Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Faktor Pendukung dan Penghambat Nilai Keagamaan Masyarakat Kampung Pulo Garut

Faktor Pendukung dan Penghambat Nilai Keagamaan Masyarakat Kampung Pulo Garut
Wisatawan datang ke Kampung Pulo menggunakan rakit. (Foto: jejakpiknik.com)
Wisatawan datang ke Kampung Pulo menggunakan rakit. (Foto: jejakpiknik.com)

Penelitian yang dilakukan Balai Litbang Agama Jakarta (BLAJ) mengungkapkan adanya faktor-faktor pendukung dan faktor-faktor penghambat internalisasi pendidikan bagi masyarakat adat Kampung Pulo di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

 

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap tokoh-tokoh adat, tokoh masyarakat maupun tokoh agama, peneliti menemukan bahwa mereka sangat menyadari dan menjunjung tinggi berbagai tradisi religi yang berharga. Mereka juga telah meletakkan sebagai dasar dalam mengatur tatanan kehidupan masyarakat.

 

"Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tradisi dan larangan di kampung Pulo memberikan dampak positif dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai budaya tersebut merupakan karakter masyarakat Kampung Pulo untuk hidup tertib, saling menghargai, saling tolong menolong, dan nilai-nilai positif lainya adalah membuat masyarakat hidup dalam ketentraman dan kedamaian," sebut peneliti dalam laporannya.

 

Diungkapkapkan, kesadaran masyarakat akan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam berbagai tradisi dan larangan, merupakan modal sosial yang kuat dan perlu dipertahankan. Karena itu, peneliti menilai dibutuhkan perhatian dari berbagai pihak terutama lembaga adat. Tujuannya untu meningkatkan kesadaran masyarakat agar tradisi yang menjadi identitas Kampung Pulo tetep terpelihara dengan baik dan dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya.

 

"Namun generasi pelanjut estapeta perjuangan Kampung Pulo malah dimasukkan ke lembaga pendidikan yang tidak sejalan, bahkan bisa dikatakan berbalik arah. Padahal, pendidikan selama ini diharapkan sebagai upaya pembentukan perilaku atau proses pembudayaan dan penanaman nilai-nilai kultur," lanjut peneliti.

 

Di samping itu, berbagai tradisi dan ritual keagamaan ini terancam hilang kalau tidak ada upaya untuk melestarikannya. Terlebih, ungkap peneliti, Kampung Pulo dijadikan sebagai salah satu objek wisata andalan Kabupaten Garut yang berpotensi menghasilkan pembauran- pembauran antara penduduk pendatang dengan penduduk asli. Hal itu secara otomatis akan mengakibatkan adanya saling pengaruh antara berbagai kebudayaan.

 

"Pengaruh antara berbagai kebudayaan itu dipengaruhi oleh intensitas hubungan/kontak antara pendukung kebudayaan yang bersangkutan. Masuknya budaya asing yang didukung dengan kemajuan teknologi informasi turut mempengaruhi warna kebuadayaan daerah, terlebih lagi TV dan akses internet sudah masuk ke Kampung Pulo," ungkap peneliti.

 

Peneliti menemukan juga bahwa masyarakat adat Kampung Pulo sebagai pendukung kebudayaan merupakan salah satu faktor penentu kelestarian kebudayaan. Untuk itu peranan pemerintah dan lembaga adat dalam memanfaatkan kekuatan yang dimiliki masyarakat sangat penting. Tujuannya guna meminimalisasi penggunaan budaya-budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa karena dapat mengancam eksistensi kebuayaan lokal.

 

"Peranan berarti perhatian mendalam mengenai perbedaan atau perubahan yang akan dihasilkan suatu proyek sehubungan dengan kehidupan masyarakat," tegas peneliti.

 

Penulis: Kendi Setiawan
Editor: Musthofa Asrori



Terkait

Riset BLAJ Lainnya

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya