IMG-LOGO
Humor
BULAN GUS DUR

Gus Dur Hafal 1000 Nomor Telepon

Jumat 7 Desember 2018 8:0 WIB
Bagikan:
Gus Dur Hafal 1000 Nomor Telepon
Gus Dur (Dok. Pojok Gus Dur)
Setiap kali bersua dan berbincang-bincang dengan Gus Dur, seseorang selalu menantikan joke-joke segar selain ilmu dan pengetahuan dari Gus Dur.

Saat berbincang dengan sahabatnya, Ben Subrata dan beberapa teman, Gus Dur pernah mengeluh soal tidak ingat lagi nomor telepon.

“Dulu saya ingat seribu nomor telepon. Sekarang, sepuluh nomor saja susah,” kata Gus Dur.

Salah seorang sahabat Subrata menimpali, “Mungkin karena sampean sering capek, Gus. Jadi gampang lupa,” ujarnya.

“Apanya yang capek, wong saya sudah stroke dua kali,” seloroh Gus Dur disambut tawa rombongan. (Fathoni)


*) Disarikan dari buku "Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa" (2017)
Tags:
Bagikan:
Rabu 5 Desember 2018 9:0 WIB
Tulisan Wartawan dan Dokter
Tulisan Wartawan dan Dokter
Ilustrasi (via Binpers)
Seorang aktivis wartawan pada suatu hari sedang mengisi pelatihan menulis di sebuah Madrasah Aliyah di Pemalang, Jawa Tengah.

Dalam pemaparannya terkait prinsip-prinsip menulis, si wartawan menegaskan bahwa untuk bisa meningkatkan keterampilan menulis dengan baik, maka seseorang harus terus menulis.

“Jadi, kalian harus terus menulis agar bisa menghasilkan tulisan yang bagus,” kata si wartawan.

Di tengah pemaparan tersebut, salah seorang siswa mengacungkan tangan dan bertanya, “Tapi kak, kenapa dokter tulisannya nggak pernah bagus, padahal ia sering menulis (resep)?” (Fathoni)

Senin 3 Desember 2018 14:35 WIB
Bermaksud Pergi Bela Tauhid
Bermaksud Pergi Bela Tauhid
Ilustrasi (ist)
Di hari yang cerah dan berawan saat itu, seorang murid pamitan kepada kiainya mau pergi membela tauhid.

“Saya pamit kiai untuk membela tauhid, kalimat Allah,” katanya menggebu.

"Bagus. Kamu tahu hakikat tauhid?" tanya kiainya.

"Hmm...belum kiai," jawabnya.

"Sono...belajar dulu, khatamkan dulu kitab tauhid," tegasnya.

"Lalu, nanti kalau sudah khatam bagimana kiai?" tanya sang murid.

"Amalkan dulu tauhidmu," jawab sang kiai.

"Cara mengamalkannya?" tanyanya lagi.

"Belajar saja belum, sudah tanya cara mengamalkannya," seloroh kiai. (Ahmad)


*) Disarikan dari Tweet Tasawuf KH M. Luqman Hakim, Direktur Sufi Center Jakarta
Ahad 2 Desember 2018 17:0 WIB
Mengaku Menerima Wahyu Allah
Mengaku Menerima Wahyu Allah
Gua Hira, tempat Muhammad menerima wahyu untuk pertama kali. Foto: Screenshoot YouTube
Muhammad diangkat Allah sebagai nabi dan rasul terakhir saat usianya 40 tahun. Kemudian Muhammad ‘mendeklarasikan diri’ di hadapan masyarakat Arab bahwa dirinya adalah seorang yang diutus untuk menyampaikan risalah Allah. Di awal-awal, ada yang percaya dan beriman kepada Muhammad. Tapi lebih banyak yang menentangnya, bahkan memusuhinya.

Alasan mereka yang menolak kerasulan Muhammad pun bervariasi. Mulai dari faktor ekonomi hingga iri hati. Mereka tidak rela kalau yang menjadi pembawa risalah Tuhan adalah Muhammad. Maka kemudian muncul nabi-nabi palsu, orang-orang yang mengaku mendapatkan wahyu dari Allah. Baik pada saat Nabi Muhammad maupun sepeninggalnya.

Salah satunya adalah Mukhtar as-Sakafi. Mukhtar dikenal sebagai seorang yang mencampuradukkan konsep agama untuk tujuan politik. Ia mengklaim bahwa pemikiran-pemikirannya soal agama tersebut berasal dari Allah. 

Cerita soal Mukhtar yang mengaku kalau dirinya menerima wahyu dari Allah ini sampai di telinga Abdullah ibnu Umar, putra Umar bin Khattab. Ibnu Umar merupakan sahabat Nabi Muhammad saw. yang cerdas dan memiliki sikap hati-hati. Ia masuk Islam ketika masih anak-anak, sebelum usia baligh.

Ibnu Umar hanya memberikan respons santai tapi menukik ketika ada seseorang yang melapor kepadanya tentang Mukhtar tersebut. Mula-mula, Ibnu Umar menjawab kalau klaim Mukhtar itu adalah benar. Ibnu Umar lantas mengutip salah satu firman Allah QS. Al-An’am ayat 121 tentang hal itu.

“Klaimnya benar, karena Allah berfirman, ‘Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya,” jawab Ibnu Umar yang mengibaratkan Mukhtar sebagai teman setan. (Muchlishon)

Kisah ini disadur dari buku Tertawa Bersama Al-Qur’an, Menangis Bersama Al-Qur’an (Hasan Tasdelen, 2014)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG