Lampung

Cerpen: Mencintai Pembunuh Itu

Ahad, 8 Mei 2022 | 09:00 WIB


Cerpen Alfian Dippatang

 

Ratna Pasari selalu mencari cara agar tak membunuh Suhar, teman kamarnya di asrama. Ia selalu berusaha menghindar dari hasutan, bisikan setan dari Halidang, ibunya yang sudah meninggal belasan tahun lalu. Halidang tak merestui Ratna berteman dengan Suhar. Sebab Sayati, ibu dari Suhar, telah membuat nyawanya melayang.

 

Untuk urusan mencabut nyawa, saya yang melakukannya. Sebenarnya saya tak tega, tetapi saya hanya menjalankan tugas yang diamanahkan oleh Allah. Saya tak ingin berdosa telah diciptakan sebagai malaikat maut.

 

Halidang benar-benar menghantui pikiran Ratna, ia ingin nyawa dibalas dengan nyawa. Tugas Ratna yang pertama kali diinginkan Halidang, membunuh Suhar.

 

Waktu itu, nyawa Halidang memang tak bisa tertolong, setelah melahirkan ia dikirimi doti, Sayati sakit hati karena Halidang menikah dengan lelaki yang dicintainya.

 

***

 

Awal melihat sosoknya, kau mengira Kiai Sarkawi Pasari atau yang akrab disapa Kiai Sar menahan kantuk yang berat. Sebab kelopak matanya agak kehitaman dan seperti bengkak. Saat melempar pandangan, matanya memerah dan menyipit. Namun, begitulah penampakan mata Kiai Sar, mata yang membuatmu sering dipelototi saat ketahuan melakukan salah. Saat ini, ia duduk bersila, menyoroti para santri yang sudah duduk serupa dengannya.

 

Shalat berjamaah telah ditunaikan. Tadi sewaktu imam, Kiai Sar melafalkan surah Al Ankabut. Suara dan dadanya seperti terdengar seirama bergetar.

 

Senin subuh ini, subuh yang puluhan bahkan ratusan kali kau hadir dan memang wajib hadir untuk mangngaji tudang bersama Kiai Sar di Pondok Pesantren Babul Khaer Kalumeme Bulukumba ini.

 

“Jangan pernah menuruti di mana angin bertiup,” kalimatnya bertuah. Tetapi kau menganggap Kiai Sar menyodorkan makna lain yang ditujukan untuk dirinya sendiri, baik sebagai guru maupun orang tua. Kau mengaitkan peristiwa yang dialaminya saat ini. Tetapi, para santri, termasuk kau tak berani bertanya atau berterus terang mengenai kabar yang terus tersebar dari mulut ke mulut.

 

Kalimat Kiai Sar ini juga membuatmu kembali mengenang masa lalu saat kelas tujuh Madrasah Tsanawiyah di pesantren ini. Kau sengaja bersembunyi, tetapi ujungnya kedapatan tidur di belakang lemari kamar asrama. Tak ada alasan yang bisa kau utarakan, kau menunduk, dan mengakui salah tak bisa menunaikan shalat subuh berjamaah karena diserang kantuk.

 

Waktu itu kau begadang karena berusaha belajar membuat kalimat puitis dari novel yang kau baca. Kau tak berterus terang mengatakan hal itu dan diam mendengar Kiai Sar memarahimu sambil menerima hukuman, memegang telinga dengan menyilangkan tangan, lalu naik turun jongkok sampai puluhan kali. Sampai hari ini kau tak bisa lepas melanggar aturan, susah payah kau untuk bangun subuh.

 

Kini, kau sudah kelas dua belas Madrasah Aliyah di pesantren ini, masih ada cinta bergemuruh di dadamu terhadap cucu Kiai Sar bernama Ratna. Sampai hari ini, kau belum mengutarakan perasaanmu kepadanya, hingga kejadian buruk itu membuat hatimu makin pedih. Kau sebenarnya belum siap menerima kenyataan tersebut. Ada jarak yang jauh akan kau tempuh menuju di kehidupan Ratna. 

