Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Bedah Buku Fatayat NU, Kiai Imam Aziz Ungkap Pentingnya Sejarah Sosial

Bedah Buku Fatayat NU, Kiai Imam Aziz Ungkap Pentingnya Sejarah Sosial
Tokoh Nahdlatul Ulama KH Imam Aziz (kiri) usai membedah buku Fatayat NU DIY di Pesantren Krapyak Yogyakarta. (Foto: Dok. PWFNU DIY)
Tokoh Nahdlatul Ulama KH Imam Aziz (kiri) usai membedah buku Fatayat NU DIY di Pesantren Krapyak Yogyakarta. (Foto: Dok. PWFNU DIY)

Yogyakarta, NU Online 
Tokoh Nahdlatul Ulama KH Imam Aziz mengungkap pentingnya penulisan sejarah sosial sebagai arah gerak Fatayat NU. Pasalnya, selama ini sudut pandang penulisan sejarah kemasyarakatan atau sosial belum terungkap dengan baik.


Kiai Imam mengatakan hal tersebut saat didaulat Pengurus Wilayah (PW) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Daerah Istimewa Yogyakarta berbicara dalam peluncuran dan bedah buku Gerakan Perempuan Islam Moderat: Sejarah Fatayat NU DIY di Aula Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, Sabtu (19/3/2022).


“Sejarah sosial yakni sejarah masyarakat biasa seperti pengurus Fatayat NU yang bukan tokoh. Sejarah sosial ini sangat penting untuk menjadi titik arah Fatayat NU kaitannya dengan kondisi politik dan sosial organisasi. Tetapi, fokusnya terhadap masyarakat NU biasa,” jelas Kiai Imam.
 


Dengan penulisan sejarah sosial, lanjut dia, dapat menggali peran Fatayat NU lebih jauh. “Konteks Fatayat berjuang itu tak cukup dengan gagasan-gagasan. Namun, juga kemajuan yang akan diraih seperti apa. Gambaran perempuan ke depan seperti apa. Hal itu perlu dirumuskan organisasi Fatayat NU,” paparnya.  


Sejarah sosial ini, kata Kiai Imam, penting untuk digali kembali agar dapat melihat fakta sosial yang terjadi pada Fatayat NU di perkotaan maupun pedesaan sebelum dirumuskan menjadi sebuah program agar tidak hanya sekadar reaktif tapi juga melihat konteks budaya, ekonomi, dan politik hari ini.  


“Dalam konteks pasca Orde Baru kesetaraan itu memang oke. Sebuah pencapaian baik, tapi misal ditanya ke depannya akan seperti apa, apa hal itu akan terus diulang. Sejarah sosial itulah yang akan menggali peran Fatayat,” sambungnya.


Kiai Imam Aziz kemudian mengajak pengurus Fatayat NU untuk menengok sejarah perjalanan Fatayat dari masa ke masa. “Saya membayangkan jika tidak ada Fatayat atau Muslimat masih ada pengurus yang hanya belajar agama tapi peran sosialnya sama sekali tidak ada. Nulis aja nggak bisa, apalagi baca. Jadi, saya menyadari teks sejarah itu penting sekali,” imbuhnya. 


Moderasi Islam
Sebelumnya, Wakil Ketua PW Fatayat NU DIY Rindang Farihah mengatakan, buku yang ditulis dalam kurun waktu dua tahun ini disusun oleh tim Fatayat NU DIY. Buku ini lengkap mengabadikan peran Fatayat NU DIY dalam mengembangkan Moderasi Islam.


“Khususnya isu keadilan dan kesetaraan gender di wilayah DIY dan sejak berdirinya organisasi ini di Yogyakarta. Isu pemberdayaan perempuan yang kemudian diperluas cakupannya dengan isu perlindungan anak menjadi fokus dan prioritas program Fatayat NU,” ujar Rindang.


Selain untuk merekam dan mendokumentasikan jejak perjuangan, lanjut dia, buku ini diharapkan bisa menjadi literatur yang berguna bagi pegiat sosial, akademis, aktivis perempuan, dan masyarakat. Khususnya bagi generasi Nahdlatul Ulama dan kader Fatayat NU untuk berjuang di masa depan.


“Buku ini menguraikan bahwa PW Fatayat NU DIY terbentuk pada tahun 1961, selang 10 tahun dari sejak Fatayat NU Pusat didirikan. PW Fatayat NU DIY dipelopori oleh para pelajar dan mahasiswa yang  berlatar belakang NU yang sedang menimba ilmu di Yogyakarta,” tuturnya.
 


Rindang mengungkapkan, melalui buku tersebut Fatayat NU DIY bisa mengambil pelajaran tentang apa yang sudah pernah dilakukan, untuk kemudian dapat melanjutkan program-program strategis bagi gerakan Fatayat NU mendatang.


“Inisiatif penulisan buku sejarah gerakan Fatayat ini tujuannya tidak lain agar garis perjuangan Fatayat NU DIY tidak terputus. Lebih dari itu, pengurus bisa mengambil pelajaran, teladan, dan meneruskan program yang telah dilakukan oleh kepengurusan sebelumnya,” tandas istri Kiai Imam Aziz ini.


Selain KH Imam Aziz, bedah buku tersebut menghadirkan narasumber lain, yakni Pembina Lembaga Studi Perkembangan Anak dan Perempuan Yogyakarta Lusi Margiyani, dan pengurus Fatayat NU DIY Habibah Mustofa. 


Kegiatan ini merupakan rangkaian Konferwil Fatayat IX PW Fatayat NU DIY. Hadir dalam kegiatan tersebut Katib Syuriyah PBNU H Hilmy Muhammad, Ketua PWNU DIY Ahmad Zuhdi Muhdlor, dan Pengasuh Pesantren Al-Munawwir Krapyak KH Muhtarom Busyro.


Kontributor: Suci Amaliyah 
Editor: Musthofa Asrori



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×