Home Nasional Warta Esai Khutbah Daerah Cerpen Fragmen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Keislaman Internasional English Tafsir Risalah Redaksi Opini Hikmah Video Nikah/Keluarga Obituari Tokoh Hikmah Arsip Ramadhan Kesehatan Lainnya

Mengoleksi dan Mengoreksi Foto-Foto Kiai Wahab Chasbullah

Mengoleksi dan Mengoreksi Foto-Foto Kiai Wahab Chasbullah
Moch Faisol berhasil menemukan 60-an foto Kiai Wahab yang ada dalam empat puluh momen atau konteks peristiwa.
Moch Faisol berhasil menemukan 60-an foto Kiai Wahab yang ada dalam empat puluh momen atau konteks peristiwa.

Biasanya yang disebut para pendiri NU itu adalah tiga kiai, yaitu Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari (w. 1947), Kiai Abdul Wahab Chasbullah (w. 1971), dan Kiai Bisri Syansuri (w. 1980). Walaupun, sebenarnya pendiri NU itu banyak, yaitu para ulama besar selain tiga kiai utama tersebut.


Kiai Cholil Bangkalan yang merupakan guru dari Kiai Hasyim juga disebut sebagai pendiri NU, begitu juga Kiai Faqih Maskumambang Gresik yang disebut-sebut sebagai Wakil Rais Akbar. Kiai Mas Alwi Abdul Aziz yang menamai Nahdlatul Ulama, Kiai Ridwan Abdullah yang membuat lambang NU, juga Kiai Abdul Chalim Leuminding yang merupakan Wakil Katib dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pertama kali, adalah di antara para ulama pendiri Nahdlatul Ulama, dan masih banyak lagi.


Pertanyaannya, mengapa biasanya yang disebut pendiri NU diwakili oleh tiga kiai Jombang yaitu Kiai Hasyim, Kiai Wahab, dan Kiai Bisri? Karena di samping merupakan para kiai yang berperan besar dalam awal pembentukan NU, ketiga kiai tersebut juga adalah pimpinan tertinggi NU secara berurutan. Kiai Hasyim adalah pemimpin tertinggi NU yang pertama, sebagai Rais Akbar. Beliau wafat digantikan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah, dan ketika wafat digantikan KH Bisri Syansuri, dengan jabatan tertinggi di NU, Rais 'Aam.


Dalam bakal buku edisi foto Kiai Wahab Chasbullah dengan jumlah halaman xx+ 97 halaman ini, Moch Faisol berhasil menemukan 60-an foto Kiai Wahab yang ada dalam empat puluh momen atau konteks peristiwa.


Sebagaimana foto Kiai Hasyim Asy'ari yang ditemukan pada Muktamar 1939 di Magelang, dan empat foto yang lain, yaitu pada 1914, 1942, 1944 dan 1947, foto-foto Kiai Wahab semuanya hitam putih, sebab film atau klise foto berwarna baru masuk dan populer digunakan di Indonesia setelah tahun 1971, sementara Kiai Wahab Chasbullah wafat pada 29 Desember 1971.


Foto Kiai Wahab yang sendirian ditemukan ada 12 buah, yang bersama Kiai Bisri Syansuri ada 2 buah, yang bersama Kiai Hasyim Asy'ari, Kiai Bisri Syansuri (sebagai tiga pendiri NU) ada satu buah, dan sisanya adalah foto Kiai Wahab dengan para ulama atau tokoh-tokoh lainnya.


Foto terawal Kiai Wahab Chasbullah ditemukan ketika beliau berusia 48 tahun, yaitu foto pada Konferensi ANO (Ansor Nahdlatoel Oelama) di Kantor NU  Surabaya pada 1936, bersama para peserta. Adapun foto pertama close up termuda, ditemukan pada 1940. Sementara, foto Kiai Wahab bersama Kiai Maksum Ahmad, Lasem, dan Kiai Bisri Syansuri pada Muktamar NU ke-25 di Surabaya, pada 1971, adalah foto terakhir beliau.

[Waktu: Sekitar 1940
Tempat: Studio foto
Peristiwa: -
Jenis foto: Monokrom
Status tashih: Belum sahih
Pentashih: Binhad Nurrohmat
Sumber asal: Website
Diperoleh dari: Binhad Nurrohmat, 20 September 2019]

 

Gambar wajah di atas merupakan foto pertama close up dari KH A Wahab Chasbullah termuda, yang bisa ditemukan. Melihat latar belakang foto, pengambilan foto dilakukan di studio foto (indoor). Menurut Binhad Nurrohmat (cucu menantu KHA Wahab Chasbullah), foto ini awalnya diperoleh dari website. Sayang alamat website-nya lupa dan malah kini juga sudah tidak bisa diakses lagi. Sehingga belum bisa dilacak dari mana sumber awalnya foto ini. Dalam foto-foto Mbah Yai Wahab Chasbullah sebelum tahun 1952, seluruhnya memang belum memakai kacamata. Foto pertama yang memakai kacamata adalah saat mengikuti Muktamar NU ke-19 di Palembang tahun 1952.