 

“Kalian harus tahu ke mana arah yang baik untuk melangkah. Jangan membuat rugi orang-orang yang ada di sekitar.”

 

Kiai Sar diam beberapa menit setelah berpetuah. Napasnya terdengar berat. Ia seperti menjiwai masalah yang ia hadapi dengan menutup kelopak matanya. Ia tak kuat menahan kesedihan, air matanya menetes. Air mata seorang Kakek berlinang untuk cucunya yang membuat ia merasa malu, petuahnya seolah berhenti dengan perlakuan Ratna.

 

“Ini Senin subuh yang terakhir saya berada di hadapan kalian. Saya sudah mempertimbangkan jalan yang terbaik dan berharap semuanya berkah. Saya tahu tak lama lagi, para orang tua santri akan mengajukan keberatan jika saya masih berada di sini. Doakan Ratna, maafkan salahnya.”

 

Para santri terbawa suasana sedih di Subuh ini. Benar-benar ucapan lembut Kiai Sar bernada penyesalan dan amarah yang tertahan. Pudar sudah wajah beringasnya kala memberi hukuman kepada santri karena laku Ratna, tetapi kau tetap jatuh cinta kepada pembunuh.

 

***

 

Jin mengendalikan penuh tangan kanan Ratna hingga mendorong pisau dapur masuk ke perut Suhar. Ratna mengaku tak menyangka ia dianggap sebagai pelaku. Ia tak mencoba berdalih, sebab ia merasa bukan dirinya melakukan hal itu. Ia dalam keadaan tak sadar dan memang yang melumpuhkan ingatannya adalah jin yang ingin membantu Halidang membalaskan dendamnya.

 

“Saya tak melakukannya, Kek. Bukan saya. Ada sesuatu yang mengendalikan diri saya.”

 

“Keteranganmu ini mengada-ada dan tak akan diterima oleh orang-orang. Suhar sekamar denganmu. Darahnya tumpah di mana-mana. Bajumu berlumuran darah. Apa kau masih bisa mengelak dengan bukti yang sudah diperoleh kepolisian.”

 

“Saya baru sadar setelah melihat Suhar mati.”

 

“Perlakuanmu itu benar-benar setan. Kau membunuh sesama manusia, sesama santri yang mestinya menegakkan ajaran agama dengan baik.”

 

“Jangan berkata seperti itu, Kek. Kakek tidak tahu kejadian sebenarnya. Saya benar-benar tak tahu mengapa semuanya bisa terjadi. Dari dulu, Kakek memang begitu, sulit percaya ucapan cucu sendiri.” Berderai air mata Ratna mengungkapkan keresahannya di hadapan Kiai Sar.

 

“Tak ada seorang pun yang bisa percaya ucapanmu jika bukti sudah jelas. Kenapa kau tega melakukannya?”

 

Air mata Ratna deras mengalir. Ia benar-benar terpukul melihat keadaannya kacau dan tentu masa depan yang sudah ia rangkai, runtuh dalam sekejap.

 

“Saya bilang, bukan diri saya melakukannya. Seperti ada kekuatan gaib.”

 

“Kau percaya kekuatan gaib?”

 

“Saya baru percaya, bahwa kekuatan gaib telah menyiksa hidup saya dan membuat orang-orang yang mengenal saya kecewa.”

 

Kiai Sar mencoba tenang mendengar pengakuan Ratna. Ia benar-benar bingung menafsirkan kejadian yang mengejutkannya ini. Ia seperti manusia yang tak berguna karena sulit memahami perasaan dan pikiran cucunya sendiri. Ratna sudah diamankan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Bulukumba.

 

***

 

Kiai Sar sudah seminggu minggat dari pondok pesantren. Senin subuh ini, Ustadz Makkasau resmi mengambil alih mangngaji tudang. Ia telah mengimami para santri saat salat berjamaah tadi. Suaranya merdu melafalkan surah Al-Baqarah ayat 155-157. Sebagaimana diterangkannya kepada santri, surah tersebut ia tujukan buat Kiai Sar dan Ratna. Kini, dalam duduk silanya, ia membuka pertemuan Subuh ini dengan tindakan mulia saling mendoakan antar sesama.

 

Walau suasana berbeda begitu terasa, Ustadz Makkasau mencoba merebut perhatian para santri agar nyaman belajar dengannya. Tak ada lagi Kiai Sar. Ustadz Makkasau telah ditunjuk menggantikannya, ustadz yang dikenal memiliki ilmu tajwid yang baik ini akan membagikan pengetahuannya kepadamu sebelum tamat di pondok pesantren ini. Ia pengajar baru di lingkungan pesantren, baru tiga bulan, direkrut untuk memberikan bimbingan mendalam mengenai hukum bacaan yang benar dalam Al-Quran.

 

“Belajar agama, belum tentu menghindarkan seseorang dari laku tidak manusiawi. Masa depan cerah tak akan kalian capai jika tak dipersiapkan baik hari ini. Kalian harus terus berada dalam koridor yang benar, jangan keluar dari jalur yang sudah diberi tanda larang oleh Allah. Kiai Sar adalah guru saya, guru kita bersama. Ia telah mengambil keputusan, tentu setelah melalui pertimbangan untuk kebaikan banyak orang. Saya yakin keputusannya ini berat, tetapi begitulah hidup, kita harus  memberi keputusan.”

 

“Apa benar, Ratna membunuh Suhar karena kekuatan gaib telah menggerakkan tangannya untuk melakukan hal itu,  Ustadz?” Kau bergetar setelah mengeluarkan pertanyaan tersebut, usahamu melawan takut cukup berhasil. Sebab kau ingin mendengar tanggapan dari orang yang kau anggap cukup tahu persoalan ini. Andai saja kau bisa mendengar saya, pertanyaanmu akan saya jawab dengan mengatakan, ya benar. 

 

“Di lain waktu, saya akan menyempatkan waktu menjawab pertanyaanmu, kita harus mulai mengaji.”

 

Kau kecewa mendengar tanggapan Ustadz Makkasau. Kau merasa ustadz tersebut mestinya mengeluarkan kalimat yang bisa sedikit memberi gambaran, bukan seolah mengelak. Kau ingin tahu dosa seperti apa yang ditanggung Ratna dari caranya memberi alasan. Alasan yang susah untuk dicerna dan tentu saja sulit diterima akal.

 

“Lidah harus terus dilatih agar bisa lentur dan mengeluarkan bunyi yang baik. Teori dan praktik harus khatam dipahami.”

 

Pikiranmu tidak sedang berada di tempat ini. Pikiranmu berada jauh setelah pertanyaanmu tak dijawab. Kau sungguh mengkhawatirkan nasib Ratna.

 

***

 

Kau tidak sendiri. Kau mengajak dua santri sahabatmu untuk berkunjung ke rumah Kiai Sar. Semula kau ragu, tetapi kau bersikukuh ingin menemuinya. Kau ingin mendengar cerita yang sebenarnya dari mulut Kiai Sar. Kau berusaha melawan takut dalam dirimu, kau sudah siap jika nanti dimarahi.

 

Akhir pekan di pengujung bulan April, setelah bersih-bersih, sekitar pukul sepuluh, kau dan dua sahabatmu berangkat dengan naik pete-pete kurang dari dua puluh menit menuju Ujung Loe, rumah Kiai Sar. Tak sulit mencari rumahnya yang berada di samping Puskesmas dan dekat lapangan.

 

Kau dan dua sahabatmu langsung meraih dan mencium tangan Kiai Sar. Di wajahnya masih tampak diselimuti kesedihan. Ia tak langsung menanyai maksud kedatangan kalian, hal itu yang membuat dadamu kian berdebar. Kalian disuruh naik ke rumah panggungnya. Ia meminta waktu untuk bersih-bersih di sumur.

 

“Ada perlu apa Nak, dengan saya?” Kau sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan pembukaan ini. Dadamu masih berdebar, tubuhmu kini sedikit gemetar.

