Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Jangan Sampai Penderita Covid-19 Seperti Fenomena Gunung Es

Jangan Sampai Penderita Covid-19 Seperti Fenomena Gunung Es
Ilustrasi. (NU Online)
Ilustrasi. (NU Online)
Jakarta, NU Online
Praktisi Kemanusiaan Internasional Yogi Mahendra Nasution mengatakan bahwa orang yang terkena wabah Covid-19 saat ini seperti fenomena gunung es. Artinya, orang yang terkena virus corona tidak terdata secara keseluruhan, bahkan sangat mungkin jumlah mereka lebih besar dibandingkan dengan yang terdata.

“Sebetulnya fenomena gunung es ini tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain,” katanya kepada NU Online, Rabu (29/4).

Fenomena gunung es Covid-19 di Indonesia, kata dia, karena tidak mekanisme penanganan wabah yang terpola dengan baik.

Ia mengusulkan, pencegahan harus dilakukan di tingkat terkecil, misalnya di level RT dan RW, bahkan di tingkat keluarga. Cara sederhananya adalah, setiap RT harus memiliki data warga dengan beberapa kategori, misalnya dari segi pekerjaan, umur, dan riwayat penyakit.

“Misalnya, jika ada 100 orang di satu RT, ada berapa orang yang bekerja keluar dan masuk di wilayahnya, ada berapa orang yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, ada berapa orang yang secara usia sangat rentan terserang virus corona,” jelasnya.

Kemudian, lanjutnya, setelah dikategorisasi, orang-orang yang rentan diperiksa oleh petugas kesehatan. Orang yang positif harus rela melakukan diisolasi atau melakukan isolasi mandiri.

Menurut dia, jika penanganan secara sederhana seperti saja tidak dilakukan, orang tanpa gejala (ODP) jumlahnya tentu akan lebih dibanding yang terdata. Dan jika demikian, wabah akan semakin susah ditangani.

“Kesalahan kita sendiri sebenarnya dalam penanganan dan menghadpi wabah ini. Masyarakat banyak takut terkena wabah ini sehingga tak mau memeriksakan diri, karena mereka takut dijauhi tetangganya. Hal ini akan memperparah keadaan,” katanya.
 
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa semestinya yang menjadi gara terdepan dalam pencegahan penyebaran virus corona adalah masyarakat sendiri, bukan tenaga medis. Seharusnya, tenaga medis adalah palang pintu saat pencegahan di masyarakat kebobolan.

Senada dengan Yogi, Ketua PBNU Bidang Kesehatan H Syahrizal Syarif mengungkapkan istilah hulu dan hilir. Hulu adalah pencegahan di level masyarakat, sementara hilir adalah rumah sakit.

Pewarta: Abdullah Alawi
Editor: Fathoni Ahmad


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×