagikan:
NH Dini Wafat Setelah Mengalami Kecelakaan
foto. Amsar A Dulmanan
Jakarta, NU Online
Nurhayati Sri Kardini Siti Nurkatin atau akrab di telinga pembaca sastra Indonesia dengan NH. Dini dikabarkan meninggal dunia pada Selasa (4/12) di Rumah Sakit Elizabeth, Semarang. Dini meninggal di usia 82 tahun akibat mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan.

Kejadian kecelakaan lalu lintas pada Selasa, 4 Desember 2018 sekitar jam 11.15 Wib di ruas jalan Tol Km 10.

"Telah berpulang Nh. Dini jam 16.30 di RSE saat disemayamkan di kamar jenazah RSE," kata Humas RS Elisabeth Semarang, Probowati Tjondronegoro.

"Mobil yang dikendarai mengalami kecelakaan. Lalu korban dibawa ke IGD untuk diperiksa MRI," tambahnya 

Dini meninggalkan dua orang anak, yakni Lintang yang kini tinggal di Kanada, dan Padang yang tinggal di Amerika.

Sastrawan asal Semarang ini dikenal sangat produktif menulis novel. Puluhan karyanya mewarnai dunia sastra Indonesia, seperti Pada Sebuah Kapal, Sebuah Lorong di Kotaku, Namaku Hiroko, Kemayoran, Sekayu, dan sebagainya.

Melalui novel-novelnya itu, NH Dini memperjuangkan hak-hak perempuan, menyuarakan kesetaraan, dan melawan penindasan.

Dini merupakan cucu dari kiai asal Tegalrejo, Jawa Tengah. Ia mengisahkan masa kecilnya bersama sang kakek  pada novelnya Sebuah Lorong di Kotaku. Sastrawan yang sudah berkeliling ke berbagai negara mengikuti mantan suaminya itu senang dengan keluarga kakeknya yang lebih egaliter. (Syakir NF/Zunus Muhammad)

Bagikan:
Selasa 4 Desember 2018 21:45 WIB
20 Warga Rohingya Mendarat di Aceh setelah Setengah Bulan di Laut
20 Warga Rohingya Mendarat di Aceh setelah Setengah Bulan di Laut
Foto: TNI AL Idi
Aceh, NU Online
Sebanyak 20 orang warga Rohingya mendarat di pantai Kuala Idi, Kecamatan Idi Rayeuk,  Kabupaten Aceh Timur, pada Selasa (4/12). Mereka datang dengan menggunakan kapal kecil berbahan kayu berukuran 3x12 meter. Dilaporkan bahwa mereka sudah mengarungi lautan 15 hari lalu, hingga kemudian tiba di Aceh.

Sebelum melabuh di bibir pantai, mereka berputar-putar di tengah laut. Nelayan Aceh yang melihat kapal warga Rohingya tersebut akhirnya menggiringnya untuk menepi. Ketika tiba di darat, mereka diperlakukan baik. Diberi makan dan air. 

Panglima Laot (Ketua Adat Laut) Wilayah Idi Razali menyebutkan, sebagian besar warga Rohingya yang terdampar tersebut masih muda-muda. Usianya diperkirakan sekitar antara 20-40 tahun. Semuanya laki-laki, tidak ada perempuannya. Saat ini tengah diperiksa kesehatannya.

“Perahu mereka masih berfungsi dan mereka memiliki bahan bakar, jadi kami tidak tahu mengapa mereka memasuki daerah kami,” kata Razali, dikutip dari laman Reuters, Selasa (4/12).

Tidak diketahui secara jelas apakah mereka datang dari Myanmar atau Bangladesh. Namun yang pasti semenjak mereka dipersekusi di Myanmar, terutama pada Agustus 2017, sekitar 700 ribu warga Rohingya melarikan diri dari kampung halamannya, di negara bagian Rakhine. 

Sebagian besar mereka mengungsi ke Bangladesh. Hingga kini mereka tinggal di kamp-kamp yang tersebar di wilayah Cox’s Bazar dan sekitarnya. Tapi, tidak sedikit pula mereka yang sampai di Myanmar dan Indonesia, setelah terombang-ambing puluhan hari di lautan. 

Sebagaimana data yang dirilis otoritas setempat, berikut nama-nama warga Rohingya yang terdampar di Aceh:

Muhammad Zubir (14), Abdul Rohim (14), Muhammad Idris (18), Muhammad Salem (17), Muhammad Takim (18), Hafiz Muhammad Ismail (20), Muhammad Amin (14), Nur Islam (19), Suef Muhammad (50), Abdul Karem (14), Rusyi Tamot (28), Syekara Khumar (13), Abdul Rizik (19), Muhammad Salem (27), Muhammad Hayat (15), Amir Ali (28), Salmulloh (24), Muhammad Nur Syumi (18), Harsyik (16), dan Abdul Maud (16). (Red: Muchlishon)
Selasa 4 Desember 2018 21:30 WIB
17 Rekomendasi PWNU Jateng untuk RUU Pesantren
17 Rekomendasi PWNU Jateng untuk RUU Pesantren
foto: ilustrasi
Semarang, NU Online
Dalam rangka menanggapi Rancangan Undang-undang (RUU) Pesantren dan Pendidikan Keagamaan, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah melalui Lembaga Bahtsul Masailnya melakukan kajian terhadap naskah akademik draft RUU tersebut di Pesantren Manbauth Thoyibah, Mondokan, Sragen, Jawa Tengah.

