Daerah HARI SANTRI 2023

Perjalanan Siswanto, Santri Pengusaha Kaus Online, Raup Omzet Rp60 Juta Sebulan

Ahad, 15 Oktober 2023 | 12:00 WIB

Perjalanan Siswanto, Santri Pengusaha Kaus Online, Raup Omzet Rp60 Juta Sebulan

Kaus-kaus yang diproduksi Siswanto, santri asal Pati Jawa Tengah yang menekuni bisnis online dan berhasil meraih omzet rata-rata 60-75 juta rupiah per bulan (Foto: dok Siswanto)

Pati, NU Online
Seorang santri asal Pati Jawa Tengah menekuni bisnis online dan berhasil meraih omzet rata-rata 60-75 juta rupiah per bulan. Siswanto, alumnus Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan Pati, pertama membuka usaha penjualan kaus secara online pada tahun 2016 lalu. Pada waktu itu ia tengah menempuh kuliah semester 4 di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

 

Dia mengatakan sebenarnya sudah sejak remaja ia ingin berbisnis atau membangun usaha, namun bingung mau bisnis atau usaha apa.

 

Lalu, ia memutuskan untuk memulai bisnis dengan jualan kaus Jogja dari Malioboro dan supplier langsung, sehingga dapat harga lebih murah. Karena harganya hanya berbeda tipis dari para penjual kaus di Malioboro, akhirnya Sis sapaan akrabnya, menjual kaus Jogja tersebut di Semarang. Namun pada waktu itu, ia tidak mendapat keuntungan, karena peminatnya kurang. Hanya balik modal saja. 


"Ini kalau uangnya tidak saya pakai (moda usaha), pasti habis," ujarnya sambil membayangkan kondisinya waktu itu.


Bak gayung bersambut, setelah kejadian itu ada teman kuliahnya di UII, yang menawarinya untuk berbisnis kaus 'bus mania'. Ia asli warga Yogyakarta. Siswanto mengaku, waktu itu tidak mengerti dunia perbusan atau busmania, namun ia ikut saja.

 

Ia menyebut pertama membuat kaus bus hanya satu lusin atau 12 kaus. Modalnya 600 ribu rupiah. Ini merupakan modal pertama Siswanto saat mengawali bisnisnya di bidang kaus busmania. "Waktu itu marketplace atau e-commerce belum menjamur seperti sekarang. Jadi saya menjualnya di medsos seperti Instagram dan BBM (Blackberry Messenger). Awalnya terjual satu atau dua hingga akhirnya habis," ungkapnya saat wawancara dengan NU Online, Kamis (12/10/2023).

 

Kemudian, uangnya ia putar untuk modal hingga akhirnya bisa seperti sekarang. Sis yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Ki Ageng Giring, Sleman, Yogyakarta ini, menyebut ia berbisnis atau terjun di dunia usaha bukan karena kiriman uang dari orang tua kurang, namun karena passion.

 

Setelah lulus kuliah, Siswanto tidak ingin bekerja kantoran seperti main stream orang. Bahkan orang tuanya pernah menyuruhnya kerja di bank karena gajinya terjamin. Namun, ia memilih untuk tetap melanjutkan jualan kaus busmania online.


Selepas kuliah ia sudah tidak mendapat kiriman dari orang tua dan bisnis kaus online belum menunjukkan kemajuan yang berarti. Waktu itu ia memutuskan untuk kerja di konveksi kaus. Karena jiwa entrepreneur-nya, ia tak suka bekerja terikat dengan perusahaan dan waktu yang ditentukan. Akhirnya ia memilih resign. Ia hanya bertahan kerja di konveksi selama enam bulan.

 

"Tapi kalau diniati cari pengalaman dan ilmu sih, nggak apa-apa kerja ikut orang," tambahnya.

 

Lika-liku perjalanan bisnis tidaklah selalu mulus. Itu juga yang dirasakan Siswanto terutama saat pandemi Covid-19 melanda. Sebelum datang Covid-19, ia membuat kaus dengan modal Rp60 juta. Kemudian kaus jadi, lalu pandemi menyerang.

 

"Betapa pusingnya saya, stok kaus melimpah di rumah, tapi pembeli sepi. Tapi saya berpikir harus tetap menjualnya walau untungnya sedikit, agar kaus laku dan uangnya balik lagi. Dan uangnya bisa dipakai modal usaha lagi. Itu masa-masa yang berat," ujar Sis.

 

Ia mengaku saat ini, omzet per hari pada kisaran 2-2,5 juta rupiah. Atau dalam satu bulan bisa mencapai 60-75 juta. Namun, untuk momen lebaran omset per hari mencapai 3-3,5 juta rupiah. 

 

"Saat yang menggembirakan yakni, pada waktu bulan Ramadhan dan Lebaran. Orderan naik secara drastis," tambahnya

 

Siswanto menilai, bisnis fashion apalagi spesifik kaus busmania masih sangat potensial untuk dikembangkan. Rahasia untuk tetap berkembang hingga saat ini, menurutnya adalah dengan terus berinovasi. Minimal ia memperbarui desain baru sebanyak satu atau dua buah tiap bulan.


Karena bisnis yang ia jalankan online, pelanggannya pun dari online juga. Biasanya dari busmania atau pecinta bus dan para driver. Baik dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. 


Namun Sis, mengeluhkan para kompetitor baru di marketplace biasanya asal menjiplak desain sembarangan, lalu menjual kaus mereka dengan harga yang lebih murah dan kualitas di bawah. Tentu ini tidak baik. 

 

"Namun juga banyak kompetitor yang mau bersaing secara sehat dengan membuat desain sendiri," terangnya


"Cara agar usaha kita tetap eksis salah satunya dengan menjaga kualitas dan berinovasi," imbuhnya

 

Siswanto berpesan bagi para pemula khususnya bagi para santri dan warga Nahdliyin yang ingin berbisnis online, harus berani memulai dan belajar, karena e-commerce punya algoritma tersendiri dan selalu berkembang.

 

"Kalau kita tidak belajar bisa ketinggalan. Harus sungguh-sungguh, teliti, ulet, pantang menyerah dan tentunya sabar. Karena dalam berbisnis bisa saja ramai dan sepi. Kita harus mampu melewati masa-masa itu, selain juga belajar dan terus berinovasi," ujar Sis.

 

Menurutnya untuk para santri yang ingin berusaha tidak usah terlalu lama dan banyak pikir-pikir. Kata Sis, "Kita bisa learning by doing yakni belajar sambil melakukan."

 

"Sempurna itu bisa mikir sambil jalan, kalau terlalu mikir sempurna malah tidak akan jalan," ujarnya

 

"Bagi teman-teman yang tertarik produk-produk kaus busmania saya bisa beli Shope/kaosbusofficial, lazada.co.id/Kaos Bus Indonesia), Tokopedia/Kaosbusoficcial," kata Sis berpromosi.