Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Ketika Gus Sholah Pertanyakan Kewalian Gus Dur

Ketika Gus Sholah Pertanyakan Kewalian Gus Dur
Gus Dur dan Gus Sholah tertawa berjamaah. (Foto: Dok. NU Online)
Gus Dur dan Gus Sholah tertawa berjamaah. (Foto: Dok. NU Online)

KH Salahuddin Wahid atau akrab disapa Gus Sholah pernah mempertanyakan apakah benar bahwa Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) itu seorang wali? Pertanyaan tersebut muncul setelah Gus Sholah melihat fakta pasca-wafatnya Gus Dur tahun 2009 silam.

 
Ketika Gus Dur wafat, Gus Sholah menjadi salah satu bagian dari keluarga yang paling sibuk. Hal ini dikarenakan saat itu Gus Dur akan dimakamkan di Pesantren Tebuireng. Sementara Gus Sholah sebagai pengasuhnya. Selain itu, Gus Dur adalah kakak kandung dari Gus Sholah.


Dalam buku Memadukan Keislaman dan Keindonesiaan, Esai-Esai Kebangsaan halaman 33 dituliskan alasan Gus Sholah bertanya apakah betul Gus Dur seorang wali. Alasan utamanya karena ia melihat begitu antusiasme para peziarah berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir Gus Dur.


Menurut Gus Sholah, wali itu mengandung dua aspek, yaitu keagamaan dan sosial. Secara sosial, tidak bisa dibantah bahwa Gus Dur sudah dianggap sebagai seorang wali.


Indikasinya bisa dilihat dari adanya peziarah yang mengambil tanah makam Gus Dur untuk tujuan mendapatkan barakah. Hal ini menunjukkan adanya anggapan bahwa Gus Dur sebagai seorang wali.


Upacara kenegaraan saat Gus Dur dikebumikan di pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng dipadati sekitar 50 ribu orang. Para peziarah terus datang setiap harinya, diperkirakan ada 7-8 ribu peziarah yang berkunjung.


Pada tahlilan malam ketujuh wafatnya Gus Dur, jumlah tamu mencapai 30 ribu orang. Keluarga besar Pesantren Tebuireng tidak menduga dan mengira sebelumnya bahwa para pencinta Gus Dur bisa datang sebanyak itu ke Tebuireng.


Dalam kesaksian Gus Sholah, setelah tiga minggu Gus Dur wafat, para peziarah masih berada pada angka 2.500 perhari. Khusus akhir pekan, bisa mencapai delapan ribu orang. Para peziarah kembali membludak saat 40 hari wafatnya Gus Dur.


Kedatangannya para peziarah membuat kegiatan belajar mengajar (KBM) santri Tebuireng libur sebulan. Kondisi Pesantren Tebuireng penuh peziarah dan belum mungkin mengadakan kegiatan belajar.


Sebagai pengasuh, Gus Sholah juga menerima tamu tanpa henti dari berbagai daerah. Bahkan, Gus Sholah sampai kelelahan menerima tamu yang tidak berhenti berdatangan.


Gus Sholah sempat bertanya ke tamu yang berasal dari Banyumas dan Kalimantan, jawabannya peziarah rela datang jauh-jauh karena mereka mencintai, menghormati dan merasa kehilangan sosok Gus Dur.


Alasan kedua kenapa seseorang bisa dikatakan wali dilihat dari aspek keagamaan. Dalam aspek ini, Gus Sholah mengatakan manusia tidak mungkin mengetahui sejauh mana Gus Dur dapat disebut sebagai wali. Itu adalah rahasia Allah swt.


Namun, kesimpulan dari Gus Sholah melihat penghormatan yang ia saksikan secara langsung setelah Gus Dur wafat menunjukkan bahwa Gus Dur adalah pemimpin yang hidup di hati rakyat.


Kini, Gus Dur dan Gus Sholah sudah wafat. Keduanya dimakamkan di area pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng. Sabtu, 29 Oktober 2022 merupakan peringatan 1000 hari wafatnya Gus Sholah. Al-Fatihah..


Syarif Abdurrahman, Kontributor NU Online, tinggal di Jombang



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Fragmen Lainnya

Terpopuler Fragmen

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×