Kegiatan yang berlangsung pada Senin (3/12) kemarin diikuti seluruh perwakilan pengurus Cabang NU se-Jawa Tengah.

Ketua PWNU Jawa Tengah HM Muzamil mengatakan, ada beberapa usulan kajian yang harus menjadi pertimbangan DPR RI selaku pembahas RUU Pesantren. Pasalnya, jika draft RUU ini disahkan, akan mengalami banyak benturan dengan kondisi riil di pesantren.

"Tentu, usulan ini semata-mata untuk menjaga marwah pesantren, agar tidak menyimpang dari tujuan didirikannya pesantren," jelas Muzamil.

Berdasarkan kajian yang mendalam, PWNU Jawa Tengah merekomendasikan untuk kesempurnaan RUU Pesantren dan Lembaga Keagamaan, berupa usulan-usulan, sebagimana berikut:
  1. RUU ini harus ditinjau kembali. 
  2. Ijin operasional pesantren cukup sampai di tingkat Kabupaten/Kota dan berlaku selamanya.
  3. Asas Ketuhanan Yang Maha Esa diganti asas Pancasila. 
  4. Rekognisi atau pengakuan terhadap pesantren mencakup sistem, ijazah, lulusan dan regulasinya. 
  5. Memberi ruang otonomi pesantren yang merupakan ciri khas penyelenggaraan pondok pesantren. 
  6. Pentingnya menjaga agar RUU pesantren ini tidak bertabrakan dengan peraturan perundang-undangan lainnya.
  7. Kurikulum yang berpihak kepada kesepakatan luhur bangsa dan negara dengan nilai-nilai toleran, moderat dan komitmen terhadap pancasila dan NKRI
  8. Aturan tentang Kompetensi Kiai tidak berdasarkan ukuran formal, tetapi memperhatikan eksistensinya di masyarakat.  
  9. Harus ada porsi anggaran pasti untuk pesantren dalam APBN dan APBD. 
  10. Porsi kurikulum 70%  agama: 30% umum bagi pesantren yang membuka pendidikan formal.
  11. Pengakuan terhadap keberadaan Madrasah Diniyah Takmiliyah.
  12. Pasal dan ayat teknis yang merupakan porsi PP dan KMA tidak perlu dimasukkan ke dalam RUU,  dan seperti, Pasal 12, Pasal 18 ayat 1, Pasal 25. Bab IV. 
  13. UU Pesantren harus terpisah tidak digabung dengan pendidikan keagamaan. 
  14. UU Pesantren harus menguatkan eksistensi pesantren dengan karekteristik masing-masing utamanya pada muatan kurikulumnya. 
  15. UU Pesantren harus diskemakan untuk mengindari dan/atau menanggulangi  tumbuhnya pesantren yang Anti-NKRI, Pancasiladan UUD Negara Republik Indonesia 1945. 
  16. UU Pesantren harus memberikan pengakuan lulusan pesantren sesuai dengan kompetensinya tanpa mengharuskan mengikuti UN dan tidak harus mengikuti mu’adalah. 
  17. Pembuatan UU Pesantren harus melibatkan PBNU dan kalangan pesantren berhaulan aswaja. (Ahmad Mundzir/Muiz)
Selasa 4 Desember 2018 20:45 WIB
Pertemuan Terakhir Gus Mus Sebelum Gus Dur Wafat
Pertemuan Terakhir Gus Mus Sebelum  Gus Dur Wafat
Gus Mus (tengah peci putih)
Jombang, NU Online
Pengasuh Pesantren Al-Aqobah Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur KH Akhmad Kanzul Fikri menceritakan pengalamannya usai bertamu ke rumah KH Mustofa Bisri (Gus Mus) di Leteh, Rembang, Jawa Tengah. 

Menurutnya, Gus Mus mempunyai hubungan khusus dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Keterangan ini didapatkannya setelah bercerita panjang lebar dengan Gus Mus.

"Beberapa hari lalu kami sekeluarga bertamu ke rumah Gus Mus, banyak yang diceritakan oleh Gus Mus. Salah satunya yaitu hubungan istimewa antara ia dengan Gus Dur. Bahkan sebelum wafat Gus Dur meminta khusus kepada pihak keluarga untuk bertemu Gus Mus," katanya, Selasa (04/12).