Dengan fokus ke foto, maka kita bisa melihat, bahwa Kiai Wahab di samping biasa berkopiah putih, juga berkopiah hitam, dan kadang juga memakai penutup kepala dari serban seperti yang terlihat pada foto beliau di tahun 1939 saat Muktamar NU di Magelang dan pada 1949, ketika beliau mengikuti Muktamar Masyumi pada 15-19 Desember 1949.


[Salah satu foto KH Wahab Chasbullah mengenakan serban sebagai penutup kepala]


Dengan telaah secara seksama atas foto-foto Kiai Wahab juga dapat dikenali, ada masa beliau belum memakai kacamata, dan ada masa memakai kacamata. Foto Kiai Wahab sebelum tahun 1952, adalah masa beliau belum berkacamata. Foto pertama yang memakai kacamata adalah saat beliau menghadiri Muktamar NU ke-19 di Palembang pada 1952.


Contoh foto Kiai Wahab mengenakan kacamata adalah fotonya saat menghadiri Kongres (dulu pakai istilah "Muktamar") III Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) pada akhir tahun 1958 atau awal-awal tahun 1959 di Cirebon Jawa Barat. Foto tersebut bisa dirujuk salah satunya di majalah Risalah Organisasi IPNU yang terbit tahun 1961. Di majalah tersebut tertulis keterangan foto "Rois 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama' K.H. Wahab Chasbullah sedang memberikan wedjangan pada suatu resepsi IPNU".

 

[Salah satu foto KH Wahab Chasbullah mengenakan serban dan kacamata saat menghadiri acara IPNU]


Buku biografi foto Kiai Wahab ini juga memuat foto dan narasi yang menyebut nama Kiai Wahab, padahal sebenarnya bukan.


Pertama, foto dengan keterangan berdoa bersama Bung Karno di Jakarta, 1960. Kiai yang terlihat tanpa kaca mata bersama Bung Karno dianggap Kiai Wahab, padahal bukan. Bentuk fisik Kiai tersebut berbeda dengan Kiai Wahab. Kiai Wahab sudah memakai kacamata pada foto di tahun 1952.

 


[Yang benar ini bukan Kiai Wahab, karena bentuk wajah Kiai Wahab itu agak bulat, tidak lancip dan tidak pernah berkumis. Apalagi, pada tahun 1960-an beliau lekat dengan kacamata]


Kedua, ada foto Kiai pada Muktamar NU ke-24 di Bandung pada 1967 dengan keterangan Rais 'Aam NU KH. Wahid Wahab Chasbullah. Yang benar, foto itu adalah Kiai Maksum Ahmad Lasem, dan Rais 'Aam pada 1967 adalah KH Abdul Wahab Chasbullah. Jadi, di situ terdapat dua kesalahan sekaligus, yaitu pada foto dan pencantuman nama.


[Ada kekeliruan pencantuman nama dan gambar wajah. Yang benar ini Kiai Maksum Ahmad Lasem]


Fakta bahwa ada kekeliruan foto, ada kekeliruan tahun, tempat, dan konteks, adalah bukti bahwa  tidak mudah untuk menginterpretasikan foto, dan karena itulah perlu wawasan sejarah pada umumnya, dan khususnya sejarah NU, juga perlu tashhih dari pakar NU, dan dzuriyah para pendiri NU. Inilah pentingnya buku Biografi Foto.


Buku ini pada mulanya direncanakan terbit dengan tiga jilid. Namun, dalam pertemuan dengan Moch Faishol, penulis mendapatkan informasi bahwa ada perubahan, sehingga tidak ada lagi penyebutan jilid 1, 2, dan 3, tapi langsung buku Biografi Foto Kiai Bisri Syansuri (edisi terbitan tersendiri), edisi buku Biografi Foto Kiai Wahab Chasbullah (edisi terbitan tersendiri), dan edisi lengkap buku Biografi Foto Tiga Kiai Pendiri NU. Direncanakan edisi lengkap buku ini akan memuat secara berurutan tahun terawal ditemukannya foto tiga kiai pendiri NU tersebut, yaitu foto Kiai Hasyim Asy'ari, pada 1914 hingga 1947, foto Kiai Wahab Chasbullah dari 1936 hingga 1971, dan foto Kiai Bisri Syansuri, dari 1936 hingga 1980.

 

[Gambar sampul bakal buku biografi foto Kiai Wahab karya Moch Faisol]


Buku ini juga memuat Syair Subbanul Waton yang dikarang oleh Kiai Wahab. Syair penggugah semangat berbangsa ini antara lain dimuat di buku NU Penegak Panji Ahlussunah wal Jamaah karya KH. Hasyim Latif (1979),  Pertumbuhan dan Perkembangan NU karya Choirul Anam (1985), dan yang sedang banyak diperbincangkan,  karya para dzuriyah Pesantren Tambakberas Jombang, buku Tambakberas Menelisik Sejarah Memetik Uswah (2017).

 

Yusuf Suharto, Dosen Aswaja di Institut Pesantren KH. Abdul Chalim, Mojokerto


Catatan: artikel ini mengalami perbaikan pada 17 Mei 2022 pada penjelasan foto Kiai Wahab saat menghadiri Muktamar III IPNU di Cirebon. Terima kasih kepada Ajie Najmuddin, kontributor NU Online yang juga peneliti sejarah yang memberikan informasi tambahan dan koreksi pada artikel ini.



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Pustaka Lainnya

Terpopuler Pustaka

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×