 

“Ingin tahu, bagaimana kondisi Ratna, Kiai?”

 

“Ratna harus menjalani proses hukum, Nak.”

 

“Berapa lama?”

 

“Ancamannya pasti seumur hidup, karena ia membunuh orang.”

 

“Tetapi yang saya dengar, ada kekuatan gaib yang menggerakkan tubuhnya. Apa itu benar, Kiai?”

 

“Itu di luar batas pemikiran saya, Nak. Ratna mengaku seperti itu, tetapi sulit rasanya menerima hal tersebut.”

 

“Apa Kiai tak pernah mendengar Ratna bercerita masalah itu?”

 

“Maksudmu, Nak.”

 

“Iya bercerita, bahwa kadang ada waktu tertentu ia merasa bukan dirinya. Melainkan dikendalikan suatu kekuatan. ”

 

“Apa ia pernah bercerita kepadamu?”

 

“Suhar yang menceritakan itu kepada saya. Kejadiannya saat awal masuk Madrasah Tsanawiyah. Memang tak berlangsung lama dan tidak rutin jika Ratna mengalaminya, hanya beberapa menit. Ratna kadang mengamuk memukul-mukul dinding asrama. Ratna semula tak percaya dengan dirinya, tetapi bukti bahwa tubuhnya pegal-pegal membuat Ratna percaya bahwa ia memiliki kelainan.”

 

“Ratna pernah bercerita, tetapi tidak saya gubris. Katanya, kadang ia didatangi Ibunya. Menyuruhnya balas dendam kepada seseorang yang telah membuatnya mati setelah melahirkan. Yang saya tahu, Ibu dari Ratna semasa hidup memang berteman akrab dengan Ibu dari Suhar. Tetapi saya yakin, ada sesuatu yang disembunyikan Ratna hingga membunuh Suhar. Saya sudah mendesak Ratna untuk mengakui kesalahannya, tetapi ia hanya bilang, ada kekuatan gaib yang mengendalikan tubuhnya.”

 

“Apakah setan, Kiai?”

 

“Sulit memaknainya, semua di luar dugaan. Untuk sementara, saya tak mau mengunjungi Ratna di Lapas, biar ia menyesal dan berharap saat saya datang lagi, ia akan berterus terang.”

 

Kau tak merasa cukup mendapat apa-apa dari pengakuan Kiai Sar. Tetapi dari matanya, ada sesuatu yang ia rahasiakan dan hanya air mata yang sanggup mengungkapkannya. Saya menyayangkan Kiai Sar tak percaya dengan ucapan Ratna. Mungkin begitulah cara ia mengimani dirinya. Namun, sebagai malaikat yang diutus oleh Allah untuk mengikuti, menyaksikan kegaduhan yang terjadi di alam manusia dan alam kematian, dendam Halidang memang begitu kuat hingga memohon kepada jin untuk membantunya. Dan saya hanya menjalankan tugas mencabut nyawa Suhar. Saya memiliki keterbatasan untuk memberitahu semua ini kepadamu.

 

Makassar, 2018

Catatan:

Doti: guna-guna/jampi.
Mangngaji tudang telah diterapkan sejak Pondok Pesantren Babul Khaer Kalumeme, Bulukumba ini berdiri pada tahun 1979. Mangngaji tudang ini mengusung metode mengajar, ceramah, tuntunan, resitasi, dan suri teladan.


* Tulisan ini merupakan nominasi juara dalam lomba Cerpen tingkat nasional Harlah laman nulampung.or.id. Tulisan ini sudah dibukukan dalam kumpulan Cerpen “Ustaz Miring Kampung Kami” yang diterbitkan oleh LTN PWNU Lampung, Mei 2019.”


Alfian Dippahatang, bernama asli Syahwan Alfianto Amir, lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Alumnus Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin. Pada tahun 2017 dan 2018, monolognya dipentaskan di Festival Kala Monolog (Kala Teater Makassar). Menulis buku puisi, Dapur Ajaib (Basabasi, 2017) dan novelnya, Kematian Anda yang Tak Sia-sia (Diva Press, 2018).