Pria yang akrab disapa Gus Fikri ini menjelaskan ketika dalam keadaan sakit menjelang hari-hari terakhirnya, Gus Dur berkata kepada adiknya dr Umar kalau ia kangen Gus Mus. Saat itu, dokter Umar pun spontan mencegah Gus Dur untuk bepergian karena memang kondisinya yang lemah. Umar merupakan dokter yang menemani Gus Dur sejak sakit hingga wafat.

dr Umar sempat menawarkan akan meminta Gus Mus datang menemui Gus Dur. Namun tawaran itu ditolak oleh Gus Dur dengan alasan yang kangen adalah Gus Dur maka seharusnya dia pula yang datang menemui Gus Mus bukan sebaliknya. Maka pada saat itu juga, Gus Dur diantar menemui Gus Mus walaupun dalam keadaan sakit.

"Menurut cerita Gus Mus, Gus Dur datang bersama dr Umar, istrinya beserta putri-puterinya saat bertandang ke Rembang. Anehnya, saat di Rembang, dua tokoh besar sekaligus sahabat lama ini mengobrol lama hingga larut malam. Jika tidak diingatkan oleh istri Gus Dur, mungkin ngobrolnya bisa lebih lama lagi, sampai subuh," tambah Gus Fikri.

Saat pamitan dari Gus Mus, Gus Dur memberi isyarat jika dirinya ingin ke Jombang karena dipanggil oleh kakeknya KH Hasyim Asy'ari. Benar saja, selang tak berapa lama kemudian Gus Dur wafat. Dan di makamkan di komplek Pesantren Tebuireng, Jombang. Satu lokasi dengan ayahnya KH Wahid Hasyim dan kakehnya, KH Hasyim Asy'ari. Sejak wafat hingga saat ini makam Gus Dur tak pernah sepi pengunjung. Ribuan manusia setiap hari ziarah ke makamnya.

"Gus Dur dan Gus Mus adalah contoh sahabat sejati, hubungan batin di antara keduanya sangat kuat. Terbukti sebelum wafat dalam keadaan sakit Gus Dur masih ingat Gus Mus dan memberikan isyarat tentang kembali ke Jombang," ujarnya.

Gus Fikri menyebutkan, pertemuan antara Gus Mus dan Gus Dur berawal saat keduanya kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir. Gus Mus berangkat ke Mesir lewat rekomendasi KH Ali Ma'shum. Walaupun tidak menempuh pendidkan formal, Gus Mus berhasil lolos. Menurut Gus Mus hal itu karena karomahnya Kiai Ali Ma'shum.

Selang 6 bulan di Al-Azhar, Gus Mus bertemu Gus Dur. Uniknya Gus Dur hanya mendaftar saja di Al-Azhar. Tapi tidak pernah masuk kuliah karena merasa semua mata kuliah di jurusan yang dipilih sudah dipelajari di pesantren. Gus Dur justru malah aktif berorganisasi dan membangunan jaringan/network global. Gus Dur aktif mengumpulkan mahasiswa dari berbagai negara seperti Maroko, Prancis, Belanda, dan Mesir untuk saling bertukar ilmu dan pengalaman.

"Usai di Al-Azhar, selanjutnya Gus Dur kuliah di Irak. Setelah itu ia mengajak Gus Mus pindah dan bekerja di Belanda. Di sana Gus Dur hidup dan bekerja dengan uang yang lebih. Bahkan bisa membeli mobil second. Gus dur berjanji ngajak Gus Mus berkeliling Eropa dengan mobilnya. Namun rencana ini gagal karena Gus Mus harus mendampingi Ibunya pergi Haji," beber Gus Fikri.

Lanjut Gus Fikri, persahabatan antara Gus dur dan Gus Mus sempat renggang saat Gus Dur menjadi Presiden Indonesia. Walaupun begitu, sekali-sekali dua karib ini masih sering kabar-kabar dan cerita. Hanya tak seakrab seperti sebelumnya.

Kesamaan antara Gus Mus dan Gus Dur cukup banyak, salah satunya terletak pada kecintaan yang sangat kuat dengan sosok ibunya masing-masing. Gus Mus berkali-kali menolak jabatan penting di negeri ini karena tak dapat izin dari ibunya. Begitu juga Gus Dur, bila dipanggil oleh sang ibu pasti langsung datang. Bahkan saat debat dengan adik-adiknya, Gus Dur tak mau mengalah maka adik-adiknya wadul ke sang ibu. Baru Gus Dur manut dan diam.

"Gus Dur sangat hormat ibunya, wajar jadi tokoh besar. Menurut Gus Mus, ada 2 tokoh Islam yang menjadi primadona ketika itu. Yakni Gus Dur dan Cak Nur (Nurcholish Majid). Keduanya dianggap sebagai sosok yang cendikiawan dan pintar dalam ilmu umum dan ilmu agama. Keduanya juga berasal dari Jombang. Namun Gus Dur lebih unggul sedikit karena memiliki "akar" yang lebih kuat," tandas Gus Fikri.  (Syarif Abdurrahman/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG