Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Moderasi Beragama Solusi Tangkal Radikalisme

Moderasi Beragama Solusi Tangkal Radikalisme
Ilustrasi
Ilustrasi

Para peneliti Balai Litbang Agama Jakarta (BLAJ) pada tahun 2021 ini melakukan beberapa penelitian terkait Moderasi Beragama. Pada peneliti menyebutkan bahwa Kementerian Agama Republik Indonesia pada akhir 2019 mengeluarkan buku Moderasi Beragama.


Buku ini bisa menjadi sebuah acuan atau rujukan konsep umat beragama dalam melakukan aktivitas serta praktik beragama. Kata moderasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berasal dari bahasa latin moderatio, yang berarti kesedangan (tidak kelebihan dan tidak kekurangan).

 

Peneliti mengungkapkan, Moderasi Beragama merupakan konsep yang diharapkan dapat diimplementasikan oleh seluruh umat beragama di Indonesia sehingga tercipta kerukunan intraumat beragama, antarumat beragama, dan antara umat beragama dengan pemerintah.

 

Penelitian yang dilakukan BLAJ merupakan riset studi kasus dengan mengambil tema yang berbeda-beda. Namun, fokus terhadap isu-isu aktual keagamaan yang terjadi saat ini, yaitu tentang Moderasi Beragama dan radikalisme.


Tema-tema yang dikaji dalam penelitian ini dapat di kelompokan dalam lima isu, yaitu 1) Moderasi Beragama dalam Menangkal Paham Radikalisme (Perspektif dan Strategi Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Ciamis); 2) Dinamika Forum Silahturahim Pondok Pesantren (FSPP)  Provinsi Banten Serta Pandangannya tentang Radikalisme dan Moderasi Beragama.

 

Berikutnya, 3) Mazhab Takfiriyah Menuju Wasathiyah (Peran dan Strategi Penyuluh Agama Islam dalam Dakwah Moderasi di Kota Serang); 4) Pandangan Sosial-Keagamaan Mantan Narapidana Terorisme yang Berada dalam Pembinaan Densus 88 AT Polri; dan 5) Peran Penyuluh Agama dalam Upaya Pencegahan Dini Konflik Keagamaan.


Penelitian berjudul Pemahaman Moderasi Beragama dalam Menangkal Paham Radikalisme di Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Ciamis dilakukan oleh Novi Dwi Nugroho. Salah satu hasil temuannya bahwa masyarakat Ciamis merupakan masyarakat sangat responsif terhadap isu-isu yang terkait keagamaan.

 

"Sebagai contoh, pada saat aksi demonstrasi 212 yang terjadi pada 2016 banyak sekali masyarakat Ciamis yang datang ke Jakarta. Bahkan, ada yamg melakukan aksi jalan kaki. Kemudian pada saat penangkapan Muhammad Riziq Shihab, banyak pula masyarakat Ciamis yang melakukan demonstrasi baik yang datang ke Jakarta maupun melakukan demonstrasi di Ciamis," sebut peneliti dalam laporannya.


Novi juga mengungkapkan, Moderasi Beragama dipahami oleh para perwakilan majelis-majelis agama yang duduk di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Ciamis adalah sebuah sikap saling menghormati terkait keyakinan atau akidah umat beragama. Strategi dalam menangkal paham radikalisme adalah dengan menampung dan merangkul semua perwakilan organisasi keagamaan yang ada di Kabupaten Ciamis.

 

Penelitian di Provinsi Banten dengan tema Dinamika Forum Silahturahim Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten Serta Pandangannya tentang Radikalisme dan Moderasi Beragama dilakukan oleh IsmailKajian ini menyimpulkan bahwa konstelasi dinamika di FSPP Provinsi Banten sangat dinamis baik yang berkaitan dengan pemikiran, aksi, maupun organisasi. 

 

Ismail juga mengungkapkan radikalisme terbagi pada dua kategori. Pertama, pada gagasan dan pemikiran; dan yang kedua adalah dalam tindakan. Konsep Moderasi Beragama dalam pandangan FSPP lebih tepat pada konsep moderasi kehidupan beragama. 


Penulis: Kendi Setiawan
Editor: Musthofa Asrori



Riset BLAJ Lainnya

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya