Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Takbir Keliling, Pengalaman Unik Syaifuddin Zuhri Ber-NU di Tiongkok

Takbir Keliling, Pengalaman Unik Syaifuddin Zuhri Ber-NU di Tiongkok
Rais Syuriyah PCINU Tiongkok Ahmad Syaifuddin Zuhri. (Foto: Dok pribadi)
Rais Syuriyah PCINU Tiongkok Ahmad Syaifuddin Zuhri. (Foto: Dok pribadi)

Jakarta, NU Online
Indonesia memiliki tradisi unik menjelang lebaran Idul Fitri. Rangkaian perayaan hari besar tersebut bak kurang afdal tanpa adanya aktivitas yang satu ini: takbir keliling.


Takbir keliling sebagai corak budaya Islam Nusantara sangat erat dengan masyarakat Indonesia. Budaya takbir keliling menyambut kedatangan Idul Fitri yang diwujudkan dengan arak-arakan pawai obor ini menjadi ciri khas di banyak wilayah di republik ini.


Tentu menjadi pengalaman unik tersendiri ketika tradisi takbir keliling ditemui di Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Tepatnya di Nanchang, sebuah kota di Provinsi Jiangxi.


Hal ini diceritakan Ahmad Syaifuddin Zuhri, Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tiongkok, dalam tayangan YouTube berjudul Ngobras Eps 21: Kisah Santri yang Dulu Jual Pecel Lele Mendapat Beasiswa S2-S3 di Tiongkok, Selasa (8/11/2022).


Sebagai seorang warga negara Indonesia (WNI) yang sempat menetap di Tiongkok cukup lama, Zuhri melihat aktivitas warga Muslim Nanchang itu sebagai pengalaman yang menarik.


“Di Nanchang, Islam di sana itu sangat unik, ada takbir keliling,” terang Direktur Sino-Nusantara Institute itu.


Tak hanya berlangsung sebagai perayaan menyambut Idul Fitri, Zuhri menyebut bahwa tradisi takbir keliling di Nanchang bahkan dilakukan untuk menyambut Idul Adha.


“Takbir keliling setiap Idul Fitri dan Idul Adha. Misalnya, di sana ada pengumumannya shalat Id jam 8, nanti jam 7.30 warga sudah berkumpul di lapangan berjarak beberapa kilometer dari masjid,” jabarnya.


“Dari situ, nanti kita bawa spanduk tulisan Arab dan Mandarin sampai ke masjid. Tiba di masjid jam 8, duduk, sholat, lalu khutbah,” sambung Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.


Tradisi penyambutan hari besar Islam itu baru ditemukan Zuhri hanya di kota Nanchang. Ia meyakini, hal ini sebagai bentuk penafsiran pemerintah daerah tentang kebebasan beragama yang berbeda dengan beberapa kota lainnya.


“Saya baru menemukan (takbir keliling) hanya di Nanchang, di kota lain belum. Yang saya tahu, dari setiap daerah menerjemahkan regulasi dari pusat soal undang-undang kebebasan agama itu memang versinya masing-masing. Karena saat saya ke Chongqing dan Wuhan itu tidak ada,” pungkas Zuhri.


Pewarta: Nuriel Shiami Indiraphasa
Editor: Musthofa Asrori



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Internasional Lainnya

Terpopuler Internasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×